
Pesanan makanan datang. Litha segera melahap makanannya, mengunyah dan menatap Raka yang juga menatapnya. Bedanya, Raka hanya diam mematung seperti tidak berselera makan, padahal Raka yang mengajak makan.
"Makan Kak!" Perintah Litha.
"Iya," jawab Raka lalu memotong steak daging dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Litha memutar bola matanya jengah, ya kali harus disuruh makan dulu baru mau makan. Baru beberapa suap, handphone Raka berdering. Ekspresi Raka langsung berubah dingin saat menerima panggilan.
Litha tidak perduli siapa yang menghubungi kekasihnya hingga membuat ekspresinya kurang bersahabat, dia lanjut melahap makanannya.
"Tha," panggil Raka dengan menggenggam tangan kiri Litha yang nganggur di atas meja.
Uhuk-uhuk... Gadis itu terkejut sampai tersedak. Bukan-bukan, bukan karena salting karena tangannya dipegang. Litha terkejut karena terakhir melihat Raka tadi ekspresinya sangat dingin, tatapan matanya begitu aneh, dan kini tiba-tiba Raka menyentuh tangannya serta memanggilnya dengan penuh kelembutan.
Raka segera memberikan minum. Litha menerimanya, segera melegut minumannya.
"Kamu gpp?" tanya Raka khawatir. Padahal hanya tersedak biasa, khawatirnya berlebihan. Terbukti dari raut wajah yang ditujukan dari wajah tampan pemuda dingin itu.
Litha menggelengkan kepalanya, tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Raka membuang nafas panjang, merasa lega karena sesuatu yang buruk tidak terjadi kepada Litha.
Ya iya lah ga kenapa-kenapa, orang keselek biasa doang. Hanya hal sepele Raka!
"Aku ada urusan penting. Kita pulang sekarang yah!" ujar Raka.
"Makanannya belom habis Kak," ucap Litha menjeda kalimatnya karena masih mengunyah makanan.
"Habisin dulu, mubasir! Makan jangan cepet-cepet nanti keselek," sahut Litha lalu mengunyah makanannya dengan santai.
__ADS_1
Raka mengangguk dan garuk-garuk kepala ngelihat Litha yang makannya santai banget. Bukannya tadi Litha yang nyuruh makannya cepet-cepet, supaya bisa cepet pulang?
***
Raka melangkah dengan cepat, dilihatnya seorang laki-laki bersetelan jas yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya.
Raka menekan tombol passcode apartemen, tak lama kemudian pintu terbuka. Raka mempersilakan orang tersebut masuk dan duduk di ruang tamu.
"Hal penting apa?" Tanya Raka langsung pada inti pembicaraan yang akan mereka bahas. Yups orang yang menelepon Raka saat di cafe adalah bawahannya yang bertugas mengintai Via.
"Saya tidak yakin 100% jika ini adalah hal yang penting menurut Tuan. Tapi saya rasa ini cukup penting," ucapnya yang diangguki oleh Raka. Mengingat dia yang sama sekali tidak tahu menahu tentang kehidupan Raka maupun orang yang diawasinya.
"Saya menganggap ini penting karenaaa..." ucap orang tersebut menggantung. Ralat bukan sengaja menggantung, tetapi dia ragu mengatakannya karena dia takut akan membuat Raka murka karena kecerobohannya.
Orang tersebut diam, nyalinya menciut saat Raka menatapnya tajam. Raka cukup peka terhadap apa yang dirasakan bawahannya. Tetapi bukankah orang yang berhadapan dengannya ini tahu, jika sikapnya selalu dingin, dan sorot matanya selalu tajam, serta pembawaan kalimat yang diucapkannya selalu terdengar dingin?
Beberapa menit kemudian Raka muncul dengan membawa handuk kecil dan baskom berisi air dingin. Raka menyodorkan air serta handuk kecil tersebut kepada bawahannya yang malah mengerutkan keningnya.
Raka tersenyum miring, laki-laki muda, gagah dan jago bela diri seperti Mark ternyata suka memakai produk yang sering digunakan wanita. Yah namanya adalah Mark, tangan kanan Raka di kantor cabang sekaligus menjadi mata-mata Raka jika sedang dibutuhkan.
Pekerjaan utamanya adalah menjadi mata-mata, namun karena Mark ternyata juga pernah memakan bangku kuliah jurusan manajemen bisnis, Raka memperkerjakannya untuk membantunya mengurus perusahaan yang Raka pimpin.
"Bersihkan luka mu! Jangan memakai foundation, menjijikkan!" ucap Raka dingin dan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tidak ingin melihat ekspresi bodoh bawahannya.
Deg!
Mark membelalakkan matanya, menelan salivanya susah payah. Bagaimana mungkin big bos nya mengetahuinya.
__ADS_1
Raka tersenyum sinis, "Kekasih saya saja tidak suka memakai produk itu," iya Raka lagi ngeledekin Mark wkwk.
'Saya menganggap ini penting karena begitu saya mendapatkan bukti, berupa video yang saya ambil saat dia berbincang dengan salah seorang pasien di rumah sakit jiwa, ada beberapa orang bertubuh besar yang menghadang mobil saya saat dalam perjalanan,' itulah kalimat yang ingin Mark sampaikan kepada Raka.
Tapi Mark ragu mengungkapkannya, dia takut Raka akan marah, karena dirinya tidak bisa menjaga bukti yang telah ia dapatkan.
Mark mengambil handuk dan mencelupkannya pada air dingin, memerasnya lalu menempelkan pada sudut bibirnya serta sudut matanya. Sudut bibir serta sudut matanya mulai terlihat membiru, bekas foundation terlihat jelas menempel pada handuk berwarna putih tersebut.
Mark menatap Raka yang tersenyum miring melihat handuk putihnya yang ternodai oleh warna krem bercampur dengan warna darah yang tersisa pada luka Mark.
Jujur Mark malu dengan pemuda yang usianya lebih muda tiga tahun darinya. Tapi mau bagaimana lagi? Raka telanjur mengetahui jika dirinya memakai foundation.
Suasana kembali hening dan serius setelah Mark membersihkan dan mengobati lukanya sendiri. Raka meminta Mark menceritakan semuanya tanpa menutupi apapun. Toh juga, jika Mark melakukan kesalahan Raka tidak akan mungkin sampai membunuhnya.
Kalau Mark dibunuh. Kasihan jodohnya Mark yang sudah menanti pertemuannya dengan Mark, walaupun belom ada yang tahu seperti apa bentukan jodohnya Mark.
Ya gimana ya? Mark aja bingung nanti ketemu jodohnya lewat jalur apa? Medsos ga punya, temen cewek ga punya, kerjaannya sibuk ngurus perusahaan punya orang (bukan perusahaan sendiri hehe), ada waktu senggang malah disuruh jadi mata-mata. Intinya Mark tidak punya waktu untuk mencari dan mendekati wanita.
"Sebenarnya saya sudah mendapatkan bukti yang mungkin Tuan butuhkan. Saat diperjalanan ada beberapa orang yang menghadang mobil saya dan mengeroyok saya, awalnya saya mengira mereka hanyalah komplotan perampok. Tapi saya salah, ternyata tujuan mereka membuat saya tumbang itu hanya ingin mengambil ponsel saya untuk menghilangkan bukti video tersebut," jelas Mark yang mirip kereta api, puanjang....
Setelah video itu terhapus, Mark baru menghubungi Raka dengan ponselnya yang lain. Seharusnya Mark segera mengirim video itu ke Raka, tapi nasi sudah menjadi bubur.
"Sepertinya dia bukan wanita sembarangan. Mungkin yang mengeroyok saya adalah suruhan dari wanita itu," tambah Mark beropini.
"Kamu masih memegang ponsel yang kamu gunakan untuk mengambil video itu?" tanya Raka.
"Masih Taun. Tapi ponselnya mati karena mereka tidak hanya menghapus video itu saja. Mereka juga membanting dan menginjak ponsel saya dengan kuat, hingga layar ponselnya retak cukup parah," jelas Mark dengan memberikan ponsel yang ditanyakan Raka.
__ADS_1
Raka menerimanya, memutar-mutar ponsel yang sudah tidak layak pakai tersebut. Untuk diperbaiki sepertinya juga susah.