
"Saya sama Tania disuruh lari-lari keliling lapangan sambil bawa tulisan SAYA MINTA MAAF DAN TIDAK AKAN MEMBULLY MURID LAINNNYA?" tanya Dita pada guru BK, entah yang ke berapa kali, yang pasti Dita sudah menanyakan hal tersebut lebih dari 10 kali.
Kalau Tania sih udah pasrah, buktinya saja dia menundukkan kepalanya dan merenungkan kembali perbuatannya yang sangat merugikan banyak pihak.
"Lebih tepatnya papan tulisan itu, kamu kalungkan di leher kamu," jawab salah satu guru Bk.
Di ruang BK semua guru yang mengajar di sekolah ini sudah berkumpul, dari Kepala sekolah, para guru BK, para guru wali kelas, guru mapel, dan tak ketinggalan juga para staf sekolah.
"Saya gak terima diperlakukan seperti ini, mending saya keluar dari sekolah ini," ucap Dita tegas.
Brakkk...
Tepat setelah mengucapkan hal tersebut, Dita menggebrak meja, padahal dihadapannya ada banyak guru. Cuman manusia yang sangat gak beradab kayak Dita yang berani ngelakuin hal gak waras kayak gitu. Udah jelas-jelas Dita yang salah, tapi malah dia yang marah karena gak terima sama hukuman yang diberikan oleh pihak sekolah.
"Silakan, kami dari pihak sekolah sama sekali tidak keberatan jika kamu keluar dari sekolah ini. Tapi ingat satu hal, kamu tidak akan diterima di sekolah mana pun, karena saya sendiri sudah memberi peringatan disetiap lembar isi raport kamu. Dan tidak lupa juga disurat pindah sekolah, jika nantinya kamu benar akan pindah sekolah, saya juga memberi peringatan bahwa kamu pernah melakukan tindakan bullying," ucap Kepala sekolah yang seperti rumus volume balok, benar-benar panjang kali lebar kali tinggi.
"Mengunci orang didalam toilet yang tidak ada fentilasinya dalam keadaan basah dan berantakan, yang tubuhnya juga dipenuhi kotoran berwarna merah serta berbau buah busuk, lebih tepatnya buah naga busuk. Itu bukan lagi tindakan bullying tetapi itu termasuk tindakan KRIMINAL," ucap wali kelas dari kelasnya Dita dan Tania, dengan memberi penekanan disetiap abjad dari kata kriminal.
__ADS_1
"Kalau saat itu tidak ada yang menemukan Litha, mungkin dia bukan lagi kekurangan oksigen, tapi dia sudah kehabisan oksigen. Dan kalian bisa di penjara atas perbuatan gi*a yang kalian lakukan," tambah wali kelasnya. Wali kelasnya Dita dan Tania sepertinya sangat amat marah dan kecewa dengan perbuatan muridnya, terbukti dari ekspresi wajahnya yang seperti ingin memakan orang hidup-hidup.
Dita sih menanggapinya biasa aja, entah lah manusia berjenis dan bermerek apa itu? Kalau Tania sangat takut, buktinya dia sampai berdecit ngeri saat melihat tatapan tajam dari wali kelasnya.
"Sial, itu cewek pake cara apa buat ngeyakinin pihak sekolah tentang kejadian di toilet kemaren?" gerutu Dita sambil memainkan tangannya yang sedari tadi ingin merobek baju seragamnya sendiri.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide konyol didalam pikiran Dita.
"Gimana kalau kita pura-pura minta maaf aja sama tu cewek. Kan dia yang laporin kita ke BK, kalau dia maafin kita, bisa jadi dia mencabut laporannya dan semua guru maafin kita juga," ajak Dita bisik-bisik pada Tania dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Tania.
"Lo pikir ini kantor polisi? Ini sekolah Dit, kalau pun Litha udah maafin kita. Pihak sekolah gak akan maafin kita segampang itu. Para guru bakal maafin kita, kalau kita udah menerima dan melaksanakan hukuman itu," sahut Tania.
"Kenapa saya gak dikeluarin dari sekolah ini aja sih?" tanya Dita ngegas. Behhh cuman Dita doang yang berani ngegas gitu dihadapan semua guru apa lagi ada pak kepsek juga.
"Sengaja," selah seseorang dengan senyuman tipis, yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang BK tanpa permisi.
Sontak semua pasang mata yang ada didalam ruangan itu, melihat ke arah sumber suara tersebut. Tak terkecuali Dita dan Tania yang menoleh ke belakang melihat ke arah pintu masuk ruang BK.
__ADS_1
'Padahal ini lagi sidang, kok dia bisa masuk seenak jidatnya sendiri. Emang ini sekolah punya nenek moyangnya apa?' batin Tania setelah melihat ke arah sumber suara tersebut.
Beda halnya dengan Dita yang awalnya memasang ekspresi marah. Setelah melihat ke arah sumber suara itu, Dita seperti ingin meluapkan emosinya, dia tidak dapat menahan amarahnya lagi, sampai dia menghampiri pemilik suara tersebut. Jika kalian menebak itu adalah Litha, maka tebakan kalian benar.
"Karena gue mau ngasih hukuman yang setimpal atas perbuatan lo ke gue. Kalo cuman ngeluarin lo dari sekolah ini, gue rasa lo belom nyesel sama perbuatan lo kemaren," ujar Litha sambil memperlihatkan senyumannya, dengan hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Awas loo yaaa!!!" ucap Dita.
Tanpa mengeluarkan suara apapun Dita mengangkat tangannya ke atas dan mengayunkan tangannya ke arah pipi mulus Litha, seakan-akan hendak menamparnya. Namun sebelum tangannya mendarat tepat sasaran, tangan Dita sudah dihadang oleh tangan berotot milik Raka. Entah mengapa dan dari mana tiba-tiba Raka ikut masuk ke dalam ruang BK.
Litha sedari tadi memejamkan kedua matanya, dia tidak tahu kalau Raka telah menyelamatkan pipi mulusnya dari kotoran tangan jahat seperti Dita. Litha perlahan mulai membuka matanya dan melihat ke arah tangan yang menghadang tangan Dita. Matanya masih mengikuti arah tangan berotot itu, sampai akhirnya Litha mengetahui itu adalah tangan kekasihnya.
"Raka sayang tolong lepasin tangan gue sekarang!" perintah Dita dengan nada lembut. Dita sedang mencoba menahan amarahnya didepan orang yang dicintainya, karena itu dia memanggil Raka dengan menambahkan kata sayang.
Raka sih cuek mau dipanggil sayang atau apa pun itu lahh.. yang terpenting didalam isi hatinya cuman ada nama Litha seorang. Toh juga yang manggil sayang itu Dita, kalau yang manggil Litha sih, udah pasti Raka langsung klepek-klepek kegirangan.
Tapi boro-boro dipanggil sayang sama Litha, Litha aja selama ini gak pernah manggil Raka pake namanya Raka. Paling Litha cuman nyebutin nama Raka doang kalau dihadapan orang lain. Itu nyebut ya guys bukan manggil..!
__ADS_1
"Gue akan lepasin, kalo lo ngurungin niat lo buat nampar dia," ucap Raka sambil menaikkan dagunya ke arah Litha.
"Kenapa lo belain dia? Harusnya lo belain gue. Lo kan satu kelas sama gue, jadi elo tau gimana sikap gue aslinya kan," ujar Dita meminta pembelaan pada ketua kelasnya sekaligus ketua OSIS di sekolahnya.