
Halaman samping rumah Sarah sudah dipenuhi banyak orang. Acara tidak digelar di gedung atau hotel mewah, dari pada uangnya dipakai untuk menyewa tempat acara, lebih baik uangnya diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan, begitu kata Sarah. Meskipun tomboy dan ceplas-ceplos, tapi Sarah orang yang baik yang peduli terhadap sesamanya.
Dari balik jendela kamarnya, ada seorang putri yang tengah duduk cantik. Aura kebahagiaannya terpancar sejak ia bangun tidur.
"Sudah selesai," ucap sang MUA kepada Sarah, lalu pamit untuk merias anggota keluarga yang lain.
Sarah memperhatikan penampilannya mulai dari ujung kuku sampai ujung rambut melalui pantulan cermin besar. Kali ini penampilannya jauh dari kata tomboy, ia bak bidadari yang turun ke bumi.
Tidak ada bridesmaid di acara tunangannya, karena acaranya pun tidak terlalu mewah seperti kebanyakan anak orang kaya lainnya.
***
Seorang gadis cantik mengedarkan pandangannya menatap banyaknya orang yang menghadiri acara pertunangan kakaknya dan sahabatnya yang sebentar lagi acaranya akan dimulai. Untung saja cuaca siang ini sangat mendukung, tidak terlalu panas tetapi juga tidak terlalu mendung.
Litha sengaja datang lebih dulu tanpa menunggu rombongan keluarganya. Ia ingin hadir sebagai sahabat Sarah, bukan keluarga dari tunangan Sarah. Niat hati ingin melihat penampilan Sarah sebelum Sarah memperlihatkan penampilannya didepan publik, namun malah berakhir dengan menikmati pemandangan indah dihalaman rumah Sarah yang telah dihias sedemikian rupa.
"Hai Tha," sapa Sekar yang baru saja datang.
"Hai..." Litha tersenyum manis.
Litha clingak-clinguk mencari keberadaan seseorang, "Sendirian aja?"
Sekar membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk. "Arkan katanya kesini bareng anak-anak,"
"Cieee kenapa jadi bahas Arkan? Gue itu tanya, elo kesini sendirian aja, apa sama temen? Bukan malah tanya Arkan," Litha menoel dagu Sekar.
"Sial. Rese lo," Sekar tersenyum malu, kan dia jadi malu sendiri.
"Jadi kalian udah pacaran apa gimana nih?" Tak henti-hentinya Litha memancing Sekar.
"Dia sama sekali gak pernah bahas tentang itu," Sekar menghembuskan nafas beratnya.
"Tenang aja, nanti gue bantu ngomong ke Arkan biar dia peka," Litha menepuk pundak Sekar.
"Woii... Acara udah mau mulai, kalian malah asik ngobrol," Fika ngos-ngosan karena berlari mencari keberadaan Litha.
"Lhoh... Emang Bang Umran udah ke sini?" Litha menoleh ke kiri kanan.
"Gue juga gak lihat kalo keluarganya Litha udah dateng ke sini?" Sekar ikutan clingak-clinguk.
Fika mengarahkan dagu Litha dan Sekar ke arah tempat duduk yang sudah dipenuhi oleh keluarga Litha dan kerabatnya. Ketiganya langsung memandang satu sama lain, sedetik kemudian langsung berlari menuju ke dalam kamar Sarah.
__ADS_1
Sampai di kamar, Sarah sudah menyipitkan matanya menatap ketiga sahabatnya dengan kesal. Ketiganya hanya menunjukkan cengiran kuda, sambil mengangkat tangan kanannya dengan jari berbentuk huruf V.
"Hari ini jadi salah satu hari spesial buat gue, dan gue harap sahabat-sahabat gue nemenin gue. Nah kalian?"
"Ya kali gue harus telfon kalian satu-satu, terus minta kalian ke sini lebih awal. Kalian sahabat paling gak peka sedunia,"
Litha, Fika dan Sekar menundukkan kepalanya, mereka mengaku salah. Fika datang terlambat karena berharap bisa datang bersama Leon, namun Leon lupa mengabari Fika jika ia akan datang bersama kawan-kawannya.
"Kok kalian diem aja sih?" Sarah mengatur nafasnya begitupun dengan emosinya.
"Kalo kita jawab nanti salah lagi," celetuk Fika.
Krekk...
Pintu terbuka, Mama Sarah masuk. "Ini kenapa?" Mama Sarah heran dengan raut wajah keempat gadis cantik ini.
"Sarah ngambek Tant, soalnya kita lupa nemenin dia waktu di makeup," Litha memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Mama Sarah geleng-geleng kepala melihat tingkah laku empat gadis ini. Mama Sarah mendekat ke arah Litha, "Mama, panggil Tante Mama sama seperti Umran. Oke?" Mama Sarah tersenyum seraya memegang kedua pundak Litha.
Gadis itu membalasnya dengan anggukan kepala dan tersenyum manis.
"Hari ini kamu cantik banget, gak kalah cantik sama calon kakak ipar kamu," ucap Mama Sarah membuat Sarah cemberut. Masalahnya, dari tadi Sarah aja belum dipuji cantik sama Mamanya sendiri.
Mama Sarah mengikuti arah pandang Litha, dilihatnya putrinya yang masih manyun.
"Kamu gak tau aja gimana Mama jawab pertanyaan Tante-tante kamu yang pada kepo sama penampilan kamu hari ini," cerita Mama Sarah.
Mengingat Sarah yang jarang memakai makeup, dan penampilannya yang agak tomboy, so tidak heran jika banyak kerabat Sarah yang sangat kepo dengan penampilannya hari ini.
"Emang Mama jawab apa?" tanya Sarah.
"Jelek banget kayak boneka Mampang," Mama Sarah menahan tawa melihat putrinya yang semakin kesal dibuatnya.
"Mamaaa....!" Teriak Sarah tidak terima.
"Tante cocok jadi pelawak," ucap Fika disela tawanya bersama Litha dan Sekar juga pastinya.
"Ihhh tau ah rese. Sarah gak mau keluar, Sarah gak mau pasang cincin," rajuk Sarah.
"Udah-udah jangan ngambek gitu, Mama cuma bercanda aja. Hari ini kamu putri tercantik Mama, gak ada yang ngalahin kecantikan putri Mama," bujuk Mama Sarah.
__ADS_1
"Enggak mau, Mama bohong," Sarah masih merajuk rupanya.
"Yah... Dibilang bohong katanya?" Mama Sarah menatap Litha, Fika dan Sekar.
"Kok bohong sih? Jujur banget itu Sar. Ya kan Tha Kar?" Tanya Fika pada Litha dan Sekar.
"Iya, lo tu anak tercantiknya Mama lo," sahut Sekar.
"Soalnya anaknya Mama emang cuma elo doang," tambah Litha yang sukses membuat Sarah tambah kesal, sedangkan yang lainnya udah ngakak berat wkwk.
"Udah-udah... Ayo kita keluar sekarang, acara mau dimulai," sebisa mungkin Mama Sarah menahan tawanya.
Mama Sarah menarik paksa tangan putrinya yang masih kesal tersebut, "Ayo!" Tegas Mama Sarah membuat Sarah menurut.
"Yah... Anak Mama," ledek Fika yang berada dibelakang Sarah dan Mamanya.
Sarah menoleh kebelakang, menatap tajam satu persatu dari ketiga sahabatnya. "Awas lu semua, selesai acara gue bogem satu-satu," Sarah menunjukkan kepalan tangannya.
"Sarah!" Ucap Mamanya.
"Bercanda Ma," Sarah tersenyum lebar sambil memperlihatkan jari berbentuk huruf V.
"Eh Bang Umran video call nih..." celetuk Litha membuat Sarah menoleh kebelakang.
"Coba lihat, kasih ke gue mana?" Sarah terlihat sangat bersemangat ingin menerima panggilan dari Umran, padahal tinggal beberapa detik lagi nanti juga ketemu.
"Tapi bo'ong," Litha menjulurkan lidahnya mengejek Sarah yang mudah sekali dikerjai.
"Whahahaaa ditipu calon ipar sendiri..." Fika tertawa pecah.
"Awas nanti gua bales lu semua," tatapan mata Sarah sangat tajam.
"Kok semua, gue gak ikut-ikut kali," ucap Sekar.
"Tapi lo ikut ketawa juga, sama aja kayak mereka," ujar Sarah.
"Mama Sarah juga ketawa," Sekar memancing Sarah yang masih terbawa emosi.
"Iya nanti juga gue bales," sahut Sarah tanpa sadar.
Mata Mama Sarah melotot ke arah Sarah. "Eh... bilang apa tadi?"
__ADS_1
"Eh... Emang tadi Sarah bilang apa Ma?" Sarah menepuk-nepuk mulutnya sendiri. Sedangkan gadis-gadis dibelakangnya sudah tertawa puas.
Maafkan Author yang sudah menghilang berminggu-minggu ✌️