Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Korban Bullying


__ADS_3

Litha terkejut setelah melihat isi ruangan yang kiranya mirip seperti gudang. Ruangan dengan desain interior berwarna putih dan cream bergaya modern minimalis.


Ternyata di dalam ruangan itu terdapat barang-barang yang lengkap. Ada rak buku yang besar, permainan PlayStation, kulkas yang dipenuhi berbagai macam makanan siap saji, serta terdapat tempat khusus untuk jajanan snack, dan ada billiard nya juga.


Tidak heran jika setiap jam istirahat, The Perfect selalu meluangkan waktunya untuk berkumpul bersama di basecamp yang sangat nyaman ini.


"Masuk..!" perintah Raka yang sedang fokus menyodok bola billiard.


Litha pun mulai melangkahkan kakinya lagi, dan mendekat di posisi Raka yang sedang asik bermain billiard sendirian.


"Eh.. kamu lagi, ada urusan apa sama Raka?" tanya Leon dengan nada manis.


"Niatnya sih mau balikin jaketnya Raka, tapi gak jadi kar..." jawab Litha atas pertanyaan Leon, yang belum sempat terselesaikan, karena tiba-tiba Raka memotong pembicaraan mereka berdua.


"Kenapa?" tanya Raka tanpa intonasi maupun ekspresi.


"Makanya kalo ada orang ngomong tu dengerin dulu, jangan dipotong gitu aja," jawab Litha yang sedang kesal. Pastinya karena tidak terima dong pembicaraannya dipotong begitu saja.


Raka tidak menanggapi ucapan tersebut, dia hanya menatap Litha. Litha pun sepertinya sudah sangat paham betul, bagaimana sifat dinginnya beruang kutub ini.


"Jaketnya belom gue cuci, gue udah mau bilang waktu lo telfon gue. Tapi lo malah matiin secara sepihak, pake acara ngancem segala lagi, kalau gue gak kesini," ujar Litha mendengus kesal.


Raka tidak menggubris perkataan Litha, dia masih fokus pada permainannya.


"Ehh.. jangan nyodok pake bola yang warna biru, mending yang warna hijau aja tu, gue jamin bola yang warna merah pasti masuk," ucap Litha kepada Raka dengan tiba-tiba dan dengan penuh keyakinan kalau perkiraannya tepat pada sasaran.


Entah mengapa, Raka hanya menuruti perintah Litha. Dan siapa yang menduga, ternyata ucapan gadis yang sepertinya tidak berpengalaman dalam hal permainan billiard itu benar. Tidak hanya Raka yang terkejut, tapi Leon, Danil, Arkan dan Jordy pun juga sangat terkejut. Ternyata perkiraan gadis yang pertama kali masuk ke basecamp nya itu tepat pada sasaran. Ya... Litha adalah gadis pertama yang masuk ke dalam basecamp The Perfect.

__ADS_1


Sebenarnya Litha tidak terlalu pandai dalam permainan billiard ini. Tetapi Litha itu sangat pandai dalam pelajaran Fisika, jadi tidak heran jika perkiraannya selalu tepat pada sasaran.


"Wihh... keren juga lo," ujar Arkan dengan antusias.


Litha hanya menanggapi Arkan dengan senyuman manisnya.


"Kenapa berantakan gitu?" tanya Raka yang mulai menyadari baju seragam Litha yang dipenuhi kotoran warna merah dan rambut panjangnya yang lecek.


Sebenarnya Litha tadi sudah membersihkan baju dan rambutnya. Tapi warna merahnya tidak dapat hilang, mungkin karena tidak dicuci menggunakan detergen pemutih. Dan rambut panjang Litha yang terlihat lecek, itu karena sehabis dibersihkan tadi, rambutnya tidak disisir menggunakan sisir asli, melainkan menggunakan sisir dari jari-jari tangannya.


Litha tidak menjawab pertanyaan Raka, dia hanya diam seribu bahasa.


"Kayak abis jadi korban bullying aja," ujar Jordy yang asal omong, ya... walaupun emang bener sih, tapi dia gak tau aja.


Sontak ucapan Jordy membuat Litha menjadi gugup, dia tidak ingin pembullyan tadi diketahui The Perfect. Bukan karena takut atas ancaman Dita, tapi karena tidak ingin terlihat lemah di depan Raka dan sahabatnya. Entah mengapa Litha berpikir begitu?


"E.. eng.. enggak kok," jawab Litha, setelah itu Litha mulai melangkahkan kakinya dengan cepat, sepertinya gadis ini ingin keluar dari ruangan yang nyaman ini.


"STOP!!" perintah Raka kepada Litha, karena Litha belum menjawab pertanyaannya. Tetapi Litha tidak mempedulikannya, dia tetap berjalan menuju pintu untuk keluar dari tempat ini.


"Litha Kusuma Jaya Nagara STOP!!!" ucap Raka dengan suara lantang, tetapi masih tanpa intonasi dan ekspresi.


Tentunya perintah Raka kali ini didengarkan dan dituruti Litha. Litha itu akan menjadi penurut saat yang mengucapkan perintah, memanggil namanya. Karena menurut Litha, memanggil seseorang dengan menyebutkan namanya itu, merupakan sebuah penghormatan tersendiri baginya. Entah bagaimana Raka bisa mengetahui hal, yang membuat gadis berusia 16 ini menjadi penurut.


Ucapan Raka ini membuat semua sahabatnya terkejut, karena sebelumnya Raka tidak pernah memanggil seseorang dengan menyebutkan namanya. Seperti yang kita tahu, dengan sahabat dekatnya saja, Raka memanggil mereka dengan julukan-julukan yang aneh. Ini adalah pertama kalinya para sahabatnya mendengar Raka memanggil seseorang dengan menyebutkan namanya, bahkan sampai menyebutkan nama panjangnya.


Raka menghampiri Litha yang sedang mematung di depan pintu, "Gue gak suka yang namanya pembullyan, kalo ada pembullyan di sekolah ini, ngomong!" ucap Raka.

__ADS_1


Litha hanya menatap Raka, begitu pun sebaliknya. Raka juga menatap Litha. Keduanya saling menatap dengan jarak kurang dari 20 cm, sehingga Litha dapat mencium aroma mint yang segar dan sangat khas dari tubuh Raka.


"Hehhh.. udah-udah kok malah deket-deket gitu, nanti malah kebawa nafsu gimana coba?" ujar Leon yang menggangu suasana. Dasar si playboy cap kadal ini, pasti gak rela kalau ada yang mesra-mesraan didepannya, apalagi dia lagi menghadapi masa jomblo. Eh.. ralat jones (jomblo ngenes).


**Kediaman keluarga Nagara__


Akhir pekan yang sangat membosankan bagi seorang Umran, terbukti saat ini dia menonton drama Korea, padahal pikirannya sedang kemana-mana, terlihat jelas dari raut wajahnya. Litha sangat hafal betul bagaimana sifat kakaknya itu.


"Gabut lo ya..?" tanya Litha sambil duduk didekat kakaknya.


"Nah kebetulan, nanti sore ikut gue yuk!" ujar Umran langsung merubah raut wajahnya yang awalnya terlihat lesu, kini menjadi lebih semangat.


"Tumben?" tanya Litha dengan heran, karena tidak biasanya bang Umran mengajak Litha pergi ke suatu tempat.


"Rencananya gue mau pergi sama temen, tapi tiba-tiba temen gue ada urusan lain. Lo mau gak nemenin gue nonton?" ucap Umran.


"Pantesan," ujar Litha.


"Jadi mau apa enggak nih. Kasih gue kepastian, digantungin tu rasanya gak enak," ucap Umran dengan nada ala-ala seperti ngebucin ke pacarnya saja. Dan ucapan itu berhasil membuat Litha jijik.


"Dih.. apaan sih lo, jijik gue liatnya. Yaudah gue ikut," akhirnya Litha menyetujui ajakan abangnya, karena Litha juga merasa bosan sedikit.


***


Bang Umran dan Litha pergi dengan menaiki motor sport milik bang Umran. Bang Umran mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi yang membelah jalanan ibu kota.


"Woi.. pelan dikit napa? Ini dibelakang ada anak orang," itu adalah teriakan dari penumpangnya bang Umran, siapa lagi kalau bukan Litha.

__ADS_1


__ADS_2