Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Pengganti Anak


__ADS_3

Flashback On


Fandy meletakkan telapak tangannya pada kaca, begitupun dengan Fani. Dua bersaudara itu menyatukan telapak tangan mereka berdua meski terhalang oleh kaca.


Fani menepis air matanya sebelum melangkah meninggalkan tempat tersebut. Dia akan menemui pihak medis untuk izin agar Fandy dapat keluar dari tempat terkutuk bagi saudara kembarnya itu.


Fani mengaku sebagai anggota keluarga Fandy, memperlihatkan bukti berupa kartu keluarga lamanya dan KTP lamanya, serta KTP baru yang sudah berubah nama dan wajahnya. Fani mengatakan hal yang jujur kepada mereka bahwa dia melakukan operasi plastik dan diangkat anak oleh sepasang suami istri.


Fani juga mengatakan bahwa keluarga Sekar yang membuat Fandy depresi pada waktu itu. Keluarga Sekar sengaja melakukan itu karena memiliki dendam dengan keluarga Fandy. Yah Fani memfitnah keluarga Sekar.


Segala cara Fani lakukan, untuk membujuk para dokter untuk melakukan tes kepada Fandy sebagai bukti bahwa Fandy tidak terkena gangguan jiwa. Akhirnya para dokter yang berkumpul menyetujui keinginan Fani.


Fani tersenyum bahagia melihat Fandy terbukti tidak terkena gangguan jiwa.


"Fan ini beneran lo?" tanya Fandy setelah dinyatakan keluar dari rumah sakit jiwa. Sekarang mereka telah berada di sebuah restoran mewah.


Flashback Off


"What!" Pekik Nick sangat amat terkejut.


"Lo tenang aja, di hati gue cuma ada Litha," sahut Raka datar dan dingin tetapi mampu membuat Nick merasa lebih lega.


"Gue harap lo nolak perjodohan itu. Sekarang udah ga jaman jodoh-jodohan lagi bro," Nick terlihat lebih santai dan tidak setegang tadi. Kenapa? Karena dia tahu Raka adalah pemuda yang setia, sama seperti dirinya yang sangat setia menunggu cintanya terbalaskan oleh Via. Caelah... Bisa aja Nick wkwk.


Raka tidak menjawab ucapan Nick. Raka menekan ikon untuk memutar video yang terlihat menunjukkan sampulnya saja yaitu wajah cantik Via.


Isi dari video itu adalah percakapan antara Via dan Fandy yang berada di restoran mewah.


"Iya. Ini gue Fani," mata Via berkaca-kaca, perlahan air mata mulai mengalir membasahi pipinya.


"Maafin gue Kak," Via menundukkan kepalanya dengan memegang tangan Fandy sangat erat.


"Gue gak tau ini beneran Fani kembaran gue atauu... jangan-jangan lo orang suruhan Raka," Fandy menepis tangan Via dan menepis air matanya ketika memiliki pemikiran yang buruk tentang Raka.

__ADS_1


Sesegera mungkin Via menggeleng-gelengkan kepalanya.


Fandy pikir Raka memiliki dendam dengannya. Sehingga disaat dirinya rapuh, Raka mempunyai kesempatan untuk membalaskan dendamnya.


"Ini beneran gue Kak. Justru gue ke sini karena mau balas dendam ke Raka," suara Via meninggi.


"Tapi..." kini suaranya malah merendah.


"Tapi kenapa?" Selidik Fandy.


"Ta.. tapi gak bisa. G.. gue masih cinta dia. Gue pingin milikin dia Kak," jawab Via jujur, membuat Fandy menggelengkan kepalanya.


Bagaimana pun juga Fandy tidak bisa membantah pilihan saudaranya. Fandy sendiri tahu bagaimana sakitnya seseorang mencoba menahan bahkan mencoba menghilangkan rasa cintanya kepada orang yang dicintainya.


"Gue lihat sendiri setahun yang lalu detak jantung dan denyut nadi lo berhenti dilayar monitor. Karena kita gak ada keluarga jadi gue nyerahin pemakaman lo ke pihak rumah sakit, gue lihat lo dikubur," Fandy tersenyum miring mengingat kejadian yang paling menyedihkan baginya.


"Sekarang kenapa lo ada disini? Apa lo teriak-teriak dalam tanah terus ada yang bantu lo keluar? Atau lo usaha keluar sendiri?" Fandy tertawa renyah dengan pemikiran absurd nya.


Flashback On


Suasana sudah kacau, Fandy berteriak histeris begitupun dengan sahabat Fani. Fandy keluar dan mengurus pemakaman Fani yang akan diserahkan kepada pihak rumah sakit.


Fani terbangun matanya langsung melotot, detak jantung dan denyut nadinya kembali ada. Dia memiliki kesempatan kedua untuk hidup di dunia lagi. Fani menyibakkan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya yang masih memakai seragam sekolahannya.


Fani mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan yang sangat sepi, ternyata Fani sudah dipindahkan ke ruang jenazah. Dilihatnya sepasang suami istri yang tengah menangis sambil berteriak histeris. Mereka baru saja kehilangan putri semata wayangnya yang saat itu seumuran dengan Raka and the gang, yah bisa dibilang masih kelas 1 SMA.


"To.. tolong," suara Fani sangat pelan karena baru bangun dari mati suri nya. Keadaannya pun sangat lemah, dia hanya memiliki sedikit energi untuk bersuara. Sedangkan untuk menggerakkan tangannya dia tidak mampu.


Sepasang suami istri menoleh kebelakang, terkejut melihat keadaan Fani yang banyak goresan luka di muka, lengan dan kaki. Kepala Fani bagian samping mulai mengeluarkan darah segar lagi, rambutnya sampai berwarna merah.


"Kk.. ka.. mu masih hidup?" tanya wanita tersebut terkejut.


Fani menjawabnya dengan hanya mengedipkan kedua matanya, sungguh Fani tidak mempunyai tenaga untuk bicara. Wanita paruh baya tersebut menatap suaminya, mereka tahu jika gadis itu pasti tadi sudah dinyatakan meninggal namun jantungnya kembali berdetak. Mereka tidak takut akan hal tersebut karena mereka juga tahu istilah mati suri.

__ADS_1


"Kami akan memberitahukan kepada orang tua kamu," ucap laki-laki paruh baya tersebut dengan tersenyum meskipun hatinya masih sakit karena ditinggalkan putri satu-satunya yang terkena kanker otak.


"Ss.. sa.. ya, ti.. dak, aa.. da, or.. rang.. tua..," ucap Fani terbata-bata.


Kedua pasutri tersebut saling menatap, mereka memiliki pemikiran yang sama. Mereka menjelaskan akan mengadopsi Fani untuk menggantikan anaknya yang sudah tiada.


Awalnya Fani tidak setuju. Fani menjelaskan bahwa dia masih memiliki seorang kakak, yang sudah ia yakini pasti kakaknya tidak rela jika Fani diangkat anak oleh pasutri tersebut, dengan tujuan hanya untuk menggantikan anaknya yang telah tiada.


Fani juga mengungkapkan isi hatinya, jika sebenarnya ia akan merasa senang jika diangkat anak oleh mereka, meskipun Fani hanya dijadikan sebagai pengganti anaknya. Jujur Fani ingin merasakan kasih sayang orang tua yang tidak pernah ia dapatkan dari orang tua kandungnya.


Mereka memiliki rencana agar jenazah putrinya yang akan menggantikan jenazah Fani, sehingga saudara Fani tidak mengetahui jika Fani hidup kembali. Mereka akan mengurus semuanya agar rencananya berjalan sesuai yang diharapkan, dengan uang semuanya akan mudah.


Tanpa pikir panjang Fani menyetujui rencana mereka. Disaat itu pula Fani berjanji suatu saat akan menemui Fandy.


Flashback Off


"Disaat pengobatan gue udah selesai dan gue udah kembali sehat. Gue ngelakuin operasi plastik supaya muka gue mirip sama anaknya yang dulu nempatin kuburan atas nama Fani," Via tertawa kecil ternyata nasibnya tidak terlalu buruk juga.


"Gue ngelakuin itu karena gue mau balas dendam ke Raka. Gue yakin dengan berjalannya waktu mereka akan nerima jati diri gue yang sesungguhnya, mereka akan menghargai gue sebagai Fani Adityani Bakti. Bukan sebagai Noviana Cantika Geraldy," jelas Via.


"Balas dendam ke Raka itu niat gue setelah gue dikasih kesempatan kedua untuk hidup lagi. Tapi nyatanya setelah gue ketemu langsung sama Raka, gue masih ada rasa sama dia," Via menertawai dirinya sendiri yang plin-plan.


"Apa mereka udah nggak nganggep lo sebagai pengganti anaknya lagi?" Fandy tersenyum sinis meskipun matanya masih berkaca-kaca.


Via menggelengkan kepalanya. "Mereka milih menetap di Amerika setelah gue operasi plastik di Korea. Mereka bantuin gue untuk cari tahu tentang Raka. Dan beruntungnya, ternyata ada salah satu anggota keluarga Raka yang tinggal sendirian di Amerika. Mereka deketin Oma Rahma dengan segala cara, mereka bujuk Oma Rahma supaya gue dijodohin sama cucunya,"


"Gue bahagia kalo lo bahagia," ucap Fandy.


Via terkekeh mendengar penuturan kakaknya yang kini mengerutkan keningnya. Via tahu kebahagiaan Fandy bukan karena kebahagiaan Fani juga. Via sudah menyelidiki Fandy sebelum akhirnya memutuskan untuk menemuinya.


"Kebahagiaan lo ada di Litha, pacar Raka," Via tersenyum sinis.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2