
Senyuman Litha dan Fika terlihat berjalan di koridor kampus, sudah dua minggu mereka kuliah di Universitas Negara. Banyak mahasiswa yang sering menggoda Litha dan itu semua tidak luput dari pengawasan Raka yang mendapat informasi dari Fika dan Sekar.
"Katanya abang lo sama Sarah belom MP tauk..." Fika mulai bergosip.
Dari jauh Sekar terlihat melambaikan tangannya, Litha dan Fika segera menghampirinya.
"Parah sih. Lo tau dari mana? Gue aja yang adeknya gak tau," balas Litha.
"Ada gosip apa?" Sekar ikut kepo. Akhir-akhir ini mereka sangat suka sekali bergosip.
"Umran sama Sarah belum MP," Fika selalu yang paling semangat jika sudah bergosip. MP: Malam Pertama.
Sekar geleng-geleng kepala. "Wah... Topik gosip lo kali ini udah kelewat batas. Sahabat sendiri lo gosipin. Lo juga Tha, ini saudara lo sendiri digosipin?"
Litha dan Fika tersenyum kecut hanya garuk-garuk tekuk lehernya.
Sekar tersenyum sangat lebar. "Pasti seru nih gosipnya, informannya langsung dari dalam. Kenapa mereka gak MP? Sarah takut hamil apa gimana?"
Sekar langsung mengusap kening kanan dan kirinya karena mendapat dua sentilan sekaligus dari Litha dan Fika.
"Hai Litha," sapa seorang pemuda tampan yang diduga mempunyai simpanan pacar selusin. Hanya wanita murah*n saja yang mau dijadikan koleksi pacarnya.
"Hai Kak," Litha tersenyum kikuk.
Sekar menarik tangan Litha agar berada dibelakangnya. "Ada apa Kak?" Sungut Sekar.
Pemuda itu juga seniornya Sekar, dulu sebelum ada Litha, pemuda itu sering sekali menggoda Sekar. Sekarang menggoda Litha didepan Sekar? Dasar tidak punya urat malu!
"Gue cuma mau ngasih bunga ini ke Litha," pemuda tersebut menyerahkan setangkai bunga mawar merah.
Litha menerimanya hanya sebagai tanda rasa hormat, tidak lebih dari itu. "Makasih Kak. Lain kali gak usah repot-repot bawa bunga buat gue," Setiap harinya Litha selalu mendapat setangkai bunga mawar merah dari pemuda dihadapannya ini.
"Iya gak usah bawa bunga. BAWA DUIT AJA. Soalnya manusia hidup butuh makan minum bukan bunga mawar," omelan Fika terdengar begitu judes.
Senyuman pemuda tersebut terlihat, ia tidak marah dengan sikap Sekar dan Fika yang kurang baik terhadapnya. Tujuannya hanya satu, meluluhkan hati Litha! Dia harus bermain halus jika ingin mendapatkan seorang wanita cantik seperti Litha.
"Oke. Besok ya, tapi gak janji. Gue masuk duluan soalnya ada kelas pagi," pemuda tersebut melangkah pergi.
"Fika... Lo tu ya! Kalau besok dia beneran ngasih gue duit gimana?" Teriak Litha.
"Bagus dong. Setahu gue dia rela ngelakuin apa pun buat dapatin cewek yang dia incer," Sekar tersenyum manis, Sekar pastikan uang jajan Litha besok akan bertambah. Pemuda tadi termasuk anak sultan sehingga tidak heran banyak perempuan yang mau menjadi pacarnya, walaupun mereka tahu hati pacarnya itu sudah terbagi-bagi untuk pacarnya yang lain.
"Gak papa Tha. Dia ngicer lo? Lo incer duitnya!" Ucap Fika memberi saran yang menyesatkan.
__ADS_1
"Duit suami gue lebih banyak dari budaya darat itu," Litha berlalu pergi tidak ingin membahas pemuda buaya tersebut. Harta kekayaan Raka berkali-kali lipat jauh diatas pemuda buaya darat itu.
Sekar dan Fika mengikuti langkah Litha yang cepat. Mereka berdua masih membahas tentang buaya darat itu. Langkah Litha terhenti melihat dua orang yang sedang mengobrol.
"Tatha, Fika, Sekar," panggil Bunda Larissa meminta ketiga gadis itu mendekat.
Litha menoleh ke arah dua sahabatnya, lalu menatap Raka yang sorot matanya mengarah ke bunga mawar yang digenggamnya.
"Mampus lu!" Ucap Fika yang menyadari hal tersebut.
"Bilang aja kalau itu punya gue, kiriman dari Arkan. Lo pegang karena lo pingin lihat detail bunganya," ucap Sekar memberi solusi.
Oh ya Arkan ganteng sudah mengikuti pendidikan Bintara TNI AD selama satu bulan. Pendidikan tersebut hanya berlangsung selama lima bulan saja, setelah lulus peserta yang mengikuti pendidikan itu akan diberi pangkat sersan dua.
Arkan sengaja mengikuti pendidikan yang tidak memakan waktu yang cukup lama karena ia tidak bisa terlalu lama berada di asrama meninggalkan sahabat-sahabatnya, keluarganya, dan teman spesialnya, siapa lagi kalau bukan Sekar.
"Kak Raka gak bisa gue bohongin," wajah Litha terlihat masam.
"Coba aja dulu siapa tahu berhasil," sahut Fika.
"Kalian bisik-bisik apa sih dari tadi?" Tanya Bunda Larissa ketika mereka bertiga sudah mendekat.
"Bu dosen Larissa kepo deh..." sahut Fika cengengesan.
"Ini bunga punya Sekar Kak, dari Arkan. Aku pegang karena aku pingin lihat," Litha tersenyum memperlihatkan giginya.
Sekar menepuk pundak Litha sambil tertawa dibuat-buat, "Hehehe...." Sekar menatap Raka dan Bunda yang kompak mengerutkan keningnya.
"Kak Raka gak nanya," Sekar berbisik kepada Litha yang langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Udah aku peringatin berapa kali Tha, kamu gak bisa bohong sama aku," Raka mengambil bunga mawar tersebut.
Litha tersenyum kecut melirik sahabatnya. Apa dia bilang? Raka itu gak mudah ditipu dengan akting recehnya.
"Elo sih gak meyakinkan," ketus Sekar merasa jika ide ceritanya diperankan oleh tokoh yang salah.
"Lain kali lo harus belajar sama gue," ucap Fika.
"Ekhem... Bunda denger lhoh," Bunda bersikedap menatap Fika yang cengengesan sambil mengatupkan tangannya.
"Bercanda Bun," tangan Fika meraih tangan Bunda Larissa lalu mencium punggung tangannya.
"Bunga dari siapa? Cowok itu lagi?" Tanya Raka datar sambil mengamati indahnya mawar merah yang berada ditangannya.
__ADS_1
Raka tahu siapa saja mahasiswa disini yang hanya sekedar mengagumi Litha dan siapa saja mahasiswa yang berniat sungguh-sungguh mendapatkan hati Litha.
"Iya," jawab Litha lesu.
"Kenapa kamu ke sini?" Tanya Litha kepada Raka yang membuang bunga ke tempat sampah.
Bunda tersenyum, "Raka mau jadi dosen disini, biar gak ada yang berani gangguin kamu,"
Tiga gadis cantik terkejut, mereka saling melempar pandang. "Serius Kak?" Tanya Litha.
"Enggak," jawabnya datar.
Bunda tertawa sambil menepuk pundak Raka. "Kamu kalau cemburu lucu banget sih Ka,"
"Raka gak cemburu Bun, cuma gak suka aja," ucap Raka mengelak.
"Itu sama aja kali," Sekar menahan tawa.
"Bun, Raka minta izin mau ajak Tatha bolos kuliah," Raka langsung menarik tangan Litha dan mengajaknya berlari sebelum mendapat izin dari Bunda Larissa.
"Raka Adelard...." Teriakan Bunda Larissa menggema membuat Raka dan Litha tertawa sambil berlari-larian.
Sekar dan Fika tersenyum kikuk menatap beberapa orang yang melewatinya menatap heran ke arah Bunda Larissa yang teriak-teriak sesuka hatinya.
"Bun ingat tempat Bun!" Ujar Sekar mengusap punggung Bunda Larissa yang baru sadar jika ini kampus bukan hutan.
Setelah cukup lama bermain lari-larian, langkah Raka berhenti di salah satu ruangan.
"Lhoh... Kok ke kelas?" Litha mengerucutkan bibirnya.
"Aku ada operasi pagi ini. Kamu semangat belajar," Raka tersenyum mengusap-usap kepala Litha.
Yap Raka begitu menyukai kegiatannya sebagai Dokter bedah. Saat pertama kali melakukan operasi, ia bahagia melihat keluarga pasien tersenyum penuh kebahagiaan karena operasinya berhasil. Sejak saat itu Raka bertekad menjadi Dokter spesialis bedah sepenuhnya, bukan hanya sekedar karena ingin bermain-main dengan alat medis.
Litha menghelai nafasnya, kemudian mengangguk dan menunjukkan senyuman manisnya.
Cup!
"Semangat Pak Dokter," Litha langsung masuk ke dalam kelas setelah mendaratkan kecupan singkat di pipi Raka.
Sejenak Raka terdiam, ia memegang pipinya, senyuman terukir menghiasi wajah rupawan seorang Raka.
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, hadiah and vote.