
Seorang pemuda mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, mengadaptasikan netranya dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam matanya.
Byur...
Satu ember air membasahi wajah bantal pemuda yang baru bangun dari mimpinya. Suara tawa langsung pecah memenuhi isi ruangan kamar yang keluar dari bibir mungil si jahil.
"Sialaan lo," Umran mengusap wajahnya dengan kasar.
"Abisnya gak bangun-bangun sih... Lihat tuh dibawah yang lainnya udah sibuk ngurusin acara lo. Nah elo? Malah enak-enakan molor," gerutu Litha.
Uwahhh... Eh doi malah nguap, asli Litha kesel banget pingin nabok tuh mulut yang bau busuk.
"UMRAN!" seru bunda yang langsung membuat Umran tertegun.
"Bbb.. bunda," Umran beranjak dari kasur empuknya. Litha tersenyum miring melihat reaksi Umran yang tentu saja ketakutan.
Bunda menggeleng-gelengkan kepalanya, sudah mau tunangan kelakuan masih seperti bocah TK.
"Cepat bersiap!" Suara Bunda terdengar dingin begitupun dengan tatapan matanya yang mengarah kepada Umran.
"Tatha cepat masuk ke kamar kamu sendiri! Sudah ada beberapa orang make-up yang menunggu kamu," lanjut Bunda.
"Hah?" Umran menganga tidak percaya. Yang mau tunangan siapa? Yang dibantu siap-siap sama orang make-up siapa?
"Ada apa?" Bunda menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Kan yang mau tunangan Umran tapi kenapa ni bocah yang dibantu sama orang make-up? Sedangkan Umran malah disuruh siap-siap sendiri," ungkapnya.
"Lo itu cowok, jangan manja pake minta orang make-up juga kayak gue. Lagi pula wajah lo mau dipoles kayak cewek?" Litha menahan tawanya.
"Ya nggak gitu juga. Di rapiin gitu rambut gue atau dibantu pake bajunya gitu, biar kayak artis-artis yang sering nongol di tele..." ucap Umran terpotong.
Bunda mengusap kasar seluruh wajah Umran, "Jangan kebanyakan halu! Kamu itu cuma mau pasang cincin, belum ijab kabul!"
Bunda segera pergi dengan menggandeng tangan Litha. Sebelum menutup pintu, tak lupa Litha mengejek Umran dengan menjulurkan lidahnya.
Jangan ditanya lagi bagaimana reaksi Umran setelah mendapat guyuran air dingin plus ejekan dari adik lucknut.
**Kamar Litha__
"Lhoh... Ini kok beda sama yang kemaren?" Litha membolak-balik sebuah gaun yang terlihat lebih wah dari pada gaun yang kemarin Bunda Larissa perlihatkan untuk Litha.
"Bun..?" Litha membalikkan badannya menatap Bunda yang sedang tersenyum.
"Tatha dipecat dari bagian keluarga nih?" Tanya Litha tanpa rasa sedih.
__ADS_1
"Husss ngaco kamu," sahut Bunda.
"Terus kenapa Tatha harus pakai gaun ini? Gaunnya Tatha yang kemaren seragaman sama keluarga kemana? Apa ganti seragam yah? Tapi kok Bunda masih pake gaun seragam yang kemaren?" cerocos Litha. Bunda memang sudah memakai gaunnya, hanya saja beliau belum menyanggul rambut dan bermake-up.
"Ini dari Raka. Bagus kan?" ujar Bunda yang sukses membuat Litha terkejut.
"Katanya ini hadiah buat kamu," Bunda tersenyum manis kepada anak gadisnya.
"Hadiah? Tatha gak ulang tahun hari ini," sahutnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Senyuman dibibir Bunda langsung lenyap seketika, putrinya ini masih muda tapi sudah pelupa.
"Yang kemaren minta hadiah double siapa?" sindir Bunda membuat Litha nyengir kuda. Litha baru ingat tentang pembicaraan permohonan maaf Raka semalam.
"Ya udah kamu siap-siap gih..! Bunda masih ada yang harus diurus," pamit Bunda meninggalkan kamar tersebut.
Litha mengambil ponsel hendak menghubungi seseorang yang pagi-pagi sudah membuatnya bahagia dengan memberikannya kejutan.
"Hai Kak," sapa Litha setelah panggilannya dijawab.
"Ada apa?" Tanya Raka dari seberang sana dengan nada datar.
"Ngeselin banget sih, gak jadi. Matiin aja teleponnya!" omel Litha.
Litha mengecek layar ponselnya, matanya membelalak sempurna, dan benar saja panggilan sudah terputus.
"Hah? Rese nih anak," Litha mendengus kesal, namun tetap memanggil nomor Raka lagi.
"Apa lagi sayang?" Tanya Raka dari seberang sana, kali ini nada yang Raka ucapkan tidak sedatar tadi. Ya lebih ke arah nada-nada orang sabar yang kayak ngeladenin bocah.
"Sayang-sayang! Aku gak akan luluh lagi kayak kemaren-kemaren waktu kamu panggil sayang ke aku," omel Litha dengan volume tinggi.
Ditempat lain, Raka mengerutkan keningnya menatap kolam renang dirumahnya yang kini terisi oleh cogan-cogan yang tengah tertawa.
"Kenapa lo?" Heran Leon. Yaps The Perfect sedang berkumpul, niatnya nanti biar bisa barengan ke acara tunangan Umran dan Sarah.
Bukannya menjawab, Raka malah memilih masuk ke dalam rumah.
"Kamu marah?" Tanya Raka.
"Kamu pikir sendiri!" Sahut Litha.
"Salah aku dimana?" Tanya Raka.
"Dibawah ketiak," jawab Litha asal, saking betenya.
__ADS_1
Raka mengerutkan keningnya, menatap tubuh atletisnya yang tengah telanja*g dada karena ia baru saja berenang dengan kawan-kawannya. Raka mengangkat tangan kanannya dan mencium bagian ketiaknya. Apa Litha bisa mencium aroma keringatnya dari jarak jauh? Yaa mengingat Raka yang belum mandi pagi, begitu pikir Raka.
Hadeh konyol sekali pemikiran si ganteng. Untung gak ada yang lihat.
"Kak Raka..." Panggil Litha dengan berteriak, membuat gendang telinga Raka terkejut wkwk...
"Eh iya," jawabnya.
"Kok diem? Tadi ngapain?" Tanya Litha masih kesal.
"Nyium bau ketiak aku," jawab Raka jujur.
"Hah serius? Ngapain?" Litha tidak percaya, dikiranya Raka cuma bercanda.
"Katanya tadi aku salah. Terus aku tanya dimana kesalahan aku, kamu jawab dibawah ketiak. Nah pas banget nih aku belum mandi, baru aja selesai berenang bareng Arkan sama yang lain juga. Ini aja belum sempet pake baju, ya udah aku cium aroma ketiak aku," jujur Raka.
"Tapi gak bau kok ketiak aku. Masih wangi-wangi aja, soalnya airnya udah kecampur sama aroma wangi parfum dari anak-anak," jawab Raka dengan polosnya.
Litha menepuk jidatnya sendiri, matanya berkedip-kedip, otaknya berpikir keras kenapa Raka jadi polos banget gini? Sejak kapan es balok ini jadi polos banget?
Krek...
Pintu kamar Litha terbuka. "Tha kamu kenapa megang dahi? Kepala kamu pusing apa badan kamu lagi gak enakan?" Tanya Bunda rada khawatir.
Litha menoleh melihat beberapa orang disamping Bunda, pasti itu orang yang akan bertugas membantu mempersiapkan diri Litha untuk acara tunangan nanti siang.
"Enggak Bun gak papa," Litha tersenyum kikuk. Pikirannya masih terfokus pada sang beruang kutub yang tingkat kepekaannya sangat minim, ditambah pula dengan sifat polosnya yang tiba-tiba muncul di pagi hari ini.
"Yakin gak kenapa-kenapa? Kalo emang gak enak badan kamu mending di rumah aja, nanti Bunda bilang ke abang kamu kalo kamu gak bisa ikut, pasti dia ngerti kok," ujar Bunda.
"Tatha beneran gak papa kok Bun. Tadi Tatha pegang dahi karena habis telfonan sama Kak Raka," lagi-lagi Litha tersenyum kikuk karena harus berkata jujur. Ya biar Bunda percaya dan tau kebenaran yang sesungguhnya.
"Nah... Ni telfonnya masih ke sambung sama Kak Raka," Litha memperlihatkan layar ponselnya.
Bunda tersenyum melihat layar ponsel yang tertera nama Beruang Kutub 🐨 "Ya udah lanjutin telfonnya nanti aja yaa... Sekarang kamu siap-siap buat di makeup. Nanti kalo telfonan lagi sama Raka, terserah kamu deh.. mau pegang dahi, hidung, bibir atau yang lainnya," ledek Bunda lalu segera pergi dari kamar tersebut.
"Itu kayak ada suara Bunda yaa?" Tanya Raka.
"Iya gara-gara kamu tuh aku diledekin Bunda," sahut Litha dengan nada kesal.
"Kok aku?" Heran Raka yang memang tidak mengerti apa-apa?
Tanpa menjawab Litha memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Dia menatap dua orang wanita yang seumuran dengan Umran yang tengah menundukkan kepalanya sambil susah payah menahan tawa.
Malu? Itulah yang Litha rasakan. "Tu kulkas kapan peka nya sih? Bukannya ada peningkatan kepekaan malah ada penurunan," gumam Litha.
__ADS_1