
Langit jingga sudah berubah menjadi gelap yang didominasi warna biru tua, hembusan angin mulai terasa semakin dingin. The Perfect dan pengunjung pantai lainnya sudah meninggalkan pantai ini, tapi tidak untuk dua sejoli yang masih menikmati momen kebersamaan mereka.
"Udah gelap, balik yuk!" Raka mengangkat kepalanya, melihat Litha yang terlihat masih betah dengan posisinya ternyamannya saat ini.
"Nanti, aku mau denger Kak Raka cerita kenapa waktu itu kamu minta aku jadi pacar kamu?" Litha tidak merubah posisi kepalanya yang bersandar dibahu Raka sejak matahari masih terlihat hingga kini sudah tenggelam.
Raka tertawa renyah, dia pikir Litha sudah melupakannya ternyata belum. "Kok aku tiba-tiba jadi males ngomong panjang lebar ya Tha?"
Litha mengangkat kepalanya melihat Raka yang tertawa renyah. "Aku ngambek lagi nih...!" Ancam Litha.
"Tapi beneran aku males cerita," ujar Raka tidak bohong.
"Jangan kumat deh Kak," Litha mengerucutkan bibirnya.
Cup.
Raka mengecup singkat bibir yang awalnya manyun, setelah mendapat kecupan singkat langsung mingkem.
Litha menutupi bibirnya yang mingkem, membuat Raka tertawa renyah. Tuh kan doi emang lagi murah senyum dan ketawa, kalau gini Litha kan jadi gemes!
"Cepetan cerita!" Suruh Litha.
"Cium dulu dong!" Raka menunjuk pipi kanannya.
Tanpa pikir panjang Litha langsung mengecup singkat pipi kanan Raka. Cup!
"Sini belum!" Raka menunjuk pipi kirinya.
Litha memutar bola matanya jengah. Ia mencium pipi kiri Raka. Cup!
Cup! Lanjut cium kening. Cup! Cup! Cium mata kanan kiri. Cup! Ditambah lagi cium hidung mancung. Tanpa disuruh, Litha juga udah tahu isi otak licik seorang Raka Adelard Pangestu.
Litha terdiam mengamati bibir Raka yang tersenyum. Ia melirik mata Raka yang menaikkan alisnya sambil tersenyum lebar.
Perlahan Litha mulai mengikis jarak antara wajah mereka. Tatapan netra Litha fokus pada bawah wajah Raka.
Cup!!!
__ADS_1
Litha menahan kecupannya cukup lama di... dagu Raka. Gadis itu melirik ke atas melihat bibir Raka yang menempel di hidungnya sudah memudarkan senyuman lebarnya.
Pffrrrtttt....
Whahaha...
Tawa Litha pecah melihat ekspresi datar wajah Raka. Litha sengaja mengerjai Raka, pasti es balok itu udah mikir yang aneh-aneh.
"Hayooo... Tadi mikirnya apaan?" Litha mencolek hidung Raka dengan senyuman jahil.
Raka tidak menanggapi pertanyaan Litha, ia tetap pada pendiriannya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Litha cekikikan puas berhasil mengerjai Raka, "Yah... Marah...?"
Litha mencubit hidung Raka. Karena Raka masih tidak ingin menunjukkan ekspresinya, dengan sangat terpaksa Litha menahan cubitannya pada hidung Raka, agar sang empu bereaksi.
"Aku butuh lubang hidung untuk menghirup oksigen Tha," Raka melepaskan tangan Litha dari hidungnya yang memerah akibat cubitan Litha.
Litha menutup mulut menahan tawa melihat hidung Raka.
"Hidung Kak Raka merah kayak badut," Litha masih berusaha menahan tawa, tidak ingin membuat Raka bertambah kesal dengannya.
"Kalo mau ketawa jangan ditahan-tahan. Ketawa aja! Gak ada yang ngelarang kamu ketawa, kecuali nanti kalau aku jadi presiden," ujar Raka ngelantur.
"Kenapa? Kamu mau buat peraturan larangan tertawa?" Tebak Litha.
"Iya," jawabnya.
"Gak akan terjadi! Kalau kamu mencalonkan diri, aku akan buat semua orang gak akan bisa hadir saat hari pemilihan,"
"Mau kamu apain seluruh rakyat di negara ini?"
"Aku sebarin gas racun melalui udara, nanti aku pinjem helikopter punya keluarga kamu,"
"Aku laporin kamu ke polisi,"
"Gak bisa!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena polisinya juga ikut terkena gas racun dari aku," Litha menjulurkan lidahnya.
Raka tersenyum geleng-geleng kepala dengan pembicaraan unfaedah mereka berdua.
Raka merebahkan tubuhnya di atas pasir, menatap bulan sabit yang dikelilingi oleh bintang yang bersinar cerah. Memorinya berputar bak roll film, Raka tersenyum melihat langit yang seolah menayangkan sebuah peristiwa yang tak akan pernah terlupakan dalam ingatannya.
"Dulu ada seorang anak perempuan berseragam SD, dia pendek, rada dekil walaupun kulitnya putih. Meskipun sebenarnya dia cantik, tapi dia terlihat culun karena rambutnya dikepang dua dan pakai kacamata kebesaran," Raka tertawa ringan masih mengingat dengan jelas bentuk wajah dan penampilan si kecil yang culun.
Litha yang masih duduk menoleh ke belakang menatap Raka yang tersenyum penuh arti melihat langit bertaburan bintang. Litha merasa tidak asing dengan ucapan Raka yang mendeskripsikan penampilan seorang anak kecil tersebut.
Sebelum lanjut berpidato, Raka tersenyum melirik Litha yang sepertinya kebingungan dengan awal dari cerita Raka.
"Empat orang yang ada disana, termasuk anak laki-laki yang ditolongnya itu nggak nyangka kalau si culun bisa membuat tiga preman sekaligus lari terbirit-birit. Anak SD itu menghajar habis-habisan tiga preman dengan tangan kosong, dia menolong anak laki-laki yang beranjak remaja dengan seragam SMP dari tiga preman yang siap memalaknya," lanjut Raka dengan senyum mengembang.
Litha menyimak cerita Raka yang menurutnya sangat familiar dalam memori ingatannya. "Tunggu! Kok... Cerita itu kayak..." Ucapan Litha menggantung karena masih mencoba mengingat-ingat.
Raka tersenyum melihat Litha yang masih kebingungan mengingat suatu kejadian dalam hidupnya yang sudah mulai terlupakan oleh memorinya. "Kamu masih ingat kejadian enam tahun yang lalu? Saat si culun anak kecil berseragam SD nolongin anak SMP yang dipalak preman?"
Mata Litha terbuka lebar, mulutnya juga ikut terbuka. "Inget. Iya aku inget, anak culun itu aa... a.. aku kan?" Litha ragu jika anak berseragam SD dalam cerita Raka adalah dirinya. Meskipun Litha ingat pernah berada diposisi si culun tersebut.
Masalahnya bagaimana mungkin Raka bisa tahu tentang peristiwa itu? Atau mungkin Raka mendapat informasi tersebut dari Umran? Yahh mungkin saja Umran sengaja ingin menjelekkan Litha yang dulunya berpenampilan culun, agar Raka ilfeel gitu... Bisa aja kan, begitu pikir Litha.
"Ish... malah ketawa!" Sungut Litha melihat Raka tertawa renyah.
"Pasti Si BAU itu kan cerita ke kamu. Kalian pasti puas ngatain aku dulu culun, pendek pula," Litha menghembuskan nafasnya kasar. (BAU)\= Bang Umran, gak lupa kan? Kalau Litha lagi bete' sama saudaranya itu, dia selalu menyebut Umran BAU!
Dahi Raka berkerut mendengar penuturan Litha.
Gadis cantik itu merebahkan tubuhnya disamping Raka. Ia melihat langit malam yang dihiasi oleh bulan dan berbagai jenis rasi bintang yang bersinar benderang.
"Jadi tuh dulu gini Kak ceritanya...."
***
Bersambung... Lanjut besok aja deh...✌️
__ADS_1