Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Strategi


__ADS_3

"Sakit kak," Litha merengek kesakitan dan air matanya mengalir di pipi mulusnya. Tangan Fandy memegang dagu Litha dengan cengkraman yang sangat kuat. Sedangkan Fandy tersenyum puas, Fandy benar-benar sudah berubah.


Fandy dulu memang mencintai Litha, tetapi rasa dendamnya terhadap Raka sepertinya lebih besar dari pada rasa cintanya kepada Litha. Lagi pula Litha juga tidak membalas cintanya Fandy, jadi untuk apa Fandy memperjuangkan cintanya terhadap Litha? Lebih baik Fandy balas dendam ke Raka dengan cara menyakiti orang yang Raka sayangi, itulah pemikiran Fandy.


Tiba-tiba handphone Fandy berdering, Fandy melepaskan cengkraman tangannya dari dagu Litha.


"Hallo," sapa Fandy. Lalu dia terdiam sejenak, mungkin Fandy sedang mendengarkan perkataan dari yang meneleponnya.


"Siap," ucap Fandy lagi.


Setelah menutup teleponnya Fandy menoleh ke arah dua wanita cantik dibelakangnya, siapa lagi kalau bukan Litha dan Fika. Fandy tersenyum licik, Litha yang melihatnya pun hanya menatap Fandy datar.


Fandy menghampiri Fika, "Orang yang ditipu bokap lo gak bisa kesini, beliau nyerahin semuanya ke gue. So... nasib kalian ada ditangan gue," ucap Fandy bangga.


Fandy mengambil cambuk dari meja depan Fika. Sontak hal yang terlihat sepele itu membuat Fika berdegit ngeri, tapi percayalah Fandy tak akan melakukan perbuatan kejam dihadapan Litha. Karena Fandy masih menyimpan rasa pada Litha, meskipun sedikit.


Kan bener kan Fandy tak akan melakukan hal kejam dihadapan Litha, Fandy segera menyembunyikan cambuk tadi di ruangan lainnya. Sekarang Fika dapat bernafas lega, ternyata pemikirannya terhadap Fandy salah.


***


Akhirnya keenam cogan tersebut sampai ditempat yang mereka tuju. Sebuah tempat dimana hanya ada anggota geng mafia tersebut, jumlahnya lumayan banyak mungkin sekitar 30 orang, itu pun juga belum kehitung yang berada di dalam rumah tua tersebut. Harimau Putih memang bukan mafia main-main, jadi tidak heran jika mereka sangat terkenal di dunia mafia dan bayarannya pasti juga sangat tinggi.


Tunggu! Keenam? Tadi saat diperjalanan The Perfect sempat melihat Umran, lalu Raka memutuskan untuk memberitahu Umran tentang keadaan adiknya, yang tak lain adalah Litha. Mereka sengaja memarkirkan kendaraannya agak jauh dari rumah tua tersebut, mereka ingin mengintai dulu situasi di sana. Agar mereka tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.


"Ayo kita masuk!" ajak Umran yang tak sabaran, Umran itu sangat mengkhawatirkan keadaan Litha, jadi maklum kan saja lah...


"Tunggu!" Raka mencegah Umran dengan memegang bahu Umran.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi? Nunggu Litha disiksa? Lo gak sayang sama adek gue?" tanya Umran dengan nada emosi. Belum dijawab oleh Raka, Jordy ikut mengeluarkan suara.


"Gi*a lo. Lo mau kita babak belur? Gue tau lo khawatir sama keselamatan adek lo, tapi lo juga harus berfikir jernih," selah Jordy.


"Lihat noh... Mereka banyak, sedangkan kita cuman 6 orang," tambah Jordy sambil menunjuk ke arah rumah tua yang dipakai Harimau Putih untuk menyekap Litha dan Fika.


"Gimana pasukan lo?" celetuk Leon.


"Sebentar lagi sampai," jawab Raka tanpa intonasi.


"Pasukan?" Umran tidak mengerti dengan pembicaraan antara Leon dan Raka.


"Raka bakal ngerahin semua anak buahnya buat bantai mereka," jelas Leon.


Di dalam mobil tadi Raka sudah menghubungi orang kepercayaannya untuk mengirim orang bayaran yang bertugas menghajar orang yang jumlahnya sekitar 15 orang, ditambah lagi dengan 10 pengawal pribadinya. Dari pada pengawal pribadinya nganggur mondar-mandir jaga rumah yang jelas tidak ada ancaman bahaya apapun. Mending disuruh ikut ke sini aja, toh mereka juga udah lama gak olahraga, alias gebukin orang wkwk...


Gerombolan orang berbadan besar, tinggi, serta berotot kekar menghampiri keenam cogan tersebut.


"Jadi gimana? Langsung serbu nih..?" tanya Jordy yang tak kalah antusias dari Arkan.


Kok yang antusias malah Jordy sama Arkan sih? Ya masih ingat kan mereka berdua itu punya karakter yang hampir mirip, mereka berdua suka banget sama yang berantem-berantem apa lagi rame kayak gini. Berasa tawuran antar pelajar mungkin wkwk... Soalnya jaman sekarang kan udah jarang yang namanya tawuran.


"Tunggu!" perintah Raka tegas.


"Apa lagi?" tanya Umran mendengus kesal.


"Jumlah mereka masih terlalu banyak, kita harus atur strategi," ungkap Raka.

__ADS_1


"Raka benar, kita gak bisa nganggep mereka enteng," sahut Danil menyetujui pemikiran Raka, karena dari tadi Danil hanya menyimak. Semuanya mengangguk paham.


"Kalian semua bantai yang ada di luar!" perintah Raka dengan menatap pasukannya yang berjumlah sekitar 15 orang.


Walaupun jumlah mafia yang berada di depan rumah tua itu dua kali lipat lebih banyak dari pasukan Raka, tetapi Raka yakin jika pasukannya mampu mengalahkan mereka semua. Pasalnya orang bayaran yang telah disewa Raka bukanlah orang sembarangan.


"5 pengawal pribadi gue akan ikut gue masuk ke dalem, 3 lainnya diem di sekitar rumah itu buat ngawasin situasi dan jaga-jaga. Mereka licik bisa jadi salah satu diantara mereka bakal bawa Litha atau Fika kabur tanpa sepengetahuan kita," jelas Raka panjang lebar. Mereka semua mengangguk paham.


"Gimana 2 pengawal pribadi lo? Apa mereka berdua ikut gebukin yang di luar?" tanya Umran. Raka mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.


"Kita ikut masuk ke dalem," ujar The Perfect dan Umran bersamaan. Dan lagi-lagi diangguki oleh Raka.


Pasukan dan dua pengawal pribadi Raka yang telah ditugaskan untuk melawan mafia bagian luar sudah beraksi terlebih dahulu. Tak berselang lama setelah semua mafia yang berada di luar sudah disibukkan dengan ritual tonjok menonjoknya, kini saatnya Raka and the gang masuk ke dalam rumah tua tersebut.


Terlihat dua gadis cantik dihadapannya dengan tangan yang masih terikat dan saling membelakangi.


Prok... Prok... Prok...


Suara seseorang bertepuk tangan dengan santai. Ya dia adalah ketua pimpinan mafia dari Harimau Putih yang dulunya hanya dijadikan Leon sebagai tangan kanannya saja. Sedangkan Litha dan Fika sangat terkejut tetapi juga senang melihat kedatangan gerombolan pemuda-pemuda tampan dengan diiringi tiga orang yang berbadan besar.


"Fandy," ucap Leon yang sudah mengepalkan tangannya. Fandy memang tak kalah tampan dari Leon, tetapi ketampanannya tertutupi oleh sikapnya yang angkuh dan kejam.


Raka dan Umran sangat terkejut dengan adanya Fandy di tempat ini. Karena setelah kematian Fani yang tragis, Fandy mencari tahu penyebab atas bunuh diri adiknya dengan bertanya kepada murid di SMA Fani. Tentu saja semua murid sangat tahu penyebab kejadian yang membuat seluruh warga sekolahannya geger bukan main. Setelah mengetahui penyebab Fani bunuh diri, Fandy menemui Raka dan Umran.


Fandy marah, dia mengeluarkan kata-kata kotor untuk Umran. Berbeda dengan Raka, saat berhadapan dengan Raka Fandy sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi, Fandy menghajar Raka habis-habisan. Namun Raka hanya diam, Raka sama sekali tidak membalas perbuatan tidak terpuji dari Fandy. Mungkin saat itu Raka berpikir jika dirinya berusaha menjelaskan semuanya kepada Fandy, itu percuma saja. Raka sudah dapat menebak sifat Fandy yang egois dan arogan. Untung saja saat itu ada Leon yang tak sengaja melihat kejadian tersebut, Leon segera lapor kejadian tersebut pada kepala sekolah. Yupsss... bodohnya Fandy menghajar Raka di lingkungan sekolah, Fandy yang sudah meluap-luap emosinya sudah tidak dapat berpikir dingin. Tanpa rencana apapun Fandy segera ke sekolah untuk menemui Raka dan Umran.


"Ada tamu tak diundang rupanya?" ujar Fandy dengan nada sesantai mungkin dan ditambah pula oleh senyuman liciknya. Padahal sebenarnya saat sudah terdengar suara ricuh dari luar, hal tersebut berhasil membuat Fandy tegang dan panik tentunya, tapi sesegera mungkin Fandy bersikap santai.

__ADS_1


__ADS_2