
"Dan sepertinya ada aja semut yang ngejar anak orang kaya seperti mereka," Nara kembali melihat ada seorang dokter wanita muda yang ikut berbincang-bincang dengan para sultan disana.
Mendengar itu Litha membulatkan matanya dan menegakkan tubuhnya. "Maksudnya?" Litha berdiri disebelah Nara.
Oke sekarang Litha mengerti kemana arah pembicaraan Nara. "Dokter Frida,"
Litha menatap tajam dokter pembimbingnya hari ini. Sangat jelas sekali jika wanita itu hanya beralasan membahas mengenai salah satu pasien, niat aslinya ingin menggoda Raka.
Terbukti dari Dokter Frida yang mepet-mepet dengan Raka sambil tangannya menyingkap rambutnya agar leher jenjangnya terekspos. Sesekali Dokter Frida mencuri pandang kepada Raka yang tengah menjelaskan sesuatu di dokumen yang Dokter Frida tunjukkan.
Dengan nafas memburu Litha meremat kaleng minuman yang ada ditangannya. Nara bergidik ngeri melihatnya.
"Lo kenapa Tha?" Tanya Nara yang bingung dengan sikap Litha yang makin aneh hari ini.
Litha tidak memperdulikan pertanyaan Nara, dia melangkah cepat mendekati gerombolan Raka. Nara mengikuti temannya itu dari belakang, kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Litha setidaknya Litha tidak sendirian, begitu pikir Nara.
Fika mengernyitkan keningnya melihat Litha yang seperti orang kerasukan. "Tha lo gak papa?"
Lima orang disana menatap Litha heran. Empatnya lainnya tak kalah lebih heran, bukannya Litha menyembunyikan identitasnya? Terus kenapa mau ikut ngerumpi?
"Lhoh Litha, ada urusan apa ya?" Tanya Dokter Frida, dokter ganjen yang memiliki seribu satu cara untuk mendekati Raka, sudah menjadi gosip umum bahwa Dokter Frida selalu berusaha mendekati direktur rumah sakit itu. Namun hanya Raka yang belum menyadari hal tersebut, karena Dokter Frida bermain cantik.
Litha tidak menjawab dan malah memberikan tatapan mengerikan kepada Dokter genit itu. Litha melemparkan kaleng yang sudah tidak berbentuk lagi itu ke arah Dokter Frida yang langsung menangkapnya.
"Ini maksudnya apa ya?" Bentak Dokter Frida sehingga mereka menjadi pusat perhatian semua orang disana.
Litha hanya diam menatap tajam Dokter muda tersebut. Selama ini Litha hanya diam saja ketika melihat Dokter Frida mendekati Raka, tapi tidak untuk kali ini!
Kesabaran Litha sudah habis ditambah lagi dengan pikirannya yang kalut dengan pertanyaan Oma Rahma yang memutari isi kepalanya, membuat Litha sangat kesal dengan wanita dihadapannya ini.
"Kamu tu ya gak sopan, saya ini dokter pembimbing kamu hari ini. Mau dikasih nilai rendah?" Ancam Dokter Frida.
Ken hendak bertindak namun kedua tangannya dicekal oleh Raka dan Umran yang berada di kanan kirinya.
__ADS_1
Litha tersenyum sinis. "Mbak tolong yah buangin sampah itu, habisnya cocok sama Mbaknya!"
Mata Fika melotot dan tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar.
"Kurang ajar! Saya bukan mbak kamu!" Dokter Frida meremas kaleng minuman itu.
"Satu lagi Mbak, jadi Dokter jangan genit-genit deketin atasannya dengan alasan urusan pekerjaan," ucap Litha dengan senyuman manisnya. Tapi tidak untuk Frida yang menganggap itu adalah senyuman paling menyebalkan.
Sejurus kemudian Dokter Frida tersenyum, ia mengontrol emosinya karena semua mata menatapnya. Dia tidak ingin reputasinya sebagai dokter lemah lembut dan baik hati jadi hancur didepan umum apa lagi dihadapan Raka sang pujaan hatinya.
"Yang kamu maksud itu siapa ya? Saya memang sering terlibat urusan pekerjaan dengan Dokter Raka dan Dokter Ken, karena kami satu tim saat berada di ruang operasi," ucap Dokter Frida sangat anggun dengan tersenyum.
"Siapa lagi kalau bukan mbaknya yang selalu deketin tunangan saya?" Litha dan Frida saling perang mata.
Sementara itu Fika dan Ken menatap sinis Umran yang tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Umran merasa lucu saja dengan adiknya yang ternyata keren abis berani melabrak pelakor didepan umum.
Lain halnya dengan Raka yang hanya diam menyimak dengan tatapan yang sulit diartikan.
Frida tertawa renyah. "Yang kamu maksud tunangan kamu itu siapa? Dokter Raka atau Dokter Ken?"
"Saya gak lagi deketin siapa pun di rumah sakit ini," sahut Dokter Frida mengelak.
Hhhhh... Litha tertawa dibuat-buat sampai akhirnya langsung diam saat menatap tajam Dokter ganjen itu. "Bullshit!" Teriak Litha.
Dokter Frida kembali meremas kaleng bekas minuman itu sangat kuat, lalu melemparnya kembali kepada pemiliknya.
Litha langsung menyingkirkan tubuhnya dan tertawa puas, "Nggak kena, wek..." Litha menjulurkan lidahnya dengan wajah konyol yang ia buat-buat yang mana membuat Frida semakin geram dengan bocah bau kencur itu.
"Aduh," pekik Nara mengusap jidatnya yang memerah karena terkena lemparan kaleng dari Dokter Frida.
Litha menoleh dan memutar bola matanya jengah. "Haduh... lo ngapain sih ada dibelakang gue? Gangguin aja acara yang lagi tegang-tegangnya," Litha berlari kecil menghampiri Nara dan mengusap-usap jidat Nara yang meringis kesakitan.
"Sakit ni Tha!" Nara cemberut menghentakkan kakinya karena secara tidak langsung jidatnya benjol akibat ulah Litha.
__ADS_1
"Hadeh... Bukan maen. Kocak sih ini," Umran semakin tertawa menyaksikan ini semua.
"Entar gue tanggung jawab deh... Tapi nanti, gue mau ngusir Dokter genit itu supaya jauh-jauh dari beruang kutub gue," Litha kembali mendekat kepada Dokter Frida.
"Dokter Frida yang terhormat, saya harap ini yang terakhir kalinya saya lihat Dokter Frida mencoba mendekati Dokter Raka, karena Dokter Raka adalah tunangan saya," ujar Litha menatap serius Dokter Frida yang malah tertawa geli ditempatnya.
"Nggak usah ngarang deh... Kamu itu siapa? Sadar diri," Dokter Frida mendorong dada Litha yang langsung ditepis oleh Litha.
"Anda yang seharusnya sadar diri. Jangan jadi perempuan murahan! Sudah tahu Dokter Raka memiliki kekasih yang ia tutupi identitasnya, tapi Anda masih mencoba mendekati dan mencari perhatian dengannya. Apa itu namanya kalau bukan perempuan murahan yang gak punya harga diri mengejar-ngejar laki-laki," balas Litha.
Plak!
Satu tamparan mendarat mulus dipipi kanan Litha.
"Jaga bicaramu! Kamu bisa gagal menjadi dokter karena sikap mu ini. Apa mau saya laporkan kepada pihak kampus kamu?" Ancam Dokter Frida.
Litha tertawa renyah memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan keras dari Dokter sialan itu. Litha menatap Raka yang hanya diam saja sejak drama dimulai.
"Kak Raka gak mau belain aku?" Litha mulai curiga dengan diamnya seorang Raka si manusia dingin.
"Hahaha... Siapa kamu?" Frida tertawa meremehkan karena Litha diacuhkan oleh Raka.
1 detik
2 detik
3 detik
Raka masih diam membuat Litha jengkel.
Tapi dilain sisi Litha berpikir apa Raka marah dengannya, Raka yang tidak suka dengan keributan dan selalu menghormati orang lain, kali ini sangat bertentangan dengan sikap Litha yang keterlaluan dengan Dokter pembimbingnya itu.
****
__ADS_1
Agar mengurangi kekesalan dengan sikap cuek Raka, ada bonus visualnya beruang kutub karena Author baru aja dapet kiriman foto ini dari bestie Author. Hhh emang pengertian banget dia kalau Author butuh vitamin mataš¤