
"Sini dengerin aku," disela tawanya Raka memegang kedua pundak Litha agar menatapnya.
Raka menghelai nafasnya untuk mengontrol diri agar tidak tertawa lagi. Dan beginilah Raka memulai pidatonya, jujur Raka males sebenarnya, tapi demi ayang Litha apa sih yang enggak.
"Harus aku jelasin berapa kali? Aku sayang dan cinta kamu tanpa memandang fisik kamu. Perasaan aku ke kamu itu tulus Tha. Kalau boleh jujur selama aku menjalani pendidikan di Inggris, aku beneran gak ada waktu untuk sekedar buka handphone dan memberi kamu kabar. Tidur malemnya, aku atur cuma 4 sampai 5 jam doang dalam sehari. Selama di sana kehidupan aku cuma belajar dan belajar, di sana aku cuma pakai alat elektronik laptop yang khusus untuk belajar. Aku belajar pagi siang malam itu juga demi kamu, supaya aku bisa mengejar materi, bisa cepat menyelesaikan pendidikan ku dan bisa kembali sama kamu," tuh kan ini adalah kata-kata terpanjang yang Raka pernah ucapin seumur hidupnya.
"Siapa yang dua tahun lalu nangis-nangis di bandara kayak anak kecil?" Raka masih mengingat jelas betapa hancurnya hati Litha saat dirinya akan melakukan penerbangan ke Inggris. Litha sampai menangis histeris dan membuat heboh seluruh orang yang ada di bandara karena suara tangisannya yang ditambah oleh teriakan tidak jelas.
"Aku," Litha sudah sesenggukan karena mendengar pidato dari Raka.
"Setelah keberangkatan ku, siapa yang mogok makan tujuh hari tujuh malam sampai bikin semua keluarga khawatir?" Tanya Raka yang mendapat informasi tersebut dari keluarganya yang ikut pusing memikirkan Litha pada saat kejadian itu.
"Aa... Aku," Litha mengelap ingus yang keluar dari hidungnya.
Litha tampak berpikir sejenak, merasa ada sesuatu yang mengganjal. "Tunggu! Kok Kak Raka bisa tahu aku gak mau makan tujuh hari tujuh malam? Bukannya Kak Raka matiin handphone selama kuliah di luar negeri?"
"Dapet info dari Oma, Mama, dan Papa setelah aku pulang ke rumah tadi pagi," jawab Raka.
"Ceritanya aku di ghibahin nih?" Litha masih mengelap ingus yang terus meler.
Pagi tadi Mama Kania mengirimkan pesan ingin menjemput Litha ke sekolah sekalian mau otw ke rumah sakit karena jalannya searah dengan sekolah dan jalan pulang rumah Litha. Namun Litha menolaknya karena takut merepotkan dan Litha juga sudah membuat janji bersama teman-temannya yang akan hangout ke mall. So Mama Kania yang memberitahu Raka tentang keberadaan Litha.
"Kalau gak di ghibahin, aku gak bakal bisa jemput kamu di mall tadi sore," tutur Raka tersenyum melihat wajah Litha yang kusut karena menangis.
"Dan gak bisa ketemu sama guru biologi yang deketin kamu sejak aku pergi ke luar negeri," lanjut Raka menggoda Litha.
Litha menendang pinggang Raka dengan sikunya, sampai membuat Raka meringis merasa sakit.
"Tentang guru itu, aku gak cemburu karena dia yang deketin kamu, dan kamu nya enggak kan? Malah kamu benci sama dia. Jadi buat apa aku cemburu hmm..?" Raka mencubit gemas pipi Litha.
"Kalau dulu di Korea mah beda. Kamu bilang boyband nya ganteng, so kamu kagum sama mereka, dan rasa kagum itu gak menutup kemungkinan untuk berubah jadi rasa cinta. Itu yang aku takutin," jelas Raka sambil mengusap pipi yang beberapa detik lalu dicubit olehnya.
Litha langsung memeluk Raka, kepalanya ia sandarkan di dada Raka. Perasaannya menghangat kala Raka membalas pelukannya dan mencium pucuk kepalanya. Berada dalam pelukan Raka adalah tempat ternyaman bagi Litha.
Litha mencium aroma mint yang sangat amat ia rindukan dari seorang pemuda dingin ini. Aromanya yang khas membuat Litha tidak rela untuk melepaskan pelukan hangatnya. Tiba-tiba Litha teringat kejadian memalukan tadi sore di mobil saat pertemuan pertama mereka setelah dua tahun tidak berjumpa.
"Kak..." Litha menengadahkan kepalanya menatap Raka yang menunduk melihat Litha.
"Kenapa hmm...?" Raka mengusap rambut Litha.
"Aku masih malu keinget kejadian di mobil tadi sore," Litha mengaku. Wkwk...
"Terus?" Raka menahan tawa mengingat apa yang diingat Litha. Sungguh kocak sekali pacarnya satu ini, pikir Raka.
__ADS_1
"Kakak gak ilfeel gitu sama aku?" Tanya Litha to the point.
"Mau yang jujur apa enggak?" Raka masih menahan tawanya.
"Yang jujur lah," Litha berkedip-kedip lucu menunggu jawaban Raka.
"Emm... Sedikit sih," jujur Raka sejujur-jujurnya.
Litha langsung cemberut dan hendak melepaskan pelukannya, namun dengan cepat Raka semakin mengeratkan pelukannya.
"I love you Litha Kusuma Jaya Nagara," bisikan Raka terdengar lembut, nafasnya menyapu permukaan kulit di area telinga Litha.
"I love you too Kak," Litha tersenyum dibalik pelukan Raka.
Belum genap lima detik tiba-tiba Raka melepaskan pelukannya dengan raut wajah datar. Litha mengerutkan keningnya melihat mata Raka yang tatapannya berubah menjadi dingin lagi.
"Kenapa?" Heran Litha.
Tidak ada jawaban dari Raka, Litha jadi jengkel sendiri.
"Dingin tauk Kak, peluk lagi yuk biar anget," Litha merenggangkan tangannya dengan senyuman lebar, tapi tidak disambut baik oleh Raka.
"Enggak,"jawab Raka singkat.
"Tadi aku pidato jelasin panjang lebar, gak dikasih hadiah apa gitu?" Tanya Raka memancing.
"Hadiah apa? Ini udah malem banget gak ada toko yang buka di jam segini. Hadiahnya makanan aja ya... Kalau restoran masih ada yang buka jam segini," Litha mengecek jam di ponselnya yang sudah menunjukkan hampir pukul 1 dini hari.
Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu sehingga membuat mereka tidak sadar jika sudah lebih dari tiga jam mereka duduk mengobrol di taman mini ini.
"Astaga... Udah tengah malem Kak, pantesan aja sepi dan dingin banget," Litha melihat sekitar komplek nya yang sepi, gerbang rumah Litha belum tertutup karena Raka belum pulang.
Raka yang mendengar kata dingin dari bibir Litha, langsung mencopot jaketnya dan memasangnya pada bahu Litha.
"Bukan hadiah makanan atau barang yang aku minta," ujar Raka.
"Terus apa?" Litha masih belum paham maksud Raka.
Raka nampak berpikir dengan melihat ke langit atas.
Cup. Cup.
Dua kecupan singkat dari Litha mendarat di kedua pipi Raka yang terkejut. Raka melihat Litha yang sudah tersenyum-senyum.
__ADS_1
"Itu hadiah yang kamu minta?" Tebak Litha.
"Kalau lebih dari itu boleh?" Tanya Raka tawar menawar.
"Jangan aneh-aneh deh..." Mata Litha memincing berpikir buruk tentang Raka.
Raka mengusap wajah Litha dari dahi sampai dagu dengan telapak tangannya. "Jangan kotor pikirannya!"
"Habisnya tadi bilangannya ada 'lebih-lebihnya' gitu kayak yang di TV-TV," Litha membela diri.
"Dasar korban sinetron!" Cibir Raka.
"Jadi tadi maksudnya apa? Adek yang masih polos gini mana paham begituan," Litha bergaya sok di imut-imutkan dan menunjukkan puppy eyes nya. Hadehhh Tha gak usah digituin juga kamu udah manis dan imut dari sononya.
"Polos apaan? Gak ingat sama kejadian di mobil tadi sore?" Ejek Raka membuat Litha cemberut.
"Ih... Kak Raka mah gitu," Litha mengerucutkan bibirnya.
Raka tertawa renyah, jadi merinding lagi dia mengingat saat-saat Litha hilang kontrol.
"Boleh gak cium, tapi ciumnya selain di pipi, di dahi, di mata, di dagu, dan di hidung?" Ucapan Raka kali ini terdengar manis.
Litha mengerti maksud Raka, tapi dia mau mengerjai Raka dulu. Yaaa itung-itung balas dendam ke Raka yang udah ngerjain Litha waktu sok-sokan pura-pura marah dan cemburu dengan Pak Gio.
"Selain disini, disini, disini, disini, dan disini?" Litha menunjuk wajahnya di bagian yang disebutkan oleh Raka.
"Berarti yang belum ke tunjuk... Sini dong," Litha menunjuk kedua alisnya.
Raka menghelai nafasnya, dia tahu Litha sengaja mengerjainya.
Cup. Cup.
Raka mengecup kedua alis Litha dengan singkat seperti yang Litha lakukan saat mencium pipinya tadi.
"Masih ada satu lagi yang belum ke sebut," ucap Raka memandang bibir mungil Litha yang kebanyakan cemberutnya dari pada senyumnya.
Tanpa aba-aba Litha langsung gerak cepat mengecup singkat bibir Raka dua kali.
Cup. Cup.
"Udah kan? Sekarang udah jam satu, waktunya pulang dan istirahat," tutur Litha sambil tersenyum dan menjulurkan lidahnya mengejek Raka yang kalah cepat degannya.
Litha sudah berhasil mencium Raka sampai empat kali, sedangkan Raka hanya berhasil mencium Litha dua kali. Itu pun hanya mengecup di alisnya, apa coba namanya kalau bukan kalah cepat dengan Litha?
__ADS_1