
Hampir dua tahun berlalu begitu cepat, tiga gadis cantik tertawa riang penuh bahagia berdiri di gerbang sekolah menunggu seseorang.
Sebuah mobil mewah berhenti didepan sekolah, ketiga siswi tersebut langsung masuk ke dalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan standar.
"Ada yang lucu? Kenapa dari tadi ketawa kayak orang gila?" Sesekali Sekar melihat kaca didepan untuk melirik Litha yang hanya duduk diam di kursi belakang, berbeda dengan Sarah dan Fika yang dari tadi cengengesan tidak jelas.
Yap pemilik mobil mewah tersebut adalah Sekar yang sudah membuat janji untuk hangout bersama tiga gadis anak SMA setelah mereka bertiga pulang sekolah. Sekar sekarang sedang mencicipi manis dan pahitnya bangku perkuliahan sekitar sepuluh bulan lamanya. Ia berada di universitas yang sama dengan Arkan dan Jordy.
"Tadi Litha dideketin lagi sama guru ganjen itu," Sarah sampai memegang perutnya yang terasa sakit karena berlebihan tertawa.
Whahaha.... Tawa Sekar langsung pecah mengingat mantan guru Biologi nya dulu. Setelah kelulusan Raka kurang lebih dua tahun yang lalu, pihak sekolah merekrut beberapa guru baru. Salah satunya ialah Pak Gio, guru biologi yang berusia sekitar 27 an dengan status duda yang rumornya belum memiliki anak.
"Di kasih apaan lo? Bunga? Puisi cinta? Cokelat? Atau duit?" Ceplos Sekar diselingi dengan tawa mengejek.
Pak Gio emang ganteng sih dibanding dengan guru-guru lainnya, umurnya juga gak terlalu tua-tua amat, kaya juga, dan pastinya pintar. Tapi kalau dibanding sama Raka yang mantan idola SMA Nagara, yaaa jangan ditanya!!!
"Dikasih permen lollipop, perrffft...," Fika menahan tawa melihat permen lollipop jumbo digenggamannya.
"Widih gede amat lollipop nya, cuma satu doang tuh?" Sekar menaikkan alisnya sambil tersenyum.
Sekar yang sekarang sudah berbeda dari tahun lalu, sikapnya sudah tidak semanis dan sekalem dulu. Maklum guys circle pertemanannya yang membuatnya menjadi lebih jahil dan cerewet.
"Iya dong harus gede dan cuma satu doang. Biar kayak rasa cintanya Pak Gio yang gede ngalahin lollipop ini dan pasti cintanya hanya untuk Litha seorang," Sarah menoel dagu Litha yang langsung ditepis oleh empunya.
"Kalian pernah mikir gak sih? Kenapa Pak Gio gak bosen ya ngejar cinta Litha, padahal ini udah hampir mau dua tahun dan sikap Litha tetep cuek dari dulu," tutur Sekar.
"Iya yah... Padahal dia ganteng dan belum tua-tua amat, dia itu bukan cuma idaman emak-emak komplek, tapi banyak cewek-cewek muda yang naksir ke dia," balas Sarah mengingat banyak siswi yang mengidolakan Pak Gio, terlebih lagi Pak Gio belum memiliki pasangan hidup.
"Terima aja Tha cintanya. Malah katanya kalau dapet pasangan yang usianya lebih matang itu bisa membimbing kita ke jalan yang lurus, dan gak akan ada yang namanya berantem segala macem, soalnya doi bakal sering-sering ngalah sama yang muda," cerocos Fika seperti rel kereta api.
"Kenapa jadi bahas dia sih?" Kuping Litha gatal mendengar pembahasan tentang guru biologi tersebut.
"Kalau lo sama dia, gue yakin habis lulus bulan ini lo langsung diajak married ama dia," oceh Sarah ngelantur.
Fika memakan lollipop jumbo yang rasanya asam manis, sangat pas di lidahnya. "Asli ini lollipop nya enak banget, lo gak mau coba Tha?"
__ADS_1
"Nggak," ketus Litha cemberut.
"Yakin? Nanti nyesel?" Goda Fika memamerkan rasa nikmat dari lollipop nya dengan menunjukkan ekspresi menikmati permen warna-warni tersebut.
"Btw... Bokap nyokap lo tau tentang hubungan lo sama Pak Gio?" Entah mengapa tiba-tiba terlintas pertanyaan itu dalam benak Sekar.
Karena Sekar sibuk dengan tugas kuliah jadi dia tidak terlalu mengikuti cerita antara Pak Gio dan sahabatnya itu. Beda cerita kalau Sarah dan Fika yang nempel terus sama Litha kayak perangko.
"Hubungan apaan? Orang kita gak ada hubungan aneh-aneh, kita cuma sebatas guru dan murid, gak lebih!" Litha menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Maksud gue orang tua lo tau apa enggak kalau Pak Gio naksir sama lo?" Sekar melirik Fika yang hanya diam disampingnya.
Litha menghelai nafasnya. Mengingat kejadian satu tahun yang lalu saat orang tuanya datang ke sekolah untuk menghadiri acara tahunan yaitu pemberitahuan peringkat kelulusan sekaligus kenaikan kelas.
Flashback On
Litha sedang berbincang ringan dengan Ayah dan Bunda karena tidak sengaja berpapasan dengan mereka berdua yang akan menuju ke ruang kepala sekolah.
Tiba-tiba entah dari arah mana datangnya, Pak Gio sudah ada disampingnya.
"Lalu?" Tanya Ayah Kusuma dengan santainya.
"Saya sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan hati Litha, namun sepertinya Litha belum ingin membalas perasaan saya," senyuman tulus terukir di wajah tampan Pak Gio.
"Apa ini salah satu cara Anda untuk meluluhkan hati putri saya dengan cara mendekati kedua orang tuanya?" Bunda Larissa terlihat lebih tegas dari pada Ayah Kusuma yang tidak terlalu mempermasalahkan perasaan Pak Gio kepada putri bungsunya.
"Tidak Bu. Saya hanya ingin memberitahu bahwa saya mencintai putri Bapak dan Ibu. Jadi jika suatu saat kalian melihat saya memberikan perhatian yang lebih kepada Litha, kalian tidak akan mengintrogasi saya, dan tidak akan terkejut dengan perilaku saya kepada putri bungsu kalian," jelas Pak Gio panjang kali lebar kali tinggi.
Bunda mengangguk paham dengan maksud serta tujuan Pak Gio yang tiba-tiba menyatakan perasaannya terhadap putrinya dihadapan dirinya dan sang suami.
Ayah berganti menatap Litha yang masih bingung dengan percakapan tidak penting ini. "Lalu bagaimana dengan kamu?"
"Tttt... Ta Tha?" Litha menunjuk dirinya sendiri. Ayah dan Bunda mengangguk.
"Tatha gak ada perasaan lebih sama Pak Gio," Litha melihat beberapa murid yang berlalu lalang melewatinya dengan bisik-bisik, ada juga murid yang sengaja berhenti dan duduk didepan kelas karena ingin menguping pembicaraan tidak penting ini. Sekali lagi TIDAK PENTING! Ini sangat tidak ada untungnya bagi Litha.
__ADS_1
Oke apakah sekarang Pak Gio puas sudah berhasil menjadikannya pusat perhatian banyak murid? Litha yakin setelah ini pasti akan banyak gosip bertebaran di seluruh penjuru sekolah. Banyak siswi yang mengidolakan guru macam Pak Gio, setiap gerak-geriknya pasti selalu diintai oleh para fansnya.
Pak Gio tersenyum hangat menatap gadis kecil yang cemberut tersebut. Menurutnya sangat lucu sekali jika Litha memanyunkan bibirnya.
"Saya tidak akan memaksa kamu. Saya akan bersabar untuk menanti kamu akan membalas perasaan saya," suara lembut keluar dari bibir Pak Gio.
"Pak udah berapa kali saya bilang? Saya udah punya pacar Pak! Untuk saat ini dia emang gak bisa selalu ada untuk saya, tapi saya dan dia saling menyayangi," tegas Litha.
"Saya gak mau Bapak nantinya akan kecewa. Karena sampai kapan pun saya akan tetap dengan pendirian saya," tambah Litha.
"Saya tau itu. Tapi sebelum janur kuning melengkung kamu masih milik orang tua kamu. Tidak ada yang berhak atas diri kamu selain kedua orang tua kamu," jawab Pak Gio dengan senyuman tulus.
"Ayah... Bunda...." Litha memegang tangan kedua orang tuanya.
"Saya tidak akan macam-macam dengan putri Bapak dan Ibu. Saya akan menghormati apa pun keputusannya untuk sekarang ataupun kedepannya nanti," senyuman Pak Gio semakin merekah saat Ayah dan Bunda mengangguk seraya tersenyum tipis.
Ayah dan Bunda tidak marah kepada Pak Gio, meskipun Pak Gio berstatus sebagai duda, karena mereka tahu perasaan seseorang tidak bisa diatur oleh akal sehat manusia. Mereka yakin Pak Gio ialah laki-laki baik yang bisa menghormati seorang perempuan.
"Perjuangkan apa yang ingin kamu perjuangkan. Tapi ingat akan konsekuensi dari perjuangan mu itu, dan jangan terlarut-larut dalam kesedihan atau pun kekecewaan jika suatu saat hasilnya tidak sesuai dengan harapan diawal perjuangan mu," pesan Ayah lalu menepuk pundak Pak Gio dan segera melangkah pergi bersama Bunda.
Mulut Litha ternganga lebar, ia masih mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Ayahnya. Setelah sadar jika ucapan Ayahnya bukanlah mimpi, Litha menoleh ke belakang melihat punggung orang tuanya yang semakin menjauh.
Litha berganti menatap kesal Pak Gio yang masih setia dengan senyuman menawannya. "Selama ini saya masih menghormati Anda sebagai pembimbing saya dilingkungan sekolah. Tapi setelah kejadian ini, saya benar-benar benci terhadap Anda,"
Litha melangkah dengan menghentakkan kakinya karena sangat kesal dengan Pak Gio dan respon baik dari orang tuanya untuk guru ganjen tersebut.
Flashback Off
"Kak Raka... Aku gak tahan sama kondisi ini...." Litha berteriak membuka kaca mobil.
Huwaaaa..... Tangisan Litha pecah bersamaan dengan suara rengekan seperti bayi. Litha sungguh merindukan sosok Raka yang dulunya selalu siap siaga menjadi pelindungnya.
***
Tenang guys ini hanya konflik ringan kok untuk pemanis alur cerita✌️
__ADS_1