
"Dih sombong amat lu. Eh ada sandwich nih... pas banget si kalem belum sarapan pagi, nih buat lu mau nggak?" tawar Arkan pada si kalem, eh maksudnya Danil. Nah kalau ini ada kemungkinan besar Danil akan menerimanya dan memakannya, ini kan makanan bukan sebuah barang!!!
Danil tidak menjawab ucapan Arkan, tetapi pemuda kalem tersebut hendak mengambil kotak makan yang berisi sandwich yang kini berada di tangan Arkan. Karena Arkan yang sifat jahilnya mulai kumat, sebelum tangan Danil menyentuh kontak makan tersebut, Arkan sudah lebih dulu menarik tangannya untuk lebih mendekat dengannya.
Danil pun menghentikan tangan yang tadi hendak menyentuh kontak makan tersebut, tak lupa juga Danil menatap Arkan dengan memasang ekspresi datar. Sedangkan yang ditatap malah cengengesan gak jelas. Sepertinya Danil sudah membaca pikiran jahil seorang Arkan Wirata Pratama yang ingin mengerjainya.
"Bilang apa dulu?" Arkan mengode Danil untuk mengucapkan terimakasih kepadanya.
"Ini dari Raka, bukan dari lo," ketus Danil lalu merebut kotak makan tersebut secara paksa. Arkan? hanya cengengesan doang.
**Kelas X MIPA 3__
Litha sedang berada didalam kelas sendirian, dia sedang sibuk membaca komik keluaran terbaru yang baru dibelinya kemarin sore. Tiba-tiba ada sebuah suara yang menggangu kesibukannya tersebut. Handphone yang dianggurkan diatas mejanya berdering, di layar handphonenya tertulis nama Beruang Kutub 🐨
Litha sudah menjawab panggilan dari Raka, tetapi keduanya belum mengeluarkan suaranya. Kalau Litha sih masih males sama Raka karena kejadian tadi pagi, masih untung Litha mau ngangkat televon dari Raka.
Sudah sekitar 5 detik sejak Litha menjawab televon dari Raka, tapi Raka belum juga memulai pembicaraan dengan Litha. 'Ini es batu kok gak ngomong-ngomong sih... Terus ngapain nelvon gue? Dasar aneh,' batin Litha kesal.
Litha yang semakin jengkel dengan sikap dinginnya Raka pun akhirnya angkat bicara. "Ikhhh... Nyebelin banget," teriak Litha lalu segera memutuskan panggilannya.
Handphone Litha berdering lagi, jika kalian menebak itu adalah panggilan dari Raka, maka tebakan kalian benar. Litha segera menjawabnya.
"Apaan lagi sih? Kalau gak mau ngomong gak usah telvon, ngabisin kuota aja," ucap Litha ngegas. Litha tu jengkel banget sama kelakuan pacarnya yang datar, dingin, dan gak peka banget.
Terdengar suara sosok pemuda yang tertawa dari sebrang teleponnya. Entahlah bagi Raka, omelan dari Litha itu sangat lucu.
"Kenapa ketawa?" tanya Litha penasaran.
"Kamu kenapa? Hmm? Hhh..." tanya Raka sambil ketawa. Ya Raka kan gak paham dengan sikap Litha yang seperti orang marah. Ya walaupun sebenarnya emang marah sih... Raka aja tu yang gak peka.
__ADS_1
"Aku pengen kita pacaran beneran!" pinta Litha to the point dan sedikit ngegas pastinya. Tetapi diluar dugaan Litha, Raka malah ketawa.
"Kok ketawa? aku serius," tuh kan Litha ngegas lagi. Ya gimana gak ngegas, Raka nya malah ketawa sih...
"Kamu pikir kita lagi pacaran main-main atau boongan gitu? Ini juga pacaran beneran Litha," tutur Raka.
"Bukan gitu. Maksudnya kamu tu berubah dikit kek, jangan dingin-dingin amat sama aku. Udah gak peka, sikapnya dingin banget lagi. Nyebelin tau nggak?" jelas Litha yang seperti rumus volume balok.
"Iya," jawab Raka singkat.
"Iya apa?" Litha hanya ingin memastikan apakah Raka paham dengan maksud ucapannya.
"Iya aku nyebelin," jawab Raka datar.
"Ikhhh... Serah kamu aja deh, besok aku mau ketemu! Ada hal yang harus aku omongin ke kamu," pinta Litha. Besok adalah hari Minggu, ya otomatis besok Raka tidak menjemput Litha untuk berangkat sekolah bersama. Kesimpulannya, besok mereka tidak akan bertemu jika tidak ada kepentingan atau janji.
"Lhahhh... ini bukannya udah ngomong? Setiap berangkat sekolah juga bareng, berarti udah ketemu kan? Hari libur kemaren juga jalan bareng kan?" tanya Raka yang tidak mengerti maksud pacarnya. Litha itu pengennya ketemu berdua karena mau bahas sesuatu yang mungkin menurut Litha itu harus disampaikan kepada Raka.
***
Beberapa menit kemudian, datang seorang pemuda tinggi, berkulit putih bersih, dengan hidung yang mancung menghampiri Litha. Ya kan didalam kelas ini cuman ada Litha, berarti pemuda tersebut ingin bertemu Litha, siswi tercantik di sekolahnya, semua murid sangat mengakui itu. Ralat hampir semua, karena Dita menganggap dirinya sendiri yang paling cantik.
"Ehemmm..." suara seseorang yang berdeham tepat dihadapan Litha, sehingga Litha menghentikan aktivitas membaca komiknya.
Litha menurunkan bukunya, tetapi kepalanya masih menunduk sehingga Litha belum melihat pemilik suara tersebut. Matanya melihat sepatu yang dipakai oleh orang dihadapannya tersebut, sepertinya sepatu mahal itu tidak asing bagi Litha. Litha mengangkat dagunya agar dapat melihat pemilik sepatu sneaker tersebut.
"Lhohh... Kok ada di sini? Mau ngapain?" tanya Litha terkejut karena melihat kedatangan kekasihnya.
"Katanya mau ngomong, ngomong sekarang aja," jawab Raka sambil duduk di bangku Sarah, tepatnya di depan Litha.
__ADS_1
Litha menoleh ke samping kanan dan kiri, "Nanti kalo ada yang dengerin gimana?" tanya Litha.
"Gak akan, udah ngomong aja!" pinta Raka toh memang kenyataannya sepi begini.
"Aku mau ngambek," ucap Litha tanpa basa-basi sambil mengerucutkan bibirnya.
Hhhh....
Raka tertawa sejadi-jadinya, dan tentunya hal tersebut membuat Litha kesal. Ya walaupun Raka terlihat sangat tampan, masih ingat dong Raka kalau ketawa gantengnya jadi ganteng kubik, triple-triple gitulah... Tapi kekesalan Litha lebih besar dari rasa mengangumi ketampanan kekasihnya, jadi Litha tidak terlalu memperdulikan wajah Raka yang ganteng bingits hehe...
"Kok ketawa sih..?" tanya Litha kesal.
"Jadi kamu cuman mau ngomong itu doang?" tanya Raka masih ketawa, tapi ketawa kecil.
"Bukan!" ketus Litha.
"Terus?" Raka mulai memasang ekspresi wajah yang lumayan serius.
"Kita tu punya hubungan yang namanya pacar gak sih..?" tanya Litha sedikit ngegas.
"Punya," jawab Raka tanpa intonasi.
"Kalau punya, kenapa gaya pacaran kita aneh kayak gini? Kenapa gak sweet kayak di drakor-drakor romantis gitu?" ujar Litha.
"Ya berarti hubungan kita unik dan istimewa, beda dari yang lain," sahut Raka. Sebenarnya Raka mengerti apa yang dimaksud oleh Litha, tetapi mau bagaimana lagi? Kenyataannya Raka itu bukan tipe manusia yang romantis dan bukan orang yang dengan mudahnya untuk mengungkapkan perasaannya.
"Oke! Sekalian aja manggilnya ganti Lo-Gue lagi, gak usah Aku-Kamu. Biar tambah unik, jarang-jarang kan orang pacaran manggilnya Lo-Gue?" ucap Litha sambil menaikkan sebelah alisnya, sepertinya Litha ingin menantang Raka.
"Oke terserah. Yang penting jangan minta putus!" pinta Raka. Litha yang mendengar penuturan dari kekasihnya pun hanya bisa mengerutkan keningnya sampai-sampai kedua alisnya menyatu.
__ADS_1
"Ya udah gue juga lebih nyaman gini," sambung Litha lalu mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan Raka, dia tersenyum tipis. 'Duh... Ganteng banget sih..' batin Litha yang mencoba menahan agar dirinya juga tidak ikut-ikutan tersenyum. Kan ceritanya Litha masih ngambek-ngambek manja hehe...