
Pagi ini seperti biasa Raka selalu menjemput Litha untuk berangkat ke sekolah bersama-sama. Raka sudah duduk santai di teras dengan ditemani Umran, calon kakak iparnya hehe... Doakan saja lah ya!!!
"Sorry ya jadi nunggu lama. Tu anak bukan dilamain dandannya malah dilamain molornya," ujar Umran.
"No problem," ucap Raka datar.
Pasalnya tadi mbok Inah sudah membangunkan Litha dari mimpi indahnya, bilangnya sih nanti bangun kalo Raka udah sampai rumah. Tapi waktu Raka udah sampai nih, mbok Inah bangunin lagi, terus Litha bilang nanti bangunnya dan mandinya kalo mbok Inah keluar dari kamarnya dulu.
Setelah 15 menitan belom ada tanda-tanda akan kedatangan Litha yang keluar dari sarangnya, alias kamarnya. Umran yang dari tadi nemenin Raka jadi hilang kesabarannya, kalau Raka sih masih sabar-sabar aja nungguin Litha.
Umran nyamperin ke kamar adiknya dan ternyata Litha masih tidur, jangan ditanya. Udah pasti kesal banget tuh Umran. Fiks Litha itu nona muda plus adik sekaligus pacar yang nyebelin binti ngeselin banget.
Flashback On
Krekkk...
Umran membuka pintu kamar Litha. Setelah pintu terbuka Umran dikejutkan oleh sesosok gadis cantik yang sedang tertidur pulas dan begitu nyenyak sekali.
"Woiii... Bangun!" perintah Umran dengan volume setinggi yang ia mampu. Tapi sepertinya teriakan Umran yang menggelegar itu tak mampu untuk membangunkan gadis cantik itu.
"Bangun!" teriak Umran lagi seraya menarik selimut tebal berwarna putih yang tadinya membaluti tubuh mungil Litha. Namun tak ada pergerakan juga dari Litha, pagi-pagi sudah membuat jengkel abangnya saja.
Umran memutuskan untuk turun ke bawah menemui Raka dan menyuruh Raka untuk membangunkan Litha. Tanpa adanya paksaan, Raka menuruti dan melaksanakan perintah dari calon iparnya.
Raka dan Umran menuju ke atas dimana ada seorang gadis cantik yang masih tertidur sangat pulas sekali.
"Tha," panggil Raka dengan volume sedang tetapi mampu membuat Litha berdeham singkat.
"Hm," Litha berdeham singkat dengan mata yang masih tertutup. Litha tu belom sadar-sadar amat, otaknya masih berada didalam alam bawah sadar.
Umran pun langsung melongo tidak percaya. Tadi dia teriak-teriak bangunin Litha, tapi gak ada pergerakan sama sekali dari Litha. Boro-boro pergerakan, nyaut aja enggak, dicuekin iya!!!
Sekarang aja, Raka cuma manggil Tha doang, dengan volume sedang pula. Tetapi mampu membuat Litha berdeham, ya meskipun matanya masih tertutup sih... Tapi lumayan lah dari pada Umran tadi di cukein wkwk...
Lalu Raka menoleh ke samping melihat calon iparnya yang sedang cekikikan ga jelas, ngeri juga kalau sampai iparnya jadi str*s.
Gimana Raka gak mikir ngelantur? Orang Umran aja cekikikan ga jelas gitu, padahal menurut Raka di sini gak ada sesuatu yang bernilai lucu.
Umran berfikir bahwa adiknya ini sedang mengigau. Bahkan Umran sudah membayangkan, kalau selanjutnya Litha akan berbicara lebih jauh tentang unek-uneknya selama ini. Tentunya saat nanti Litha bangun dan melihat kedua cogan tepat dihadapannya itu, sudah dipastikan Litha akan malu sampai ke ubun-ubun. Hadehhh... Dasar Umran, mikirnya udah kejauhan.
"Woiii ada Raka nih..." teriak Umran memberitahu Litha.
Seketika mata Litha membuka sempurna, Litha menatap ke arah dua manusia good looking tersebut secara bergantian.
"Kalian berdua ngapain di sini?" tanya Litha.
"Bangunin orang yang tidurnya kek kebo," jawab Umran.
"Enak aja, cantik-cantik gini dibilang kek kebo," sahut Litha tak terima.
"Kak lihat tuh... Aku dikatain kek kebo," ceritanya Litha lagi ngadu ke Raka.
__ADS_1
"Emang kamu semalem tidur jam berapa?" tanya Raka pada Litha.
"He he he," bukannya dijawab, doi malah tertawa kikuk. Raka menaikkan salah satu alisnya, pertanda jika Raka tidak menginginkan jawaban itu.
"Semalem main game dulu. Soalnya udah lumayan lama gak main game karena kak Raka," jawab Litha.
"Kok jadi gara-gara Raka?" tanya Umran menyelidik.
"Karena kalo udah buka HP jadi pengen lama-lama lihatin foto kak Raka," jawab Litha yang memang apa adanya begitu.
Wallpaper di handphone Litha itu, terpasang sebuah foto seorang pemuda tampan. Siapa lagi kalau bukan Raka, pacarnya yang gantengnya gak manusiawi. Meskipun Raka gak suka foto, tapi kalau satu, dua atau tiga foto masih ada lah...
Emang gitu Litha, ngomong tanpa pikir panjang dulu, ntar ujung-ujungnya malu deh... Kayak sekarang ini, dia udah menenggelamkan kepalanya dibawah selimut tebalnya.
Sedangkan Umran malah ketawa terbahak-bahak, dia sengaja mau buat Litha jadi tambah malu. Awalnya sih gak ada niatan gitu, tapi tiba-tiba Litha menenggelamkan kepalanya dibawah selimut? Tentunya itu dijadikan kesempatan emas untuk Umran membuat Litha tambah malu dihadapan Raka. Ya meskipun Umran tahu kalau Raka tidak mempermasalahkan ucapan Litha tadi.
"Diem..." teriak Litha dari bawah selimut tebalnya. Raka tersenyum miring dengan tingkah lucu pacarnya. Umran? Masih tertawa sejadi-jadinya, dia sengaja ingin mengerjai adeknya.
Raka duduk di samping ranjang Litha, Raka mengusap kepala Litha yang berada di bawah selimut. Berarti sama aja Raka lagi mengusap selimut dong? Ya gpp lah, yang terpenting Litha dapat merasakan sentuhan tangan Raka.
"Jangan disembunyiin mukanya! Aku buka ya?" tutur Raka meminta izin untuk membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Litha dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Litha hanya mengangguk, dan Umran menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang ternyata bukan hanya manja dengan orang tuanya, tetapi juga sangat manja dengan pacarnya.
Setelah selimut tebal itu diambil Raka, terlihatlah wajah gadis cantik yang masih bermuka bantal. Walaupun muka bantal, tapi tetep cantik kok. Litha menatap tajam ke arah saudaranya, yang ditatap malah udah cekikikan ga jelas dari tadi.
Rasanya Litha mau buang aja tuh manusia tampan yang punya status sebagai kakak kandungnya, ke kutub Utara. Biar kalo nanti dia balik ke rumah ini, dia udah berubah kayak Raka yang dulu dingin banget kek beruang kutub. Habitat Raka dulunya kan, ada di kutub Utara sana wkwk...
Litha melihat ke arah atas, dimana jam dindingnya dipasang. Seketika mata Litha membulat sempurna, lalu dia segera masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan kedua manusia good looking tersebut.
Setelah masuk ke dalam kamar mandi dan melepas semua kain yang tadi membaluti tubuh mungilnya, Litha teringat akan sesuatu yang tadi sempat dilupakannya. Litha membuka sedikit pintu kamar mandi dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.
"Keluar dari sini!" teriak Litha kepada pacarnya dan abangnya. Lalu Litha menutup pintunya lagi. Tentunya Raka dan Umran menggelengkan kepalanya masing-masing melihat kelakuan gadis cantik itu.
Flashback Off
"Sorry," satu kata yang terucap dari bibir Litha yang baru saja keluar dari dalam rumah mewah itu. Dan kini Litha menghampiri Raka dan Umran. Ralat, Litha hanya menghampiri Raka, bukan Umran!!!
"Lama banget sih lo," ucap Umran sewot.
"Apaan sih lo? kak Raka aja gak masalah, elo yang sewot," ketus Litha.
"Gue cuma mengungkapkan isi hati Raka yang dari tadi di pendam," tutur Umran.
"Sok tau," ketus Litha.
"Emang tau," jawab Umran tak mau kalah dari Litha.
"Ayo berangkat!" ucap Raka menghentikan perdebatan diantara kakak beradik itu.
Namun langkah Raka dan Litha dihentikan oleh suara seorang wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik.
__ADS_1
"Raka, Tatha," panggil wanita itu.
Jika kalian menebak itu adalah bunda Larissa, maka tebakan kalian benar. Iya tumben banget bunda jam segini masih di rumah, biasanya udah mengecek data-data penting di yayasan pendidikan milik keluarga Nagara yang dikelolanya, atau udah ke kampus hanya untuk sekedar mempersiapkan materi yang digunakan untuk mengajar mahasiswa dan mahasiswi.
Iya, selain punya sekolah menengah atas, keluarga Nagara juga mempunyai sebuah universitas yang tak kalah populernya dari SMA Nagara. Perguruan tinggi milik keluarga Nagara tersebut juga dinamai dengan nama yang sama, yaitu Universitas Nagara.
Raka dan Litha menoleh ke belakang dan menghampiri bunda yang berada di samping Umran. Litha udah dag dig dug itu, dia udah bayangin gimana reaksi bundanya yang udah deger gosip beberapa hari yang lalu tentang Raka yang memeluk Litha di sekolah.
Awalnya Litha udah lega banget karena selama beberapa hari ini bunda sibuk banget. Dan kemungkinan besar kalau bunda Larissa udah sibuk gitu, Litha udah memperkirakan kalau bunda gak akan tau tentang gosip yang beberapa hari yang lalu menggemparkan sekolahnya. Eh... Taunya malah bunda mendengar gosip itu.
"Ada apa bun?" tanya Litha.
"Bunda yakin kamu pasti udah tau jawabannya," jawab bunda Larissa tegas.
"Maaf bun, kejadian itu karena Raka. Bukan salah Tatha," sahut Raka.
Bukankah harus begitu? sebagai seorang lelaki yang gentleman Raka terlebih dahulu mengakui kesalahannya. Dari pada harus ditanyai dulu oleh bunda, lebih baik mengakui saja, toh juga nanti bunda akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
"Jujur bunda kecewa sama kamu Ka," ucap bunda kepada Raka. Sedangkan Litha dan Umran masih setia menyimak.
"Sekali lagi Raka minta maaf bun. Raka gak akan ngelakuin hal kayak gitu lagi," ujar Raka meminta maaf lagi.
"Iya bunda memaafkan kamu. Karena kamu berani mengakui kesalahan kamu tanpa menyangkut pautkan Tatha. Bunda bangga sama kamu," ungkap bunda Larissa. Tentu saja penuturan bundanya itu, mampu membuat Litha dan Umran bernafas lega.
Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah masuk ke pelataran rumah mewah keluarga Nagara. Terlihat bunda Larissa menyunggingkan senyumnya setelah melihat kedatangan mobil mewah tersebut.
Setelah dibukakan pintu mobil oleh pak sopir, turunlah seorang lelaki paruh baya yang memakai setelan jas, serta masih terlihat tampan meskipun raut wajahnya seperti sedang kelelahan. Dengan bola mata sedikit memerah dan kantung mata yang mirip seperti seekor panda, mungkin semalam beliau tidak tidur.
"Ayah..." sapa bunda Larissa kepada lelaki yang baru saja turun dari mobilnya dan kini menghampiri bunda Larissa.
Yups lelaki tersebut adalah pak Kusuma. Suami bu Larissa, serta ayah Litha dan Umran, dan dimasa mendatang mungkin akan menjadi ayah mertuanya Raka wkwk...
Ayah baru saja pulang dari luar negeri. Ayah ya begitu jarang pulang ke rumah, karena sibuk mengurus bisnisnya.
Di kantor Nagara Group itu, tepatnya di ruangan CEO ada sebuah ruangan yang khusus digunakan untuk beristirahat. Mirip-mirip seperti kamar gitu, so pak Kusuma jarang pulang ke rumah karena lebih baik menginap di kantornya saja. Dan bunda Larissa juga tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bunda mengerti jika suaminya itu sangat kelelahan, saking sibuknya.
Itu semua karena usulan dari pak Baskara, sahabatnya pak Kusuma yang terlebih dahulu merancang konsep ruangan seperti itu di semua perusahaannya. Perusahaan cabang Adelard Group yang dikelola Raka juga sama halnya, padahal Raka jarang sekali mengunjungi dan melaksanakan pekerjaannya di kantornya.
"Ini siapa bun?" tanya ayah Kusuma sembari menatap Raka.
"Calon mantu nya ayah," jawab Umran cengengesan dengan menaik turunkan kedua alisnya. Sedangkan Litha langsung menyenggol lengan Umran karena kesal.
"Calon mantu?" tanya ayah keheranan.
"Raka anaknya pak Baskara, pacarnya Tatha," jelas bunda Larissa yang sukses membuat pipi Litha menjadi merah karena malu.
"Ooo... Jadi kamu anaknya Baskara? Udah gede sekarang. Gimana kabarnya papa kamu? Baik-baik aja kan? Katanya papa sama oma kamu pulang ke Indonesia ya?" tanya pak Kusuma beruntun.
"Iya om, udah sekitar semingguan di Indonesia," jawab Raka sesopan mungkin dan dibonusi oleh senyuman mautnya.
'Ganteng banget sih lo!!! Waktu nyokap lo hamil elo, ngidam apa coba? Kok bisa seganteng itu sih...' batin Litha absurd.
__ADS_1