
"Maksudnya?" tanya Raka mengerutkan keningnya.
"Litha sama Fika ka... kayaknya di cu... lik sama p.. pe... njahat," ucap Sarah terbata-bata.
"Lo jangan ngelantur," tegas Raka yang kini sudah terlihat sedikit cemas.
"Gue serius kak," kedua mata Sarah kini sudah berkaca-kaca lagi.
"Ceritanya gue sama mereka mau maskeran wajah, terus di rumah Fika gak ada timun, terus gue yang beli di warung depan sendiri. Sedangkan Litha sama Fika di rumah nyiapin maskernya," jelas Sarah panjang lebar dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendungnya lagi.
Seketika raut wajah Raka menjadi cemas, panik dan khawatir. Sarah yang memandanginya pun jadi gagal nangis, dia sangat kagum dengan ciptaan Allah tersebut. Bagaimana mungkin saat sedang panik begini Raka malah terlihat sangat tampan.
Hadehhh dasar Sarah... tadi baru aja nangis, ehhh sekarang malah mikirin yang enggak-enggak. Mungkin karena selama ini Raka tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun dihadapan publik alias wajah datar. Jadi sekalinya masang ekspresi, gantengnya tambah kelihatan, ya walaupun ekspresi orang panik gitu.
"Lo tau dari mana?" tanya Raka.
Tetapi Sarah masih setia menatap kekasih dari sahabatnya tersebut, untung aja Sarah gak senyum-senyum sendiri. Kan bahaya kalau Raka mengetahui Sarah lagi menatapnya dengan perasaan kagum. Bukan suka ya guys, hanya sekedar mengagumi ciptaan Allah..!
"Sar..." panggil Raka sedikit tegas.
"Ehhh... Iya kak, a... pp... pa?" ucap Sarah gugup.
'Akh... Sial. Kenapa gue gak tau tempat sama waktu sih...' batin Sarah.
Maklum aja lahhh... ini kan pertama kalinya Sarah bisa melihat ekspresi dari wajah Raka yang biasanya selalu datar. Oke kedepannya Sarah bakal lebih fokus dan serius lagi kok. Lagi pula Sarah masih sadar kalau Raka itu pacarnya sahabatnya sendiri, toh juga es balok kayak Raka bukan tipenya Sarah. Hehe... Kebalik ya maksudnya Raka yang sikapnya kayak es balok.
"Dari mana lo tau kalo Litha sama Fika diculik?" tanya Raka sekali lagi.
"Dari ini," jawab Sarah sambil mengulurkan tangannya yang memegang sebuah handphone.
"Ini... Ini HP nya Litha," jelas Raka.
"Iya kak, isinya ada rekaman suara Litha sama penculiknya. Gue nemuin itu di kamar Fika yang sekarang udah berantakan, dan waktu gue nemuin HP nya Litha rekaman suaranya masih on. Mungkin Litha gak sengaja nekan tombol on perekam suara itu," jelas Sarah yang seperti rumus volume balok.
Raka mendengarkan rekaman suara tersebut, walaupun percakapan antara Litha dan penjahat tersebut sangat singkat, tetapi itu sudah sangat cukup jelas bahwa penjahat tersebut membawa Litha serta Fika entah kemana?
"Apa lo mau lihat kamarnya Fika yang udah berantakan, pintu kacanya sampai pecah, itu tempat dimana penculiknya ngebawa Litha sama Fika," jelas Sarah.
__ADS_1
"Gue percaya sama omongan lo, jadi buat apa gue lihat?" tanya Raka.
"Ya mungkin lo bisa nemuin barang apa gituuu yang bisa nyari tau keberadaan Litha sama Fika," tutur Sarah.
"Gue yakin penculik itu pasti penjahat kelas kakap. Mereka nggak akan ngelakuin kecerobohan, apa lagi sampe ninggalin barang bukti atau jejak," jelas Raka. Sarah pun mengangguk paham dan mengerti.
Setelah mendengarkan rekaman suara tersebut, Raka mengepalkan tangan kanannya. Otot lengannya tidak terlihat karena tertutup oleh balutan jaket hitamnya, tetapi otot-otot punggung tangannya terlihat sangat jelas. Dan itu sudah cukup membuat Sarah sedikit ngeri.
'Ngeri juga ya ternyata kalo ketua OSIS yang selama ini kelihatan dingin, udah marah. Gi*a otot tangannya aja langsung keluar gitu apa lagi otot lengannya ya?' batin Sarah lalu menelan ludahnya sendiri.
'Tu tangan kalo buat nonjok muka orang, gue jamin langsung bonjok. Kalo buat nonjok perut mungkin cacing-cacingnya langsung is dead,' tambah Sarah, sungguh isi hati yang lumayan absurd wkwk...
"Ohh... ya kalo gak salah, seinget gue didepan sini ada cctv nya. Tapi gue gak tau cctv nya masih nyala atau enggak," ujar Sarah.
"Nahhh... Itu tuh..." Sarah menunjukkan cctv yang berada di atas sudut kanan. Bola mata Raka mengikuti arah telunjuk tangan Sarah.
"Jadi gimana ini kak? Gue gak berani ngasih tau kejadian ini ke keluarganya Litha. Dan keluarganya Fika kayaknya juga lagi ada masalah mungkin, soalnya tiba-tiba adeknya Fika pindah ke luar kota," ujar Sarah memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Walaupun Sarah sikapnya friendly plus suka omong, tetapi Sarah juga bisa canggung kalik sama Raka. Tau lah alasannya? Pasti karena Raka irit bicara, Sarah takut aja kalau malahan salah ngomong.
"Jangan kasih tau ini ke orang tuanya Litha, gue akan urus semuanya," pinta Raka yang diangguki oleh Sarah. Raka tidak ingin orang tuanya Litha khawatir tentang anak bungsunya. Apa lagi bundanya Litha itu sangat baik kepada Raka, Raka tidak ingin bunda Larissa panik dan cemas.
"Apa lo udah ngasih tau Umran?" tanya Raka.
"Tadi gue udah sempet coba hubungin dia, tapi Hp nya mati," jawab Sarah.
Terlihat Raka seperti sedang mencoba menghubungi seseorang, lalu dia melangkah kakinya menuju mobil mungkin? Tapi Sarah menghentikan langkah kaki Raka.
"Kak Raka," panggil Sarah sedikit mengeraskan suaranya. Raka hanya menoleh ke belakang.
"G... gue ikut elo nyari Litha sama Fika b.. boleh?" tanya Sarah yang sebenarnya ragu.
Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran dalam otak Raka, bagaimana mungkin ia bisa melupakan Sarah? Sarah adalah teman Litha sejak kecil. Dan sekarang ini bukan hanya Raka yang mencemaskan keadaan Litha, tetapi Sarah juga cemas.
Mohon dimaklumi! Saking khawatirnya Raka dengan keadaan Litha, Raka jadi melupakan Sarah yang sekarang memang sendirian jika tidak ada Raka.
"Masuk mobil..! Gue anter pulang," ucap Raka tanpa intonasi, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa ragu dan canggung Sarah langsung masuk ke dalam mobil Raka. Lagi pula ini bukan pertama kalinya dia masuk ke dalam mobil sport tersebut, bedanya hanya sekarang tidak ada Litha. Mungkin dalam perjalanan menuju rumah, Sarah akan sangat amat canggung. Sarah duduk di depan, tepatnya di samping Raka. Gak mungkin dong Sarah duduk di belakang, nanti jatohnya Raka kayak supirnya Sarah.
__ADS_1
"Tapi gue pengen ikut nyari Litha kak!" seru Sarah.
"Nurut sama gue!" perintah Raka tanpa menoleh karena sedang fokus pada jalanan yang saat ini lumayan ramai.
"Hmmm..." mau tidak mau Sarah harus menuruti perintah Raka.
***
Tadi Raka sudah mengantarkan Sarah pulang dan sekarang Raka sendirian dalam perjalanan entah menuju kemana, Raka sendiri bingung? Raka juga sudah menyuruh semua anak buahnya termasuk anggota geng motornya untuk mencari keberadaan Litha. Tapi sampai sekarang Raka belum mendapatkan kabar baik yang ia inginkan. Handphone Raka berdering, tentunya pemilik handphonenya segera mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Widihhh... Tumben langsung ngangkatnya cepat banget," ujar seseorang dari sebrang telepon.
"Ckk... Ngapain nelfon?" tanya Raka ngegas.
"Gue mau ngajak lo nongkrong bareng gue, Danil, sama Jordy. Tapi sayang, Leon gak bisa ikut," ya kalian pasti menebak itu adalah salah satu The Perfect, siapa lagi kalau bukan Arkan yang sukanya gangguin bigbosss nya.
"Gue sibuk," ketus Raka.
"Sibuk ngapain? Urusan kantor? Apa jangan-jangan lo lagi pacaran sama Litha ya?" goda Arkan, buktinya saja terdengar suara Arkan yang lagi cekikikan.
"Litha diculik," jawab Raka datar.
"Apaaaa... Kok bisa? Ahh... Becanda lo ya.. maksudnya ada yang nyulik Litha dari Umran, dan yang nyulik elo sendiri," ujar Arkan, gak tau kenapa Arkan hobby banget ngegodain Raka.
"Gue serius, kalo gak mau bantu nyari jangan ganggu gue," ucap Raka lalu memutuskan panggilannya secara sepihak.
Handphone Raka berdering lagi, siapa lagi kalau bukan Arkan. Raka segera mengangkatnya, walaupun dia masih kesal dengan Arkan. "Serius Litha diculik?" tanya Arkan dari sebrang sana.
"Hm," Raka hanya berdeham singkat.
"Sorry gue gak tau kalo lo lagi nyari Litha. Gue, Danil sama Jordy ikut bantu, tapi mau nyari kemana?" tanya Arkan.
"Gue juga gak tau," jawab Raka.
"Leon," gumam Raka.
"Leon? Maksud lo?" tanya Arkan penasaran.
__ADS_1
"Bukan-bukan. Gue lagi ngelihat Leon dipinggir jalan lagi debat sama orang," jelas Raka.
"Sharelock, gue ke sana sekarang," ucap Arkan. Raka segera membagikan info dimana lokasi keberadaannya sekarang.