Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Cantik


__ADS_3

"Cantik," satu kata yang terucap dari bibir Raka saat melihat gadis dihadapannya. Sebelumnya Raka sempat terpaku saat melihat Litha, untunglah hanya seperkian detik, tidak sampai bermenit-menit.


Gadis dengan rambut yang di gerai dengan balutan dress yang di dominasi oleh warna hitam serta dipadukan dengan sepatu haihils berwarna coksu. Bulu mata lentik, bibir merah cenderung gelap, dengan anting serta kalung rantai nya, menambah pesona kecantikannya saja.


Ini adalah kedua kalinya Raka melihat wajah cantik milik Litha dengan polesan makeup. Bedanya kali ini makeup Litha tidak seperti tadi siang saat dirinya melakukan panggilan video. Yups tadi siang saat Litha masih di mall, entah ada angin apa tiba-tiba saja Raka ingin melihat wajah kekasihnya.


Flashback On


"Tumben pake makeup?" tanya Sarah saat berada di dalam mobil menuju mall.


"Biar cantik," jawab Litha asal. Fika hanya tersenyum simpul, dia tahu jika Litha sekedar ingin mencoba-coba memakai makeup. Ya itung-itung belajar dandan untuk persiapan acara nanti malam.


Litha, Fika dan Sarah berkunjung ke mall atas permintaan Litha. Sejujurnya Litha lah yang membuat janji untuk jalan-jalan ke mall, dengan meminta sahabatnya untuk menemaninya. Litha butuh bantuan Fika dan Sarah untuk memilihkan dress yang tepat untuk pertemuan nanti malam.


Sebagai imbalannya, Litha menjanjikan akan membelikan mereka gaun yang mereka sukai. Semahal apapun harganya, Litha tak masalah, dengan catatan hanya satu pakaian saja! Ketiga gadis cantik itu kini sedang disibukkan dengan beberapa gaun yang berada di salah satu toko pakaian yang ada di mall.


"Yang ini bagus nih," Sarah menyarankan jika Litha pasti cocok menggunakan dress dengan bawahan yang diatas lutut yang berwarna pink tua. Oh astaga, apakah Sarah lupa jika Litha tidak menyukai warna merah muda yang seperti itu?


"Nggak suka, lagi pula masak mau ketemu orang penting pake rok mini gitu sih?" ujar Litha.


"Kalo gitu nih pake yang panjang," Sarah mengambil long dress span dengan lengan panjang, yang jika dipakai pasti akan memperlihatkan bentuk lekuk tubuh seorang wanita. Dan dilihat dari bentuknya long dress tersebut tentu akan mengekspos belahan dada seorang wanita.


"Ya kali gue pake gituan," protes Litha.


"Kalo ini?" tanya Sarah sembari mengambil long dress lagi, tetapi terdapat belahan di bagian paha kanan yang mencapai atas dan warnanya begitu mencolok.


Sepertinya Sarah benar-benar kehilangan seperdelapan memori otaknya tentang Litha, yaitu sahabatnya sejak kecil yang tidak menyukai warna mencolok. Litha lebih menyukai warna yang cenderung kalem atau rada gelap gitu.


Sedangkan Fika sendiri sibuk memilih dari puluhan banyaknya gaun yang ada di toko itu, sepertinya dia benar-benar memilih dengan telit. Harus yang sesuai dengan keinginan Litha, tapi juga harus cocok jika dipakai untuk acara pertemuan yang tidak formal, tetapi gaunnya harus elegan dan terlihat anggun saat dipakai gadis itu. Begitu pikir Fika.


Baiklah tak masalah mempunyai sahabat macam Sarah yang kadang-kadang agak aneh dan pikun itu. Litha masih mempunyai bestie yang mengerti tentang dirinya, dan dapat diandalkan saat dibutuhkan seperti saat ini.


Indera penglihatan Fika tak sengaja melihat tingkah Sarah yang hanya asal tunjuk gaun untuk Litha. Fika hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat mendapati Sarah yang terlihat pusing dan sedikit frustasi, karena semua pilihan Sarah ditolak mentah-mentah oleh Litha.


"Terus lo mau pake apa? Pake daster? Apa pake gamis?" ledek Sarah.


"Ya gak gitu juga lahhh..." sahut Litha.


"Nih kayaknya cocok buat lo," ucap Fika seraya memberikan dress selutut dengan warna dasar biru muda dan terdapat corak bunga-bunga putih.


Karena setahu Fika, Litha itu cuma punya beberapa dress yang tidak banyak. Nah dress nya itu ada yang berlengan pendek dan panjang, ada juga yang tanpa lengan, dan semuanya itu dengan model rok mengembang yang selutut. Yah seperti pilihan Fika yang sudah beralih ke tangan Litha.


"Bagus," ucap Litha terus clingak-clinguk gitu. Kayak nyari pacar hilang aja wkwk...


"Mbak!" panggil Litha pada salah satu penjaga toko baju.


***


"Percuma dong kita ikut, lo gak beli gaun yang kita pilihin," gerutu Sarah dengan memanyunkan bibirnya. Litha sama sekali tidak ingin menanggapi ucapan Sarah, biarkan saja!


Yaps, Litha tadi memanggil salah satu penjaga toko itu, untuk menanyakan dress dengan model yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Fika, tetapi dengan warna yang berbeda. Model dress selutut tanpa lengan, dengan bagian atas berwarna hitam polos dan rok mengembang berwarna dasar hitam dengan corak jaring laba-laba berwarna merah. Itulah pilihan Litha dari sekian banyaknya gaun yang ada di toko tersebut.


"Dapet dress gratis juga, masih gak terima aja karena tidur weekend nya gagal," sahut Fika. Sesuai yang dijanjikan, Litha akan membelikan mereka masing-masing satu gaun yang mereka pilih.

__ADS_1


Handphone Litha berdering, tertulis di layar ponselnya nama Beruang Kutub 🐨. Video call? Tumben, begitu yang ada dalam benak Litha. Gadis itu sedikit menjauh dari kedua sahabatnya.


"Ada apa?" tanya Litha setelah menggeser ikon hijau dan dilayar ponselnya kini terpampang jelas wajah tampan seorang pemuda.


"Ini siapa?" tanya Raka di seberang sana.


"Siapa apanya? Masa gak ngenalin aku sih?" Litha cemberut ala-ala gitu. Membuatnya semakin tambah imut saja.


Terlihat dari llayar ponsel, Raka hanya mengerutkan dahinya. Membuat Litha semakin kesal saja. "Ini Litha, kak Raka gak ngenalin aku beneran?" ujar Litha dengan polosnya. Ya gak mungkin dong Raka sampai tidak mengenali wajah orang terkasihnya.


"Litha kekasih saya itu tidak menyukai makeup. Nah Anda? Mirip sih dengan kekasih saya, tapi Anda memakai makeup. Jadi saya yakin Anda bukan Litha," jelas Raka dengan wajah datarnya.


"Bibir anda sangat merah. Dan Litha tidak menyukai warna mencolok seperti bibir Anda itu," sambung Raka.


Bayangan tentang tragedi menyebalkan di dalam mobil tadi memutari isi kepala Litha. Sarah yang baru menyadari bahwa Litha memakai makeup natural itu, mendapat ide jahil saat Sarah yang duduk di belakang mobil tak sengaja melihat lipstik di bawah kursi mobil, mungkin itu lipstik mamanya Fika yang terjatuh.


Dengan sejurus tiba-tiba saja Sarah mengoleskan lipstik berwarna merah mencolok pada Litha yang duduk di depan, di samping Fika yang sedang mengemudikan mobil. Dan sialnya lagi, lipstik berwarna mencolok itu adalah lipstik matte.


Jujur saja jika Sarah mengetahui itu adalah lipstik matte, Sarah tidak akan mengoleskan benda kecil itu pada Litha. Dan beruntungnya, Litha tidak sampai memusuhi Sarah. Litha marah sebentar saja dan menggerutu sepanjang perjalanan menuju ke mall.


"Jadi aku jelek nih?" Litha masih mengerucutkan bibirnya itu, dengan membuang tatapannya pada Raka.


Raka tertawa kecil, dia sudah tidak bisa untuk tetap stay cool dan memasang wajah datarnya. "Cantik," jawab Raka setelah menyelesaikan tawa kecilnya. Satu kata tersebut membuat Litha perlahan melirik ke layar ponselnya.


"Mau gimana pun kamu, menurut aku, kamu tetap wanita yang paling cantik," puji Raka. Jujur! Itu Raka jujur lhoh... Serius dia nggak bokis.


Wush....


Seperti ada angin yang sangat sejuk menerpa seluruh rambut panjangnya dan menghempaskan dirinya, sampai tubuhnya terasa jatuh. Jatuh diantara empuknya kasur, dan wanginya bunga-bunga yang bermekaran, serta lembutnya pasir-pasir yang menyentuh indera peraba nya, kulit putih dan mulusnya.


"Siapa yang nomor satu?" tanya Litha seperti mengancam.


"Mama Kania. Sebelum menikah, orang tua wajib diutamakan dalam segala hal," jelasnya.


Litha menanggapinya dengan ber oh ria saja. Tadinya Litha udah mikir yang macem-macem, takut kalau pacar nya itu mengucapkan ada wanita selain dari keluarganya yang lebih cantik dari Litha. Terus pacarnya itu suka sama cewek yang dibilang cantik itu. Oh no, Litha tidak mau membayangkan hal itu lagi.


Litha menatap layar ponselnya, dia bingung dengan Raka yang tiba-tiba diam, bola matanya bukan terpusat ke arah Litha. Raka seperti memandang ke arah samping Litha, atau lebih tepatnya Raka menatap sesuatu yang ada dibelakang Litha? Tidak, tidak tepat di belakang Litha, kalau tepat di belakang, gak kelihatan dong. Yups ke arah serong belakang Litha. Memangnya ada apa di sana?


Litha mulai curiga, jangan-jangan penglihatan Raka menangkap sosok gadis yang lebih cantik dari dirinya? Ah tidak, buanglah jauh-jauh pikiran negatif itu. Raka itu bukan tipe pemuda yang suka lirak-lirik sana sini jika melihat wanita. Wanita seksi? Tidak, Raka mah gak doyan sama yang begituan, Litha sudah mengetahuinya dari bang Umran.


Perlahan netra gadis itu mengikuti arah pandangan sang kekasih. Dan yah, tidak ada apa-apa, hanya terlihat banyaknya pengunjung yang berlalu lalang.


"Kak Raka ngelihat apa sih?" tanya Litha yang sudah penasaran dari tadi.


Raka terlihat sedikit terkejut, atau mungkin itu hanya perasaan Litha saja? Netra pemuda itu kini menatap ke mata indah milik Litha.


"Orang lewat," jawabnya yang memang demikian, Litha pun juga sudah membuktikannya sendiri.


Flashback Off


Dengan anggunnya Litha melangkah mendekat ke Raka, dimana sang pangeran telah menunggunya sedari tadi.


Litha Kusuma Jaya Nagara 😍 Gimana Raka gak melongo waktu lihat gadis secantik ini? Author aja yang cewek juga terpesona loh sama visualnya.

__ADS_1



"Cantik aja apa cantik banget?" tanya Litha.


"Kamu maunya yang mana?" Raka balik bertanya.


"Dua-duanya," jawab Litha.


"Rakus," ledek Raka dengan senyum tipisnya.


"Biarin," sahut Litha lalu menjulurkan lidahnya.


"Rakus tapi masih kurus," ledek Raka.


"Ih... Kak Raka," Litha merengek, selanjutnya mengembungkan sebelah pipinya.


"Kenapa nih pipinya mau di cubit?" goda Raka lalu mencubit pipi Litha. Tenang aja, nyubitnya gak beneran kok, Raka sadar ini bukan waktu yang tepat untuk cubit cubitan? Kayak judul lagu aja. Ah sudahlah itu tidak penting.


"Kak..." Rengeknya lagi. Membuat Raka yang belum menurunkan tangannya dari pipi Litha, lantas mengusap-usap pipi Litha.


"Kenapa?" Mode lembut muncul lagi.


"Aku kurus banget yah?" tanya Litha dengan mimik wajah tidak menyenangkan.


"Enggak. Aku bercanda Tha," jawab Raka jujur.


Baperan banget sih ni bocah. Bukan, itu bukan unek-unek Raka. Itu komentar Author teruntuk Litha yang kadang-kadang polos dan baperan.


"Jadi?" tanya Litha yang sukses membuat Raka bingung harus menjawab bagaimana?


"Ee..." Bola mata Raka melirik ke samping kanan dan kiri, seolah-olah mencari bantuan untuk mendapatkan jawaban yang tepat.


"Jadi?" tanya Raka akhirnya, setelah berusaha berpikir keras. Namun hasilnya nihil.


Litha terdiam, mungkin dengan durasi lima detik. Dan itu sempat membuat jantung Raka berdebar, bukan karena takjub akan kecantikan Litha seperti diawal tadi. Tapi takut kalau Litha sampai marah, karena Raka sadar kalau dia gak peka.


"Aku nggak seksi?" celetuk Litha yang membuat Raka sedikit terkejut.


"Kalau mau dibilang seksi, berarti harus pakai pakaian yang kurang bahan. Dan aku gak suka kalau kamu pakai pakaian begitu," jelas Raka menjeda kalimatnya.


"Aku lebih suka kamu yang kayak gini. Jadi diri kamu sendiri yang apa adanya," sambungnya. Perlahan ada sebuah senyuman menghiasi bibir Litha.


"Jadi kak Raka gak suka cewek yang seksi-seksi kan?" tanya Litha. Belum juga Raka menjawab, Litha udah ngomong lagi.


"Awas aja ya kalo aku tau kak Raka lirik-lirik cewek lain. Apa lagi yang bodi nya aduhai yang pake baju ketat sama rok mini-mini gitu," tambah Litha panjang lebar.


"Tubuh kamu bukan untuk dipamerin ke orang lain. Pamerin ke aku aja, kalau kita udah jadi pasangan yang sah," sahut Raka yang sama sekali tidak nyambung dengan perkataan Litha barusan. Dan di kalimat terakhirnya membuat Litha sedikit kesal tapi di dalam hatinya sih seneng banget.


"Kamu terlalu berharga bagi aku," ucap Raka tulus. Serius ini Raka gak lagi ngegombal.


Litha mampu merasakannya, saat mendengar penuturan Raka yang amat lembut, tatapan mata yang tulus, lalu setelahnya menunjukkan senyuman. Senyuman antara perpaduan senyum tulus, senyum teduh, senyum manis, senyum tampan. Semuanya bercampur menjadi satu kesatuan yang digunakan Raka untuk meyakinkan Litha dengan ucapannya. Dan itu berhasil!


Seharusnya di part ini adalah pertemuan Litha dengan keluarga Adelard. Tapi gak tau kenapa Author malah nulis ini, waktu nulis bayangan Author itu mengalir gitu aja.

__ADS_1


Karena gak sesuai dengan yang Author sudah katakan di part sebelumnya, Author bonusin di part ini agak panjang dan ada visualnya Litha juga. Semoga kalian suka 🤗❤️


__ADS_2