
Litha cemberut melihat jari manis kirinya kini telah terpasang cincin berwarna silver dengan berlian di tengahnya.
Bukannya Litha gak suka sama cincinnya, tapi yang bikin kesal itu kenapa gak ada romantisnya sama sekali? Ingin sekali rasanya Litha berteriak kencang tepat di telinga Raka.
Bunda Larissa menatap putrinya, "Kamu gak ada niat pasangin cincin ke Raka?"
Litha mendongak menatap Raka yang seperti biasa tanpa ekspresi. Tangan Litha meraih cincin perak polos tanpa berlian. Baru Litha sentuh belum ke angkat cincinnya, Raka sudah lebih dulu mengambil cincin tersebut.
"Aku bisa pasang sendiri," dengan santainya Raka langsung memasukkan cincin tersebut ke jari manis kirinya.
Litha tergagap membuka mulutnya, asli ni kulkas bikin esmosi aja! Ini namanya tunangan apa gimana sih? Kata-kata manis gak ada, alunan musik romantis gak ada, nah ini si cowok malah pasang cincin sendiri? Ok fiks ini sih jauh dari impian Litha.
"Kenapa kamu kelihatan bete gitu?" Dengan tanpa rasa bersalah Raka memasang wajah datar.
Litha masih diam. Para orang tua juga memilih diam, mereka mengerti kekesalan dalam diri Litha, dalam hati mereka berusaha sekuat mungkin menahan tawanya.
"Kamu gak suka cincinnya? Kalau gak suka besok kita beli baru, kamu pilih sendiri sesuai keinginan kamu," ujar Raka.
"Enggak," jawab Litha judes.
Raka berpikir sejenak, "Kamu pengennya acara tunangan kita dirayain kayak Umran dan Sarah?"
"Enggak! Kak Raka emang gak ngerti!" Sahut Litha.
Bukan acara besar yang Litha inginkan. Bukan juga surprise atau yang lainnya. Ini pertunangan konsepnya, Litha dikasih surprise. Tapi kok kalau Raka yang menyampaikan surprise nya, jadi kurang surprise banget gitu yaa..?
Litha hanya ingin suasana pertunangan menjadi romantis dan manis, sehingga momen-momen berharga seperti itu tidak akan pernah hilang dari memori ingatannya.
Tapi kalau pertunangan modelan kayak gini juga gak akan pernah dilupain sama Litha sih... Pertunangan yang tidak sewajarnya seperti kebanyakan orang pada umumnya.
"Oma, Mama Papa, Bunda Ayah, Tatha permisi pulang duluan," Litha mencium punggung tangan mereka satu per satu.
Para orang tua mengangguk mempersilahkan Litha pamit pulang lebih awal, karena mereka paham betul kondisi hati Litha yang pasti memberontak ingin membanting piring, gelas, mangkok, kulkas, mobil, rumah.
"Tha kamu pulang sendiri?" Raka menahan lengan Litha yang hendak melangkah pergi.
"IYA..." Litha menepis cekalan tangan Raka dan berlalu begitu saja.
Raka masih diam menatap para orang tua satu per satu, jujur Raka benar-benar tidak paham dengan situasi ini.
"Kok diem aja. Kejar sana...!" Sentak Mama Kania.
Raka langsung berlari mengejar Litha. Sampai di parkiran Raka melihat di sekitar mobilnya, lalu ia mencari ke area parkir lainnya dan tetap tidak menemukan Litha. Raka berjalan menuju jalan raya siapa tahu Litha masih menunggu taksi di sana.
__ADS_1
Dahi Raka berkerut melihat Litha sedang berbincang dengan seseorang yang tidak asing bagi Raka. Raka berjalan mendekat, tangan kirinya merangkul pundak Litha membuat empunya tersentak kaget.
"Selamat malam Pak guru," Raka menyapa dengan senyuman ramah.
Kini gantian Litha yang mengerutkan keningnya, ini sangat jauh berbeda dengan Raka yang biasanya selalu bersikap dingin.
"Malam," Pak Gio hanya tersenyum sekilas.
"Litha bagaimana?" Tanya Pak Gio yang tadi menawarkan tumpangan untuk Litha.
Baru juga Litha mau jawab, udah keduluan sama Raka. "Apa yang bagaimana sayang?" Raka menatap manik mata Litha.
"Tadi Pak Gio naw..." Ucapan Litha terpotong.
"Tadi saya menawarkan untuk mengantar Litha pulang ke rumah, karena saya tidak tega melihat seorang perempuan sendirian malam-malam di tepi jalan seperti ini," jelas Pak Gio menyindir Raka.
"Wah... Sebelumnya terimakasih banyak ya Pak. Tapi lebih baiknya saya saja yang akan mengantarkan tunangan saya," Raka tersenyum melihat wajah Litha yang menunjukkan keterkejutan.
"Iya kan sayang?" Senyuman Raka semakin lebar.
Litha bergantian menatap Raka dan Pak Gio. Otaknya masih mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Raka.
"Ah.. ii.. iya Pak," Litha tersenyum kikuk.
Telapak tangan kanan Raka terulur didepan Litha yang malah menatap heran Raka, karena jujur dan demi apapun Litha tidak mengerti. Raka menaikan kedua alisnya sambil melirik tangannya barulah Litha paham.
Litha tersenyum lebar kepada Pak Gio. Tangan kanan Litha merangkul pinggang Raka tanpa ada yang menyuruh, seolah hanya mengikuti nalurinya saja. Dan pergerakan itu semua tidak terlepas dari perhatian Pak Gio.
"Tunggu, apa saya tadi tidak salah dengar? Tunangan?" Tanya Pak Gio berharap pendengarnya salah.
Raka tersenyum manis, "Yap betul sekali. Ternyata pendengaran Anda masih normal dan berfungsi dengan sangat baik,"
Mendengar sindiran tersebut, Litha melotot kepada Raka. Katanya disuruh menghormati, tapi doi malah yang ngasih sindiran keras.
Gadis itu tertawa dibuat-buat. "Ahahaha... Kita permisi dulu ya Pak," Litha jadi merasa tidak enak hati dengan gurunya tersebut.
"Tunggu!" Pak Gio memegang pergelangan tangan Litha yang bertautan dengan tangan Raka.
"Ekhem," Raka melirik tangan Pak Gio.
Pak Gio tidak memperdulikan Raka. Membuat Raka semakin mempererat rangkulannya kepada Litha yang menatap heran manusia tiang disampingnya.
'Ini es balok kesambet apaan sih? Kenapa tiba-tiba jadi posesif gini?' batin Litha bertanya-tanya.
__ADS_1
"Tha sejak kapan kamu tunangan? Katanya kamu dan dia hanya sebatas pacaran," hati Pak Gio sudah terasa sesak mendengar kata tunangan.
Raka tersenyum seraya melepas tautan tangannya dengan Litha. Dengan perlahan Raka melepaskan telapak tangan Pak Gio yang melingkar dipergelangan tangan tunangannya. Caelah sekarang udah tunangan nih yee wkwk.
"Baru saja kami menyelenggarakan acara pertunangan secara tertutup yang hanya dihadiri oleh orang tua kami," Raka menggenggam kembali tangan kiri Litha.
Dalam hati Litha berteriak 'Menyelenggarakan acara pertunangan? Acara apaan woi? Orang cuma pasang cincin doang. Dasar jelmaan beruang kutub!'
"Tha apa itu benar?" Pak Gio masih tidak percaya jika tidak keluar dari mulut Litha sendiri.
Mulut Litha terbuka ingin menjawab, tapi lagi-lagi Raka menyela.
"Kenapa? Anda terkejut atau kecewa? Bukankah status kami masih sama seperti diawal Anda mengenal Litha? Status kami belum berganti menjadi sepasang suami istri, kami masih tetap menjadi sepasang kekasih,"
"Maaf sebelumnya saya tidak bermaksud lancang terhadap Anda. Jika Anda berani mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih, seharusnya Anda juga siap untuk merasakan pahitnya kekecewaan,"
"Seharusnya Anda tidak perlu terkejut dengan pertunangan kami. Biar saya tebak, Anda pasti berpikir jika kami sudah tunangan artinya hubungan kami sudah melangkah satu langkah ke arah yang lebih serius. Tapi mengapa Anda tidak berpikir bahwa kesetiaan Litha terhadap kekasihnya selama dua tahun ini sudah menjadi bukti bahwa cinta Anda tidak akan terbalaskan oleh Litha?"
Mak jlep. Hati dan pikiran Pak Gio terbuka lebar.
Litha menatap kagum pemuda disampingnya. Saking kagumnya Litha sampai melupakan rasa kekesalannya kepada Raka saat menyelenggarakan acara, yang katanya acara pertunangan tertutup tadi. Pertunangan apaan? Pertunangan tidak jelas iya!!!
Kata-kata yang keluar dari bibir Raka bukan hanya menusuk hati Pak Gio, tapi juga menusuk jantung, ginjal, tulang dan otaknya. Semua yang dilontarkan oleh Raka adalah sebuah kebenaran yang selama ini Pak Gio tak pedulikan.
Air mata sudah tergenang di pelupuk mata Pak Gio. Sebisa mungkin Pak Gio menahan buliran bening tersebut agar tidak membasahi pipinya.
"Jika Anda masih kurang percaya, saya akan menunjukkan cincin pertunangan kami," ucap Raka.
Tangan kiri Raka yang merangkul pundak Litha, terpampang jelas disamping wajah Litha menunjukkan sebuah benda kecil yang melingkari jari manis Raka.
Di waktu yang sama Raka juga memperlihatkan jari manis di tangan Litha. Raka mengangkat tangan kiri Litha yang sebelumnya ia genggam sedari tadi.
Pak Gio tersenyum penuh arti, dalam lubuk hati terdalam Pak Gio bersumpah akan menyudahi semua usahanya untuk mendapatkan hati seorang Litha Kusuma Jaya Nagara.
"Sakit, itu yang saya rasakan saat ini. Tapi saya tidak menyesal pernah mengenal kalian berdua. Semoga kedepannya cinta kalian tidak akan goyah oleh rintangan apa pun itu. Saya mengikhlaskan Litha untukmu, karena memang hanya kamu yang pantas untuk Litha," ujar Pak Gio melihat Raka yang mengangguk kecil.
Tatapan Pak Gio beralih kepada Litha, wanita yang sudah mengisi hatinya hampir dua tahun terakhir ini. Tapi tidak lagi untuk detik ini, Pak Gio akan berusaha menghapus rasa cintanya untuk Litha.
"Litha saya minta maaf jika sikap saya pernah membuat kamu tidak nyaman, saya janji tidak akan mengulanginya lagi," ungkap Pak Gio tulus.
"Saya juga minta maaf Pak kalau ada sikap saya yang menyinggung perasaan Bapak. Kita saling memaafkan ya Pak," hanya senyuman hangat yang bisa Litha berikan untuk guru biologinya tersebut.
Pak Gio membalas dengan anggukan kepala dan senyuman yang tak kalah tulus dari Litha.
__ADS_1
Sebelum pergi meninggalkan sepasang kekasih tersebut, Pak Gio menepuk pundak Raka, "Terimakasih sudah memberikan saya pembelajaran tentang arti sebuah cinta,"
Raka dan Litha tersenyum melihat langkah Pak Gio yang meninggalkan mereka berdua. Dalam hati Raka berdoa agar Pak Gio segera menemukan jodoh dunia akhirat nya.