
"Jadi, waktu Raka balik lagi ke toko buku dan nyuruh gue buat nunggu didepan sana tadi, karena dia mau nyiapin hadiah ini buat gue?" tanya Litha dengan dirinya sendiri dan pastinya Litha juga sudah mendapat jawaban dari pertanyaannya itu, tentu saja jawabannya iya.
**Kamar Raka__
Disisi lain, Raka sepertinya sangat kelelahan sampai-sampai dia lupa menaruh jaketnya ditempat yang semestinya, yaitu lemari. Raka hanya meletakkan paper bag warna hitam itu diatas kasurnya, dan kini Raka sudah tertidur pulas dengan berlayar ke pulau kapuk sambil mengarungi kehidupan mimpi indahnya.
***
Keesokkannya
Raka sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, tetapi sekarang dia sedang sibuk mencari jaket kulit hitamnya yang pernah dia pinjamkan kepada, siapa lagi kalau bukan Litha. Padahal Raka masih ingat, kalau semalam dia menaruh paper bag yang berisi jaketnya itu diatas kasurnya. Namun sekarang kasurnya sangat berantakan.
Seisi kamar Raka yang sangat luas itupun juga terlihat sangat berantakan, seperti kapal pecah saja. Akhirnya Raka memutuskan untuk melibatkan para pelayannya yang jumlahnya sekitar 10 orang, dalam misi pencarian jaket kesayangannya. Buktinya saja masih banyak jaket yang lain, tetapi dia memilih untuk mencari jaketnya yang entah dimana keberadaannya?
"Cari sampai ketemu! Kalau sampai tidak ketemu, siap-siap saja untuk kehilangan pekerjaan kalian," perintah Raka kepada para pelayannya, tidak lupa menambahkan sebuah ancaman. Raka memang lebih sering menggunakan bahasa baku, ketika berbicara kepada para pelayannya.
"Baik tuan muda," ucap semua pelayan. Sepertinya ancaman Raka kepada pelayannya benar-benar berhasil membuat mereka ketakutan sampai seluruh badannya bergetar. Mereka takut jika kehilangan pekerjaan yang selama ini bisa membuat mereka berkehidupan nyaman, karena gaji yang diterimanya dari keluarga Adelard itu tidak main-main.
Tidak biasanya Raka bersikap seolah-olah kejam, seperti saat ini. Apa mungkin karena jaket itu pernah dibawa oleh seseorang yang menurut Raka istimewa? Sehingga dia tidak menginginkan kenangan manis itu hilang begitu saja?
Raka Adelard Pangestu adalah anak tunggal dari keluarga Adelard, jadi wajar saja jika keluarganya memanjakannya dengan fasilitas lengkap, serta mewah. Bahkan pelayan dan pengawal pribadinya saja, masing-masing ada 10 orang. Pengawalnya hanya bertugas jaga-jaga dirumah, mereka akan benar-benar mengawal Raka, ketika Raka sedang melakukan urusan bisnis diluar perusahaan atau rumah.
__ADS_1
Karena Adelard Group adalah perusahaan ternama, jadi tidak heran jika ada beberapa perusahaan yang iri dan ingin menjatuhkan Adelard Group. Tetapi banyak juga, perusahaan yang ingin menjalin kerjasama dengan Adelard Group. Sebenarnya Raka tidak menginginkan pengawal, apalagi jumlahnya mencapai 10 orang. Tetapi omanya Raka memaksa agar Raka mau menerimanya.
Tidak hanya dimanjakan, tetapi sejak kecil Raka juga mendapat didikan keras dan mandiri dari keluarganya. Buktinya saja Raka yang masih berada di bangku SMA, sudah membantu ayahnya menjadi pemimpin dalam mengelola salah satu perusahaan milik keluarganya.
Selama ini Raka lebih sering bekerja lewat laptop dan tabletnya sebagai CEO dibanding harus datang ke perusahaan yang dikelolanya. Keluarga Adelard itu juga sama seperti keluarga Nagara yang memiliki banyak perusahaan dimana-mana, bahkan ada yang di luar negeri.
Dalam durasi waktu 10 menit, akhirnya jaket yang dicarinya ketemu juga. Ternyata paper bag warna hitamnya berada dibawah samping kasurnya, tepatnya tergeletak diatas lantai dalam keadaan tertutup selimut, yang sangat lebar dan tebal. Mungkin selimutnya terjatuh saat Raka mencari jaketnya diatas kasurnya tadi.
Pelayannya mengambil jaket dari dalam paper bag hitam itu, dan memberikan pada Raka. Dengan segera Raka bergegas berangkat ke sekolah, walaupun sepertinya nanti akan tetap terlambat masuk sekolah juga. Padahal pagi ini Raka bertugas sebagai pemimpin upacara. Tiba-tiba salah satu pelayannya memanggil Raka, sehingga membuat langkah kaki Raka terhenti.
"Tuan ini ada surat didalam paper bag hitam tadi," ujar salah satu pelayan Raka.
Setelah menerima surat itu, Raka langsung membuka dan membacanya.
To: Beruang Kutub
Makasih buat hari itu, hari dimana lo jadi pahlawan gue.
Pertama, kalo lo gak kasih jaket ini waktu di koridor itu, mungkin gue bisa kena flu karena kedinginan. Walaupun gue masih heran gimana ceritanya es batu yang dingin kayak lo, bisa ngasih kehangatan buat gue, lewat jaket kulit hitamnya yang besar dan tebel banget.
Kedua, kalo lo gak dateng, nolong gue dari preman itu, gue gak bisa bayangin gimana nasib gue selanjutnya. Gue bener-bener terimakasih untuk kali ini.
__ADS_1
Sebagai tanda rasa terimakasih, lo boleh minta satu permintaan apapun ke gue. Tapi jangan aneh-aneh..!
Sontak hal tersebut membuat Raka tersenyum lebar, hingga matanya melengkung membentuk bulan sabit. Para pelayannya pun tentunya sangat terkejut, karena itu merupakan sebuah keajaiban.
Bahkan para pelayannya tidak pernah melihat seorang Raka tersenyum tipis, dan saat ini tuan mudanya sedang tersenyum lebar? Pastinya saat ini Raka terlihat sangat tampan, sampai-sampai ada beberapa pelayannya yang diam-diam memfoto Raka.
"Kalian semua dapat bonus, dan untuk kalian yang diam-diam menyimpan foto saya, saat saya tersenyum. Fotonya boleh kalian simpan, tetapi jangan disebar," ujar Raka.
Entah mengapa? Saat ini Raka memperbolehkan orang lain menyimpan fotonya, biasanya tidak boleh. Bahkan para sahabat terdekatnya, yang tak lain adalah The Perfect pun tidak boleh menyimpan foto Raka tanpa ijin terlebih dahulu padanya. Apa mungkin karena saat ini Raka sedang sangat bahagia? Buktinya saja Raka memberikan bonus kepada semua pelayannya.
Tentunya perkataan Raka itu membuat para pelayannya bahagia sekaligus terkejut. Karena mendapat bonus dan bagaimana mungkin tuan mudanya bisa mengetahui tentang foto tersebut? Padahal Raka saat itu sedang fokus dengan membaca suratnya sambil tersenyum lebar, dia sama sekali tidak memandang ke arah para pelayannya.
Raka itu memang manusia yang bisa mengetahui hal disekitarnya, tanpa melihat dengan tatapan tajam matanya. Dan Raka juga bisa menipu seseorang dengan ekspresi wajahnya, walaupun hatinya berkata lain. Yaitu isi hatinya bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya. Tapi untuk kali ini, entah mengapa Raka tidak bisa menahan emosi bahagianya, sampai-sampai dia tersenyum lebar dihadapan para pelayannya.
"Terimakasih tuan atas kemurahan hatinya," ujar semua pelayan.
**Lapangan sekolah__
Upacara sedang dilaksanakan dan kali ini yang bertugas sebagai pemimpin upacara tidak seperti biasanya. Arkan saat ini sedang menggantikan posisi Raka yang seharusnya bertugas sebagai pemimpin upacara.
Lalu dimana keberadaan Raka? Dia sedang berbaris rapi dengan murid lainnya, yang juga terlambat datang ke sekolah. Padahal biasanya Raka selalu disiplin dan tepat waktu. Ini adalah pertama kalinya bagi seorang Raka, datang ke sekolah tidak tepat waktu.
__ADS_1