
**Taman__
Raka membawa Litha ke taman sekolah yang saat ini memang lumayan sepi, hanya ada beberapa murid saja. Meskipun para siswi yang ada di taman itu mengidolakan Raka, tetapi mereka tidak berani mendekat. Cukup memandang dari kejauhan saja sudah membuat mereka teramat senang.
Raka mengajak Litha duduk di bangku berwarna putih yang berada tepat dibawah pohon.
"Kok bisa?" tanya Litha.
"Apanya?" tanya Raka balik.
"Loncat kelasnya... Terus jabatan ketua OSIS gimana?" tanya Litha lagi.
"Sebenernya gak ada niatan loncat kelas, tapi setelah bunda tau kemampuan aku. Beliau nyuruh aku buat belajar keras, minimal bisa sepadan sama anak kelas 3," jelas Raka.
"Jadi ini usulan dari bunda?" tanya Litha yang diangguki oleh Raka.
"Kok bunda gak ngasih tau aku sih?" tanya Litha pada dirinya sendiri.
"Sekarang ikut-ikutan pake bahasa aku nih?" goda Raka sambil menaik turunkan kedua alisnya, tentunya dengan senyuman tampannya, itung-itung buat bonus hhh...
Saat hanya berdua dengan Litha, sikap cuek dan dinding Raka menjadi hilang entah kemana perginya? Sumpah demi apapun Raka emang gantengnya kebangetan. Suguhan pemandangan yang sangat indah untuk Litha.
Awalnya Litha ingin tersenyum karena bahagia mendapat senyuman tampan dari seorang Raka. Senyuman yang amat langka untuk orang lain selain Litha. Namun tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran yang membuat Litha jadi was-was sendiri.
"Jangan senyum disini kak!" pinta Litha.
"Kenapa?" tanya Raka heran.
"Nanti ada yang lihat," jawab Litha.
"Terus?" tanya Raka.
"Aku gak mau ada cewek lain yang lihat senyuman kak Raka," jawab Litha jujur.
Litha gak mau kalau ada cewek lain yang ngelihat kegantengan Raka yang berubah jadi ganteng kuadrat. Bisa-bisa mereka malah tambah menggilai Raka. Dan Litha tidak suka itu.
Raka tersenyum mendengar penuturan kekasihnya.
"Kok senyum sih kak?" kesal Litha.
"Iya deh.. nurut, dari pada ada ngambek lagi," sindir Raka.
"Tapi kalau ngambek lagi juga gpp," tambah Raka.
"Kok gitu?" tanya Litha.
__ADS_1
"Biar bisa meluk kamu lagi," jawab Raka dengan senyum tampannya.
"Ikh... Nyebelin," kesal Litha lagi...
"Tapi suka kan?" goda Raka.
"Udah dong kak, bisa serius nggak? Kalo enggak, mending aku balik ke kelas aja," ancam Litha.
"Jadi kamu mau aku seriusin sekarang?" tanya Raka yang begitu ambigu menurut Litha.
"Maksudnya?" tanya Litha.
"Ya aku seriusin kamu sekarang, kita ke penghulu sekarang. Tapi harus ijin sama orang tua dulu," jawab Raka nyeleneh.
Pastinya itu membuat Litha semakin kesal saja. Tanpa sepatah kata pun Litha beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya. Namun tangan Raka segera menghalanginya.
"Bercanda Tha," ucap Raka.
Litha kembali duduk disebelah Raka. "Pasti kejadian tadi udah jadi gosip, terus gosipnya menyebar kemana-mana. Dan pasti bakal sampai ke telinga bunda," jelas Litha.
Maksud Litha ialah kejadian tadi saat Raka memeluk Litha secara tiba-tiba di tempat yang lumayan ramai. Ya awalnya sih emang biasa-biasa aja, gak ramai-ramai amat lah... Tapi kalau ada Raka pasti orang yang lagi berlalu lalang langsung menghentikan langkahnya dan meluangkan waktunya untuk melihat pemandangan yang dapat menyegarkan mata.
"Nanti biar aku yang ngomong sama bunda," ujar Raka.
"Wajib itu mah..." ketus Litha.
"Jabatan ketua OSIS nya gimana? Terus bentar lagi kak Raka lulus. Apa kak Raka mau kuliah di luar negeri? Kalau di luar negeri kita jauhan dong, di luar negeri kan banyak cewek cantik yang suka pakai baju kurang bahan gitu. Pasti kak Raka suka yang begituan kan? Terus aku di lupain deh..." ujar Litha puanjang banget. Raka aja sampai bingung mau jawab yang mana.
"Jangan mikir kejauhan!" ucap Raka sambil menarik hidung mancung milik Litha.
"Aww..." Litha menepuk tangan Raka beberapa kali, sampai akhirnya Raka melepaskan tangannya dari hidung Litha.
Lalu Litha menatap tajam ke arah Raka dan mengusap hidupnya yang awalnya berwarna putih sekarang menjadi berwarna merah karena perbuatan Raka tadi.
Padahal sejujurnya itu gak sakit-sakit amat kok, emang Litha nya aja yang agak lebay. Bukan lebay sih, lebih tepatnya kesal dengan perbuatan Raka tadi. Untung ganteng, kalau enggak pasti udah kena tinju dari Litha.
Raka membalas tatapan tajam Litha dengan senyuman tampannya, tapi itu terlihat menyebalkan untuk Litha. Bukan kelihatan galak dengan tatapan tajam, tapi Litha malah terlihat begitu menggemaskan bagi Raka.
Dan gak tau juga, kenapa Raka tiba-tiba jadi murah senyum ke Litha? Biasanya juga berat banget buat senyum, kayak ngangkat beban hidup wkwk... Kesambet apaan ya Raka? Mungkin kesambet kemarahan dari Litha tadi pas di basecamp wkwk...
"Sementara jabatan ketua OSIS bakal digantiin sama wakil ketua OSIS. Aku udah gak akan ikut campur lagi sama organisasi OSIS," sambung Raka.
**Kelas X MIPA 3__
"Kemana aja lo? Untung guru mapel nya belom dateng," ucap Sarah kepada Litha yang baru sampai di kelasnya.
__ADS_1
"Abis ketemu cogan," jawab Litha songong.
"Dih... Mentang-mentang punya cowok ganteng," cibir Sarah.
Litha dan Sarah saling pandang setelah melihat Fika senyum-senyum sendiri kayak orang rada-rada gitu.
"Kenapa lu? Masih normal kan?" tanya Litha pada Fika.
Fika yang merasa ditanyai oleh Litha dengan pertanyaan yang kurang mengenakkan hati, langsung memperlihatkan tatapan tajamnya ke arah Litha dan Sarah.
"Gue gak gi*a kayak kalian ya!" ketus Fika.
"Terus kenapa lo senyum-senyum kayak orang gi*a?" tanya Sarah to the point.
"Kepo banget atau cuma kepo biasa?" tanya Fika yang sengaja ingin membuat kedua sahabatnya semakin penasaran.
"Gue gak tega aja sama lo, kalo harus memendam semuanya sendiri. Bisa-bisa besok lo ada di RSJ," ucap Sarah seenaknya aja.
"Kalo gue besok, berarti nanti sore lo dijemput sama petugas RSJ dong. Soalnya yang lebih cocok dan siap ke tempat itu, elo..." jelas Fika tak kalah ngelantur dari Sarah. Sedangkan Litha sedari tadi sudah terkekeh.
"Udah-udah stop. Jangan pada rebutin RSJ dong, gue yakin masih ada tempat yang kosong buat kalian berdua. So jangan rebutan ya! Nanti gue daftarin deh..." selah Litha dengan tawanya dan tentunya disambut oleh tatapan tajam dari Sarah dan Fika.
"Cepet cerita!!! Kenapa lo tadi kayak orang rada-rada gitu?" tanya Sarah yang sukses mengakhiri tawa pecah dari Litha.
"Ya udah karena gue gak kuat sama jiwa kekepoan kalian, gue cerita nih... Tadi di taman gue diem-diem ambil rumput terus gue taroh di kantong celananya kak Leon," jawab Fika.
Litha dan Sarah terkejut lalu terkekeh dengan kelakuan sahabatnya yang ternyata jail juga. Bisa-bisanya melakukan hal konyol seperti itu.
"Parah lo," sahut Sarah masih dengan tawanya.
"Jadi rumput itu dari elo?" tanya Litha sembari tertawa dan diangguki oleh Fika.
"Lo tau itu?" tanya Fika yang diangguki oleh Litha.
Lalu Litha menceritakan kejadian absurd di basecamp tadi. Mulut Arkan yang benar-benar di sumpel oleh Leon dengan rumput yang tidak tahu asal muasal rumput tersebut. Dan sekarang terjawab sudah asal usul rumput yang tadinya berada di saku celana Leon.
Tak lupa, Litha juga menceritakan bahwa Raka ternyata diam-diam sudah akan mempersiapkan ujian kelulusan alias udah kelas 3.
"Eh tunggu... Berarti lo abis ketemuan sama mantan nih?" ujar Sarah menggoda Fika.
"Ciee... Bentar lagi ada yang CLBK nih," sindir Litha.
Muka Fika seketika menjadi semerah tomat. Rasanya Fika mau masuk ke lubang semut aja, saking malunya. Tapi kalo gak ada yang namanya keadilan dan hukum di Indonesia, Fika lebih milih nyeburin tuh dua manusia kampr*t itu ke laut samudera Hindia. Biar mereka bisa ketemu mamalia paus peliharaan Fika wkwk...
Sorry para readers IBMMB yang merasa udah Author gantungin selama beberapa hari ini, tanpa kabar dari Author. Bentar lagi kan Author mau PTM, so banyak tugas dan catatan yang harus author selesaikan secepatnya.
__ADS_1
Thanks yang dari awal sampai sekarang masih setia untuk nungguin kelanjutan cerita dari Raka and Litha. Dan untuk yang baru ikut membaca alur cerita percintaan antara Raka and Litha semoga suka sama karya author ya!!!
Btw untuk yang muslim, selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal, tahun ini bertepatan 19 Oktober 2021 M)