
"Kok gitu sih? Gak adil, harus minum bareng-bareng dong," protes Dita.
Ken tertawa menertawai dirinya dan juga Dita. "Ternyata walaupun kita akan melakukan bersama-sama, kita berdua masih terlalu pengecut dalam hal bunuh diri," Ken melihat genangan air di pelupuk mata Dita.
"Kira-kira apa masih ada kehidupan setelah kita meninggalkan dunia ini? Apa setelah minum ini gue akan bertemu dengan orang tua gue?" Dita mengamati gelas ditangannya.
Ken tersenyum mengingat Raka dan Litha yang berjanji akan mengenalkan dirinya kepada sebuah keluarga yang baru. "Bukannya kita sama-sama muslim? Seharusnya lo tau apa yang akan lo hadapi setelah kematian,"
Mata Ken terbuka lebar bersamaan dengan pikirannya yang langsung terbuka saat menyadari perkataannya tadi.
"Astaga? Kena mental gue gara-gara ucapan lo Dit," Ken menepuk jidatnya sendiri. Oke Ken sadar kalau otak warasnya lagi kumat.
"Gue gak jadi minum racun ini, masih ada sebagian orang yang butuh pertolongan gue. Sia-sia dong biaya kuliah yang udah dikeluarin almarhum orang tua gue supaya gue jadi dokter?" Ken menaruh kembali gelas tersebut ke atas meja.
Dita tersenyum dengan air mata mengalir membasahi pipinya. "Gue juga baru sadar. Gue gak mau mengecewakan orang tua gue," Dita juga menaruh orange juice di atas meja.
"Untuk merayakan kegagalan bunuh diri kita, gimana kalo kita buat orange juice lagi?" Tawar Ken yang disetujui oleh Dita.
"Anyway Raka dan Litha udah maafin lo," ucap Ken disela kesibukannya membuat jus jeruk.
"Really?" Ada sedikit harapan dalam diri Dita.
"Kalau Litha emang belom sempet aja ngomong langsung ke elo karena dia sibuk koas. Tapi Raka gengsinya terlalu gede, tapi gue jamin Raka udah maafin lo sepenuhnya karena Raka percaya lo udah berubah," Ken memberikan orange juice itu kepada Dita.
Tapi sebelumnya Ken telah memasukkan sesuatu ke dalam gelas Dita dan Dita tahu itu.
Dita menerima jus jeruk tersebut. "Apa yang tadi lo masukin di minuman ini, kenapa minuman punya lo gak lo masukin serbuk yang sama kayak gue? Ini bukan racun kan?"
Ken terkekeh kecil dengan ocehan Dita. "Itu obat tidur supaya lo bisa istirahat dengan tenang. Santai aja, dosisnya rendah kok,"
Dita dan Ken saling menempelkan gelasnya untuk bersulang. "Cheers untuk kegagalan rencana gila kita,"
Setelahnya Dita mulai merasakan katuk, dia tidur di kamarnya dan menguncinya. Yaa mewanti-wanti saja jika tiba-tiba Dokter aneh itu kembali gila dan berbuat macam-macam dengan Dita.
Flashback Off
Nick tertawa mendengar kebodohan Dita dan Ken. Tanpa sadar Nick mengambil salah satu gelas berisi orange juice yang berada di depannya duduk saat ini.
__ADS_1
"Nick!" Pekik tiga orang disana.
Namun terlambat, Nick langsung meneguknya hingga menyisakan setengah gelas jus jeruk.
"Apa?" Tanya Nick dengan santainya ia mengangkat kakinya di atas meja.
"Orange juice itu yang ada di cerita Ken," sahut Dita dengan suara lemas.
Nick manggut-manggut masih berpikiran positif. "ini jus jeruk yang tadi kalian minum kan?"
"Sisa orange juice yang kita minum masih ada di meja pantry," ujar Ken yang membuat Raka dan Litha langsung melongo.
Sedangkan Nick sudah terbatuk-batuk ingin mengeluarkan racun yang telah masuk tubuhnya, tapi nihil tidak ada yang bisa dimuntahkan.
"Ah bodo amat lah. Buktinya gue gak kenapa-kenapa?" Nick berdiri dan berputar-putar bak anak perempuan kecil yang mengenakan gaun princess.
"Bukan gak kenapa-kenapa. Tapi belum! Karena obatnya belum beraksi," terang Dita.
"Kita harus segera ke rumah sakit!" Tegas Ken yang diangguki oleh Dita, Litha, dan Raka.
Efek samping yang dirasakan oleh Nick baru dirasakan setelah beberapa menit. Diperjalanan tiba-tiba hidung Nick mimisan tanpa ada cedera didalam hidungnya, well racun tikusnya mulai bereaksi dalam tubuh Nick.
Tentu saja Nick merasa senang merasa diperhatikan oleh Dita. "It's oke baby, ini cuma mimisan doang. Toh disini ada tiga dokter yang akan jagain aku," Nick tersenyum membelai sisi wajah Dita yang menangis tidak kuasa melihat hidung Nick yang terus mengeluarkan darah segar.
"Gue gak di itung?" Sungut Litha.
"Kagak!" Ketus Nick tanpa menoleh ke sampingnya. Karena mereka bertiga duduk dibelakang, jadilah Litha menjadi obat nyamuk. Sedangkan didepan ada Raka dan Ken yang mengemudikan mobilnya.
Mobil melaju dengan kecepatan diatas standar yang bernaung dibawah langit berwarna biru kekuningan. Mentari pagi mulai menyambut hari baru, jalan-jalan mulai ramai akan pengendara yang lain. Keadaan Nick mulai parah, efek samping akibat racun tikus sudah dirasakan oleh tubuhnya.
"Darah?" tangan Nick masuk mulutnya dan memegang gigi gusinya yang berdarah. Wajahnya sudah pucat, darah masih mengalir dari hidungnya yang mana membuat Dita menempelkan tisu di lubang hidung Nick.
Disaat keadaannya seperti itu Nick masih saja usil. Dia mengarahkan tangannya bekas darah dari gusi kepada Litha tepat didepan wajahnya.
Otomatis Litha menepisnya. "Jorok banget sih lo jadi orang. Gue tampol mau lo!" Ancam Litha menatap tajam Nick yang cengengesan dengan wajah pucatnya.
"Sebentar lagi kita sampai. Dan lo langsung masuk ruang IGD," ujar Ken serius.
__ADS_1
"Emang gue separah itu?" Tanya Nick dengan polosnya.
"Lo minum racun tikus bodoh," kesal Raka, ia tidak habis pikir dengan sahabatnya itu yang masih santui banget.
Sampai di parkiran Nick merasa tubuhnya menjadi aneh.
"Ayo turun!" Ken melihat Raka yang menoleh ke belakang, membuat Ken mengurungkan niatnya untuk turun.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Dita memegang tangan Nick yang gemetaran.
"Enggak. Bukan sakit," Nick memejamkan matanya merasakan apa yang dirasakan tubuhnya.
"Kok gue ngerasa tubuh gue jadi aneh? Apa gue akan jadi superhero tikus?" Tanya Nick dengan pemikiran absurdnya.
"Kalau Spiderman itu digigit laba-laba terus jadi superhero. Nah elo emang digigit tikus? Lo cuma minum racunnya doang," Ken geleng-geleng kepala.
"Siapa tau aja sistem kerjanya kali ini beda," sahut Nick.
"Gak gitu konsepnya!" Teriak Litha yang sangat geram dengan Nick.
"Ayo turun, keburu tubuh lo kejang-kejang," ucap Raka dingin.
"Nick!" Pekik Dita dan Litha memegang tubuh Nick yang sudah kejang-kejang.
"Nah kan udah kejang-kejang," Ken dan Raka terlihat santai-santai saja berbeda dengan dua gadis dibelakang yang terlihat sangat panik dan cemas.
Walaupun tubuh Nick sudah kejang-kejang, tapi ia masih sadar. "Aduh perut gue sakit, kek nya pengen boker. Tapi tubuh gue gak ke kontrol gimana ini?" Ucap Nick disela acara kejang-kejangnya.
"Lo tahan dulu jangan boker di celana," sahut Raka dengan entengnya.
"Yoi, bentar lagi paling juga pingsan," sambung Ken tak kalah santai dengan Raka.
Sedetik kemudian Nick langsung tak sadarkan diri dalam rangkulan dua gadis cantik disamping kanan dan kirinya.
"Nah kan pingsan!" Ken dan Raka bertos ria karena prediksinya tidak salah.
"Ken!" Teriak Litha dan Dita menatap tajam Ken yang tersenyum lebar sambil menepuk dadanya bangga.
__ADS_1
***
Terimakasih atas dukungan kalian untuk karya ini❤️ Author sayang kalian