Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Unik Dan Langka


__ADS_3

"Ngapain lagi sih? Apa dia mau balikin semua komiknya lagi? Tapi masak iya sih..?" pikiran Litha sekarang sedang dipenuhi oleh banyaknya pertanyaan.


***


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Raka memperlihatkan batang hidungnya juga.


"Ayo pulang!" perintah Raka, datar dan dingin.


'Lah kok dia masih bawa komiknya? Dia juga gak bujuk gue lagi, malah ngajak pulang?' itulah pertanyaan yang ada didalam hati Litha.


**Rumah Keluarga Nagara__


"Akhirnya kalian pulang juga," ujar seorang pria tinggi yang gantengnya gak kalah jauh dari Raka. Umran itu juga punya banyak fans kayak Raka, alasannya? Ya pasti karena ketampanan yang dimilikinya. Makanya wajar saja jika Litha juga sangat cantik, karena ketularan good looking sama saudaranya yang ganteng.


"Nih... punya lo," ujar Raka, pastinya tanpa intonasi dan ekspresi. Sambil memberikan kantong plastik besar yang berisi tumpukan komik.


"Gak MAU," ucap Litha dengan memberikan penekanan disetiap abjad dari kata MAU.


"Kesambet apaan lo? Kayak orang lagi marah aja sama pacarnya," ujar Umran kebingungan.


"Jangan ikut campur," ujar Litha pada abangnya.


"Oke, gue kasih besok aja waktu upacara dilapangan," ucap Raka dengan membalikkan tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya.


Tentunya hal tersebut berhasil membuat Litha untuk mencegah langkah kaki seorang Raka.


"Ehh tunggu! Sini komiknya," perintah Litha sambil memegang tangan Raka dan merebut kantong plastik yang besar itu.


"Gila lo ya... Lo mau buat bang Umran jadi anak tunggal? Lo mau gue pulang, tinggal nama doang? Lo mau gue masuk IGD? Lo mau gue babak belur gara-gara digebukin sama para fans lo? Lo punya dendam apa sih sama gue?" ucap Litha. Sekarang Litha telah menjadi dirinya sendiri yang bawel binti cerewet banget.

__ADS_1


Litha tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya, jika Raka benar-benar melakukan hal konyol tersebut. Tentunya hal tersebut akan memancing amarah dari para fans-nya Raka, dan menjadikan Litha sebagai bahan bulan-bulanannya mereka.


Raka? dia tidak menanggapi ucapan Litha yang seperti rumus volume balok itu, yaitu panjang kali lebar kali tinggi. Dipikirannya sekarang hanya kebahagiaan, karena bisa melihat dan mendengar Litha lagi, yang menjadi bawel binti cerewet banget itu.


Walaupun ekspresi wajah Raka masih tetap datar dan dingin, tetapi percayalah saat ini Raka sangat bahagia. Seperti ada jutaan bunga yang sedang bermekaran didalam hatinya. Entah mengapa Raka merasakan bahagia saat melihat Litha kembali menjadi cerewet lagi, dia pun juga bingung memikirkan.


"Buset dah.. udah sono masuk, balik sono ke habitat lo," ucap Umran yang merasa indera pendengarannya terganggu karena ocehan adiknya.


Litha pun hanya menuruti perintah abangnya ini.


"Jangan balik lagi..." teriak Umran pada adiknya, siapa lagi kalau bukan Litha yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah mewah dan megahnya.


***


"Sorry ya.. adek gue emang gitu orangnya," ujar Umran pada Raka.


"Santai aja, gue pamit," ucap Raka.


"Nih.. jaketnya yang pernah lo pinjemin ke gue," ujar Litha, sepertinya masih sedikit marah. Terbukti dari ucapannya yang agak dingin.


Raka tidak mengeluarkan satu kata pun, dia hanya mengambil paper bag warna hitam yang awalnya dibawa Litha. Litha sudah menyiapkan hal tersebut dari pagi, sebelum saat ini dia marah kepada Raka.


Litha memang sengaja menaruh jaket Raka didalam paper bag warna hitam, karena setahunya hampir semua barang yang dimiliki Raka itu berwarna hitam. Mungkin Raka menyukai warna hitam, itulah yang ada didalam pikiran gadis berkulit putih itu.


Setelah selesai dengan tujuannya, yaitu memberikan jaket yang pernah dia pinjam dari Raka. Litha segera kembali masuk ke dalam rumahnya tanpa berkata apapun.


"Oh.. ya minggu depan geng Cobra ngadain acara, kalo mau lo ikut aja," ucap Raka kepada Umran. Kini Raka sedang duduk diatas motornya dan bersiap untuk benar-benar pulang.


"Boleh bawa temen atau pacar gak nih? Biar tambah seru aja," tanya Umran.

__ADS_1


"Boleh, tapi.. emang lo punya pacar?" ujar Raka.


"Ya... pastinya enggaklah, cuma nanya doang hehe..." ujar Umran dengan tersenyum, seperti orang tanpa memiliki dosa saja.


Walaupun usia Umran lebih tua dua tahun dari Raka, tetapi Raka tetap memanggil Umran tanpa sebutan bang atau kak, mungkin karena terlalu akrab atau memang sudah kebiasaan dari dulu.


**Kamar Litha__


Saat ini Litha sedang duduk dikasur empuk kesayangannya sambil membuka kantong plastik, yang Litha pikir isinya hanya tumpukan komik. Ternyata isi didalamnya tidak hanya komik, melainkan juga terdapat sebuah kotak berwarna putih yang dihiasi pita berwarna putih juga, sungguh kotak yang sangat indah.


"Apa dia lupa sama barangnya?" tanya Litha dengan dirinya sendiri. Tentunya yang dimaksud Litha adalah Raka.


Litha berfikiran untuk menelefon Raka dan memberitahu bahwa barangnya tertinggal dikantong plastik yang tadi diberikan pada Litha. Tetapi sebelum Litha menelefon Raka, penyakit keponya yang baru stadium 2 muncul lagi. Sehingga Litha membuka kotak berwarna putih itu.


Sebelum Litha benar-benar melihat barang yang ada didalam kotak itu, dia menemukan sebuah kertas berwarna merah muda. Dan dengan sengaja akhirnya Litha membuka surat itu.


Surat itu bertuliskan beberapa abjad yang bila disambungkan akan membentuk sebuah kalimat, yaitu:


To: Litha Kusuma Jaya Nagara


From: Beruang Kutub


Ini ada barang buat lo... walaupun harganya biasa aja, tapi menurut gue barang ini unik, sederhana tapi indah, langka (jarang ditemuin) dan istimewa, karena gue baru pertama kali lihat barang sebagus ini. Waktu pertama lihat barang ini, gue pikir ini cocok buat lo... karena sama-sama unik dan langka.


Barang ini sebagai tanda permintaan maaf dari gue, karena udah bikin lo marah. Gue harap lo suka dan bisa jaga baik-baik barang ini.


Setelah membaca isi surat itu, Litha sadar bahwa kotak berwarna putih itu adalah pemberian Raka untuknya. Litha segera mencari barang apa yang dimaksud dalam surat itu.


Setelah menemukan barang yang dimaksud Raka dalam surat itu, Litha langsung menaikan salah satu sudut bibirnya keatas. Jika kalian menebak barang itu adalah sebuah pulpen berwarna putih dengan ukiran berbentuk hati, maka tebakan kalian benar.

__ADS_1


Sepertinya Raka berhasil membuat Litha tidak marah lagi padanya, terbukti Litha saat ini masih tersenyum-senyum sendiri, seperti orang kasmaran saja.


"Jadi, waktu Raka balik lagi ke toko buku dan nyuruh gue buat nunggu didepan sana tadi, karena dia mau nyiapin hadiah ini buat gue?" tanya Litha dengan dirinya sendiri dan pastinya Litha juga sudah mendapat jawaban dari pertanyaannya itu, tentu saja jawabannya iya.


__ADS_2