Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Ceroboh


__ADS_3

"Ada tamu tak diundang rupanya?" ujar Fandy dengan nada sesantai mungkin dan ditambah pula oleh senyuman liciknya. Padahal sebenarnya saat sudah terdengar suara ricuh dari luar, hal tersebut berhasil membuat Fandy tegang dan panik tentunya, tapi sesegera mungkin Fandy bersikap santai.


"Raka... Ketemu lagi kita," Fandy menaikkan salah satu bibirnya ke atas.


"Lepasin mereka!" pinta Raka sambil menatap ke arah Litha dan Fika. "Atau mereka akan hajar kalian," tambah Raka sambil menoleh ke samping, melihat ke arah tiga orang pengawalnya.


"Mainnya keroyokan?" Fandy meremehkan Raka.


"Be*o, yang keroyokan itu elo bukan kita. Mata lo masih sehat? Atau nilai matematika lo dibawah KKM? Lo gak lihat jumlah lo dua kali lipat lebih banyak dari kita," ujar Leon yang sudah emosi. Diluar maupun didalam rumah tua tersebut jumlah dipihak Raka memang setengahnya dari jumlah mafia Harimau Putih.


"Satu lawan satu, berani?" seru Fandy.


Sedangkan Litha tahu rencana licik dari seorang Fandy, ya Fandy itu ceroboh. Dia membuat rencana licik saat suasana diluar tadi sudah ricuh, jadi karena Fandy terlalu panik dia membuat rencana dadakan tepat dihadapan Litha dan Fika. Kalau Fika sih gak akan ngadu ke Raka, kan mulutnya Fika masih di lakban. Tapi Litha? Lagi-lagi Fandy ceroboh, mulut Litha sudah tidak lagi dipenjara setelah Fandy tadi menarik lakban Litha dengan kasar.


"Jangan!!! Dia punya rencana licik, dia bakal bawa gue pergi waktu kalian sibuk berantem sama anak buahnya," jelas Litha dengan volume tinggi. Litha tidak takut, karena Litha yakin Raka dan Umran tidak akan membiarkan dirinya terluka sedikit pun.


Fandy mulai panik, dia baru ingat jika mulut Litha belum di lakban lagi. Padahal tadi dia sempat mengikat ulang tangan Litha, agar ikatan tangan Litha dan Fika tidak menyatu. Itu sengaja dilakukan Fandy untuk mempermudah agar Fandy dapat langsung lari dengan membawa Litha. Dan ternyata pemikiran Raka saat di luar tadi benar, Harimau Putih memang licik.


Setelah Fandy di telepon oleh kliennya, dia sudah tidak memikirkan Fika, toh juga kliennya sudah sangat mempercayainya. Fandy lebih tertarik untuk bermain-main dengan Raka dan Umran, tentunya dengan Litha sebagai alat permainannya.


'Sial...' batin Fandy frustasi. Fandy tak kehilangan akal. Dengan cepat Fandy menggendong tubuh mungil Litha lalu berlari sekencang mungkin. Fandy memegang paha Litha, dengan kepala Litha berada dibelakang punggungnya serta kakinya didepan dada bidangnya.


"Fandy!!!" teriak Raka sambil lari mengejar Fandy, namun Raka dihadang oleh empat anak buah Fandy. Dengan berat hati Raka harus meladeni mereka dulu, karena pengawal pribadinya dan sahabatnya sudah disibukkan dengan ritual tonjok menonjok dengan anak buah Fandy yang lainnya.

__ADS_1


Fandy berlari sangat cepat seperti kilat. Baginya tubuh mungil Litha tidak membebankannya, ya maklumlah Fandy sama kekarnya dengan Raka hehe...


Mendadak Fandy berhenti karena dihadang oleh tiga orang berbadan besar, tinggi serta berotot kekar. Ya jika kalian menebak itu adalah pengawal pribadi Raka yang telah ditugaskan Raka untuk berjaga-jaga, maka tebakan kalian benar.


"Serahin dia!" perintah salah seorang dari mereka.


"Gak akan," ketus Fandy lalu menurunkan Litha dengan tangan dan kaki Litha yang masih terikat.


Dan selanjutnya terjadinya pengeroyokan terhadap Fandy, Fandy juga sangat pandai dalam bela diri. Fandy menghajar ketiga orang tersebut dan akhirnya mereka kalah dari Fandy. Itu dikarenakan Fandy curang, Fandy menyemprot mata mereka dengan minyak khusus yang akan membuat mata seseorang menjadi amat perih. Fandy sudah menyiapkan minyak tersebut dari awal, Fandy berpikir untuk jaga-jaga, dan ternyata berguna juga.


Saat hendak menghampiri Litha, Fandy menoleh ke belakang karena ada yang memanggil namanya.


"Fandy," teriak Raka dengan wajah yang sudah dipenuhi warna biru kemerah-merahan. Pastinya itu adalah ulah dari anak buahnya Fandy tadi.


Raka segera menghampiri Litha yang masih terikat. Raka melepaskan ikatan tangan dan kaki Litha. Setelah ikatannya terlepas tanpa ba-bi-bu dan masih duduk ditanah, Litha langsung memeluk Raka. Dengan senang hati Raka membalas pelukan hangat kepada kekasihnya, meskipun sebenarnya Raka heran dengan perlakuan Litha yang tiba-tiba seperti ini. Litha menumpahkan kesedihannya di bahu Raka, seketika tangisan Litha pecah.


"Udah tenang. Ada gue disini, gue gak akan biarin orang lain nyakitin lo," ucap Raka mencoba menenangkan Litha.


Ya meskipun Litha menangis bukan karena takut atau masih trauma dengan kejadian tadi. Litha menangis karena sahabatnya dulu sudah berubah. Fandy yang dulunya dikenal sebagai seorang pemuda yang tampan, lembut, penuh perhatian, dan sopan. Sekarang sudah berubah menjadi Fandy yang egois, angkuh, jahat, kejam dan karena itu ketampanannya jadi tertutupi.


Litha merenggangkan pelukannya agar dapat melihat wajah kekasihnya. Raka mengusap air mata Litha, jujur Raka sangat tidak bisa jika melihat orang yang sangat dicintainya menangis seperti ini. Dan saat itu pula Raka baru menyadari bahwa diarea sekitar mulut Litha ada warna kemerah-merahan.


"Ini kenapa? Apa karena orang tadi?" tanya Raka dengan mengusap lembut diarea sekitar mulut Litha yang masih merah.

__ADS_1


"Gpp kok," jawab Litha, Litha tahu kalau dia jujur mengatakan bahwa itu karena ulah Fandy, Raka pasti akan memperpanjang masalahnya.


"Muka lo," ujar Litha terkejut setelah mengamati wajah Raka secara intens. Yah... Gimana Litha gak kaget, mukanya Raka tu bonyok. Pipi sebelah kanannya biru kemerah-merahan, sudut bibirnya sebelah kanan juga berdarah sedikit, kelopak matanya yang sebelah kiri bengkak ditambah warna biru kemerah-merahan gitu lagi...


Mata Litha berkaca-kaca dan satu detik berikutnya air matanya tidak dapat dibendung lagi. Raka mengusap air mata Litha lagi, lagi, dan lagi. Pasalnya air mata Litha terus mengalir di pipi mulusnya.


"Gue gpp, serius," ucap Raka meyakinkan Litha sambil mengusap air mata kekasihnya.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Gpp gimana. Lukanya banyak gitu, pasti sakit," sahut Litha disela-sela tangisannya.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Kita pulang yuk... Tuh mereka udah nungguin kita," tambah Raka.


Acara ributnya udah selesai dari tadi, pasukannya Raka sama The Perfect termasuk Umran, nungguin Raka yang lagi ngobrol sama Litha di dekat kendaraannya yang terparkir agak jauh dari rumah tua tadi. Mereka sengaja menunggu karena tidak mau mengganggu Raka dan Litha.


Raka berbalik arah membelakangi Litha, lalu menepuk pundaknya. "Gue masih bisa jalan kali, hiks.. hiks.. hiks.." ucap Litha yang masih menangis dan Litha juga mengerti kalau Raka mau menggendongnya.


Tetapi Raka tidak menghiraukan ucapan Litha dan menepuk pundaknya lagi. Litha menghentikan tangisannya sebentar, dia memutar bola matanya jengah, mau tidak mau Litha harus menuruti perintah Raka. Dari pada debat pasti bakal makan waktu, kan kasihan mereka yang udah nungguin Raka dari tadi.


Raka berjalan menghampiri teman-temannya dengan menggendong Litha yang menangis lagi di punggungnya. "Udah. Nagisnya dilanjut nanti kalo udah sampe rumah, gak malu dilihatin banyak orang?" ledek Raka sambil berjalan menggendong Litha.

__ADS_1


"Iya," Litha mengusap air matanya sendiri. Dipikir-pikir nangis gini, juga malu kalau dilihatin banyak orang.


__ADS_2