
"Jadi Fani masih hidup? Dan selama ini Via itu Fani?" Litha terkejut mendengar penjelasan dari Raka.
Raka mengangguk. Hari ini The Perfect beserta sang kekasih berkumpul di cafe milik Jordy, Umran dan Sarah juga ikut bergabung. Hanya Jordy dan Danil yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda memiliki kekasih.
"Kenapa dia sampai segitunya ngejar-ngejar lo. Gue heran ada apa sih dalam diri lo," entah kenapa tiba-tiba pertanyaan tersebut melintas dalam pikiran Jordy.
"Tanya aja sama Litha, kenapa dia bisa suka sama ice boy kayak Kak Raka," celetuk Sarah.
"Beb kan aku udah bilang jangan panggil si kulkas pake embel-embel Kak, justru dia itu calon adek ipar kamu," Umran menegur Sarah.
"Oh iya lupa yang, soalnya udah kebiasaan," Sarah nyengir kuda.
"Yang cowok manggilnya beb, yang cewek manggilnya yang. Ga jelas kalian berdua aneh tau nggak?" Cibir Fika.
Brak...
Sarah menggebrak meja, gak pake kekuatan dalam sih tapi suaranya cukup mengagetkan semua orang di ruangan ini. Mereka berkumpul di ruangan private, agar para ciwi-ciwi tidak marah, karena tentu saja dimana ada The Perfect disitu pasti ada para fans nya yang mayoritas para kaum hawa.
Fika langsung memegang dadanya yang terkejut, sambil menatap Sarah agak-agak takut gitu. Kalau Sarah marah bisa hancur nih bisnis Jordy.
"Kalo aneh itu artinya kita berbeda dari yang lain," ucap Sarah dengan tersenyum manis, membuat Fika bernafas lega. Yaaa kalau seandainya Sarah marah dan cafe Jordy jadi korbannya, bisa-bisa nanti Jordy minta ganti rugi ke Fika karena secara tidak langsung Fika lah penyebab kerugian Jordy.
"Kita spesial, kita unik, kita langka, intinya kita ter...wah sayang," Sarah tersenyum menatap tunangannya yang juga tersenyum.
Fika menganga lebar, dipikir tadi Sarah akan marah ternyata malah bangga banget dikatain aneh. Dasar pasangan aneh!
"Dih... Lebay kalian," perut Danil rasanya mual melihat keuwuwan Sarah dan Umran.
"Jomblo mah suka gitu," Sarah tak memperdulikan ucapan Danil yang terus saja membanggakan dirinya yang jomblo.
"Gue jomblo bukan berarti gue gak laku, itu karena gue terlalu berharga untuk dimiliki. Lo gak tau sebanyak apa fans gue?" Danil membuka ponselnya.
"Bodo amat," Sarah acuh-acuh saja.
Danil memperlihatkan layar handphonenya kepada Sarah, "Tuh cewek-cewek yang DM gue banyak,"
"Alahhh itu paling semuanya cewek cabe-cabean," ejek Sarah mulai terpancing.
Umran tidak ingin ikut campur dalam perdebatan mereka berdua, dia sibuk sendiri dengan laptopnya. Pemuda itu sedang mendapat tugas dari Ayah Kusuma untuk mengecek harga saham yang sedang naik turun.
Umran tau sejak awal kedatangan Sarah mengunjungi basecamp The Perfect, hanya Danil yang sepertinya kurang nyaman dengan kehadiran Sarah. Tapi perlahan Danil mulai nyaman dengan setiap perdebatannya dengan Sarah.
Tenang!!! Jangan salah paham dulu guys, tipe wanita yang cocok untuk dijadikan pasangan Danil, bukan yang tomboy dan bar-bar macam Sarah kok.
__ADS_1
Nyaman karena Danil yang pendiam dan cuek sekarang mulai sering berbicara akibat kehadiran Sarah yang menjadi musuh sekaligus lawan dalam perdebatannya. Danil sendiri yang mengungkapkan hal tersebut kepada Umran agar kedepannya tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka bertiga.
Litha dan Arkan tertawa melihat tingkah mereka berdua, sedangkan yang lainnya sibuk dengan urusan masing-masing. Pandangan Arkan tak sengaja mendapati Raka yang sedang melamun. Arkan menoleh ke sampingnya, melihat Sekar yang tidak beda-beda jauh dari Raka.
Arkan mengusap bahu Sekar membuat sang empu tersadar dari lamunannya.
"Masalah Fandy dan Fani gak usah dipikirin, lebih baik fokus sama kehidupan kamu sendiri," Arkan bicara sangat pelan agar tidak menganggu keributan antara Danil dan Sarah.
"Papa juga bilang gitu. Tapi aku ngerasa gak enak sama Raka dan Litha, gimana pun juga hubungan mereka terancam putus karena ulah dari kedua sepupu aku," jujur Sekar merasa canggung berhadapan dengan Raka dan Litha, padahal tidak demikian dengan pasangan tersebut.
Arkan menggenggam tangan Sekar, "Aku yakin mereka gak akan putus hanya karena sepupu kamu. Cinta mereka kuat. Mereka pasti akan meluluhkan hati Oma agar Oma merestui mereka," Arkan melihat Litha yang masih tertawa memperhatikan Jordy dan Sarah yang belom selesai juga ocehan mereka.
Sekar memegang tangan Arkan, matanya seakan-akan berbicara menyuruh Arkan untuk melihat Raka yang tidak melakukan apapun.
Pandangan Raka melihat ke arah luar jendela, matanya tidak berkedip dari beberapa menit yang lalu sejak Arkan dan Sekar memperhatikan si manusia dingin tersebut.
Arkan berdiri dari duduknya, sebelum itu dia menatap Sekar terlebih dahulu, namun Sekar tidak mengerti arti tatapan tersebut.
Arkan menepuk pundak Raka, "Kenapa lo?"
Seketika suasana yang tadinya ricuh karena Sarah dan Danil mendadak jadi hening, semua mata menatap kepada Raka.
"Emang gue kenapa?" Raka malah bertanya balik membuat Arkan tersenyum miring dan berlalu begitu saja. Arkan tahu ada yang menggangu pikiran Raka, dia tidak bisa dibohongi oleh sahabatnya itu.
Yaps Raka akui Arkan memang yang paling tahu tentang dirinya dibanding dengan yang lainnya. Raka memikirkan Oma yang hanya berdiam di kamar tidak ingin diganggu oleh siapapun, hanya pelayan saja yang boleh masuk ke kamar Oma untuk membawa makanan juga beres-beres kamar. Sudah seminggu sejak Raka mengungkapkan keburukan Via, Oma tidak pernah keluar dari kamarnya.
Raka menggeleng, "Mikirin rencana liburan," dia hanya menjawab asal saja.
"Wihhh boleh juga tuh... Mau liburan kemana kita?" Nick yang baru datang langsung menarik kursi sambil comot makanan dengan asal tanpa tahu siapa pemiliknya.
Mata Sarah melotot, "Woy punya gue tuh..." Sarah yang bar-bar mana terima makanannya dicuri orang.
"Punya calon suami kaya pesan aja lagi. Jangan kayak orang susah," Nick juga mengambil minuman didepan Raka, kalau yang punya si kulkas pasti no bacot-bacot tu anak.
Raka menggeleng dengan kelakuan Nick, dia memutuskan untuk menyusul Arkan ke belakang. Dari gelagatnya sepertinya Arkan ingin membicarakan sesuatu dengannya.
Litha hanya memandang punggung Raka yang semakin jauh dan tak terlihat. Banyak pertanyaan dalam benaknya, tapi ya sudahlah. Mungkin Raka butuh waktu untuk siap menceritakan semua isi dalam hatinya.
"Dih... Seenaknya ngambil minuman sama makanan punya orang. Masih kurang tuh transferan minggu lalu?" Sindir Sarah yang mengetahui dari Umran bagaimana mata duitannya seorang Nick.
"Yaaa... Kalau ditanya gitu, namanya manusia pasti gak pernah merasa cukup," Nick menatap Umran dengan menaikan kedua alisnya.
"Pa'an lu lihat-lihat, mau ngutang?" Sahut Umran sewot.
__ADS_1
***
"Silahkan masuk Oma," Via tersenyum ramah mempersilahkan Oma Rahma memasuki apartemennya.
Oma melangkah masuk lebih dulu, baru diikuti oleh Via dibelakangnya.
"Oma mau minum apa?" Tanya Via.
Ctar.... Tamparan kuat menghantam pipi mulus Via.
'Sial. Gue ditampar nenek-nenek? Kalo bukan neneknya Raka, udah gue cakar-cakar muka lo. Dasar nenek-nenek peot!' Via meringis memegang pipinya yang terasa panas.
Via terkejut dengan sikap orang tua ini yang biasanya selalu manis dihadapannya. Apa Raka sudah memberitahu semua kebusukannya? Tapi Via melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa orang suruhannya sudah melenyapkan bukti dalam handphone Mark beberapa hari yang lalu.
"Oma kenapa? Via salah apa sama Oma?" Tanya Via dengan menunjukkan ekspresi sedih.
Oma tersenyum sinis. "Tega-teganya kamu membohongi saya,"
"Bohong apa Oma?" Via masih memegang pipinya yang terasa nyeri.
"Kenapa Oma berkata 'saya'? Bukannya sebentar lagi kita akan menjadi keluarga? Kenapa Oma malah seakan-akan ingin merenggangkan hubungan dekat diantara kita berdua?"
Karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut, Via meraih tangan Oma. "Kalau Oma diem aja gimana Via bisa tahu letak kesalahan Via?"
Oma menepis tangan Via, "Via? Bukannya nama kamu Fani?"
Deg...
Selama bertahun-tahun bersama Oma, setahunya Oma bukanlah orang yang mudah percaya dengan hanya omongan saja. Apa selama ini Via tidak tahu jika Raka sudah menyimpan bukti atas kelicikannya?
"Fani siapa?" Via berusaha mengelak. Siapa tahu Oma hanya sekedar mencoba mengetesnya, pikir Via.
"Kamu pikir saya akan jatuh di lubang yang sama lagi?" Nada bicara Oma meninggi.
"Maksud Oma apa? Via nggak ngerti. Kalau ada masalah kita selesaikan dengan kepala dingin, kita bicara baik-baik ya Oma?" Via hendak menggapai tangan Oma, namun sesegera mungkin Oma menghindar.
"Oma tolong jangan seperti itu. Kalo emang Via ada salah, Via minta maaf," perlahan Via meneteskan air mata buayanya.
"Saya sudah mengetahui semua kebohongan yang telah kamu dan keluarga mu rencanakan sejak pertama bertemu saya," jelas Oma.
"Mencoba bunuh diri hanya karena cintanya tak terbalaskan?" Oma tersenyum miring meremehkan wanita cantik yang tidak punya harga diri karena mengemis-ngemis cinta kepada seorang pemuda.
"Kenapa tidak sekalian bunuh diri di rel kereta api saja? Jika ditempat tersebut, saya pastikan kamu langsung tewas," Oma melangkah maju menantang Via.
__ADS_1
"Perasaan kamu terhadap cucu saya, itu bukan cinta. Kamu tidak mencintainya, kamu hanya TEROBSESI untuk memilikinya!" Oma terus melangkah maju, membuat Via mundur kebelakang.
"Saya akui kamu cantik. Tapi saya tidak rela jika cucu saya mendapatkan wanita yang tidak mempunyai moral dan tidak berpendidikan seperti kamu!" Oma menatap tajam Via yang semakin deras meneteskan air matanya.