
"Gaimana?" tanya Raka pada seseorang yang memperbaiki ponsel milik Mark.
Sudah berhari-hari Raka menunggu ponsel tersebut siap pakai, karena sudah hancur parah sehingga memperbaikinya pun agak susah dan butuh waktu berhari-hari.
"Mungkin lusa bisa diambil," ucap orang tersebut.
"Hhhh... Gue gak suka terlalu formal, kita tu udah berasa keluarga," orang tersebut menepuk pundak Raka.
"Perbaikannya lama karena lo gak mau ganti komponen dalem HP nya, jadi gue harus perbaiki satu-satu komponennya. Gue yakin kalo orang lain, sekalipun dia tukang servis HP handal, pasti udah angkat tangan nanganin HP ini," jelas orang tersebut.
"Untung ada gue yang otaknya encer. Ada gunanya juga gue balik ke Indo," sombong orang tersebut sambil menepuk dada bidangnya dengan bangga.
Raka tidak merespon ucapan orang itu. Raka membuang mukanya, tidak suka melihat tingkah sombong orang dihadapannya.
"Kayak orang susah aja lo, HP jelek gini lo pertahanin. Kayak ada sesuatu yang berharga aja di dalem HP nya," ujar orang tersebut tanpa sadar. Sedetik kemudian dia menyadari ucapannya.
"Jangan-jangan lo nyimpen video sama cewek yang udah lo perko*a, ternyata dia enak banget. Terus lo ketagihan dan minta lagi ke cewek itu, tapi dia nolak. Terus lo tetep paksa dia buat nurutin kemauan lo, dengan cara ngancem dia pakai video yang ke simpen di perangkat telepon HP ini," terang orang tersebut yang mengungkapkan isi pikirannya yang mesum.
"Otak lo perlu dicuci bersih," ucap Raka datar tanpa merasa tersinggung dengan tuduhan tersebut. Orang tersebut menyengir tanpa rasa berdosa.
"Gimana kabar empat ekor peliharaan lo?" tanya Nick.
Yaps, dia adalah Nicky Austin, sahabat Umran saat SMA. Dia baru pulang dari USA yaitu negara kelahirannya, Umran saja belum mengetahui kedatangannya di Indonesia. Nick adalah manusia tampan blasteran Indo Amerika dan mahasiswa jurusan teknik informatika di salah satu universitas Amerika serikat.
Kenapa Raka bisa mengetahui kedatangan Nick lebih dulu dari pada Umran? Karena kebetulan sekali Nick tinggal di apartemen yang sebelahan dengan Raka.
Raka mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud pertanyaan Nick. Empat ekor peliharaan? Satu ekor peliharaan saja Raka tidak punya.
"The Perfect," ucap Nick dengan tersenyum sinis.
Raka tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepala. Tidak ada yang berubah dari Nick, dia selalu saja usil dan menyebalkan.
Nick sampai lupa bahwa tamunya belum mendapat minuman. Nick melangkah menuju pantry dan kembali dengan beberapa botol wine.
"Minum!" ucap Nick menawarkan kepada Raka.
Raka menghelai nafasnya, sahabatnya ini memang tidak ada perubahan sedikit pun. Nick memang orang yang baik, tetapi kebiasaan buruknya tidak bisa dihilangkan.
"Gue nggak minum," datar Raka.
"Jangan sok suci lu," cibir Nick yang hanya ditanggapi senyuman meremehkan dari Raka.
"Ya udah lo minum aja di apartemen lo sendiri. Gue cuma punya stok minuman ini," santai Nick lalu melegut satu botol minumannya sampai habis. Raka tersenyum sinis melihat Nick yang sudah ketergantungan minuman haram tersebut.
"Oh ya tujuan gue ngambil cuti kuliah, terus balik ke Indo karena mau nyamperin cewek gue," sahut Nick yang sudah mulai mabuk.
__ADS_1
"Ada yang mau sama lo?" Raka meremehkan Nick yang tukang pemabuk.
"Kalo dia gak mau sama gue, gue hamil*n aja," ucap Nick ngelantur. Itu bukanlah Nick yang sesungguhnya, kesadarannya sudah hilang setengah karena efek minuman haram tersebut.
"Terserah," Raka melangkah pergi dari apartemen tersebut. Dia harus segera menjemput Litha pulang sekolah, pekerjaan sebagai sopir tersebut hanya akan bertahan selama seminggu kedepan.
***
Di dalam mobil.
"Hari ini aku ngurus pemotretan untuk produk kecantikan di perusahaan," ungkap Raka.
"Siang ini?" Litha memastikan. Raka mengangguk.
"Aku boleh ikut?" tanya Litha penuh harap.
Raka menepikan mobilnya. Dia menyipitkan matanya menatap Litha. Seminggu yang lalu Litha bilang gak mau diganggu dan gak ada hari libur untuknya sebelum ujiannya selesai. Nah sekarang kok gini?
"Tadi Via chat aku, katanya dia ada pemotretan di Adelard Group," jelas Litha.
"Kak Raka masih inget Via kan? Yang dulu pernah aku ceritain ke Kak Raka, waktu habis makan dari hotel itu," ungkapnya.
"Inget," jawab Raka seperlunya.
"Katanya pemotretannya di outdoor jadi kalau aku pingin lihat katanya gpp. Nanti aku kenalin kamu ke dia," senyum Litha.
"Aku tahu kalian udah saling kenal, Via juga cerita kalo kalian pernah ketemu di cafe untuk bahas kontrak kerjasama," ungkap Litha yang diangguki oleh Raka.
"Aku mau kenalin kamu ke Via sebagai pacar aku," Litha tersenyum lebar.
"Ekhem..." Raka berdeham sebelum berkata.
"Sebaiknya kamu jangan terlalu deket sama dia," saran Raka.
"Lhoh emang kenapa? Via baik kok sama aku," tanya Litha dengan polosnya.
"Dari pada kamu lihat pemotretan itu mending siang ini kita habisin waktu berdua, gimana?" Tawar Raka dengan senyum menawannya. Iya Raka sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Niat aku ke sana itu buat ketemu Via, kalo berdua sama kamu mah udah keseringan," sahut Litha.
"Pemotretannya diundur karena aku gak bisa ke sana, so model itu juga gak ke sana," tutur Raka dengan mengetik sesuatu di ponselnya. Mungkin memberi kabar bahwa Raka tidak bisa hadir dalam pemotretan tersebut.
"Emang Kak Raka harus banget ke sana?" Heran Litha mengingat jika hanya Via yang menjadi modelnya.
"Harus ada tanda tangan aku," jawabnya. Litha manggut-manggut mengerti.
__ADS_1
Raka melajukan mobilnya lagi dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang ramai kendaraan. Meskipun cuaca siang ini kurang mendukung tetapi banyak kendaraan yang melintas.
Ada baiknya juga Raka mengundur acara pemotretan, beberapa menit kemudian air dari langit mulai berjatuhan membasahi bumi.
"Lhoh Kak, ini bukan jalan rumah ku," ujar Litha setelah menyadari jalan yang dilalui tidak menuju rumahnya.
"Kita quality time berdua yuk!" Ajak Raka.
"Jadi karena itu kamu gak bisa hadir di pemotretan? Kamu pingin ngabisin waktu berdua sama aku, atauu... karena kamu gak suka kalau aku berteman sama Via?" Tanya Litha dengan menuduh Raka.
"Dua-duanya," balasnya membuat Litha bertampang malas.
"Mumpung besok kamu libur, mau yah," Raka membujuk Litha.
"Emmm..." Litha berpikir.
"Ya udah deh... Tapi kemana? Diluar lagi hujan tuh.." tutur Litha menyetujui keinginan si ganteng beruang kutub.
"Nanti juga kamu tahu," Raka menoleh sekilas dengan senyuman manisnya.
***
"Ngapain ke ke sini?" Tanya Litha.
Raka dan Litha berjalan melewati beberapa unit apartemen yang mewah.
"Quality time berduanya disini," jawab Raka tanpa menoleh ke samping.
"Emang ada apa aja di apartemen kamu?" gumam Litha karena dia meramalkan jika nantinya akan merasa bosan dalam ruangan tertutup yang hanya ada mereka berdua.
"Ada sofa, meja, tv, AC, lem," jawab Raka terpotong.
"Ehh...?" Litha merasa heran dengan indera pendengaran Raka yang sangat amat tajam, bahkan telinganya itu mampu mendengarkan gumamannya.
"Orang deket gini masak gak denger," sindir Raka yang mengerti maksud Litha. Yah meskipun tangan mereka tidak saling bertautan ataupun saling merangkul, tetapi jarak mereka dalam katagori dekat.
"Lanjutin yang tadi gih!" Litha menyuruh Raka untuk melanjutkan ucapannya tentang apa saja yang ada di dalam apartemen mewah itu.
"Lemari, bantal, guling, selimut, kulkas," ujar Raka yang sejujurnya belum selesai mengabsen nama-nama barang yang ada di apartemennya. Karena mendengar suara tawa dari Litha, Raka diem deh...
"Hhh... Kalau kulkasnya itu mah kamu, kulkas berjalan," ejek Litha.
Tanpa disadari tiba-tiba langkah mereka terhenti karena sudah berada di depan pintu apartemen milik Raka. Mungkin karena saking asiknya bersendau gurau, so tingkat kesadaran rada berkurang.
"Eh... itu apartemen sebelah, pintunya kok kebuka Kak?" heran Litha melihat banyaknya apartemen yang pintunya tertutup, dan hanya satu unit apartmen yang pintunya terbuka, itu pun tepat berada disebelah apartemen milik Raka.
__ADS_1
"Yang punya orang gak waras," sahut Raka santai ikut melihat arah pandang Litha yang menatap apartemen milik Nick yang pasti sudah mabuk berat.
Litha tidak bertanya lagi, baginya itu bukanlah hal penting. Dia masuk ke dalam apartemen mengikuti Raka yang sudah masuk terlebih dulu.