
"Restu orang tua dan orang ketiga dalam hubungan ini udah pernah kita lalui bersama. Sekarang jarak adalah hal selanjutnya yang aku takuti," matanya berkaca-kaca meskipun bibirnya tersenyum.
"Maksud kamu apa Tha?" Sebenarnya Raka tahu arti ucapan gadis itu. Namun Raka ingin memastikannya.
Litha tertawa ringan tapi air matanya menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa nanya gitu? Bukannya Kakak udah tau maksud aku?"
Raka terdiam sejenak, tangannya menyeka air mata Litha yang siap meluncur.
"Kamu tau tentang kuliah aku?" Mata Raka juga ikut berkaca-kaca, jujur Raka tidak ingin berpisah dengan gadis yang sangat disayanginya meskipun perpisahan itu suatu saat nanti akan mempertemukan mereka kembali, tapi Raka juga merasakan berat sama seperti Litha.
Litha tidak menjawab pertanyaan Raka, dia memilih untuk diam menatap mata Raka yang sudah meneteskan air matanya.
Litha tertawa lucu mengejek Raka yang tidak dapat menahan air matanya. "Harusnya aku yang nangis bukan Kak Raka. Kakak gak pantes memperlihatkan air matanya di depan cewek, masak cowok dengan julukan ice boy nangis?"
"Hanya perempuan bernama Litha Kusuma Jaya Nagara yang bisa lihat air mata ini," Raka tersenyum air matanya tidak bisa dibendung lagi, pemuda itu mengecup kening Litha cukup lama.
Setelah dirasa cukup, Raka membisikkan sesuatu di dekat telinga gadis kesayangannya. "I love you," lirih Raka yang berhasil membuat jantung Litha berdegup di atas orang normal.
Hembusan nafas Raka menyapu sekitar kulit di telinga Litha membuat bulu kuduknya seketika berdiri.
Raka berganti mendekati wajah Litha, kedua matanya seperti terkunci hanya menatap bola mata indah gadis yang dicintainya.
Seolah kurang puas hanya mencium kening Litha saja, Raka mengalihkan pandangannya menatap bibir mungil Litha yang merah muda alami.
Raka semakin mendekat mengikis jarak wajah diantara keduanya. Hembusan hangat nafas Raka membuat tubuh Litha meremang, kelopak matanya terpejam seiringan dengan Raka yang semakin menghilangkan jarak diantara wajah mereka.
Cup.
Raka mengecup singkat hidung mancung milik Litha, membuat empunya terkejut langsung membuka mata.
Raka tersenyum gemas sendiri melihat Litha yang salah tingkah dengan pipinya yang merah merona mirip kepiting rebus.
__ADS_1
"Kenapa? Dikira mau cium bibir?" Goda Raka tersenyum jahil.
"Iya!" Ketus Litha menahan malu, ia memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Raka.
"Ya udah sini aku cium bibirnya biar gak manyun lagi," Raka memajukan wajahnya.
"Ihh... Apaan sih Kak!" Protes Litha mendorong wajah tampan itu dengan telapak tangannya. Raka menggenggam tangan tersebut sambil tertawa puas mengerjai gadis yang tengah berbaring sambil merajuk mengerucutkan bibirnya.
"Lepas nggak?" Ancam Litha mencoba menepis tangan Raka yang memegang tangannya, tapi Raka tetap mempertahankan menggenggam tangan tersebut.
Raka menuntun tangan Litha menyentuh dada kirinya. Seketika gadis itu menatap lekat wajah Raka yang telah menyudahi tawanya. Litha dapat merasakan detak jantung Raka yang normal, berbeda dengan dirinya yang detak jantungnya sudah tak karuan. Raka memang pandai mengobrak-abrik pikiran dan hatinya. Bahkan Litha langsung melupakan rasa kekesalannya terhadap Raka.
Raka masih memegang tangan Litha yang berada di dada bidangnya. "I love you," aura-aura romantis sedang menguasai diri pemuda yang bisanya selalu dingin tersebut.
"I love you too," Litha tersenyum manis, tidak menyangka Raka yang dingin seperti es batu ternyata bisa membuat suasana di ruang rawat inap rumah sakit menjadi sedikit lebih romantis.
"I love you three," balas Raka tak kalah menunjukkan senyum semanis madu.
"I love you more," ucap Litha menghentikan tawanya sambil mengusap sisi wajah Raka.
"I love you moreover," Raka memegang tangan Litha dan mengecup singkat punggung tangan Litha.
Sejenak keduanya terdiam saling menatap penuh kasih dan sayang, sampai segerombolan anak muda kurang diuntung menggangu suasana romantis dua sejoli tersebut.
Pintu terbuka lebar, suara menggema memenuhi isi ruangan. "We love you all...."
Siapa lagi kalau pelakunya bukan The Perfect?
"Gue gak nyangka es batunya mulai mencair, ternyata lo bisa ala-ala romantis juga. Padahal disini gak ada sesuatu yang bisa mendukung suasana jadi romantis, gak ada alunan alat musik, lilin-lilin kecil, bunga-bunga mawar melati bertebaran..." Ocehan Leon terpotong.
"Lo kira kuburan pake bunga mawar melati bertebaran segala," cibir Jordy masuk ke dalam, duduk di sofa dan diikuti oleh yang lainnya.
__ADS_1
"Jomblo mana paham begituan!" Balas Leon songong.
Jordy tertawa merangkul Nick dan Danil yang kebetulan duduk disisi kanan dan kirinya. "Dikira jomblo gak tau yang begituan. Ingat bro pelatih gak ikut bermain, kita mah udah pro dari sekedar kasih taburan-taburan bunga supaya suasana jadi romantis,"
Danil bersikedap sambil menggelengkan kepalanya tidak perduli dengan obrolan mereka yang unfaedah baginya. Sedangkan Nick tersenyum sinis.
"Lo berdua lupa gue siapa?" Tanya Nick meremehkan Jordy dan Leon.
Keduanya nampak berpikir sejenak lalu saling tatap, Jordy langsung beranjak dari duduknya dan berdiri disamping Leon.
Keduanya saling pandang lagi dengan keterkejutan dalam diri mereka. "Astaghfirullah kamu pezina," seru mereka berdua kompak.
Para wanita sontak dibuat terkejut dengan ucapan tersebut. Banyak pertanyaan dalam benak para wanita di sana, tidak ada yang mengetahui kebebasan dalam hidup Nick yang sesungguhnya, sekalipun itu Litha yang pernah ditolong oleh Nick saat dirinya bersama Fandy di hotel. Karena Litha menganggap jika di hotel tersebut hanya tempat penginapan untuk semua kalangan orang pada umumnya, tidak terbesit dalam pikirannya jika hotel tersebut untuk bisnis haram.
"Siapa yang zina?" Tanya Fika kepada Leon.
Leon gelagapan mendapat tatapan tajam dari kawan-kawannya, lain halnya dengan Nick yang terlihat santai-santai saja tanpa beban.
"Jangan-jangan diantara kalian ada yang pernah main sama cewek cabe-cabean?" Tebak Sarah dengan mata memincing.
"Ahhh... Mana ada kita kayak gitu? Jangan ngaco lo," Arkan menimpali sambil tertawa menutupi kegugupannya, diikuti tawa oleh Jordy dan Leon.
"Jangan bahas tentang sesuatu yang gak penting untuk diri sendiri, apa lagi hal itu gak ada manfaatnya sama sekali," Raka menengahi ketegangan di sana.
Bagaimana pun juga Raka dan yang lainnya tidak ingin jika para wanita mengetahui tentang hidup Nick yang sesungguhnya. Jika mereka tahu pasti mereka beranggapan Nick adalah laki-laki brengsek buaya darat dan mereka akan takut jika berada di satu circle bersama Nick.
Padahal The Perfect tahu bahwa Nick sebenarnya orang yang baik, dia hanya nakal dengan orang yang nakal juga. Nick hanya seseorang yang haus akan ilmu agama dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. The Perfect yakin suatu saat nanti Nick akan berubah menjadi lebih baik jika menemukan seorang wanita yang tepat dan mau menerima seburuk apapun masalalunya.
Netra Litha mengarah kepada Nick, sekarang Litha tahu kenapa Nick secara kebetulan bisa berada ditempat yang sama saat dirinya bersama dengan Fandy di hotel waktu itu.
"Siapa pun orang itu semoga dia segera tobat dan tidak melakukan hal menjijikkan seperti binatang yang asal main tanpa batasan sebelum mengucapkan ijab kabul terlebih dahulu," ujar Litha membuat Nick menelan ludahnya bulat-bulat.
__ADS_1
Nick yang awalnya santai-santai saja dan seolah membanggakan atas apa yang telah dilakukannya bersama beberapa wanita yang bahkan tidak dikenalinya, kini termenung meresapi serta mencerna kalimat yang dilontarkan Litha.