Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Raka Waras! Umran Stres?


__ADS_3

"Terus?" tanya Litha lagi dan masih ngegas juga... Karena Litha merasa kalau penjelasan yang diberikan Raka itu kurang jelas dan kurang rinci.


"Gue gak nyentuh kasur lo, apalagi tubuh lo," jawab Raka dengan santainya. Padahal sungguh, itu adalah perkataan yang sangat menyinggung bagi seorang wanita. Kalau Raka yang cuek kelewat batas seperti itu, mana paham soal begituan.


Sebenarnya Raka tidak ingin berkata seperti itu, mungkin karena terlalu jengkel dengan Litha yang terus menerus mengintrogasi Raka, yang seolah-olah seperti buronan yang baru tertangkap polisi.


"Jaga tuh mulutnya!" perintah Litha yang berteriak keras. Benar kan, Litha pasti merasa tersinggung tuhhh atas ucapan Raka tadi.


"Gue kesini mau jemput lo, katanya berangkat ke sekolah bareng," jawab Raka yang akhirnya mengatakan tujuan utamanya untuk datang ke sini. karena sadar kalau saat ini Litha sedang benar-benar marah kepadanya.


Oh.. ya tujuan keduanya yaitu, Raka sengaja datang sepagi ini karena ingin melihat Litha lebih lama. Bisa dibilang, sekarang Raka lagi kangen sama pacarnya, padahal baru aja kemarin bertemu. Maklum aja, namanya juga pacar baru. Walaupun proses menjalin hubungannya dengan cara yang tidak lazim, tapi tetep namanya pacar pasti ya gituuu, ada salah satu pihak yang kangen.


Litha berfikir sejenak dan memutarkan bola matanya yang indah itu. "Perasaan kemaren gue gak setuju, kalo lo jemput gue," ujar Litha.


"Udah bareng aja, sekalian ngirit ongkos," celetuk Umran yang tiba-tiba main nyelonong masuk ke kamar Litha, tanpa permisi dulu.


"Jangan ikut campur!" perintah Litha pada abangnya yang hobby-nya selalu ikut campur dengan urusan adeknya. Namanya juga kakak, pastinya selalu ingin menjaga dan memberikan saran yang baik pada adik semata wayangnya. Lagi pula itu demi kebaikan adeknya juga.


"Oh ya.. Pajak jadiannya mana nih..? Lu punya pacar, tapi gak bilang-bilang ke gue," ujar Umran dengan sangat santai.

__ADS_1


Jadi sebelum Raka masuk ke dalam kamar Litha. Raka sempat berbincang-bincang dengan Umran, sampai akhirnya Raka menceritakan dengan sejujur-jujurnya, bagaimana prosesnya agar dirinya bisa mendapatkan gelar sebagai kekasih dari perempuan berwajah cantik yang berpenampilan sederhana itu.


Sontak perkataan tersebut membuat Litha sangat terkejut, sebenarnya Litha tidak ingin jika hubungannya dengan Raka diketahui oleh orang lain, bahkan dengan saudara kandungnya sendiri. Litha menatap tajam ke arah Raka yang sedang duduk santai, seperti harimau Sumatera yang kelaparan dan ingin menerkam mangsanya. Namun Raka hanya menanggapi tatapan tajam itu, dengan menaikkan salah satu alisnya ke atas.


"Eh.. belom 24 jam mengarungi bahtera cinta dengan status pacaran, masak mau marahan sih?" Umran itu sudah hidup bertahun-tahun dengan Litha, jadi wajar saja kalau dia sangat memahami adeknya yang mau mengeluarkan amarahnya kepada Raka.


"Lebay banget lu," seru Litha. Akhir-akhir ini Umran itu emang agak lebay, mungkin karena kebanyakan nonton sinetron yang alay dan lebay, efeknya kalau bicara jadi ketularan lebaynya deh...


"Jangan-jangan Raka bisa masuk ke kamar gue, karena elo kan?" tanya Litha.


"Iya, napa emangnya? Lagi pula gue yakin Raka masih waras," jawab Umran. Seperti biasa Umran menjawabnya dengan asal, yang penting bisa ke jawab ajaaa. Toh.. juga Umran mengijinkan Raka masuk ke kamar Litha, karena Umran sudah percaya dan mengenal sifat Raka.


"Iyaaa.. kan disini yang str*s cuman elo doang," sepertinya Litha masih tidak terima jika Umran mengijinkan Raka untuk masuk ke dalam kamarnya.


Litha terlihat sudah lebih fresh, karena dia baru saja mandi. Dan sekarang dia sedang menuruni anak tangga untuk langsung menuju depan rumahnya dan segera berangkat ke sekolah bersama seniornya sekaligus pacarnya.


"Buruan makannya!" perintah Litha pada Raka yang sedang makan roti bakar dengan Umran di ruang tengah, sambil bermain game. Tentunya itu adalah ajakan dari Umran yang hobby banget sama game.


Raka tidak menggubris perkataan tersebut, Raka masih fokus pada game yang dimainkannya. Sebenarnya Raka tidak terlalu suka dengan game, tetapi karena ini adalah ajakan dari kakak iparnya, pastinya Raka tidak bisa menolak permintaannya, mau tidak mau Raka harus menuruti ajakan tersebut. Lagi pula tadi Umran juga sempat bilang kalau Litha juga suka nge-game sambil ngemil makanan ringan yang biasanya banyak mengandung micin.

__ADS_1


Dulu Litha juga tidak suka bermain game, tapi sekarang hobby banget sama kayak bang Umran, karena ketularan Umran yang selalu memaksa saudaranya itu untuk menemaninya bermain game, bahkan terkadang sampai tengah malam.


Raka ingin belajar agar dirinya juga suka bermain game, sama seperti Litha. Jadi jika suatu saat nanti Litha ingin bermain game, Raka bisa menemaninya sekaligus menjadi lawannya deh... Itulah sebabnya Raka ingin belajar menyukai game.


"Woiii punya kuping gak sih..?" teriak Litha dengan menatap tajam ke arah dua hamba Allah yang sedang asyik bermain game, tanpa mempedulikannya.


Raka masih tidak menggubris teriakan yang menggelegar keras itu. Sedangkan Umran hanya menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak, Umran lagi ngeledekin adeknya tuh yang dicuekin sama pacarnya sendiri.


Pandangannya sekarang hanya menatap tajam ke arah abangnya yang dari tadi cengengesan gak jelas. Umran yang merasakan ada harimau betina dari Sumatera yang sedang memantaunya seakan-akan hendak memangsanya, langsung angkat bicara. Dari pada dimangsa beneran kan bahaya!


"Sarapan dulu, sekalian nungguin Raka. Lagi seru-serunya nge-game nih, jangan ganggu kebahagiaan gue!" ujar Umran sambil fokus lagi ke gamenya.


Tentunya Litha merasa harga dirinya direndahkan sebagai pacar. Karena hanya bang Umran yang meresponnya, itu pun mungkin terpaksa, karena tadi Litha menatapnya dengan tatapan mautnya, jadi Umran takut kalau nantinya Litha marahnya makin menjadi-jadi. Dan Raka sama sekali tidak merespon ucapan Litha, malahan masih asyik bertarung dengan kehidupan gamenya.


"Yaudah terserah, gue naik angkot aja," ujar Litha dengan wajah cemberut, sambil melangkahkan kakinya menuju keluar rumah.


Sontak perkataan tersebut, membuat Raka memberhentikan acara bermain gamenya dengan Umran. Dengan segera Raka melangkahkan kakinya juga, tetapi dengan langkah kaki yang lebih cepat dari Litha.


Raka menarik lengan kanan Litha, tanpa bersuara. Tarikan yang kuat itu pun berhasil membuat tubuh mungil Litha berbalik arah ke belakang. Sehingga Litha dapat mengetahui siapa dalang dibalik tangan yang menarik lengannya.

__ADS_1


Tubuh mungil itu sampai kehilangan keseimbangan, akibat kekuatan tangan berotot yang menariknya. Jadi agar Litha tidak terjatuh, Raka segera mengambil tindakan, kedua tangannya yang berotot itu segera memegang disamping kanan dan kiri dari tubuh mungil Litha.


Keduanya saling beradu pandangan tanpa berkedip sekalipun, dengan jarak kurang dari 10 cm. Sehingga indera penciuman Litha dapat merasakan aroma mint yang segar dan sangat khas dari tubuh Raka.


__ADS_2