
"Alhamdulillah..." Semua orang kompak berseru mengucapkan syukur karena Litha akhirnya mau di operasi.
Pagi-pagi sekali semua ketiga sahabat Litha ditambah dengan The Perfect sudah ke rumah sakit untuk menjemput Litha yang dijadwalkan pulang hari ini. Padahal pulangnya masih nanti agak siangan, tapi ya begitulah mereka terlalu antusias menginginkan Litha kembali sembuh seperti sedia kala.
"Kesambet apaan lo tiba-tiba mau di operasi, kemaren aja nolak mentah-mentah," Sarah begitu penasaran.
"Ada deh... Rahasia," lidah Litha terjulur tidak ingin mengatakan kebodohannya selama ini.
Raka tersenyum tipis sudah berjanji akan merahasiakan perihal tadi malam kepada seluruh orang, termasuk sang keluarga. Kalau Umran tahu bisa jadi bahan olok-olokan seumur hidup Litha.
Ponsel Raka berdering, pemuda itu mengambilnya, menggeser icon warna hijau dan sedikit menjauh dari suara bising kawan-kawannya.
Raka dikejutkan dengan Oma yang sudah menjadwalkan operasi wajah Litha besok, dan setelah pulang dari rumah sakit Litha harus langsung menuju bandara agar hari ini juga mereka sampai di Korea. Tentu saja Litha harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu di rumah sakit di Korea sebelum dilakukannya tindakan operasi.
Baru lima belas menit yang lalu Raka menghubungi para keluarga jika Litha bersedia untuk operasi wajah, dan Oma langsung mendaftarkan Litha? Wow gerak cepat sekali.
"Lebih cepat lebih baik," ucap Oma diseberang sana.
"Raka akan memberitahu tahu Litha dan keluarga lainnya," Raka tersenyum bahagia menatap Litha yang sedang bersendau gurau dengan kawan-kawannya. Oma benar-benar akan bertanggung jawab terhadap luka Litha sebagai tanda terimakasihnya atas pengorbanan Litha.
"Cukup beritahu Litha saja. Oma sudah memberitahu kabar ini kepada kedua orang tua kamu dan keluarga Litha," sahut Oma lalu menutup sambungan teleponnya.
Wajah sumringah terus ditunjukkan oleh Raka setelah kembali mendekat berkumpul dengan orang-orang tersayang.
"Napa lo? Jangan bilang lo kerasukan setan pojokan?" Sahut Leon mengingat Raka yang menerima panggilan di dekat pojokan ruangan itu.
"Emang ada setan pojokan?" Fika mengerutkan keningnya.
"Hehe... Gak tau juga sih," Leon menyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Oma udah atur jadwal operasi Litha besok. Setelah pulang dari rumah sakit gue sama Litha langsung ke bandara dan Oma udah atur penerbangan kita," jelas Raka dengan senyum yang tak luntur sedari tadi.
__ADS_1
"Dimana operasinya?" Tanya Sarah.
"Rumah sakit," Danil asal jawab.
Sarah menatap Danil yang tersenyum miring, kemudian Sarah memutar bola matanya jengah.
"Korea," jawab Raka membuat Sarah membuka matanya lebar-lebar, kedua bola matanya berbinar seketika.
"Gue ikut ya? Please!!!!" Sarah menyatukan kedua tangannya di depan dadanya dengan memperlihatkan puppy eyes nya.
Litha dan Fika ingin muntah melihatnya, gambaran cewek imut yang Sarah sedang usahakan saat ini sangat tidak cocok dengan wanita tomboy tersebut. Sekar yang baru beberapa bulan bergabung dengan circle mereka, hanya bisa menahan senyum merasa lucu melihat Sarah.
***
Segerombolan anak muda baru saja turun dari pesawat, senyuman mereka merekah, netranya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Disinilah The Perfect sekarang di Korea bersama pasangan masing-masing, hanya Nick, Sarah, Danil dan Jordy yang tidak mempunyai gandengan.
Mereka semua memutuskan untuk ikut ke Korea dengan tujuan utama mengantar Litha operasi dan tujuan selanjutnya apalagi kalau bukan sekalian berlibur, mengingat hanya tersisa dua minggu lagi liburan akhir semester untuk para pelajar, lain halnya dengan Raka dan Nick yang mungkin liburannya lumayan panjang.
Nick melakukan video call dengan sahabat karibnya yang sebenarnya juga ingin ikut serta bersama mereka, namun apa daya Umran tidak boleh lepas dari tanggung jawab yang diserahkan Ayah Kusuma untuk memantau perkembangan proyek di luar kota.
"Noh... Lihat cewek lo duduk mepet-mepet si kalem," Nick mengarahkan ponselnya pada Sarah dan Danil yang duduk bersebelahan tentu saja dengan niat memanas-manasi Umran.
Sarah dan Danil saling pandang lalu bergeser sedikit menjauh, walaupun tetap saja masih terlihat dekat.
Ketiganya hanya diam saling pandang meskipun tidak secara langsung berhadapan mata, sedangkan Nick sudah tertawa terpingkal-pingkal.
"Cemburu kan lu..." tebak Nick masih diselingi tawa.
"Ngapain cemburu? Gue tau Sarah bukan seleranya Danil, kelasnya Danil bukan Sarah," sahut Umran dari seberang sana yang sukses membuat Sarah melotot dan langsung menyambar ponsel Nick.
"Maksud kamu apa? Aku perempuan yang gak diinginkan gitu? Terus kamu kenapa ngajak aku pasang cincin kemaren?" Sarah salah paham akan ucapan tunangannya.
__ADS_1
Semua kaget melihat Sarah yang teriak-teriak sangat nyaring. Untung saja orang-orang yang berlalu lalang di sana hanya menoleh sekilas karena mereka pun tidak mengerti bahasa Indonesia.
Panjang lebar Sarah mengomeli Umran yang berkali-kali sudah mengucapkan permintaan maaf di ujung sana. Hingga jemputan datang Sarah masih belum puas mengoceh memarahi Umran.
"Udah Sar ngomelnya dilanjut nanti, jemputan kita udah dateng," ucap Litha mengajak Sarah beranjak dari tempatnya.
"Ayo!" Sarah berdiri dan berjalan masih dengan ocehannya menatap layar ponsel dimana terpampang jelas wajah memohon dan memelas yang ditunjukkan Umran.
Nick menengadahkan tangannya bersiap menerima ponsel miliknya, bukannya dikembalikan kepada empunya Sarah malah melewati tangan yang jelas-jelas berada didepannya. Nick tersenyum kecut hanya bisa pasrah mengelus dadanya.
"Sukurin..!" Danil tertawa puas melewati Nick yang tarik nafas buang nafas. Niat hati ingin menjadi kompor supaya ada sedikit drama diantara tiga manusia itu, malah dirinya yang terkena sial dengan diakhiri Sarah yang memegang ponselnya dengan emosi memuncak kepada Umran.
***
Setelah dijemput oleh orang yang sudah ditugaskan Oma, yang lainnya langsung menuju hotel. Sedangkan Raka dan Litha langsung menuju rumah sakit hanya berdua tanpa supir, karena Raka sudah tahu alamat rumah sakitnya, dia hanya membutuhkan kendaraan yang sudah ia request dari Oma tersayang.
Litha terbaring di atas banker rumah sakit setelah melakukan pemeriksaan, kondisi fisiknya cukup baik sehingga operasi wajah akan dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan diawal.
"Aku bahagia Oma udah merestui hubungan kita berdua dan aku juga bahagia karena Oma dengan ikhlas membuang uangnya secara cuma-cuma untuk operasi aku," senyuman Litha terlihat menatap Raka.
Litha bahkan tidak habis pikir dengan Oma yang mau mempersiapkan kebutuhannya dan teman-temannya juga. Mulai dari penerbangan keberangkatan mereka, hotel, biaya makan selama di Korea, serta Oma sudah mempersiapkannya tiket berlibur wisata di Korea, namun masih dirahasiakan wisata mana yang akan mereka kunjungi.
"Beliau memang seperti itu. Kalau Oma udah sayang sama seseorang, tidak hanya seseorang itu yang akan di istimewakan, orang-orang terdekat yang disayangi seseorang tersebut juga akan mendapat perlakuan yang sama," jelas Raka tersenyum hangat seraya mengusap rambut Litha.
Litha bahagia berada di dekat orang-orang yang menyayanginya dengan sepenuh hati. Mata indahnya menatap langit-langit ruangan, tiba-tiba ia teringat kesedihannya semalam saat di rumah sakit hanya berdua dengan Raka.
"Restu orang tua dan orang ketiga dalam hubungan ini udah pernah kita lalui bersama. Sekarang jarak adalah hal selanjutnya yang aku takuti," matanya berkaca-kaca meskipun bibirnya tersenyum.
***
Baru bisa upload sekarang hehe✌️ Terimakasih yang sudah setia di karya ini❤️
__ADS_1