Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Bukan Mimpi


__ADS_3

Setelah puas berbelanja di mall, empat gadis cantik memutuskan untuk ke restoran untuk mencari makan. Bukannya memesan makanan ala-ala orang barat, mereka memilih memesan makanan yang biasa dijual dipinggir jalan, apa lagi kalau bukan bakso dan mie ayam.


Baru sesuap Sarah memakan satu bakso kecil, tiba-tiba matanya melotot menatap sesuatu dibelakang Litha dan Sekar.


"Kenapa lo? Masih aman kan? Belum keracunan?" Tanya Fika ngawur.


"Lihat apaan sih?" Litha hendak menoleh ke belakang, namun Sarah segera menangkup wajah Litha agar tetap melihat lurus ke arahnya saja.


"Jangan nengok ke belakang kalau masih mau hidup lo tenang!" Dari raut wajahnya Sarah sepertinya sedang serius dan tidak bercanda.


Fika ikut melihat arah pandang Sarah, detik berikutnya sama juga seperti Sarah yang matanya minta dicongkel. "Gantengnya..." Rengek Fika.


Sekar jadi ikut penasaran juga, dia menengok ke belakang. Litha hanya bisa melirik ke arah Sekar yang kini menutup mulutnya yang pasti terbuka lebar karena terkejut mungkin? Atau apa? Litha tidak tahu karena ulah Sarah yang masih setia menahan kepalanya.


"Udah berapa lama lo gak kabar-kabaran sama Kak Raka?" Tanya Sarah.


Litha menghelai nafasnya, "Sejak dia berangkat ke luar negeri dan selama itu juga gue bertahan supaya gak gila,"


"Serius? Jadi selama ini lo gak bercanda?" Tanya Fika masih kurang percaya.


Mereka mengira selama ini Litha hanya bercanda saat Litha mengatakan bahwa Raka tidak pernah memberikannya kabar.


Bukan hanya dengan Litha saja, Raka juga memutuskan komunikasi dengan keluarganya. Semua dilakukan karena Raka ingin fokus pada materi pembelajaran agar dia bisa secepatnya menyelesaikan pendidikannya dengan cepat dan dengan hasil yang memuaskan.


Sarah, Sekar, dan Fika mengangguk paham dengan cerita dari Litha. Raka mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan hal tersebut.


Litha menoleh ke sampingnya melihat Pak Gio yang tiba-tiba muncul arah belakangnya dan menarik kursi disamping Litha.


"Tidak menyangka saya akan bertemu kalian disini," senyuman hangat ditunjukkan oleh Pak Gio.


"Hai Sekar... Apa kabar?" Pak Gio menatap Sekar.


"Alhamdulillah sehat Pak. Bapak masih ingat juga dengan saya," balas Sekar basa-basi.


"Siapa guru yang tidak mengingat mantan anak didiknya yang berprestasi di sekolah?" Jawab Gio tersenyum ramah.


Pak Gio berganti menatap gadis cantik disampingnya. "Bagaimana rasa lollipop yang saya berikan tadi pagi?"


"Enak Pak. Enak banget. Ngomong-ngomong belinya dimana?" Fika menjawab dengan semangat membara.


Pak Gio menaikkan alisnya sebelah seolah menanyakan kepada Fika, kenapa Fika yang malah tahu rasa dari permen lollipop yang ia belikan khusus untuk Litha?


Fika garuk-garuk kepalanya, "Hehe... Lollipop nya tadi saya yang makan. Soalnya Litha gak mau Pak. Kan sayang kalau dibuang mending saya ambil,"


"Tidak apa-apa," Pak Gio tersenyum tidak menunjukkan kemarahan ataupun rasa kecewa. Begitulah Pak Gio, dia akan menunjukkan sikap ramah kepada Litha dan orang-orang terdekat Litha. But lain cerita kalau lagi ngajar di kelas sikap ramah dan murah senyumnya akan sirna seketika entah kemana perginya?


"Boleh saya bergabung makan siang bersama dengan kalian?" Tanya Pak Gio melihat Sarah, Fika dan Sekar yang malah menatap Litha yang hanya diam saja.


Pak Gio ikut menatap Litha yang masih diam membisu.

__ADS_1


Detik selanjutnya semangkok mie ayam Pak Gio datang. Tadi Pak Gio sudah memesan makanan sejak ia duduk dimeja lain, setelah indera penglihatannya tidak sengaja menemukan sosok Litha di restoran yang sama dengannya, ia memutuskan untuk menghampiri Litha.


"Makanan saya sudah ditaruh di atas meja ini. Apa kamu tetap ingin mengusir saya?" Pak Gio sedikit menundukkan kepalanya dan mengedepankan kepalanya agar bisa melihat wajah cantik Litha.


"Terserah," ketus Litha berada di mode kesal.


Litha langsung melahap makanannya tanpa memperdulikan orang disampingnya yang sejujurnya membuatnya risih.


"Makanan yang kita pesan sama. Mungkin memang ini yang dinamakan jodoh," celetuk Pak Gio yang sukses membuat Litha tersedak makanan.


Uhuk... Uhuk...


Litha memegang dadanya yang terasa sakit akibat tersedak makanan. Dengan segera Pak Gio memberikan botol air mineralnya, Litha yang belum sepenuhnya sadar langsung menerimanya dan meneguk minuman tersebut.


Setelah dirasa cukup, Litha mengamati satu per satu makanan yang dipesan oleh ketiga sahabatnya yang ternyata memakan bakso. Litha berganti menatap makanannya yang ternyata sama dengan pesanan makanan Pak Gio.


Sekar, Sarah dan Fika memalingkan wajahnya menahan tawa melihat ekspresi wajah bodoh yang ditunjukkan oleh Litha.


Litha mengamati botol digenggamannya, baru sadar kalau botol ini bukan miliknya. Litha langsung menaruhnya di atas meja.


"Apa saya boleh melihat seperti apa pacar kamu?" Celetuk Pak Gio membuat Fika, Sarah dan Sekar terkejut kecuali Litha yang hanya melirik sekilas ke arah Pak Gio.


Litha mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan menyalakan layar handphonenya. Dia meletakkan benda kecil tersebut di atas meja dan menggesernya hingga tepat di atas meja depan Pak Gio.


Pak Gio tersenyum tipis melihat layar ponsel Litha yang terpampang jelas foto seorang pemuda tampan dengan pakaian formalnya berwarna putih.



"Yakin," tegas Litha dengan menatap tajam Pak Gio yang malah tersenyum manis karena mereka berdua kini sedang saling pandang. Tentu saja itu adalah sebuah kejadian yang langka jika Litha mau menatap Pak Gio.


"Apa kamu juga mencintainya?" Pertanyaan macam apa ini, sudah jelas-jelas mereka menjalin hubungan dengan mengatasnamakan pacaran, masih ditanya tentang perasaan mereka? Ngadi-ngadi aja nih guru ganjen!


Litha menghelai nafasnya, "Kalau saya tidak mencintainya, kenapa saya mau menjalin hubungan spesial dengan dia?"


"Yaaa siapa tahu kalian menjalin hubungan hanya untuk kepentingan bisnis. Atau kamu hanya mengarang cerita saja, karena saya tidak pernah melihat kamu berkomunikasi dengan pacar kamu. Hubungan LDR seperti apa yang kamu jalani jika tidak saling bertukar kabar melalui alat komunikasi, padahal jarak memisahkan kalian," cerocos Pak Gio panjang kali lebar kali tinggi.


"Terserah Bapak mau ngomong apa saya gak perduli. Ayo mau tanya apa lagi mumpung saya masih setengah waras, biar jadi gila sekalian," Litha memejamkan matanya dan meremas rambut panjangnya.


"Kemana pacar kamu?" Bukannya diam, Pak Gio malah suka sekali membuat Litha jadi jengkel.


"Kuliah," Litha menjawab cepat dengan mata tertutup serta kedua tangannya meremas rambutnya, karena saking jengkelnya dengan orang disebelahnya itu.


Sekar, Sarah dan Fika hanya diam membisu mengamati tanya jawab cepat antara guru dan murid tersebut.


"Saya tanya kemana, bukan menanyakan aktifitas apa yang dilakukan pacar kamu,"


"Ke luar negeri,"


"Di negara mana?"

__ADS_1


"Inggris,"


"Di kota mana?"


"Oxford,"


"Tau nama universitas nya?"


"Oxford University,"


"Siapa nama pacar kamu?"


"Raka Adelard Pangestu bin Baskara Adelard bin jelmaan beruang kutub putih dari kutub Utara," Litha semakin meremas rambutnya, kelopak matanya tertutup erat, tangan yang tergempal erat bergetar, emosinya sudah siap untuk meledak.


"Siapa nama ib..." Ucapan Pak Gio berhenti saat Litha menggebrak meja.


Brak...


"Stop Pak! Saya bisa jadi gila beneran kalo kayak gini terus," Mata Litha terbuka lebar menatap tajam Pak Gio yang tersenyum seperti biasa saat berhadapan dengannya.


"Tha..." Sekar menepuk pundak Litha.


"Apaa...?" Teriak Litha karena masih tersulut emosi.


"Tuh... Lihat!" Ketiga sahabatnya kompak menunjuk seseorang yang berdiri tepat didekat meja mereka.


Litha melihat arah jari telunjuk ketiga gadis itu. Sedetik kemudian mata Litha berkaca-kaca memandang wajah seseorang yang sangat dirindukannya.


Pak Gio yang penasaran ikut melihat ke arah pandang empat gadis cantik itu. Ia melihat seorang pemuda tampan yang sangat mirip dengan foto seseorang yang baru beberapa menit lalu dilihatnya di ponsel Litha.


"Seenaknya ganti nama orang jadi di panjang-panjangin," suara dingin yang hampir dua tahun terakhir ini tidak Litha dengar, kini keluar dari bibir yang jarang tersenyum tersebut.


Hati Litha bergetar mendengar suara khas tersebut, jantungnya berdegup kencang, pupil matanya bergetar melihat sosok pelindung ternyaman yang tiga tahun terakhir ini dijadikannya sebagai rumah untuk hati dan jiwanya agar tetap tentram.


"Ini bukan mimpi kan?" Litha menangkup pipinya, perlahan senyuman Litha merekah kala menyadari bahwa ini bukanlah sebuah mimpi.


"Ini nih yang tadi gue bilang ganteng," Fika memandang kagum wajah Raka yang semakin tambah tampan.


"Ini nih yang tadi bikin kita melongo," Sarah menimpali.


"Yang bikin mata kalian berdua minta dicongkel pakai linggis," sahut Sekar tertawa renyah dengan ucapannya.


Yap tadi Sarah tidak sengaja menemukan sosok pemuda tampan yang wajahnya sangat mirip dengan Raka. Ketiga sahabat Litha melihat Raka yang sedang clingak-clinguk seperti mencari seseorang.


Disaat yang bersamaan mereka bertiga juga melihat Pak Gio yang sedang duduk santai menanti pesanan makanan yang baru dipesannya kepada pelayan. Namun sayangnya, Pak Gio yang lebih dahulu mendapati sosok gadis SMA yang tengah berkumpul di restoran ini. Tentu saja Pak Gio langsung cusss menghampiri sang pujaan hatinya.


***


Mau sedikit cerita. Tadi di part ini semua tulisannya ke hapus karena Author gak sengaja salah pencet. Terus Author tulis ulang 😭 Huhu jadi kerja dua kali tapi hasilnya cuma satu🙂

__ADS_1


__ADS_2