
Hari pertama cukup berjalan dengan hectic. Dengan berbagai kasus penyakit yang ditemukan. Litha baru selesai tugas di jam empat sore dan bisa beristirahat pulang.
"Tha lo pulang naik apa?" Tanya Nara. Keduanya kini berjalan untuk menemukan pintu keluar yang jaraknya lumayan bikin kaki pegel, maklum rumah sakit gede.
"Ojek aja kali lah yah, biar gak kena macet," Litha menoleh kanan kiri disepanjang jalan, hari ini dia tidak bertemu dengan Raka maupun Fika.
Ruangan pribadi Raka saja Litha lupa arahnya kemana, kemarin Litha dan Nara meminta tanda tangan Raka saat berada di ruang kerja Raka sebagai Dokter. Terakhir kali Litha ke ruang kepala rumah sakit ini saat dulu akan melakukan penelitian bersama Aldi.
"Cari siapa lo?" Heran Nara yang melihat tingkah aneh temannya.
"Cari cogan..." Ucap Litha yang emang faktanya gitu.
"Lama nih kalau niatnya sambil cuci mata. Gue duluan ya, ojol gue udah sampai. Bye..." Nara berlari kecil dengan tangan melambai kepada Litha.
Dari arah belakang seseorang menarik tangan Litha, tentu saja Litha begitu terkejut. "E e eh..." Litha memukul tangan berotot yang menariknya secara paksa.
Hingga laki-laki itu membawa Litha masuk ke salah satu ruangan yang tak jauh dari tempat awal Litha berada. Laki-laki berjas putih tersebut menyudutkan Litha ke dinding membuat Litha memejamkan matanya karena takut.
"Mau culik gue lo ya? Dasar dokter genit," mata Litha membuka sedikit, netranya hanya menangkap jas putih dan masker yang digunakan penculik itu.
Litha menendang bagian int*m laki-laki tersebut membuat empunya kesakitan memegang bagian itu dengan badan membungkuk. Litha langsung memukul pundak kiri laki-laki itu dengan sikunya. Masih belum puas, Litha juga melayangkan tendangan dibagian perut dan kedua kaki laki-laki itu.
Tak tanggung-tanggung, Litha menarik tangan kanan berotot yang sudah melemas tersebut, Litha memelintirnya dengan emosi membara.
Krek... Sepertinya suara sendi peluru sudah ada pergeseran dibagian pundaknya.
Krek... Litha lanjut menekuk tangan itu dan memelintirnya lagi hingga menimbulkan suara kedua, membuat sendi engsel di sikunya juga ikut bergeser.
Litha menatap tajam laki-laki kurang ajar yang sudah duduk dilantai dengan tangan memegang kaki dan bagian int*m nya, sesekali tangannya beralih mengusap lengan kanannya. Litha tersenyum miring melihat dokter genit itu menahan rasa sakit disekujur tubuhnya yang mendapat bogem mentah dari Litha.
"Mampus lu! Jangan coba-coba deketin gue. Dasar Dokter genit! Dokter ganjen!" Cibir Litha memaki orang itu.
"Tunggu lo disini jangan coba-coba kabur! Gue aduin suami gue, dipecat baru tau rasa lo!" Sungut Litha sambil mengambil ponselnya dan menghubungi beruang kutub kesayangannya.
Suara ponsel laki-laki didepan Litha berbunyi. Mata Litha terbelalak saat mematikan sambungan telepon yang belum diangkat bersamaan dengan matinya suara ponsel laki-laki itu. Litha menghubungi Raka kembali, ponsel orang didepannya kembali berbunyi.
Dokter genit tersebut mendongakkan kepalanya. Litha tergagap menatap mata memelas yang ditunjukkan Dokter tersebut. Walaupun dia menggunakan masker, Litha hapal betul tatapan mata seorang Raka.
__ADS_1
"Kk.. k... Kak Raka?" Litha menutup mulutnya lalu ia melihat tangan dan kakinya yang telah membuat tubuh Dokter genit itu remuk.
Litha mendekat namun langsung mundur satu langkah karena takut mengingat kejadian tadi. Litha membalikkan badan berniat melarikan diri.
"Dasar anak kurang ajar! Tanggung jawab," seru Raka membuat Litha mengurungkan niatnya kabur.
Litha balik badan dengan mata terpejam dan menggigit bibir bawahnya. "Mm... Maaf Kak. Jangan bales banting aku ya!" Litha memeluk tubuhnya sendiri karena takut jika tiba-tiba Raka melakukan hal yang serupa seperti apa yang Litha lakukan kepada Raka.
"Gimana aku mau bales kamu. Tangan kanan aku gak bisa digerakin Tha," sahut Raka membuat Litha langsung membuka matanya melihat Raka yang kini membuka maskernya dengan tangan kiri.
"Maaf Kak. Aduh gimana dong ini?" Litha jadi panik sendiri.
"Bantu aku berdiri Tha," rasanya kedua kaki Raka tidak sanggup menopang tubuhnya. Tendangan dari Litha memang tidak bisa dianggap remeh, walaupun tubuh gadis itu mungil. Yah.. buktinya saja kaki Raka langsung lemas, bagian intinya juga masih terasa berdenyut tak karuan.
Litha merangkulkan tangan Raka dipundaknya. "Aduh aku gak kuat Kak kalo sendirian," Litha menyerah.
"Emang kakinya sakit banget?" Tanya Litha tanpa rasa berdosa.
"Semua badan aku sakit semua, termasuk ini," Raka masih duduk sambil menunjuk bagian intinya membuat Litha menahan tawa, tapi langsung mingkem saat menatap mata tajam dari Raka.
"Maaf Kak. Salah sendiri kenapa jas nya gak ada name tag nya? Kalau ada kan, aku langsung bisa ngenalin kamu," ucap Litha membela diri.
"Aku hubungin Fika yah buat bantuin kita?" Tawar Litha memberi solusi.
"Kayaknya dia udah pulang. Aku hubungin temen aku aja," Raka menghubungi Ken, menyuruhnya untuk ke tempatnya saat ini.
Cklek...
Pintu terbuka, Ken melihat Raka yang duduk dilantai dengan seorang gadis berjas putih seperti seorang Dokter.
Litha membalikkan tubuhnya, menatap seorang dokter muda yang juga lumayan bisa disebut cogan, tapi lebih gantengan Raka.
"Kenapa lo?" Ken bertanya kepada Raka. Namun pandangannya menatap gadis yang memakai kacamata hitam, masker, dan bertopi putih dengan rambut panjang kuncir kuda.
"Kecelakaan kecil. Bantu gue berdiri!" Ucap Raka yang sukses membuat Ken tertawa terpingkal-pingkal.
"Lo nyuruh gue ke sini gara-gara itu doang?" Tanya ken disela tawanya, tanpa sadar Ken menepuk pundak kanan Raka membuat empunya menjerit keras.
__ADS_1
"Aaa..." Teriak Raka. Litha refleks langsung memukul tangan Ken, membuatnya berhenti tertawa.
"Preman mana yang berhasil bikin badan lo remuk memprihatinkan kayak gini?" Tatapan Ken berubah serius, pasalnya ia tahu jika Raka sangat jago bela diri dan tidak mudah terkalahkan dengan lawannya.
"Preman kecil!" Ketus Raka tidak ingin membahas tentang penyebab tubuhnya remuk.
Banyak rekan kerja sesama tenaga medis yang menatap heran ke arah Ken dan Raka yang jalan saja harus dipapah dua orang. Tapi tidak ada yang berani bertanya karena takut dengan Raka yang selalu bersikap dingin dan tidak pernah tersenyum kecuali kepada pasien.
Ken memapah Raka bersama Litha yang terus menundukkan kepalanya. Sejujurnya Ken sangat penasaran dengan gadis itu, tapi jika bertanya pasti Raka tidak akan memberitahunya. Wanita itu saja menutupi wajahnya dan tubuhnya dengan jas dokter milik Raka, pasti tujuannya agar tidak diketahui oleh orang lain, jadi percuma saja jika Ken bertanya.
Ken memapah Raka sampai di parkiran khusus dokter.
"Kamu bisa nyetir mobil aku?" Tanya Raka kepada Litha yang tersentak dengan pertanyaan itu.
Litha melihat Ken yang menatapnya. Kemudian Litha mengangguk kepada Raka setelah sebelumnya ia memandangi mobil sport hitam yang sering ia tumpangi bersama Raka. Yaa mungkin cara mengendarai mobil sport mewah ini tidak jauh berbeda dengan mobil biasa pada umumnya.
Ken memapah Raka dikursi penumpang dan Litha masuk ke dalam kursi pengemudi.
Ken mengetuk kaca mobil, Raka langsung menurunkan kacanya.
"Apa?" Ketus Raka.
"Idih... Abis dibantuin juga masih di judesin mulu. Lama-lama kayak emak-emak kompleks lu!" Omel Ken.
Litha memegang tangan Raka yang menoleh kepadanya. Gadis itu memberikan isyarat agar tidak berperilaku kasar kepada seseorang yang telah memberikan pertolongan kepada mereka.
Raka menghelai nafasnya, terasa begitu berat rasanya jika harus bersikap baik kepada Dokter petakilan seperti Ken.
"Ada apa Dokter Ken? Sebelumnya terimakasih atas bantuan Dokter kepada kami," Raka tersenyum dipaksakan hanya satu detik, lalu mukanya kembali datar.
Ken sudah cengengesan tidak jelas, ternyata Raka bisa jinak juga kalau udah sama ceweknya.
"Kalau udah sembuh, jangan lupa bonusnya Dok!" Ken tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Oh iya bonusnya double lhoh ya Dok. Soalnya rahasia Dokter juga saya pegang," ucap Ken sambil mengerlingkan matanya kepada Litha yang langsung bergidik jijik.
Raka yang melihat itu tentu saja terpancing emosi. "Cari mati lo!"
__ADS_1
Ken semakin cengengesan berhasil mengerjai Raka yang ternyata walaupun dingin dan galak, tapi memiliki kecemburuan tingkat tinggi jika sudah menyangkut gadisnya.
"Kalo tangan gue gak sakit, gue tonjok mata lu yang sering kedip-kedip genit ke cewek-cewek," Raka menutup kembali kaca mobilnya bersamaan dengan Litha yang menancap gas mobilnya.