
Litha jadi kikuk sendiri, bingung harus bagaimana dihadapan pengusaha sukses itu? Tapi senang juga karena ternyata papa Baskara itu tidak seperti anaknya yang kaku banget.
"Ya sudah ayo masuk, Mamanya Raka sudah menunggu kamu dari tadi," ajak Papa Baskara yang mengerti situasi.
"Iya Om," jawab Litha.
Ketiganya berjalan ke arah ruang keluarga, dimana sudah ada seorang wanita paruh baya dan wanita yang sudah lanjut usia sedang berbincang-bincang. Meski usianya tidak lagi muda tetapi kedua wanita itu masih terlihat cantik menurut Litha.
"Ma," panggil Papa Baskara, lantas kedua wanita itu menoleh ke sumber suara.
"Papa," sahut Mama Kania.
Lalu bola matanya melihat ke arah anak tampannya, "Raka,"
Selanjutnya bola matanya menangkap sosok gadis cantik dengan rambut dan tubuh yang setengah basah, "Inii..." ucap Mama Kania menggantung. Ralat tidak menggantung, lebih tepatnya seperti sedang bertanya, siapa gadis itu? Apakah dia pacar Raka?
"Litha. Calon mantu Mama," sahut Papa Baskara dengan tersenyum jahil kepada subjek yang ia bicarakan. Membuat Litha semakin kikuk saja.
Mama Kania tersenyum lebar hingga kedua matanya melengkung membentuk bulan sabit.
"Jadi ini pacar kamu Ka?" kali ini Oma ikut angkat suara.
"Iya Oma," jawab Raka seperlunya. Oma nya Raka hanya mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Yah sekarang Litha tahu, siapa dari anggota keluarga Adelard yang mewariskan sifat dingin ke Raka. Ini adalah alasannya kenapa Raka sangat cuek, ternyata sifat Oma nya menurun ke cucunya.
"Kenapa kalian basah kayak gini?" tanya Mama Kania yang baru menyadari hal tersebut.
Litha tidak ada niatan untuk menjawab, dia masih kesal jika mengingat kejadian menyebalkan itu. Gadis itu mendongakkan kepalanya ke arah samping, lantas Raka menoleh.
Keduanya hanya saling beradu pandang, Litha mengode dengan matanya, agar Raka saja yang menjawab pertanyaan Mama Kania. Namun sepertinya Raka tidak mengerti atauuu mungkin sebenarnya Raka sudah mengerti, tetapi pura-pura tidak mengerti. Karena dia malas untuk berbicara? Dasar beruang kutub.
"Kalian bukannya naik mobil?" tanya Mama Kania lagi.
"Iya naik mobil, tapi tetep aja basah," sindir Papa Baskara.
"Kok bisa?" tanya Mama Kania sangat heran.
"Gara-gara anak kamu tuh... Anaknya Kusuma jadi basah kena air hujan," jawab Papa Baskara.
"Apa kamu lagi marahan dengan Litha? Terus kamu menurunkan Litha dijalan?" tanya Mama Kania membuat opini sendiri.
"Enggak," jawab Raka singkat. Ya kan Mama cuma nanya yang jawabannya memang tidak. Mama Kania tidak menanyakan kejadian apa yang terjadi? So bukan salah Raka kalau jawabnya sesingkat itu.
"Kamu tu ya, kebiasaan! kalo ditanya jawabnya singkat banget. Terus kenapa basah gitu?" Mama Kania tu jengkel banget sama putranya yang irit ngomong itu, kayak akhir bulan tau gak sih, semuanya harus serba irit.
"Kak Raka modus Tante," jawab Litha yang sukses membuat Papa Baskara menahan senyumnya, Mama Kania terlihat sedikit terkejut, sedangkan Raka dan Oma tak berekspresi sama sekali.
Fix Oma memang mewariskan sifat dingin ke cucu gantengnya itu wkwk... Tetapi ada yang berbeda, Oma memang tidak berekspresi, tapi beliau menatap Litha dengan tatapan yang aneh.
__ADS_1
Suasana masih hening dan sekarang ada rasa canggung pula yang menemani keheningan diantara mereka. Membuat Litha semakin salah tingkah sendiri karena tatapan Oma yang begitu misterius bagi Litha. Sama seperti saat awal penglihatan Litha ke Raka, saat di koridor waktu itu Raka juga menatap Litha dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
Ayolah kenapa beruang kutub itu tidak mencoba mencairkan suasana? Apa dia merasa tersinggung dengan ucapan Litha? Ahhh tapi rasanya tidak mungkin jika manusia sedingin es batu itu merasa tersinggung. Hatinya saja beku!
"Ee... Maaf Litha salah omong ya?" tanya Litha dengan sorot mata mengarah kepada Oma. Suara gadis itu memecahkan keheningan dan kecanggungan diantara mereka yang berada di ruangan ini.
"Tidak," jawabannya singkat, padat, jelas, tanpa ekspresi apa lagi intonasi, persis seperti cucunya.
"Saya tunggu di meja makan," sambungnya seraya melangkahkan kakinya menuju ruang makan, tanpa menunggu jawaban dari Litha.
"Dimaklumi saja ya Tha. Oma memang begitu, sama seperti orang disamping kamu," sindir Papa Baskara.
Litha menoleh ke sampingnya, melihat orang yang dimaksud oleh papa Baskara. Terlihat jika Raka masih stay cool dengan rambut basahnya, dia tidak mempermasalahkan sindiran dari Papanya. Baguslah artinya dia bukan tipe orang yang mudah tersinggung.
"Iya Om," jawab Litha kalem yang membuat Mama Kania tersenyum. Lalu Papa Baskara pergi entah kemana? Mungkin ke kamarnya atau entahlah Litha tidak tahu. Yang Litha tahu, Papa Baskara adalah orang yang humble dan humoris.
"Ya sudah bersihkan diri kalian dulu! Litha, kamu pakai baju Raka saja ya? Soalnya kalau kamu pakai baju Mama nanti pacar kamu cemburu," ledek Mama Kania dengan tersenyum jahil.
Wait! Mama?
Mama Kania mendekat ke arah Litha, "Oh ya kamu panggil Tante, Mama aja ya!" pinta Mama Kania sambil memegang bahu Litha.
Gadis itu tersenyum bahagia, ternyata Mama Kania dan Papa Baskara itu ramah dan mereka menyukai Litha. Tak apa jika Oma masih menunjukkan sikap asing kepada Litha, semoga nanti beliau bisa bersikap ramah kepada Litha.
"Iya Ma," ucap Litha.
"Ee... Tadi Mama bilang kak Raka cemburu?" tanya Litha agak ragu sejujurnya.
Raka? Dia masih setia berdiri melihat interaksi antara dua wanita yang sangat disayanginya itu.
"Dia itu walaupun kelihatannya cuek gitu, tapi sebenarnya cemburuan. Sikapnya mirip-mirip sama Papanya, kadang-kadang suka modus, tapi gak suka ngegombal. Cuma yaa... Raka itu gak sehumoris Papanya," jelas Mama Kania panjang lebar.
"Cemburuan?" tanya Litha pada Mama Kania, lalu ia menoleh pada sang kekasih. Apa Raka pernah membawa perempuan lain ke rumahnya? Tapi setahunya, Raka itu tidak mempunyai mantan. Sama halnya dengan Litha yang baru pertama kali mempunyai hubungan dengan status pacaran.
"Kak Raka pernah..." ucap Litha terpotong.
"Enggak, bukan itu maksud Mama. Dulu waktu Raka masih kecil, dia sama Papanya sering rebutan Mama," tutur Mama Kania yang sudah mengerti pemikiran Litha, namanya juga perempuan, pasti pahamlah kalau udah menyangkut begituan.
Litha menanggapinya dengan tertawa renyah, "Serius Ma?" tanya Litha seperti meminta penjelasan.
"Iya, hadehhh Mama sampai pusing. Nih ya kalau Mama lagi berdua sama Papa, Raka kecil yang cemburu. Kalau Mama lagi berdua aja sama Raka kecil, eh.. Papanya juga cemburu," Mama Kania menggelengkan kepalanya melihat putranya yang masih anteng-anteng aja berdiri.
Penjelasan Mama Kania itu justru membuat gelak tawa Litha semakin tidak terkontrol, bahkan Litha merasa sedang bersama sahabatnya. "Kalau lagi bareng bertiga gimana Ma?" tanya Litha disela-sela tawanya.
"Ya gitu pada rebutan. Pada lomba nyari perhatian Mama," jawabnya.
"Kalau sekarang masih cemburu juga Ma?" tanya Litha dengan sisa tawanya. Sungguh Litha antara percaya dan tidak percaya, ternyata manusia dingin itu mempunyai masalalu yang bertolak belakang dengan sikap cueknya saat ini. Atau mungkin Litha memang belum mengetahui semua tentang Raka?
"Boro-boro cemburu, perhatian sama Mamanya aja enggak," jawab Mama Kania.
__ADS_1
"Raka sibuk Ma," sahut Raka sembari duduk didepan dua wanita yang sedang membicarakan tentang dirinya.
"Waktu dia udah SMP, dia udah nggak cemburuan lagi sama Mama. Seiring berjalannya waktu dia jadi cuek gitu sama Mama, kayaknya Mama dianggap orang asing deh Tha," ujar Mama Kania bagai mengadu kepada Litha.
"Enggak mungkin lah Ma. Kak Raka emang cuek kok sama semua orang, Litha juga sering lhoh dicuekin," kini giliran Litha yang mengadu.
"Kamu dicuekin juga?" Mama Kania memastikan, Litha mengangguk dengan bibir yang mengerucut.
"Ya udah kamu pakai baju Mama aja, biar dia cemburu," usul Mama Kania.
"Yuk..." Mama Kania beranjak dari tempat duduknya dan diikuti oleh Litha.
"Jangan!!!" sergah Raka membuat dua wanita itu tersenyum tipis.
"Kak Raka beneran cemburu sama Mama?" tanya Litha.
"Sedikit," jawabnya.
"Udah Mama tebak," sahut Mama Kania cepat, bersamaan dengan Mama Kania yang menjentikkan jarinya dan berakhir menunjuk ke arah putranya.
"Selain karena itu, tadi siang Litha baru beli dress itu untuk ketemu sama Mama," tutur Raka.
"Terus?" Mama Kania belum paham juga.
Sedangkan gadis itu sudah mulai mengetahui kemana arah pembicaraan pemuda dingin itu. Mata Litha melotot ke arah Raka, seakan-akan sedang mengancam. Tetapi Raka tidak memperdulikannya.
"Kasihan Ma, dia milih dress nya lama. Tapi Mama malah suruh ganti," Ini saatnya pembalasan dari Raka. Salah sendiri tadi Litha mancing-mancing Mama buat bahas tentang masa kecil Raka.
Saat melakukan panggilan video tadi siang, Litha memang sempat memberitahukan tujuannya datang ke mall ialah untuk membeli dress untuk bertemu dengan keluarga Adelard. Litha juga memberitahu Raka, berapa lama ia memilih dress yang cocok dan sesuai dengan seleranya.
"Kak Raka..." rengek Litha. Raka hanya tersenyum penuh kemenangan, ganteng sih. Tapi menurut Litha itu sangat menyebalkan.
Mama Kania menoleh ke arah gadis itu, Litha hanya bisa memperlihatkan senyum kecutnya. Lalu wanita paruh baya tersebut malah menggelengkan kepalanya dengan senyum yang ada di bibirnya.
"Bagus dress nya, Mama suka sama selera kamu," puji Mama Kania kepada Litha.
"Hitam, warna favorit Raka," Mama Kania menatap Raka saat mengucapkan kalimat itu.
Wanita itu menatap lagi ke arah Litha, "Kamu sengaja milih warna itu?" Litha menanggapinya dengan mengangguk dan tersenyum.
"Papa, Mama, Oma dan pacar kamu udah lihat penampilan anggun kamu. Tapi dress nya malah basah gara-gara pacar kamu, Mama nggak mau nanti orang tua kamu minta pertanggungjawaban ke keluarga Adelard karena kamu sakit, yah secara ini kan karena kesalahan Raka. Kamu ganti baju punyanya Raka ya?" ujar Mama Kania yang dicampur dengan racikan gurauan, bagai membujuk seorang anak kecil saja.
Lagi-lagi Litha hanya bisa tersenyum kecut dan pasrah saja. "Iya Ma, Litha gak masalah kok. Kak Raka nya aja tuh yang usil," adu Litha pada sang calon mertua.
Mama Kania tersenyum dengan mengusap rambut Litha yang sudah mulai mengering. Litha juga jadi ikut tersenyum, sentuhan tangan dari Mama Kania terasa sangat lembut dan Litha mampu merasakan ketulusan hati dari Mama Kania yang sama seperti Bunda, Bunda Larissa.
Jujur Raka adalah orang yang paling bahagia diantara dua wanita dihadapannya. Raka bahagia karena dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya, dapat mengakrabkan diri dalam waktu secepat itu.
Author tu happy tauk kalau pada komen,
__ADS_1
Salam sayang dari Author
Rsky Selly ❤️