
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, para cogan-cogan sudah pulang ke rumah masing-masing karena tidak ingin mengganggu Litha untuk beristirahat. Hanya tinggal Raka dengan mata sayunya menatap Litha yang tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk sama sekali.
"Sini tidur bareng di sini..!" Litha menyuruh Raka agar tidur di atas banker bersamanya.
Raka mengusap dahi Litha lembut sambil menggelengkan kepalanya.
"Gpp kali Kak dari pada tidur sendiri di sofa," kekeh Litha.
"Aku tidur gini aja," Raka meletakkan kepalanya didekat tangan Litha dengan mengusap-usap tangan gadis itu.
"Nanti malah capek kalo tidurnya modelan kayak gitu," Litha menyisir rambut Raka dengan jarinya.
Raka hanya diam membuat Litha jadi jengkel. "Nurut gak?" Ancamnya.
"Iya-iya, bentar aku mandi dulu," pasrah Raka lalu beranjak menuju kamar mandi.
"Lhoh bukannya tadi sore kamu pulang? Kenapa gak mandi sekalian?" Heran Litha.
Raka menghentikan langkahnya dan menoleh sebentar, "Lupa, soalnya tadi berkas-berkas yang udah aku siapin untuk kuliah hampir hilang," Raka sudah menyiapkan berkas-berkas itu sejak jauh-jauh hari sebelum akan dikirim ke pihak yang bersangkutan, namun tiba-tiba keberadaan berkas tersebut entah kemana. Raka mencarinya, dan baru ditemukan setelah dua jam lamanya.
"Oh... Tadi Kak Raka pulang cuma buat urusan itu?" Litha baru tahu hal tersebut, pasalnya tadi sore Raka hanya mengatakan ada hal penting yang harus diurus.
"Iya aku hampir lupa kalo ini hari terakhir pengumpulan berkasnya, untung tadi diingetin Oma," karena tidak ada yang ditanyakan oleh Litha, Raka segera masuk ke dalam kamar mandi.
Mata Litha menjelajahi isi ruangan, pikirannya entah kemana? Tiba-tiba hatinya merasa sedih, jujur Litha belum siap untuk jauh dari Raka.
Lima belas menit kemudian Raka keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Raka melihat tv yang menyala tapi Litha malah menatap pintu tanpa berkedip sama sekali. Raka cukup peka jika ada sesuatu yang menggangu pikiran gadis tersebut.
"Kenapa? Ada yang lagi kamu pikirin?" Raka mengusap rambut Litha, membuat empunya menoleh.
Tanpa perintah tiba-tiba air mata mengalir membasahi pipi Litha.
__ADS_1
"Hei kenapa?" Cepat Raka menangkup wajah Litha dan mengusap setiap air mata yang membentuk sungai di pipi tersebut.
Litha langsung menggeleng, "Gpp, tidur yuk!"
Raka menurut naik ke banker yang ukurannya lumayan besar, jadi mereka berdua tidak perlu sempit-sempitan untuk tidur.
Litha menggunakan lengan Raka untuk menjadi bantalnya. Posisi tidur Litha lurus menghadap cahaya lampu di atas, sedangkan Raka menghadap ke arah Litha dengan tangan melingkar di perut Litha.
"Apa yang buat kamu sedih?" Tanya Raka.
"Nggak ada," jawabnya singkat.
"Kalau kamu gak mau cerita gak masalah, tapi jangan pernah bohong, aku gak suka itu. Lain kali jangan pernah berkata tidak sesuai dengan faktanya, cukup diam itu lebih baik dari pada berbohong!" Raka berbicara sangat lembut tidak ingin menyinggung perasaan Litha.
"Makasih udah ngertiin. Aku janji gak akan bohong lagi," sahut Litha tersenyum manis meskipun tidak menoleh sedikit pun pada Raka.
Raka menatap fokus pada goresan di pipi Litha. Ia heran mengapa Litha sangat keras kepala tidak ingin di operasi.
"Kenapa? Jelek yah? Udah mulai malu punya cewek jelek kayak gini?" Litha tidak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya terlihat datar.
Raka juga sama tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, keduanya hanya saling pandang cukup lama. Membuat jantung Litha semakin berdebar menunggu jawaban Raka.
"Harus berapa kali aku bilang, aku tulus sayang sama kamu," ucap Raka yang akan terdengar romantis jika Leon yang mengucapkannya, berbeda dengan Raka yang bicaranya tidak menggunakan aura-aura romantis sama sekali.
Mendengar ucapan tersebut membuat Litha bernafas lega.
"Kenapa? Kamu takut aku tinggalin?" Raka tersenyum jahil.
Mata Litha menyipit. "Kalau ditinggal beneran, aku akan operasi plastik biar wajahnya kayak barbie, terus aku cari cowok yang lebih segala-galanya dari kamu,"
Raka tertawa renyah, "Berarti aku harus ninggalin kamu dulu, biar kamu mau di operasi wajahnya,"
__ADS_1
Litha memiringkan tubuhnya menghadap kepada Raka, sehingga tangan Raka menjadi melingkar di pinggang Litha dan lengan Raka masih dijadikan bantal oleh tuan putri.
"Kenapa sih pada maksa operasi?" Mata Litha berkelip-kelip menunggu jawaban Raka.
Bukannya menjawab, Raka memberi pertanyaan juga. "Alesan kamu gak mau operasi kenapa?" Raka menatap dalam Litha.
Cukup lama Litha diam.
Raka mengaktifkan mode lembutnya agar tidak melukai hati Litha. "Kenapa Tha?"
"Kenapa ya..?" Bola mata Litha mengarah ke atas seakan memikirkan jawaban untuk soal ujian.
"Karena aku gak mau wajah ku berubah jadi yang lain. Aku udah sayannggg banget sama wajah ini. Kalau abis operasi wajah ku berubah jadi lebih cantik nanti tambah banyak yang naksir aku, saingan kamu jadi banyak dong? Satu Fandy aja bikin kepala pusing, apa lagi kalau seratus Fandy?" Ocehan Litha membuat Raka tersenyum tipis.
"Dan satu lagi... Kalau aku cantik berarti itu gak menutup kemungkinan kalau nantinya aku jadi sombong juga," tambah Litha.
"Udah itu doang alesan kamu?" Litha mengangguk, membuat Raka tertawa renyah.
"Itu jujur apa enggak?" Tanya Raka memastikan meskipun Raka tahu jika kali ini Litha berkata jujur, terlihat dari bola mata indahnya yang tidak menunjukkan kebohongan yaa walaupun ucapannya rada ngelantur.
"Gak mau jawab! Kak Raka udah tau jawabannya," ketus Litha kesal melihat Raka masih tertawa, padahal tidak ada sesuatu yang bernilai lucu menurut Litha.
"Lanjutin aja ketawanya sampai puas!" Litha kesal ingin menonjok wajah Raka, tapi sayang kalau lagi ketawa gitu gantengnya gak ada lawan.
Litha tetap memandang wajah tampan yang masih saja tertawa mengejeknya meskipun menjengkelkan baginya. Tapi gpp lah itung-itung penyegaran cuci mata, bisa lihat secara dekat saat Raka berubah jadi ganteng triple hehe...
Setelah merasa puas Raka melanjutkan ucapannya. "Heran aku, kenapa tahun ini kamu bisa jadi juara umum?"
"Apaan tuh maksudnya?" Litha memincingkan matanya.
Raka menghelai nafasnya, stok kesabarannya masih banyak untuk gadis disampingnya ini. "Jadi gini sayang kalau kamu gak mau bentuk wajah kamu berubah, kamu bisa cukup operasi di bagian lukanya aja. Yang namanya operasi wajah itu gak selalu tentang bentuk wajahnya akan dirubah kayak artis-artis yang operasi wajah di Korea,"
__ADS_1
Mata Litha terbuka lebar sambil tangannya menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, iya juga sih. Kok aku bisa lupa?"