Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Liontin


__ADS_3

Tak lama kemudian mereka pindah ke ruang keluarga, agar suasana kekeluargaan lebih terasa hangat. Mereka melihat ke arah pemuda tinggi yang berjalan dengan gaya cool nya, jangan lupakan sebuah kotak persegi berukuran 10 × 10 cm dengan warna biru dongker yang Ia bawa, ya warnanya sama seperti warna jas yang membalut tubuh berotot nya.


Sontak saja pemandangan tersebut membuat Umran langsung berdiri dengan dada yang naik turun.


"Dasar adek ipar lucknut!" Seru Umran membuat semuanya terkejut dengan ucapan Umran yang amat tidak sopan menurut Bunda Larissa.


Litha memutar bola matanya jengah. Entahlah apa yang ada dipikiran manusia menyebalkan itu.


"Umran!" Bunda membentak Umran yang sama sekali tidak perduli dengan suara keras yang keluar dari bibir Ibundanya.


"Ceritanya lo mau ngasih cincin adek gua? Lo mau tunangan ama adek gua? Lo gak terima kalo gue duluan yang punya tunangan? Oh atau jangan-jangan lo mau langsung ngelamar adek gua?" ujar Umran panjang kali lebar.


Bunda memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Sudah hendak tunangan, tapi sifatnya masih saja kekanak-kanakan, sukanya beropini sendiri, tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Apaan sih lo..! Kok jadi ngomelin Kak Raka," protes Litha. Walaupun lagi ambek-ambekan ke Raka, Litha gak terima dong pacarnya diomelin sama si kutu kupret yang besok mau tunangan.


"Salah dia, mau duluin gu.." ucap Umran terpotong.


"Jangan salah paham, ini bukan cincin," sahut Raka.


"Terus apaan isinya?" Umran masih dengan nada sewotnya.


Raka tidak menjawab, Dia mendekat kearah Litha yang masih terduduk ditempatnya. Litha langsung berdiri, menunggu kalimat apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh pemuda tampan didepannya.


"Untuk kamu. Anggap ini sebagai ganti rugi atas rencana ku tadi siang yang malah bikin kamu sedih, sekaligus sebagai rasa bersalah aku minta maaf, dan juga anggap ini sebagai hadiah karena tahun ini kamu jadi juara umum," senyuman terukir di wajah tampan Raka.


Litha tersenyum, Ia sudah melupakan rasa kesalnya kepada Raka. Karena apa? Karena Litha sangat penasaran dengan isi dari kotak persegi tersebut. Ya kali masih marah tapi mau dikasih hadiah, tengsin dong.


"Hadiahnya satu doang? Tapi ada dua anggapan, ada permohonan maaf juga lagi," sindir Litha.


"Tatha," Bunda memelototi putrinya.


"Bercanda Bun," Litha menyengir bagai tanpa rasa berdosa.

__ADS_1


"Besok aku kasih lagi," ujar Raka yang sukses membuat Litha terkejut, pasalnya Litha tahu bahwa Raka tidak suka berbohong.


"Serius?" Kedua bola mata Litha berbinar.


"Tha," panggil Bunda dengan tatapan tajam bak singa yang siap menerkam mangsanya. Nyali Litha langsung menciut setelah melihat tatapan tersebut.


"Hehe enggak usah Kak, aku cuma bercanda doang kok. Jangan dianggap serius. Tapi kalo Kak Raka serius, aku sih oke-oke aja," lagi-lagi Litha memperlihatkan deretan giginya yang malah membuat Bunda semakin emosi saja.


"Litha!!!" ucap Bunda sangat tegas. Begitulah Bunda, jika sudah emosi dia tidak ingin memanggil Litha dengan nama Tatha.


Ayah hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum, putrinya terkadang memang jahil. Ayah tahu Litha sengaja ingin memancing emosi bundanya.


"Bercanda Bunda," Litha memeluk Bunda sangat erat.


"Dasar anak nakal," Bunda membalas pelukan putrinya, Bunda baru sadar jika Litha sengaja membuatnya marah.


Semua yang melihat adegan antara anak dan ibu tersebut menjadi melow sendiri. Tangan Umran meraih pinggang Sarah, begitu pula dengan Leon meraih pinggang Fika, Arkan juga melakukan hal sama kepada Sekar meskipun diantara keduanya belum memiliki hubungan yang jelas.


Ayah mendekat ke arah Raka lalu menepuk-nepuk bahu Raka. Raka menoleh, tersenyum hangat kepada Ayah yang juga membalas senyuman tersebut. Beda halnya dengan Danil dan Jordy yang hanya saling pandang tanpa ekspresi sama sekali. Nasib jomblo hhh....


Gadis itu menatap Raka, matanya mulai berkaca-kaca. "I.. ini...?"


Raka hanya menaggapinya dengan seulas senyuman. Yang lainnya semakin dibuat penasaran oleh tingkah mereka berdua.


"Apaan isinya?" Tanya Leon yang memang tidak sabaran.


Leon mencoba mendekat, matanya hendak mengintip isi dari kotak biru dongker tersebut. Litha segera menutupnya, tidak ingin dilihat oleh orang lain dulu.


"Pelit amat lu," ujar Leon yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Litha.


Gadis itu masih terkejut, perlahan air matanya mengalir begitu saja.


"Hei kenapa nangis?" Nada bicara Raka sangat lembut, Ia langsung mengusap air mata yang berada di pipi gadisnya.

__ADS_1


Litha menggeleng langsung memeluk Raka sangat erat. Raka jadi kikuk sendiri karena dilihatin sama camer yang malah tersenyum hangat. Raka mengusap punggung Litha, Dia masih tidak mengerti kenapa Litha malah terisak dalam pelukannya?


"Dikasih apaan sih sampe melow gitu?" Leon masih saja berusaha. Asli, Leon kepo banget.


"Dikasih berapa M sama Raka? Atauu... Berapa triliun?" Arkan asal menebak saja, karena ucapannya yang absurd itu, Ia mendapat hadiah cubitan dari Sekar.


Arkan meringis merasakan sakit di lengannya. Tersenyum kearah Sekar dengan menunjukkan jari berbentuk huruf V.


Setelah cukup puas Litha mengurai pelukannya. Memberikan lagi kotak tersebut kepada Raka yang mengerutkan keningnya.


"Kamu nggak suka?" Raka mengambil kotak tersebut dari tangan Litha.


Litha menggeleng, "Suka. Suka banget, tolong pakein!" Gadis itu tersenyum manis kepada Raka.


Raka membukanya, mengambil kalung liontin berlian berbentuk hati polos namun terdapat ukiran seperti bola disko yang mengkilap. Beberapa Minggu yang lalu Litha tanpa sengaja pernah membicarakan liontin yang hampir sama persis sesuai apa yang ada didalam bayangannya mengenai liontin berlian itu.


"Wow," satu kata yang keluar dari bibir para anak muda setelah melihat liontin berlian tersebut. Terlihat mewah namun sederhana, sangat cantik dan elegan, sangat cocok dipasangkan dileher Litha yang putih bersih.


Litha tersenyum memegang liontin yang sudah bergelantungan dilehernya. "Makasih Kak,"


"Sama-sama," ucap Raka bahagia melihat Litha tersenyum lebar.


"Kami permisi ke dalam. Kalian lanjutkan uwuw-uwuwannya, asal jangan sampai kelewat batas!" Ayah pamit kepada mereka dengan merangkul pundak Bunda untuk segera meninggalkan tempat yang membuat mereka iri ingin menjadi anak muda lagi wkwk.


"Siap bos," Umran terlihat sangat bersemangat.


Semuanya menatap Danil dan Jordy, mereka berdua bingung tidak mengerti arti dari tatapan mata para sahabatnya.


"Cocok," ucap Umran sambil melirik yang lainnya, Umran membutuhkan bala bantuan untuk mengejek dua jomblo ngenes itu.


"Semua lengkap, udah punya pasangan masing-masing," Arkan menimpali.


Danil dan Jordy saling pandang, lalu melangkah mundur satu langkah. Suara tawa pecah memenuhi ruang keluarga.

__ADS_1


Author sedang sibuk so tidak bisa membalas komentar kalian dan hanya bisa up segini. Terimakasih yang sudah komen dan mendukung serta selalu setia dengan karya ini❤️


__ADS_2