
"Saya akui kamu cantik. Tapi saya tidak rela jika cucu saya mendapatkan wanita yang tidak mempunyai moral dan tidak berpendidikan seperti kamu!" Oma menatap tajam Via yang semakin deras meneteskan air matanya.
Kali ini bukan air mata buaya yang Via keluarkan. Via benar-benar menangis, apa yang dikatakan Oma sungguh menyakitkan bagi Via.
"Orang-orang di luar sana menganggap kamu berpendidikan tinggi.Tapi menurut saya, TIDAK SAMA SEKALI!" Oma menekankan kalimat terakhirnya.
"Ya, dari tampilan luar kamu memang seperti wanita berpendidikan tinggi. Namun faktanya TIDAK, tindakan kamu tidak mencerminkan wanita berpendidikan tinggi,"
"Apa wanita yang berpendidikan tinggi akan bunuh diri saat cintanya tidak terbalaskan oleh laki-laki yang dicintainya?"
"Apa wanita yang berpendidikan tinggi akan menghilangkan jati dirinya dan merubah identitasnya menjadi orang asing yang bahkan tidak kamu kenali sifat dan sikapnya?"
"Jawab Fani!!!!" Oma berteriak keras membuat Via semakin terisak. Hati Via sangat hancur karena Oma yang sudah membuka lembaran sakit hatinya di masa lalu.
"Tidak bisa menjawab? Pasang telinga kamu baik-baik, saya akan memberitahu," Oma membisikkan kalimat tersebut di dekat telinga Via.
"Iyaa... ADA! Wanita itu kamu, karena dirimu sendiri lah yang menganggap kamu berpendidikan tinggi, kamu yang sebenarnya hanya terobsesi dengan cucu saya dengan mengatasnamakan cinta," Oma terus melangkah maju sampai tubuh Via tersudut ke dinding.
"Saya tidak tahu bagaimana didikan orang tua kandung kamu, sehingga kamu tumbuh menjadi wanita menjijikkan seperti ini," Oma benar-benar murka, mengingat Via yang menipunya hampir dua tahun lamanya.
Hati Via hancur, mentalnya down karena Oma merendahkannya secara langsung bersamaan dengan Oma yang membuat Via mengenang masa kelamnya.
Bayang-bayang wajah kedua orang tua Fani mengisi pikirannya, memori bersama kedua orang tuanya yang tidak perduli dengan anak-anaknya berputar bak roll film mengitari kepalanya. Fani bahkan tidak tahu bagaimana rasanya kasih sayang dari seorang ibu dan seorang ayah, hanya kakaknya yang selalu memperdulikan ocehan Fani kecil hingga Fani remaja.
"Bullshit FANI!!! Semua kata-kata manis yang keluar dari bibir kamu hanya omong kosong!!! Cinta? Saya tidak percaya kamu mencintai cucu saya! Bahkan kamu sendiri tidak tahu apa itu arti sebuah cinta!" Oma menunjuk dada kiri Via yang hanya menundukkan kepalanya sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
Oma mengangkat dagu Via, "Jangan harap kamu bisa bersanding dengan Raka. Saya tidak akan pernah rela! Ingat itu!"
Via menepis tangan Oma dengan kuat hingga wanita paruh baya itu tersungkur ke lantai. Via mengusap kasar pipinya yang basah karena air matanya.
Via berjongkok mencengkeram kuat dagu Oma. "Jangan salahkan Via yang selama ini bersikap manis bak malaikat kepada Oma, kini akan berubah menjadi Fani yang bagaikan iblis. Karena apa? Karena Oma sendiri yang membangunkan macan yang sedang tidur,"
Oma menepis cengkraman tangan Via, namun kekuatannya tidak cukup untuk melawan Via yang sudah bangkit dari kesedihannya. Kini bukan Via yang berada dihadapan Oma, ini adalah Fani dengan emosinya yang tidak terkontrol. Via tersenyum sinis melihat Oma yang kesusahan melepas cengkramannya.
"Lepas!" Teriak Oma membuat Via tertawa.
Oma mendorong tubuh Via hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. Oma langsung berdiri dan hendak keluar dari tempat ini.
Jujur Oma merasa takut melihat tatapan mengerikan yang terpancar dari sorot mata Via. Wanita itu tidak pikir panjang jika bertidak, dia sangat nekad. Bunuh diri saja dia berani, tentu hal tersebut tidak menutup kemungkinan jika Via akan mencelakai Oma.
Via menatap tajam Oma, "Sialan,"
"Ini belum seberapa setelah apa yang kamu perbuat kepada Fani," Via menatap tajam Oma.
"Keterlaluan kamu," Oma memegang pipinya yang terasa perih.
"Saya pastikan Raka akan membenci kamu selamanya. Dia tidak akan pernah mau bertemu kamu kembali. Jangankan bertemu, untuk menatap wajah kamu saja, dia muak!" Oma merogoh dalam tasnya dan mengambil benda pipih.
Tatapan Via lebih tajam, dia langsung menyambar ponsel Oma lalu membantingnya ke lantai dan ia injak-injak sampai benda tersebut retak parah.
"Apa-apaan kamu," Oma mengambil handphonenya yang sudah tidak dapat dipakai.
__ADS_1
Fandy keluar sambil mengucek matanya. Ia baru bangun tidur karena mendengar suara keributan di depan. Sebenarnya Fandy masih mengantuk berat, tapi apa boleh buat dari suaranya yang sangat menggangu indera pendengaran, mungkin adiknya membutuhkan bantuannya.
Fandy baru bisa tidur nyenyak setengah jam yang lalu, setelah berhari-hari tidak tidur karena di sekap dan setiap jam nya mendapat pukulan bertubi-tubi dari orang bawahan Raka. Fandy dapat meloloskan diri karena bantuan dari saudara kembarnya. Wajahnya dan tubuhnya saja masih terdapat banyak luka lebam membiru akibat pukulan orang-orang kuat itu.
Entah Raka sudah mengetahui kebebasan Fandy atau belum. Yang pasti Fandy ingin mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu.
"Ada tamu toh rupanya," Fandy tersenyum menatap Oma yang duduk di bawah.
"Lhoh kenapa duduk dibawah? Dek kalau ada tamu itu dikasih minum dan dihormati bukannya suruh duduk dibawah," Fandy tidak sebodoh itu, sebenarnya ia juga tahu pasti sudah terjadi sesuatu diantara mereka berdua. Fandy hanya ingin mempermainkan Oma Rahma.
"Dihormati? Nenek peot ini gak pantes dihormati karena dia udah nyakitin hati Fani, dia merendahkan Fani, dia membuka kenangan pahit masalalu Fani," tatapan Via tajam tetapi air matanya tidak dapat ia bendung.
"Bukan hanya kenangan pahit tentang Raka, tapi kenangan pahit tentang Mama Papa juga," Via semakin terisak.
Mendengar tersebut membuat emosi Fandy pancing, dia nyaris menonjok wajah Oma. Untung saja Fani menahan kakaknya.
"Cukup Kak," Via memegang pundak kakaknya.
"Kunci dia dalam kamar!" Pinta Via yang langsung dituruti oleh Fandy.
"Tidak, lepaskan saya!!!" Teriak Oma.
"Diem! Jangan banyak bacot lu, gue masih ngantuk gara-gara cucu lo," Fandy menyeret tubuh Oma secara paksa.
***
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang penuh keikhlasan dan bersyukur atas nikmat Allah SWT. Aamiin