Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Gatol


__ADS_3

Seorang gadis berlari sambil sesekali mengusap wajahnya ditengah keramaian orang-orang yang tengah berbahagia. Litha berlari melewarti beberapa gerombolan murid-murid di koridor, lalu Ia menaiki anak tangga dengan langkah cepat.


Gadis itu berhenti sejenak didepan sebuah ruangan yang sepi dan terlihat tidak terawat. Yaaa, sebuah ruangan yang mirip seperti rumah hantu adalah gambaran pertama yang dilihatnya beberapa bulan yang lalu.


Gagang pintu sudah dinaik turunkan tetapi pintu tak kunjung terbuka. Oke terkunci! Litha berbalik badan, melangkahkan kakinya menuju kelas Arkan, Jordy, dan Danil yang ternyata disana juga ada Leon.


Suasana kelas tidak terlalu ramai, hanya ada empat manusia tampan yang sedang... bercanda ria? Apakah mereka tidak sedih atau apalah itu yang sejenisnya, padahal mereka baru saja ditinggalkan salah satu sahabatnya.


"Dimana Raka?" Tanya Litha tanpa basa-basi dan tanpa menggunakan embel-embel Kak untuk Raka. Karena apa?


Karena Litha sedang dalam keadaan marah, sedih, dan kecewa. Yaps katak Kak adalah panggilan sayangnya untuk Raka. Untuk Sarah dan Fika yang juga memanggil Raka dengan Kak? Litha tidak mempermasalahkannya. Litha tahu, kata Kak bagi mereka itu sebagai penghormatan saja kepada Raka, karena Raka kakak kelas mereka yang patut dihormati.


Bukan ekspresi sedih yang Ia perlihatkan. Tetapi tampang menyeramkan yang Litha tunjukkan. Sorot matanya sangat tajam meskipun matanya terlihat sedikit sembab, tetapi sungguh membuat mereka yang melihat jadi ngeri sendiri.


Pasalnya ini adalah pertama kalinya mereka melihat sisi lain dari seorang Litha yang biasanya pendiam, plus cantik, dan manis, bercampur kadang banyak ngomong kalau udah kenal deket.


"Eh ada pacarnya bos. Ada apa gerangan tuan putri menghampiri kami?" Tanya Leon sok dramatis.


"DIMANA, RAKA?" Tanya Litha penuh penekanan, jangan lupakan tatapan matanya yang amat tajam.


"D.. d.. Dia gak bilang ke elo?" Tanya Arkan balik. Arkan memang yang paling dekat dengan Litha diantara anggota The Perfect yang lainnya, tapi kalau Litha marah gini Arkan jadi takut juga.


"Lo gak percaya sama temen lo? Sampai harus nanya lagi ke kita?" tanya Danil membuat Litha menghelai nafas panjangnya.


Jadi apa yang dikatakan Sarah dan Fika adalah sebuah kebenaran? Kenapa hanya dirinya yang tidak tahu, Raka benar-benar menyebalkan. Ingin sekali rasanya Litha menonjok wajah datar itu, tapi apalah daya? wajah datar itu tidak ada dihadapannya saat ini.


"Kenapa satu dari kalian gak ada yang ngasih tau tentang keberangkatan Raka?" Litha memejamkan matanya mencoba menahan amarahnya.


"Mending lo tenangin diri lo dulu Tha," Jordy memberi saran.


"Tenangin diri?" Matanya terbuka, nada yang keluar dari bibir mungil itu sangat tinggi, wajahnya memerah menahan amarah.


Jordy dan lainnya mengangguk.


"Dimana?" Litha merendahkan volume bicaranya dengan wajah yang menunduk.


Litha mengangkat wajahnya. Kini raut wajahnya tidak terlihat marah, wajahnya terlihat sendu, pupil matanya bergetar menahan air mata agar tidak menetes ke pipinya.


"Di rumah? Di kamar mandi? Duduk dilantai nangis sepuasnya sambil nyalain shower?" Litha tersenyum getir, tak terasa bendungan yang telah Ia bangun sekokoh mungkin tiba-tiba runtuh seketika, cairan bening dari dalam matanya membasahi pipinya.


"Nggak gitu Tha, kita..." ucap Arkan mendekat ke Litha dan hendak mengusap punggung Litha, namun segera dicegah oleh empunya.


Litha mengangkat tangannya, pertanda jika Ia tidak mau disentuh Arkan. "Kita? Kita apa? Kalian kenapa?"


Hening, tidak ada yang menjawab.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kalian gak ngasih tau ini ke gue?" Litha memejamkan matanya, mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. "Ya udahlah, semua udah terlambat. Maaf gue ganggu waktu kalian,"


"Sebagai gantinya, k.. k.. kita ada hadiah buat lo di taman sekolah," ucap Leon agak ragu.


"Hadiah? Untuk apa?" Litha menyeka air matanya.


"Untuk..." Leon bingung sendiri harus dijawab bagaimana?


Danil memutar bola matanya jengah. Danil tahu Leon antara takut salah ucap dan gerogi karena kemarahan Litha. Tapi otaknya kenapa mendadak seakan-akan terhalang oleh tembok besar untuk berjalan mencari jawaban yang pas dari pertanyaan Litha?


"Untuk merayakan karena lo bisa jadi juara umum tahun ini," jawab Danil.


Litha tersenyum miring, tidak memperdulikan ucapan mereka. Ia hendak melangkah, namun sebelum itu Litha mengucapkan terimakasih kepada mereka.


"Makasih," Dia tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya menolak hadiah di taman sekolah.


"Tha tunggu!" Jordy berteriak namun tak digubris oleh Litha yang sudah berjalan menuju keluar pintu dengan mengusap pipinya.


"Akh... Sial," Arkan mengacak rambutnya frustasi, lalu mengejar Litha. Jujur Dia tidak tega melihat Litha dalam keadaan seperti ini.


***


Seorang gadis duduk sendirian di bangku bawah pohon besar, tepatnya di taman sekolah yang sangat sepi. Di saat para murid merayakan hari kenaikan kelas dan kelulusan mereka dengan berkumpul bersama sahabat, Litha malah duduk dibawah pohon dengan hanya ditemani oleh bayangannya sendiri.


"Congratulations," ucap seseorang membuat Litha yang masih memejamkan matanya tersenyum miring.


"Raka Adelard Pangestu," ujar Litha masih enggan membuka matanya.


Deg!


Entah mengapa pemuda yang ada didepan Litha merasa ada yang tidak beres dengan Litha. Nada bicara Litha seperti ada yang tertahan dalam dirinya.


Litha membuka matanya, kini terlihat jelas jika Litha baru saja menangis, matanya begitu sembab. Pemuda tinggi itu menelan salivanya susah payah kala menyadari tatapan tajam dari gadis yang masih terduduk itu.


Litha menarik dasi abu-abu milik pemuda tinggi itu sampai pemuda itu membungkukkan tubuhnya. Wajah keduanya sangat dekat, mereka saling bertatap tanpa berkedip.


"Ini gak lucu. Lo tau? Gue kayak orang gi*a lari-lari sambil nangis-nangis ga jelas sepanjang koridor," ujar Litha dengan emosi yang menyulut bak api yang tengah berkobar.


"K.. k.. kamu..." Ucapnya tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Tanpa sepatah kata pun, Litha mendorong tubuh pemuda itu dengan kasar dan kekuatan dalamnya. Tubuh tinggi tersebut hampir terjungkal kebelakang, untung saja pemuda itu memiliki tingkat keseimbangan yang cukup kuat.


Litha langsung melangkah pergi dari taman yang sudah dihiasi oleh beberapa balon berwarna-warni tersebut. Raka langsung mengejar Litha, Dia menarik lengan Litha.


Yah Dia adalah Raka, huhf... ingin sekali Litha meninju wajah tampan itu. "Ini gak lucu Raka!" Teriak Litha.

__ADS_1


Tiba-tiba segerombolan orang menampakkan diri dari balik pohon besar. Mereka mengangkat tangannya, jarinya membentuk huruf V, mereka juga menyengir bagai tanpa beban setelah apa yang mereka lakukan!


Baiklah Raka tahu letak kesalahan mereka dimana. Akh... Mereka tidak bisa diandalkan sama sekali! Mereka pasti yang membocorkan rencana Raka yang ingin memberi kejutan kepada Litha.


Litha melihat mata Raka yang mendadak jadi tajam, tatapannya mengarah kebelakang Litha. "Kenapa? Mau marah sama mereka?"


Pandangan Raka berganti menatap sumber suara.


"Silahkan marah, itu pun kalau kamu mau aku juga balik marah ke kamu!" ungkap Litha.


"Lucu ya, bercandaan kamu. Eh ini lagi bercanda atau ngerjain sih?" Sindir Litha.


"Aku gak bermaksud ngerjain kamu atau bercandain kamu. Niat Aku cuma..." ucap Raka terpotong.


"Cuma apa?" Sahut Litha tegas.


"Akh.. Sial," gumam Raka, rencana kejutan untuk Litha gatol, gagal total!


Litha berbalik badan menatap mereka yang dari awal menyembunyikan diri dibalik pohon besar. "Kalian semua gue undang makan malam di rumah sebagai perayaan kenaikan kelas kita," Litha tersenyum manis kepada The Perfect beserta para ciwi-ciwi nya, kecuali Arkan, Jordy dan Danil yang masih sendiri.


"Aku?" Tanya Raka tanpa rasa bersalah setelah apa yang Ia lakukan terhadap Litha.


"Kamu?" Litha menunjuk dada bidang Raka.


"Kamu udah lulus. Ini perayaan kenaikan kelas, bukan perayaan kelulusan. Dan lagi, Aku masih marah sama Kamu," jelas Litha tegas, membuat The Perfect, Sarah dan Fika menahan tawa melihat ekspresi Raka yang memelas.


"Arkan, jangan lupa ajak Sekar juga!" ucap Litha yang diangguki oleh Arkan.


"Ehh... Kalau Sekar gak mau ikut jangan dipaksa. Kalau lo sendirian malah bagus, jadi gue ada temennya," Litha mengedipkan sebelah matanya pada Arkan.


Semuanya menganga termasuk Raka dan Arkan, mereka dibuat terkejut oleh sikap Litha yang seolah sengaja ingin menggoda Arkan. Litha menahan tawanya melirik Raka yang masih tertegun dengan sikap dirinya terhadap Arkan, yang Litha pikir sendiri, jadi geli sendiri juga.


"S.. sayang," rengek Raka menahan tangan Litha yang hendak pergi.


Lagi-lagi mereka dikejutkan oleh dua sejoli yang masih ambek-ambekan itu. Sungguh mereka antara percaya dan tidak percaya dengan sikap Litha yang tiba-tiba jadi genit kepada Arkan, dan lebih kagetnya lagi melihat sikap Raka yang jauh dari kata cowok cool.


"Lepas!" ucap Litha.


Raka menurut saja, walau baginya sulit melepaskan tangan kecil itu. Tapi turuti saja lah, dari pada urusannya makin panjang. Ini juga kesalahannya telah membuat Litha menangis.


Akh... Sial rencananya gatol, gagal total Bayangan romantis bersama Litha pudar seketika. Raka sudah merencanakan ini sejak mengetahui bahwa Litha meraih juara umum.


Raka sengaja pergi lebih dulu untuk menyiapkan balon-balon di taman ini. Dia juga meminta bantuan kepada The Perfect, beserta Sarah dan Fika untuk mengatakan jika Ia pergi entah kemana.


Tapi Sarah dan Fika malah mengatakan bahwa Raka pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan, dan jangan lupa meraka mengucapkan kata-kata itu dengan mendramatisir, sungguh lebay sekali! Jika Raka tahu, mungkin Ia akan mengamuk pada mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2