
"Sayangnya gue gak peduli tuh.. sama kehaluan kalian, kalo ngayal jangan aneh-aneh. Cuman mau ngasih tau, kebanyakan yang kayak gitu sih.. endingnya pada masuk RSJ," ucap Litha. Just information RSJ adalah nama lain dari Rumah Sakit Jiwa.
"Lo berani ngatain kita halu?" tanya Dita dan Tania bersamaan, dengan volume tinggi. Tentunya hal tersebut membuat mereka menjadi pusat perhatian para murid yang berlalu-lalang di koridor tersebut.
Litha sangat geram dengan ocehan Dita dan Tania, mungkin saatnya Litha membalas kata-kata jahat yang dilontarkan Dita dan Tania.
Litha tertawa dan berkata, "hhhh... Sorry deh, yaudah gue ladenin kalo emang itu mau kalian. Seenggaknya gue sama Raka namanya masih sama, ya.. walaupun beda tipe. Bintang laut sama bintang langit, tapi gak masalah lah.. toh juga masih sama-sama jadi bintang kan?" ujar Litha. Saat ini Litha sangat puas, karena tujuannya untuk memancing amarah Dita dan Tania berhasil.
"Lo tu yaaa...." ucap Dita sambil menaikkan tangan kanannya keatas, seakan-akan ingin menampar pipi seseorang.
Dengan segera Litha menepis tangan kanan Dita yang mencoba untuk menampar pipi mulusnya sambil berkata. "Bintang laut juga banyak yang nyari," ujar Litha, setelah itu Litha segera pergi dan melanjutkan perjalanannya menuju ke basecamp The Perfect.
**Basecamp The Perfect__
Setelah sampai di depan pintu ruangan yang ditujunya, tiba-tiba handphone Litha bergetar. Litha segera mengambil HP-nya yang berada didalam sakunya.
From: Beruang Kutub🐨
Langsung masuk!
Raka itu seperti peramal saja, awalnya Litha ingin mengetok pintunya dulu, agar terlihat sopan. Bagaimanapun kata orang-orang, ruangan itu memiliki privasi yang sangat ketat. Litha tidak mau jika dianggap seenaknya sendiri, masak main nyelonong masuk gitu aja, tanpa permisi.
To: Beruang Kutub 🐨
Bukain pintunya! Gue gak mau dikira gak punya etika, masak main nyelonong masuk gitu aja.
Sepertinya saat ini Raka tidak ingin berdebat dengan Litha, buktinya saja dia langsung menuruti perintah Litha untuk membukakan pintu, agar Litha dapat masuk kedalam ruangan dengan casing mirip seperti gudang itu.
"Ehh.. ada tamu cantik lagi, sini-sini duduk bareng aa' Leon," ucap Leon. Tentunya dengan nada playboy yang hendak mencari korban selanjutnya.
"Gue berdiri aja," jawab Litha atas ucapan playboy cap kadal itu.
__ADS_1
"Langsung aja, lo mau minta apa?" ujar Litha pada Raka. Litha itu memang gadis cantik yang tidak suka basa-basi.
"Eh.. tunggu! Sebelumnya makasih buat pulpennya, gue suka sama warna dan motifnya yang menurut gue unik banget," tambah Litha.
"Bagus kalo lo suka, gue min..." perkataan Raka terpotong, karena tiba-tiba Arkan ikut angkat bicara.
"Ini ada acara apaan sih..? Pake ngasih pulpen sama ngajuin permintaan segala, jangan-jangan kalian...." ujar Arkan.
"Jangan mikir aneh-aneh, gue sama dia gak ada hubungan apa-apa," ucap Raka sambil mengangkat dagunya ke arah Litha.
"Sorry deh..." ucap Arkan.
"Sehabis pulang sekolah ikut gue," itulah permintaan Raka Kepada Litha.
"Ngapain?" tanya Litha sangat penasaran.
"Nanti juga tau sendiri," ucap Raka.
Raka hanya menatap Litha dengan tatapan tajam, seolah-olah tatapan matanya yang tajam itu mengartikan. Bahwa Raka memaksa Litha, agar mau menuruti permintaannya.
Lagi pula itu bukan permintaan yang sulit bukan? Litha hanya, harus ikut pergi dengan Raka. Itulah yang ada didalam pikiran manusia dingin nan tampan yang bernama Raka.
"Ini hari terakhir gue bisa kumpul bareng Tiara, besok dia udah mau pindah sekolah dan pindah rumah, ke luar negeri," ujar Litha. Sepertinya Litha sudah terbiasa dengan Raka, walaupun Raka tidak mengeluarkan suara apapun dari mulutnya. Litha sangat paham dengan arti tatapan tajam, mata beruang kutub itu.
"Oke... Tapi besok permintaannya beda dari hari ini," ujar Raka dingin, tanpa intonasi.
Jordy, Danil, Arkan, dan Leon sangat terkejut, tidak biasanya Raka menunda sesuatu karena keinginan orang lain. Apakah mungkin karena, perasaan Raka kepada Litha sekarang, sudah berbeda dengan perasaannya enam bulan yang lalu?
"Maksudnya permintaan lo lebih berat dari hari ini?" tanya Litha, sebenarnya Litha hanya asal menebak saja.
"Pinter, yaudah... pergi sana," ucap Raka. Dan tebakan Litha yang asal itu, ternyata benar.
__ADS_1
"Lo ngusir gue? Yang nyuruh gue kesini tadi siapa? Yaudah gue pergi, tapi bukan karena lo usir. Gue emang pengen cepet-cepet pergi dari sini, mutlak karena keinginan gue sendiri." ujar Litha dengan volume tinggi seperti orang marah, sambil berjalan menuju pintu untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Maksud gue bukan git..." ucap Raka yang terpotong. Belum sempat terselesaikan karena Litha sudah meninggalkan tempat itu sambil menutup pintu, karena Litha sudah berada diluar ruangan itu. Tetapi suaranya lebih mirip dengan suara pintu yang didobrak, dibandingkan suara pintu tertutup.
Sepertinya Litha salah paham dengan ucapan Raka. Litha berfikir kalau Raka mengusirnya, padahal Raka tidak bermaksud seperti itu. Raka bermaksud, menyuruh Litha agar segera pergi bersenang-senang dengan sahabatnya.
"Dasar aneh," gerutu Raka.
"Emang gak bisa dipungkiri kalo, 99% cewek itu suka salah paham sama perlakuan dan omongan kita, para cowok. Dan pastinya cewek itu makhluk yang sangat sulit dimengerti," ucap Leon.
Wajar saja jika Leon sangat paham tentang sifat perempuan, karena seorang playboy pastinya telah mempelajari berbagai macam dari sifat-sifat perempuan.
**Rumah Keluarga Nagara__
Malam ini Litha dan Umran sedang bersantai didepan kolam renang rumahnya. Suasana yang sunyi dan sepi, dengan ditemani angin sepoi-sepoi yang berhembusan, itulah kenyamanan yang hakiki bagi dua bersaudara itu.
"Kenapa sedih gitu? kayak abis diputusin sama pacar," ujar Umran.
"Tadi siang, sepulang dari sekolah. Gue abis jalan-jalan bareng Sarah, Tiara, sama Fika," ucap Litha.
"Terus kenapa sedih? harusnya seneng lah.. bisa jalan-jalan bareng sahabatnya," tanya Umran.
"Itu jalan-jalan terakhir gue bareng Tiara, soalnya Tiara mau pindah ke luar negeri, katanya perusahaan orang tuanya kolaps," ucap Litha.
"Kalo perusahaannya kolaps, masak malah jalan-jalan ke luar negeri?" tanya Umran.
"Gue ngomong PINDAH BUKAN LIBURAN, punya abang gini amat sih... Perusahaannya itu ada diluar negeri bang Umrannnn.. yang kata orang-orang tamvan banget," ujar Litha dengan memberi penekanan dikalimat yang tertulis dengan huruf kapital. Tidak lupa juga, dengan nada manis. Walaupun sebenarnya Litha sangat jengkel dengan saudaranya yang ketampanannya gak kalah jauh dari Raka, ya... walaupun tetap Raka yang paling ganteng.
"Ohhh... begono..?" ucap Umran.
"BEGINI..." ucap Litha.
__ADS_1
"Bukannya begitu yaa..?" tanya Umran, yang mencoba, ingin membuat Litha menjadi kesal. Alhasil tujuan Umran yang unfaedah itu berhasil membuat Litha sangat kesal, bahkan saat ini Litha sangat jengkel.