
Ponsel Litha kembali berdering untuk kesekian kalinya. Litha mengangkatnya, Raka dan Ken menatap penasaran Litha yang menerima panggilan tetapi hanya diam saja.
"Kak ikut aku, kita ke apartemen Nick sekarang!" Terdengar nada-nada khawatir dan panik dalam ucapan Litha.
"Ngapain?" Heran Raka.
"Lo mau bolos koas?" Seru Ken.
"Urgent!" Seru Litha.
"Malam ini dokter pembimbing gue kan elo. Tolong toleransinya sedikit ya Pak Dokter Ken," Litha mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Gimana kalo lo ikut kita? sekalian perkenalkan sama salah satu dari The Perfect, namanya Nick," terang Litha.
"Ikut kita? Aku belom ngasih persetujuan Tha," tegas Raka mengingatkan.
"Pokoknya kalian berdua harus ikut gue. Ini urgent!" Pinta Litha memaksa sesuka hatinya.
"Enak banget ya ngomongnya," Ken geleng-geleng kepala.
"Ayolah Ken, lagi pula rumah sakit ini punya Kak Raka," Litha langsung menarik dua dokter tersebut yang terlihat pasrah-pasrah saja.
"Sultan mah bebas!" Sahut Ken.
Di parkiran Litha menoleh menatap Ken. "Mana mobil lo?"
Ken menghelai nafasnya, dia menunjuk mobil berwarna putih. Karena kunci mobil Raka berada di ruangannya yang jaraknya lumayan memakan waktu jika mereka harus bolak-balik mengambil kunci punya Raka. Jadilah mobil Ken yang harus dikorbankan, mau tidak mau Ken harus menyerahkan kunci mobilnya kepada Litha yang meminta kunci mobilnya seperti preman pasar yang memalak anak sekolahan.
Di dalam mobil Raka dan Ken yang duduk dibelakang saling pandang, mobil melaju dengan kecepatan tinggi dibawah kendali Litha sebagai pengemudi.
"Sayang hati-hati. Kamu masih ada cita-cita yang belom kesampaian," ujar Raka.
Litha melirik kaca spion didepannya, "Jadi dokter?" Litha melihat Raka dan Ken yang wajahnya pucat basi. Kalau mereka berdua sendiri yang mengendarai mobil, mereka tidak akan sampai sepanik ini, sekalipun dengan kecepatan melampaui pembalap.
"Nikah sama aku," Raka tersenyum lebar.
***
Sampai ditempat tujuan, mereka masuk dalam gedung tinggi tersebut. Di dalam lift mereka hanya bertiga, karena suasana yang sudah sepi mengingat ini tengah malam.
"Ini sebenarnya ada apa Tha?" Tanya Raka sambil melihat jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan hampir menunjukkan pukul dua dini hari.
"Dita mau bunuh diri di apartemennya," sahutnya.
"Terus kenapa kita ke apartemennya Nick?" Raka tidak terkejut dengan hal itu, karena baginya itu tidak terlalu penting. "Lagi pula Dita mau bunuh diri atau enggak itu urusan dia, bukan kita," sambungnya.
__ADS_1
"Tuh kan. Kamu tu emang gak ada rasa perikemanusiaan sama sekali. Dita itu udah berubah, percaya sama aku," Litha menggenggam kedua tangan Raka.
"Kalau dia udah berubah, dia gak akan punya pikiran dangkal untuk mengakhiri hidupnya," pintu lift terbuka Raka langsung melangkah menuju apartemen Nick yang sebelahan dengan apartemennya.
Ken hanya garuk-garuk kepala karena tidak mengerti apa yang dibahas oleh mereka. Litha berlari kecil dengan menarik Ken, agar dapat mensejajarkan langkahnya dengan Raka yang langkah kakinya lebar dan cepat.
"Dimana apartemen Dita?" Tanya Raka dingin tanpa menoleh ke belakang dimana Litha dan Ken mengekorinya.
"Di sebelah apartemen Kakak," jawab Litha.
"What? Jadi apartemen aku ada di tengah-tengah tempat tinggal orang-orang gila itu?" Raka geleng-geleng kepala, kenapa juga Dita harus membeli apartemen tepat disebelahnya.
"Kak Raka!" Rengek Litha tidak terima jika Nick dan Dita dihina seperti itu.
"Siapa Dita?" Ken berbisik kepada Litha.
"Pacarnya Nick yang dulu pernah suka sama Kak Raka," balas Litha dengan berbisik juga karena takut saat ini Raka dalam mode marahnya. Yahh siapa yang gak emosi, Raka harus ikut campur urusan Nick dan Dita, terlebih lagi Raka belum percaya sepenuhnya jika Dita sudah berubah menjadi lebih baik.
"Dulu Dita sempet beberapa kali punya rencana jahat untuk memisahkan hubungan aku dan Kak Raka," bisik Litha.
Ken terkejut menatap Litha yang mampu memaafkan orang seperti Dita, "Really?"
Langkah Raka berhenti menatap dua orang yang berpegangan tangan didepan pintu apartemennya. Litha yang masih asik berbisik dengan Ken, tidak sengaja menubruk punggung Raka yang mana membuat Raka dan Ken terkejut.
"Aduh," Litha mengusap keningnya yang sedikit terpental dari punggung Raka.
"Kalian..?" Dita melepas genggaman tangan Nick saat menyadari kehadiran mereka bertiga.
Litha merasa kasihan melihat penampilan Dita yang jauh berbeda dari saat pertama kali Litha melihat Dita di rumah sakit Utama. Penampilan Dita begitu berantakan, wajahnya pucat, matanya merah, air mata membasahi pipinya, rambutnya acak-acakan tidak teratur.
"Ini yang namanya Dita?" Bisik Ken kepada Litha.
Tatapan Nick melihat ke arah Litha. "Gue cuma butuh lo sama Raka. Ngapain dibawa juga selingkuhan lo?"
Raka menoleh melihat Ken yang menundukkan kepalanya yang agak condong kepada Litha yang kini membisikkan sesuatu di telinga Ken. Dan jangan lupakan tangan mereka berdua masih saling bertautan sejak dari pintu lift terbuka.
Ucapan Nick hanya dianggap angin lalu, Litha dan Ken sedang seru-serunya bergosip membahas masa lalu Dita yang mengejar-ngejar Raka, sehingga tidak menyadari ucapan Nick dan tatapan dari tiga orang disana.
Raka geleng-geleng kepala dengan tingkah mereka berdua. Raka mengusap wajahnya dengan kasar, sepertinya posisi Arkan yang kini mulai sibuk dan jarang berjumpa dengan Litha akan tergantikan oleh Ken.
Tatapan Raka fokus kepada Dita. "Lo mau bunuh diri hanya karena sekarang lo tahu Nick itu sahabat gue?"
"Maaf gue mengingkari janji yang udah lo buat sama bokap gue, maaf karena gue sempet hadir dalam hidup kalian berdua lagi. Dan maaf atas kesalahan-kesalahan gue dimasa lalu," Dita mengusap kasar air mata yang baru menetes.
Dita membalikkan badannya ingin kembali ke apartemennya dan meminum racun yang baru dibelinya, namun langkahnya terhenti saat Raka mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Gue pikir lo udah beneran berubah menjadi sosok yang lebih baik dari terakhir kali kita ketemu. Tapi ternyata gue salah, pikiran lo terlalu dangkal Dit," ujar Raka yang berhasil menghentikan acara bergosip Litha dan Ken yang kini fokus pada Raka.
"Hanya karena lo merasa gak pantes berada di sekitar orang terdekat Nick, lo mau bunuh diri? Lo gak mikirin orang tua lo?" Raka tertawa renyah mendengar isak tangis Dita yang semakin menjadi.
"Raka cukup! Orang tua Dita baru aja jadi korban kecelakaan pesawat satu jam yang lalu, dan diperkirakan semua penumpang pesawat itu tewas semua!" Bentak Nick membuat Raka seketika mematung.
Dita berlari ke dalam apartemennya. Ken yang melihat Raka dan Nick masih adu mulut, segera mengejar wanita itu dan ikut masuk ke dalam bersama Dita. Tentu saja Dita menolak orang asing yang ingin ikut bersamanya.
"Pergi!" Sentak Dita kepada Ken yang menahan pintu agar tidak tertutup.
"Tunggu! Gue tau apa yang lagi lo rasain sekarang. Gue juga gak punya orang tua. Lo tau, gue harus ninggalin kota tempat tinggal gue sejak kecil karena gue dipindah tugaskan ke rumah sakit Utama. Di tempat ini gue gak punya teman sama sekali, gue hidup sebatang kara," yaaa akhirnya Ken malah curhat sama orang yang hatinya lagi remuk.
"So... Kalo lo mau minum racun untuk bunuh diri, lo harus ajak-ajak gue karena jujur gue pernah ada niat kayak gitu. Tapi gagal karena gue gak berani bunuh diri tanpa teman," ujar Ken yang kali ini berhasil membuat Dita mengizinkan dirinya masuk ke dalam.
Bersamaan dengan itu Litha malah terlihat menjadi orang paling bodoh karena dia hanya melihat pembicaraan serius antara Raka dan Nick.
"Nick sorry, gue gak tau," Raka mengacak rambutnya merasa begitu bersalah kepada Dita.
"Dita mau bunuh diri karena kecelakaan pesawat itu. Dia udah putusin gue sejak hari pertama kita menginjakkan kaki di rumah sakit lo,"
Di Indonesia ini Dita tidak mempunyai teman sama sekali. Dita merasa tidak ada lagi semangat untuk tetap hidup, semangat hidupnya hanya untuk kedua orang tuanya dan Nick. Tapi gadis itu malah mengakhiri hubungannya dengan Nick dengan alasan ia tidak ingin mengingkari janji yang telah dibuat oleh sang ayah dengan Raka.
"Siapa tau aja dengan lo bilang secara langsung ke Dita kalo lo sama Litha udah maafin dia sepenuhnya dan bisa nerima dia dalam hubungan persahabatan kita, itu mampu mengobati rasa sakit hati Dita atas kehilangan orang tuanya,"
Dan dengan maaf dari Litha dan Raka tentu saja akan membawa kabar baik untuk hubungan Nick dan Dita. Sehingga Dita membatalkan niatnya untuk minum racun, karena salah satu semangat hidupnya telah kembali dalam hidupnya.Yap begitulah rencana Nick.
"Ken ada dimana?" Litha yang sadar jika Ken tidak ada disampingnya clingak-clinguk kebingungan.
"Dita?" Nick juga sama tidak menemukan wanitanya.
"Ken itu anak yatim piatu yang kesepian!" Litha mengingat jika Ken tadi sempat mengejar Dita di pintu apartemen Dita.
Ketiga orang itu saling tatap setelah melihat pintu apartemen Dita yang tertutup rapat.
"Jangan-jangan mereka?" Ucapan Nick terhenti, tidak sanggup melanjutkannya.
"Mereka mau couplean bunuh diri?" Sambung Litha menepuk jidatnya sendiri. Couplean mah baju kek, sepatu kek atau apa gitu, ya kali mau couplean bunuh diri?
Mereka bertiga langsung berlari menggedor pintu apartemen Dita yang tak kunjung terbuka. Akhirnya mereka bertiga pasrah dengan keadaan apa yang ada didalam sana.
"Kita cuma bisa berharap semoga otak warasnya Ken kumat dan berfungsi dengan baik," Raka duduk pasrah di lantai.
"Maksud lo?" Nick mulai curiga dengan selingkuh dari Litha.
"Dia 11 12 rada gila kayak lo," ucap Litha ikut duduk disamping Raka dan memeluk lengan berotot Raka.
__ADS_1
"Dokter gadungan itu lebih parah dari lo," Raka meralat ucapan Litha.
"What?" Pekik Nick. Tubuh Nick yang bersandar di tembok langsung lemas, perlahan tubuhnya turun ke bawah duduk dilantai disamping Litha.