
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan Litha, yang menanyakan apa tujuannya datang ke sini. Tetapi dia malah seolah-olah memberitahu Litha, bahwa ini bukanlah kamar perempuan yang saat ini sedang duduk diatas kasur besar itu.
Pemuda tampan itu mengangkat tangannya dan jari telunjuknya menunjuk ke arah meja, yang diatasnya terpasang sebuah foto seorang pemuda yang tanpa menunjukkan ekspresi wajahnya, alias hanya menunjukkan wajah datarnya, tetapi pemuda itu sangat tampan. Jika kalian menebak itu adalah Raka, maka tebakan kalian benar.
Litha sangat terkejut setelah melihat foto kekasihnya sendiri, terpaksa dikamar yang ditempatinya.
"Ini ka.. kamar lo?" tanya Litha penasaran dan gugup.
Raka hanya menganggukkan kepalanya, dia pasti malas untuk mengeluarkan suara khasnya.
Bagaimana mungkin Litha bisa tidur diatas kasur milik Raka? Apa yang terjadi dengannya? Apa ini hanya sebuah mimpi atauuu Litha sedang mengigau menyebut nama Raka, hingga akhirnya bang Umran membawanya ke sini, ke rumah Raka, ke kamarnya Raka? Itulah pemikiran absurd seorang Litha Kusuma Jaya Nagara.
"Kok gue bisa ada di sini?" tanya Litha lagiii...
"Bang Umran lagi sibuk ngerjain tugas kuliah di rumah temennya, ayah masih di luar negeri, bunda masih sibuk ngajar di kampus, mbok Inah lagi sakit jadi dia gak bisa jagain elo," ujar Raka yang seperti rumus volume balok, panjang kali lebar kali tinggi.
"Terus?" tanya Litha lagiiiiii....
Raka sangat heran dengan sikap Litha yang seperti orang tidak tahu apa-apa. Masak iya Litha bisa lupa sama kejadian penyekapan tadi, yang buat dia sampai pingsan? Apa lagi tadi Litha dalam keadaan berantakan banget.
"Lo beneran lupa sama kejadian tadi siang?" tanya Raka penasaran.
"Tadi siang? Bukannya gue bisa ada di kamar lo karena gue lagi mimpi?" tanya Litha kebingungan. Raka hanya menggelengkan kepalanya yang berarti tidak.
__ADS_1
"Lhohh ini nyata?" tanya Litha dengan ekspresi wajah terkejut, tetapi ini memang realitanya.
"Atau tadi, gue beneran ngigo nyebut-nyebut na.. nama lo? Terus bang Umran bawa gue ke sini?" sebenarnya Litha agak ragu untuk menanyakan hal tersebut, tetapi itu adalah pertanyaan didalam pikirannya.
Raka yang mendengar ucapan Litha pun, hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Raka sangat bingung dengan pemikiran kekasihnya yang ternyata sangat absurd juga, sama seperti sahabatnya, yang tak lain adalah Leon.
"Tadi siang Umran nelfon gue, dia nanya keadaan lo," ucap Raka.
"Lhahh.. kenapa bang Umran gak nanya langsung ke gue?" tanya Litha. Setelah itu Litha mencoba mencari keberadaan handphone-nya, dengan tangan yang meraba-raba di samping tempat tidurnya dan celana jeans yang saat ini di pakainya.
Namun Litha terkejut setelah melihat pakaian yang saat ini dipakainya. Litha sadar bahwa, dia tidak pernah memiliki kaos oblong yang sangat oversize berwarna hitam, serta celana jeans dengan ukuran lumayan besar dan panjangnya di bawah lutut kakinya Litha. Mungkin jika celananya dipakai oleh Raka, pasti akan sangat pas di ukurannya.
"Hp gue mana? Terus kenapa gue pake baju sama celana cowok kayak gini? Jangan-jangan..??" seru Litha.
"Lo apain gue?" teriak Litha sambil menarik selimutnya sampai ke atas dadanya dan menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Seakan-akan ingin berjaga-jaga kalau Raka sampai berbuat yang tidak-tidak.
Litha itu masih parno dengan Raka, maklum lah Litha itu tidak pernah dekat dengan seorang lelaki. Ini pertama kalinya dia dekat dengan seorang pria, bahkan sampai menjalin hubungan dengan status pacaran.
Mungkin siapa pun yang menjadi Raka pasti akan marah, karena kekasihnya sendiri selalu berprasangka buruk padanya. Padahal tadi yang menggantikan pakaiannya Litha adalah pelayan di rumah Raka yang sama-sama seorang perempuan.
Raka hanya menatap Litha dengan tatapan dingin dan ekspresi wajahnya sangat datar. Litha sama sekali tidak mengerti dengan arti tatapan aneh tersebut. Litha mulai menyadari bahwa sikapnya kali ini membuat Raka menjadi tidak nyaman.
Litha menelan ludahnya sendiri, "Maaf ! Emm... marah ya..?" tanya Litha sangat ragu setelah itu, dia menundukkan kepalanya. Litha takut kalau Raka benar-benar marah kepadanya sampai minta putus. Kan Litha baru sebentar merasakan perhatian dan cinta dari Raka, apa lagi ini pertama kalinya Litha merasakan yang namanya cinta. Litha gak mau dong kalau sampai patah hati karena cinta pertamanya.
__ADS_1
Raka menghampiri Litha yang masih menundukkan kepalanya, Raka duduk diatas kasurnya tepatnya di samping kanan Litha. Tangannya mengangkat lembut dagu Litha sedikit ke atas, hingga Litha dapat melihat dengan jelas wajah Raka yang sangat tampan.
"Kenapa tiba-tiba sedih gitu?" tanya Raka datar, sungguh Raka itu sangat tidak peka, pakai nanya segala alasannya lagi, Litha kan gak mau kalau Raka marah dengan ucapannya tadi. Ya walaupun sebenarnya memang Litha salah, dia selalu berpikiran negatif terhadap Raka yang sekarang menjadi pacarnya.
"Bukannya tadi lo marah ke gue? Karena gue sering mikir negatif tentang lo," tutur Litha.
"Enggak marah, cuman udah bosen aja sering dituduh yang bukan-bukan, apa lagi sama pacar sendiri," jawab Raka yang memperlihatkan senyuman manisnya sambil mengacak-acak rambut panjangnya Litha, karena gemas dengan Litha yang memperlihatkan ekspresi sedih. Sungguh keajaiban dunia dan hal yang sangat amat langka.
Tapi orang lagi sedih masak lucu? Alasannya, Litha sedih itu, karena takut jika Raka marah. Berarti secara tidak langsung Litha gak mau buat Raka jadi marah padanya. Makanya Raka jadi senyum melihat tingkah laku pacarnya itu.
Deg...
Litha tidak menyangka seorang Raka yang biasanya memasang ekspresi wajah datar dan dingin seperti es batu ternyata bisa senyum semanis madu. Duhh bikin Litha jadi melting ajaaa...
"Bisa senyum juga ternyata?" Litha malah ikut-ikutan senyum dan lagi salting banget tuh, karena mendapat senyuman dari Raka yang manisnya gak kalah saing sama madu.
"Kamu pikir aku bukan manusia apa?" Ini Raka lagi mencoba bergurau agar lebih mencairkan suasana, ya walaupun suasananya tidak tegang.
"Terus kenapa kamu ikutan senyum juga?" tanya Raka. What?? Aku-Kamu biasanya juga lo-gue!!!
"Abisnya kamu kalo senyum, gantengnya makin kelewatan," ujar Litha blak-blakan. Litha emang gitu orangnya, ngomong duluan malunya belakangan. Tuhhh kan Litha jadi ketularan sama Raka yang manggil pake bahasa Aku-Kamu. Jadi kayak orang pacaran beneran dehh...
Jujur Litha baru sadar, Raka itu makin tambah ganteng kalau senyum gitu, ya biasanya juga ganteng sih... Litha juga mengakui kalau Raka itu udah ganteng dari sononya. Tapi kalau Raka lagi senyum semanis madu gitu, gantengnya jadi ganteng kuadrat.
__ADS_1