Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Mencari Part 2


__ADS_3

"Sharelock, gue ke sana sekarang," ucap Arkan. Raka segera membagikan info dimana lokasi keberadaannya sekarang.


Raka turun dari mobil lalu menghampiri Leon, tetapi orang yang tadi berdebat dengan Leon sudah pergi. Raka menepuk pundak Leon dari belakang, sehingga Leon menoleh ke belakang.


"Ka, lo ngapain di sini?" tanya Leon yang mencoba bersikap biasa saja, padahal sebenarnya dalam otak Leon sedang memikirkan banyak hal.


"Elo yang ngapain dipinggir jalan gini?" tanya Raka.


"Kalo ditengah jalan nanti ketabrak dong," celetuk Leon nyeleneh.


"Ada masalah?" tanya Raka.


"Dikit.. santai aja," jawab Leon enteng. Bersamaan dengan itu, ada tiga manusia tampan yang menghampiri Raka dan Leon menggunakan motor sport. Siapa lagi kalau bukan Arkan, Jordy, dan Danil.


"Lo sendiri kelihatan panik gitu," tanya Leon.


"Litha diculik," jawab Raka.


"Apa diculik? Kok bisa?" tanya Leon.


"Gue gak tau, dia diculik bareng temennya," jelas Raka.


"Apa... Jadi temennya juga diculik?" Arkan ikut angkat bicara. Karena tadi dia juga belum tahu kalau Litha ternyata bersama dengan temannya.


"Siapa nama temennya?" tanya Jordy.


"Fika," jawab Raka singkat.


"Apaa... Fika?" Leon terkejut bukan main, pasalnya Fika adalah mantan Leon yang terakhir untuk saat ini, gak tau deh kalau besok atau Minggu depan? Semenjak putus dari Fika, sampai saat ini Leon juga belum mencari gantinya, atau mungkin Leon udah beneran tobat? Meninggalkan dunia keplayboyannya wkwk...


"Napa lo kaget gitu?" tanya Arkan keheranan. Tetapi yang ditanya sepertinya tidak ingin menjawab.


Ya wajar lah diantara keempat sahabatnya memang tidak ada yang mengetahui hubungan antara Leon dan Fika dahulu.


"Lapor polisi aja," tutur Jordy.


"Ilangnya belum dua kali 24 jam," ucap Raka datar, meskipun sebenarnya khawatir.


"Oh iya juga ya," Jordy nyengir tanpa dosa.


"Lo tau ciri-ciri penjahatnya? Dan ada berapa orang?" tanya Danil.

__ADS_1


"Ada 10 orang. Penampilannya kayak ninja. Pake baju hitam, wajahnya ditutupi kain hitam juga yang kelihatan cuma matanya doang. Jadi gue gak ngenalin wajah mereka," jelas Raka panjang lebar. Tadi Raka dan Sarah sempat melihat cctv yang berada di rumah Fika.


Deg...


Seketika detak jantung Leon memompa lebih cepat. Leon menelan ludahnya sendiri. Otaknya masih mencerna setiap perkataan dari Raka.


"Gue tau keberadaan Fika dan Litha," ungkap Leon yang disambut tatapan tajam dari keempat sahabatnya.


"Jangan salah paham dulu, gue bakal ceritain semuanya. Tapi gak sekarang, yang terpenting adalah keselamatan Fika dan Litha," jelas Leon. Semuanya masih diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Mereka dalam keadaan bahaya, mereka akan disiksa habis-habisan kalo kita gak secepatnya nolongin mereka," tambah Leon dengan ekspresi serius.


Tanpa permisi, dengan seenaknya saja Leon segera masuk ke dalam mobil Raka. Raka pun mengikutinya masuk, lalu Leon segera menancapkan gasnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Danil, Arkan, dan Jordy mengikuti mobil tersebut dengan mengendarai motornya masing-masing.


"Jangan bilang kalo ternyata Fika adalah inceran klien lo," ujar Raka.


"Bisa jadi," jawab Leon tanpa menoleh. Karena Leon sendiri saat ini sudah sangat panik.


"Walaupun anggota mafia itu banyak tetapi Hariamu Putih selalu beraksi dengan 10 orang, dengan penampilan berwarna hitam semua, persis sama penjahat yang nyulik Fika dan Litha. Dan tadi Harimau Putih baru aja beraksi," jelas Leon panjang kali lebar kali tinggi.


Deg...


"Apa lokasinya masih jauh?" tanya Raka. Karena sudah sekitar 15 menitan mereka melaju dengan kecepatan tinggi, namun belum juga sampai.


"Sabar," jawab Leon singkat dan tak kalah panik dengan Raka.


"Kenapa lo gak cegah aksi mafia yang lo pimpin? Kalo sampai Litha kenapa-kenapa gue gak akan maafin lo..!" ucap Raka tegas.


"Kalo gue tau inceran mereka adalah Fika dan Litha, gue juga gak bakal tinggal diem Rak," ungkap Leon tanpa menoleh ke samping.


Tatapan Leon hanya fokus pada jalanan karena saat ini mobil sport mewah milik Raka melaju kencang sekali. Jika si supir hilang fokus, bisa dipastikan mobil mewah tersebut akan masuk bengkel dan yang berada di dalam mobil tentu akan masuk rumah sakit.


"Dan asal lo tau sejak 15 menit yang lalu, gue bukan lagi pimpinan mafia itu," sambung Leon.


Oke berarti tadi dipinggir jalan Leon sedang berdebat dengan salah satu anggota mafia Harimau Putih, atau mungkin berdebat dengan seseorang yang akan menggantikannya menjadi pimpinan mafia kejam tersebut.


Sebenarnya tadi yang berdebat dengan Leon adalah tangan kanannya Leon atau bisa disebut juga orang kepercayaannya. Orang tersebut berusia tak jauh dari Leon, mungkin usianya hampir sama dengan Umran.


Awalnya Leon berniat membubarkan geng mafia yang dulu pernah didirikannya hingga namanya terkenal dan banyak orang yang memakai jasa mafia tersebut dengan bayaran tinggi. Namun sepertinya tangan kanan Leon mempunyai niat busuk, dia ingin menghianati Leon untuk mengambil alih mafia tersebut agar menjadi miliknya seutuhnya.


Sedangkan anggota lainnya pasti tetap ingin mendapatkan uang, jika Leon membubarkan mafia tersebut sudah dipastikan mereka tidak akan mendapatkan uang. Otomatis mereka akan berada di pihak orang kepercayaan Leon tersebut, yang tetap akan mempertahankan Harimau Putih. Mereka sama sekali tidak tahu jika orang tersebut memiliki niat busuk.

__ADS_1


Padahal jika orang kepercayaannya Leon mendirikan geng mafia lagi, Leon juga tidak akan mempermasalahkan. Tetapi orang tersebut malah mengambil alih posisi Leon, mungkin karena Harimau Putih sudah terkenal, bagaimanapun juga kesuksesan Harimau Putih adalah usaha dari orang tersebut dan tentunya ada usaha dari Leon juga. Jadi orang tersebut tidak akan membiarkan usaha yang sudah dibangunnya menjadi hancur karena rencana Leon yang ingin membubarkan Harimau Putih.


"Sorry," Raka merasa sedikit bersalah dengan sahabatnya.


"No problem. Gue tau lo sayang banget sama Litha, jadi wajar kalo lo semarah ini sama gue," tutur Leon.


**Rumah Kosong__


Disisi lain tangan Litha dan Fika diikat dengan tali, mereka saling membelakangi. Mulut mereka ditutup oleh lakban hitam, agar mereka tidak dapat mengeluarkan suara. Awalnya mata mereka juga ditutup, tapi sekarang sudah dibuka.


Dagu Fika dinaikkan dengan paksa oleh seseorang dan dengan cengkraman yang sangat kuat, sehingga membuat pipi Fika menjadi kemerah-merahan.


"Fika, orang yang ngincer lo bentar lagi dateng. Dan sebagai darah dagingnya lo harus siap-siap menerima hukuman atas perbuatan bapak lo sendiri. Bapak tercinta lo udah korupsi, dia kabur bawa uang 20 miliyar," ucap penjahat tersebut. Sontak hal tersebut membuat air mata Fika mengalir ke pipinya.


Deg...


Tentunya Litha sangat terkejut dengan penuturan penjahat tersebut. Jadi itu alasannya mengapa adiknya Fika pindah ke rumah neneknya dan semua ART di rumah pulang kampung? Mungkin ART nya takut tidak digaji oleh majikannya, secara majikannya saja seorang koruptor yang keberadaannya tidak diketahui oleh pihak kepolisian, pikir Litha.


Ya walaupun sebenarnya Ibunya Fika masih mempunyai bisnis, untung saja ibunya Fika mempunyai penghasilan sendiri tanpa bergantung kepada ayahnya Fika.


"Jangan nangis," bentak penjahat tersebut lalu melepaskan tangannya dari dagu Fika.


Sepertinya orang tersebut adalah ketua pimpinan penjahat ini. Sungguh kejam, pikir Litha.


Penjahat tersebut menatap Litha, begitu pula sebaliknya Litha juga menatap wajah penjahat itu dengan rasa benci. Penjahat tersebut sepertinya mengerti arti dari tatapan tajam seorang Litha Kusuma Jaya Nagara.


"Berani lo ngelawan gue?" tanya penjahat itu dengan volume tinggi. Litha masih menatap tajam ke arah suara tersebut, ya gimana ya? Litha sih mau menjawab pertanyaan itu, tapi kan mulutnya masih ada lakbannya.


Sepertinya penjahat itu sudah membaca pikiran Litha, yups Litha sama sekali tidak takut dengannya. Litha juga bukan gadis bodoh yang akan berteriak-teriak meminta tolong, karena dari bentuknya tempat ini sepertinya rumah kayu tua yang kosong, banyak sekali debu yang membaluti barang-barang di rumah ini. Sudah dipastikan rumah ini khusus digunakan mereka untuk menyekap seseorang, berarti daerah ini adalah tempat yang sepi, tidak ada orang yang tinggal di daerah sini.


Srek...


Penjahat tersebut membuka lakban dari mulut Litha dengan sangat kasar, hingga membuat area disekitar mulut Litha menjadi merah. Sedangkan Fika sangat terkejut mendengar suara itu, dia memikirkan bagaimana rasa sakit dari mulut sahabatnya tersebut.


"Brengs*k," teriak Litha.


Setelah membuka lakban, anehnya penjahat itu menatap Litha dengan tatapan penuh arti yang sangat sulit untuk diartikan.


Kenapa penjahat itu menatap Litha dengan tatapan penuh arti? Tunggu jawabannya di next episodnya!!!


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, and vote. Salam sayang dari Author 🥰

__ADS_1


__ADS_2