Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Melacak


__ADS_3

Di dalam mobil Litha masih terdiam memeluk Raka. Jordy kali ini sebagai sopir yang akan mengantar Litha dan Sarah pulang.


"Tha," panggil Raka. Gadis tersebut mendongakkan kepalanya, dia masih tidak mau menyahut.


"Kamu gpp kan?" tanya Raka memastikan.


Litha hanya menggelengkan kepalanya, lalu menenggelamkan lagi wajahnya ke dada bidang milik Raka. Pemuda itu hanya menghelai nafas panjangnya.


Sampai kemudian akhirnya Litha angkat suara. "Aku ceroboh banget ya kak?"


"Enggak, cuma..." jawab Raka menggantung sembari mengusap rambut panjang Litha.


"Cuma apa?" Karena tak segera mendapat respon dari Raka, Litha merenggangkan pelukannya dan menatap ke arah Raka yang sedang tersenyum tulus.


"Terlalu polos," sahut Raka.


"Aku sayang kak Raka," Entah kenapa tiba-tiba Litha mengungkapkan perasaannya. Raka tidak ingin membalas ucapan Litha, dia masih terdiam dengan senyumnya.


"Tadi aku sama dia..." tambah Litha.


"Kalau kamu belum siap cerita, gak usah cerita gpp," potong Raka.


"Kak Raka percaya kan sama aku?" Tanya Litha, Raka mengangguk.


Sedangkan dua manusia yang duduk di depan hanya saling melirik. Sepertinya mereka harus siap melihat kemesraan dua sejoli yang berada di belakangnya.


"Dia punya rencana gak baik untuk aku. Tapi serius aku sama dia belum ciuman. Untung kamu datengnya cepet, kalo enggak mungkin aku akan kecewa sama diri aku sendiri," jelas Litha, tanpa mau menyebut nama Fandy.


"Tapi gue lihat bibirnya si curut kek nya basah deh... Gue kirain kalian udah..." ucap Jordy yang langsung gak berani nerusin kalimatnya. Nyalinya udah menciut karena tatapan tajam dari Raka lewat kaca depan mobil.


"Udah apa?" Litha yang polos gitu mana paham tentang begituan.


"Uu... Ud... Udah makan siang apa belom?" tanya Jordy asal.


Litha tidak ingin menjawab, menurutnya itu adalah pertanyaan yang tidak penting. Dia hanya mengernyitkan keningnya, lalu menatap ke arah Raka. Raka hanya mengangkat bahunya, pertanda jika Raka tidak tahu. Litha menatap ke arah Jordy melalui kaca depan, dilihatnya Jordy yang sedang menyetir dengan sesekali melirik ke arah Litha.


"Udah lupain aja. Gak usah dijawab, gak penting," sahut Sarah yang tadinya hanya diam.


Tapi jujur setelah Litha menjelaskan kejadian tadi, tentang Litha yang tidak berciuman dengan Fandy, Raka merasa lega. Dia percaya dengan ucapan Litha, dia sangat senang ternyata kekhawatirannya salah.


***


Arkan berjalan melewati beberapa ruang rawat inap. Pemuda tampan itu memilih untuk pulang karena hari yang sudah larut malam, ditambah pula dengan adanya orang tua Sekar yang menemani Sekar.


Setelah sampai di parkiran, tak sengaja netra nya menangkap sosok pemuda yang tidak asing baginya, yang tak sadarkan diri dengan wajah yang berlumuran darah, yang baru saja keluar dari mobil ambulance.


"Fandy," gumam Arkan sedikit terkejut melihat keadaan Fandy yang mengenaskan.


"Danil," gumamnya selanjutnya, setelah melihat ada Danil yang mengiringi langkah para tenaga medis yang membawa Fandy menuju ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


Arkan mengikuti Danil, dia sangat penasaran mengapa Danil ikut ke rumah sakit? Tetapi Arkan yakin telah terjadi sesuatu antara Raka dan Fandy. Dan Arkan berharap karibnya itu tidak mengalami luka sedikitpun.


"Danil," seru Arkan setengah berlari.


Danil menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang. Danil memilih untuk menemui Arkan dan membiarkan Fandy sendiri bersama para tenaga medis yang mungkin akan membawanya ke ruang IGD.


Arkan mendekat ke arah Danil. "Fandy..." ucap Arkan menggantung, karena dia bingung harus berkata apa?


"Dihajar Raka," sahut Danil.


"Lhah... Terus Raka nyuruh lo buat bawa dia ke sini?" Tanya Arkan penasaran.


"Boro-boro... Raka aja pengen tu anak mati," jawab Danil santai.


"Terus ngapain lo bawa ke sini? Kalo pengen nya mati, ya digantung aja atauuu lempar aja ke rel kereta api atau lempar ke sungai," ujar Arkan dengan terkekeh.


"Eh... Lempar ke samudera Hindia aja. Atau nggak... kirim ke hutan Amazon. Apa kita naikin pesawat pribadi milik keluarga Adelard aja, terus kita lempar dari ketinggian," ucap Arkan ngelantur banget...


"Yang nyuruh Litha, so Raka cuma bisa nurut," jawab Danil, Arkan manggut-manggut mengerti.


Oh ya keluarga Adelard punya pesawat pribadi lhoh! Mereka juga punya helikopter pribadi dan jet pribadi juga. Keren kan? Tapi hanya orang-orang terdekatnya saja yang mengetahuinya, karena Adelard tidak suka memamerkan harta kekayaan.


***


Hari ini adalah weekend, Litha dan Umran sedang sarapan sandwich di meja makan. Kedua orang tua Litha sedang berada di luar kota untuk berdiskusi tentang bisnis baru yang akan Bunda Larissa rintis bersama temannya. Karena orang yang akan bekerja sama dengan Bunda Larissa sedang berada di luar kota. Jadilah Bunda Larissa menyusulnya ke sana dan ditemani oleh Ayah Kusuma.


"Gue takut lo kenapa-kenapa," ucap Umran memelas. Sedari pagi Umran memaksa Litha, agar mau menerima tawaran dari Raka yang akan menyewa jasa bodyguard untuk Litha.


Yah Umran memang sudah mengetahui kejadian Litha dengan Fandy kemarin. Sebagai kakak, tentunya dia sangat cemas dengan keselamatan Litha untuk kedepannya.


"Gini-gini gue juga gak mau lo kenapa-kenapa," ucap Umran yang mengingat perlakuannya yang sering iseng dan cenderung bodoamat terhadap adiknya.


"Gue yakin kalo Bunda sama Ayah tau pas..." ujar Umran terpotong.


"Jangan kasih tau!" sela Litha dengan mata melotot.


"Ya makanya lo nurut sama gue dan Raka," kekeh Umran.


"Gue janji deh nggak akan ceroboh lagi," ucap Litha lalu melegut susu manisnya serta menunjukkan jari kelingkingnya saja.


"Bener ya?" tanya Umran seraya membalas jari kelingking Litha. Litha yang masih meneguk minumannya hanya mengangguk dengan menelan cairan berwarna putih tetapi manis itu.


***


Siang ini di apartemen Raka, lebih tepatnya di kamar Raka, The Perfect sedang berkumpul untuk mencoba mencari Dita, dengan melacak keberadaan Dita. Namun mereka tak kunjung mendapat hasil yang diinginkan.


"Gimana?" tanya Raka yang baru saja mandi, untuk memakai pakaian saja belum. Pemuda tampan itu melingkarkan handuknya diperutnya yang sixpack, serta membawa handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


"Belom," jawab Jordy.

__ADS_1


"Kayaknya dia sengaja matiin HP nya. Email, nomor, dan semua medsos nya off," jelas Jordy dengan mata yang fokus menatap layar laptopnya.


Sebenarnya Raka juga bisa sih kalau cuma ngelacak keberadaan orang pake alat elektronik itu. Tapi Jordy melarangnya, karena dia sendiri yang akan melacak keberadaan Dita. Mungkin karena dia sudah terlalu lama tidak main-main petak umpet kali hhh...


"Gue akan pikirin cara lain," ucap Raka.


Yah kalau sudah begitu mereka bisa apa? Selain mencari informasi melalui orang-orang terdekat dari Dita. Sepertinya Dita memang sengaja tidak mengaktifkan ponselnya serta tidak membuka akun sosial media nya, agar keberadaannya yang sedang bersembunyi tidak bisa dilacak.


Raka hendak melangkah menuju walk in closed untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan. Apartemen Raka memang sangat luas dan mewah. Didalam walk in closed miliknya pun, sudah terdapat pakaian wanita yang sengaja disiapkan khusus untuk Litha, jika suatu saat Litha akan membutuhkan pakaian tersebut, saat Litha berada di apartemen ini. Meskipun Litha saja tidak tahu jika Raka mempunyai apartemen sendiri.


Tapi sebelum masuk ke ruangan yang ia tuju, Raka menatap temannya satu per satu, tak terkecuali Jordy.


Jordy memasang ekspresi serius karena dia masih mengotak-atik laptopnya, sepertinya dia masih berusaha mencari tahu informasi keberadaan Dita.


Sedangkan yang lainnya sibuk dengan dunianya masing-masing. Dilihatnya Arkan yang seperti sedang bertukar kabar dengan orang lain melalui aplikasi chatting.


Leon sedang serius menonton film drama Korea, sepertinya dia ketularan virus Drakor dari pacarnya yang ngefans sama orang Korea Selatan.


Danil? Dia sedang duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya serta memejamkan matanya, menikmati alunan musik yang ia dengar melalui headphone miliknya.


So, bohong jika mereka berkumpul untuk membantu Raka melacak keberadaan Dita. Kenyataannya saat ini mereka sibuk sendiri.


"Lo istirahat aja," ucap Raka teruntuk Jordy.


***


"Terus gimana tuh keadaan si curut sama Dita," Umran kepo tuh... Baru juga Litha duduk disebelah Umran yang lagi nonton TV, Umran langsung nanya tentang Fandy dan Dita.


"Nggak tau dan gak mau tau," jawab Litha acuh.


"Katanya si curut dibawa ke Rumah Sakit Adelard," ujar Umran. Eh kok dia tau? Terus gunanya nanya buat apa bambank?


"Itu lo tau. Ngapain nanya gue?" sinis Litha.


"Hehe..." Umran tertawa kikuk.


"Kalo Dita katanya masih dicari keberadaannya," tambah Umran. Dan Litha hanya ber oh ria saja.


"Awas aja kalo tu bocah ketemu, gue pites-pites kayak semut biar tau rasa," ucap Umran dengan semangat membara yang tersirat kebencian terhadap Dita.


Tiba-tiba saja Litha terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Ah ya Litha baru ingat semalam ada nomor yang mengirimkannya pesan singkat, nomor yang tak dikenalnya itu mengaku sebagai Dita. Tapi karena Litha terlalu lelah dan mengantuk, jadi Litha tidak memperdulikannya, dia segera tidur.


Dan juga Litha tidak ingin gampang percaya lagi dengan pesan-pesan yang masuk ke ponselnya, terlebih lagi nomor yang tidak ia kenal.


Umran merasa ada yang tidak beres dengan adiknya. "Kenapa?" tanya Umran membuyarkan lamunan Litha.


Apakah Litha harus memberitahu Umran tentang pesan semalam? Ya itu wajib.


"Semalem ada yang chat. Dia ngakunya Dita," tutur Litha yang sukses membuat Umran terkejut.

__ADS_1


Pasalnya Umran mendapat kabar dari Raka, bahwa nomor Dita tidak aktif. Apa Dita menggunakan nomor baru? Dan nomor nya yang lama mungkin sengaja dibuang dan tidak dipakai lagi.


__ADS_2