
Agrahhh.... Brukk...
'Suara apaan tu? kayak suara orang kesakitan dan orang jatoh ke tanah,' batin Litha yang masih menutup matanya dengan air mata yang masih mengalir deras.
Tiba-tiba Litha merasakan sudah bebas, tangannya sudah tidak ada yang memeganginya. Saat Litha membuka matanya, sontak mata yang masih sembab itu disuguhi pemandangan yang tidak menyenangkan.
Ternyata preman yang menonjoknya tadi telah tidak sadarkan diri dan terbaring di atas tanah, terlihat jelas preman tersebut sangat berantakan. Tangan kiri dan kanannya terluka cukup parah, sedangkan kedua kakinya membengkak disertai warna biru kemerah-merahan, mungkin cedera atau patah tulang atau mungkin ada tulang yang bergeser. Wajahnya meninggalkan bekas luka yang sangat banyak, hingga hidung, dahi dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar yang terus mengalir. Bahkan kelopak matanya pun membengkak hingga membiru dan sedikit mengeluarkan darah.
'Apa harus sampai segitunya, kayak mau mati tu orang atau lagi menghadapi sakaratul maut? Ehh... astagfirullahaladzim, gak boleh gitu Litha' batin Litha yang sangat ngeri melihat preman yang sepertinya memang hampir tiada itu.
"Ampun bos kami tidak tahu kalau perempuan itu adalah kekasih mu, kami sangat menyesali atas perbuatan tadi, kami janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap salah satu preman. Wait! kekasih? Ya sudah biarkan sajalah mereka beranggapan seperti itu.
Lima preman yang masih sanggup berdiri itu terlihat ketakutan dan panik, sampai-sampai wajahnya terlihat pucat basi dan mengeluarkan keringat dingin yang terus menerus mengalir.
"Pergi, bawa ke ahli patah tulang atau IGD," ucap Raka dengan dingin, tanpa nada dan intonasi, sambil menatap preman yang dibuatnya hampir mati itu. Yaa.. Raka adalah pahlawan bagi Litha karena telah menolongnya. Entah bagaimana nasibnya Litha jika tidak ada Raka.
Lima preman tersebut segera pergi meninggalkan tempat itu dan membawa temannya yang tadi dihajar habis-habisan oleh orang yang dipanggil mereka bos.
"Ma... makasih," ucap Litha dengan tubuh yang masih bergetar dan mata yang masih sembab.
Raka tidak merespon ucapan terimakasih Litha, justru dia menarik tangan Litha tanpa permisi dan membawa Litha agar masuk ke dalam mobil sport warna hitam miliknya. Entah mengapa, Litha hanya menurutinya.
**Taman__
Kini Litha dan Raka sedang duduk di bangku taman. Dan Raka yang sedang mengobati luka disudut bibirnya Litha.
__ADS_1
"Awww... sakit, pelan-pelan bisa gak sih," protes Litha yang merasa kesakitan.
"Ini udah pelan," ucap Raka dingin, tanpa ekspresi apalagi intonasi, sambil mengobati luka milik Litha.
"Udah?" tanya Litha, karena Raka sekarang telah membuang kapas dan menyimpan kembali obat yang dipakainya tadi.
Seperti biasa Raka tidak menjawab pertanyaan dari gadis berambut panjang itu. Malahan saat ini Raka kembali menarik tangan Litha.
"Eh.. mau kemana lagi?" tanya Litha.
"Stop!" perintah Litha dan perintah tersebut pun membuahkan hasil, kini Raka berhenti mematung.
"Apa tadi lo harus segitunya, sampai buat preman itu hampir mati, lo gak punya perasaan apa? Mungkin kata orang lo tu terkenal kejam tanpa ampun di dunia bisnis, tapi menurut gue itu salah. Lo.. terkenal kejam bukan cuma di dunia bisnis doang, tapi ternyata lo lebih kejam dari rumor-rumor yang ada di sekolah." ujar Litha dengan nada emosi, karena merasa kasihan pada preman tadi.
Litha itu emang dari sananya baik banget atau emang selalu punya pikiran negatif tentang Raka? Padahal tadi udah dikasarin dan direndahkan harga dirinya sama preman tadi, tapi kenapa masih mikirin nasib preman brengs*k tadi. Itulah yang ada dipikiran Raka.
Apakah Raka melakukan hal yang kiranya kejam itu, karena sangat peduli terhadap Litha. Raka tidak rela jika Litha disentuh orang lain, apalagi preman itu sampai membuatnya terluka dan menangis.
Raka hanya menatap Litha dengan penuh amarah yang sedang ditahan, matanya menatap tajam ke arah Litha. Tentunya hal tersebut membuat Litha takut.
"Jangan takut!" perintah Raka dengan nada dingin, yang menyadari Litha sedang ketakutan. Dan kini Raka mengabaikan rasa amarahnya hanya demi Litha, agar tidak ketakutan dengannya.
"E.. enggak, siapa yang takut?" ucap Litha.
"Ehhh.. mau kemana nih..?" tanya Litha yang masih ketakutan, karena Raka menarik tangan putih itu.
__ADS_1
"Katanya gak takut," jawab Raka dan masih juga dengan nada dingin dan datarnya disertai tanpa ekspresi. Sambil menggandeng tangan Litha dan membawanya masuk ke dalam mobil sportnya.
Mungkin memang dari sananya Raka itu gak bisa berekspresi apa? Itulah yang sekarang mengganggu pikiran gadis bernama Litha.
Selama perjalanan menuju entah kemana, yang pasti hanya Raka dan Allah yang tahu, karena Raka tidak memberitahu Litha. Mereka berdua hanya diam, saling beradu tatapan tanpa suara dengan ekspresi wajah yang datar, dan Raka yang sesekali melihat ke depan agar tidak salah jalan.
**Rumah Keluarga Nagara__
"Ngapain kesini?" tanya Litha agak gugup.
"Gak usah sok be*o," ujar Raka, biasalah. Pastinya dengan nada dingin tanpa intonasi.
Litha sangat kaget, bagaimana mungkin Raka bisa mengetahui rumahnya? Rumah dengan gerbang berwarna putih yang sangat tinggi sekali, disertai beberapa pengawal didepannya, sekarang pengawal tersebut menyadari bahwa ada tuan putri di dalam mobil sport hitam itu. Sehingga para pengawalnya membukakan gerbang yang sangat besar dan tinggi sekali.
Saat mobil yang dinaiki Litha mulai melewati gerbang, para pengawal berbaris rapi di bagian kiri dan kanan berbentuk horizontal sambil tersenyum ramah dan menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan untuk mempersilahkan mobil sport itu masuk ke tempat yang disebut sebagai rumah.
Tetapi rumah itu sangat luas, mewah dan megah, bisa dibilang itu bukan sebuah rumah, tetapi sebuah istana layaknya di kerajaan negeri dongeng.
***
Kini Raka dan Litha telah sampai di depan pintu yang mungkin memang sebuah istana megah.
"Makasih, ta... ta... Eh gak jadi," ujar Litha yang ingin menanyakan sesuatu, tetapi masih bimbang.
Raka hanya merespon perkataan Litha melalui bahasa wajah, yaitu dengan menaikkan salah satu sudut alisnya. Sebenarnya Raka penasaran dengan pertanyaan dari Litha yang belum sempat ditanyakan, dan bahasa yang tidak wajar itu pun dimengerti oleh Litha.
__ADS_1
"Ta... tapi gimana ceritanya lo bisa tahu rumah ini?" itu adalah pertanyaan dari Litha yang tadinya belum sempat ditanyakan karena bimbang.
"Rahasia itu gak akan terbongkar," jawab Raka. Memang entah bagaimana caranya Raka mengetahui rahasia Litha. Tentunya untuk mengetahui tempat tinggal Litha yang seperti istana itu, bukanlah hal yang sulit bagi seorang Raka Adelard Pangestu.