
"Litha Kusuma Jaya Nagara, anak dari ibu Larissa, pemilik sekolah ini," ujar Raka mempertegas identitas asli dari kekasihnya.
Semua tercengang, tanpa terkecuali anggota The Perfect juga sangat terkejut dengan ucapan leader nya itu. Tetapi apalah daya? memang itu kenyataannya. Semua murid percaya dengan ucapan Raka, karena Raka tidak pernah sekalipun berkata bohong. Selama ini Raka selalu mengucapkan sebuah kebenaran, karena Raka sangat benci terhadap kebohongan.
'Jadi selama ini Litha yang gue kira anak orang miskin yang ngemis beasiswa di sekolah elit ini, ternyata dia anak dari pemilik sekolah ini? Pantesan aja dulu waktu gue nyari informasi tentang Litha, pihak sekolah nutupin rapat-rapat identitas aslinya. Dan gak heran kalau dia yakin banget kalau pihak sekolah bakal nurutin perintahnya,' batin Dita.
Dita menelan ludahnya sendiri dan memikirkan bagaimana nasibnya Senin depan, jika sampai Litha bener-bener akan mengeluarkan dirinya dari sekolah ini? Jiper sendiri tuh si Dita, kirain Dita cuman takut sama pak polisi, eh taunya dia juga mengkhawatirkan masa depannya. Dita juga takut kalau orang tuanya marah, karena tidak ada sekolah yang mau menerimanya. Di surat pindah sama raport kan rencananya bakal dikasih peringatan kalau Dita pernah ngelakuin tindakan kriminal.
**Kamar Litha__
"Sorry ya guys, gue gak maksud buat bohongin kalian. Fika gue minta maaf banget sama lo, karena udah nyembunyiin identitas asli gue," Litha merasa bersalah dengan kedua sahabatnya, terutama Fika.
"Gpp kok. Malah gue seneng, ternyata sahabat gue yang satu ini punya sifat yang rendah hati. Gak tukang pamer sama harta orang tuanya," ujar Fika sambil merangkul pundak Litha.
"Syukur deh kalo elo gak marah," ucap Litha sambil tersenyum lebar.
"Sar lo gak m.. ma.. marah kan?" tanya Litha pada Sarah yang hanya diam membisu dan mematung.
Litha pastinya takut dong kalau sahabatnya yang dari kecil itu marah pada dirinya. Tapi ya emang, ini kesalahan Litha yang tidak bicara terus terang kepada kedua sahabatnya. Sarah menatap Litha dengan tatapan tajam seperti seseorang yang sedang marah. Litha pun menunjukkan ekspresi sedih, dia menundukkan kepalanya. Litha belum siap aja kalau melihat Sarah yang biasanya usil dan bar-bar, tetapi sekarang malah diam dan memasang ekspresi marah seperti itu.
"Hhhh enggak kok, becanda kali. Gue gak marah sama elo. Tapi lain kali lo harus cerita sama kita, kita juga pengen denger cerita tentang percintaan lo. Oke!!" seru Sarah. Sarah itu usil binti jahil banget, hampir aja Litha mewek karena ulah Sarah yang hobby nya ngerjain orang.
Krekkk...
__ADS_1
Kebiasaan Umran kalau mau masuk kamar adiknya gak pernah ngetok pintu dulu, main nyelonong masuk gitu aja. Menurutnya gak perlu pakai izin dulu untuk masuk ke kamar Litha, karena ini kamar adiknya sendiri.
Tapi tetep aja Umran salah, gimana pun juga Litha itu perempuan yang pastinya punya privasi!!! Tapi Umran tetep ngeyel gak mau izin dulu, kalau mau masuk ke kamar Litha. Umran pernah bilang, dia bakal izin dulu ke Litha, kalau Litha suatu saat nanti udah punya suami. Ya kalau itu mah wajib izin dulu, kan bahaya kalau sampai kedua mata Umran yang katanya masih suci, melihat sesuatu yang tidak pantas untuk dilihatnya.
Beda cerita kalau Litha yang mau masuk ke kamar Umran, Litha harus izin dulu ke pemiliknya. Menurut Umran, karena dia itu kakaknya Litha, jadi Litha harus menghormati Umran. Hahh dasar Umran diambil enaknya sendiri.
"Ehh lagi pada ngumpul ya?" Umran basa-basi aja tuh, padahal tadi di depan rumah, dia udah tahu kalau ada mobil, pastinya itu mobil temannya Litha dong. Gak mungkin kalau temannya Ayah atau bundanya, kalau sore-sore gini orang tua mereka belum pulang ke rumah, masih sibuk sama urusan masing-masing.
"Ganggu aja, ngapain lu ke sini?" tanya Litha ngegas.
"Besok touring yuk! Dua bocil temen lo ini, ajak sekalian juga gpp," ajak Umran.
"Gue sama Fika udah gede!" seru Sarah sambil menyipitkan kedua matanya. Umran dan Litha terkekeh dengan tanggapan Sarah.
***
Matahari mulai naik, sinarnya menembus gorden jendela dan remang-remang menyilaukan mata, hingga membuat Litha sedikit terganggu. Dengan berat hati gadis cantik itu membuka kedua matanya.
"Bangun woiii..! Mandi cepetan, gue udah siap nih," ujar Umran dengan sangat antusias.
"Terus?" Litha masih malas-malasan itu, masih guling-guling diatas kasur besarnya.
"Lo lupa? Hari ini katanya lo mau ikut gue touring, jalan-jalan pake motor itu lhoh.." jawab Umran.
__ADS_1
"Ohh itu. Lu yang ngajak, bukan gue yang mau ikut. Ohh ya satu lagi, gue ngerti arti dari kata touring, jadi lu gak usah repot-repot jelasin," tutur Litha dengan nada datar, dan masih terbaring di ranjangnya. Dikira Umran, Litha kudet apa? Kan Litha jadi emosi, sebenarnya Litha tu emosi. Tetapi karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, dia jadi males buat ngomong dengan menggunakan nada tinggi.
***
Litha sudah selesai mandi, jadi dia lebih semangat dan lebih fresh dari sebelumnya. Litha terlihat lumayan antusias untuk pergi touring bersama kakaknya. Buktinya Litha kini sudah sangat siap dengan memakai sepatu sneaker, dan celana jeans yang dipadukan dengan kaos putih, dengan jaket jeans yang diikatkan pada pinggangnya.
"Dah siap, yuk berangkat!" pinta Litha, pastinya semangat dong.
"Semangat amat? perasaan tadi lu kayak terpaksa mau ikut gue," ujar Umran keheranan. Litha hanya menanggapinya dengan tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi putihnya.
"Temen lu mana? Jadi ikut nggak?" tanya Umran.
"Gak jadi katanya," jawab Litha. Sebenarnya semalam Fika juga bilang ikut touring ke Umran. Tapi Fika gak jadi ikut karena Minggu ini adalah jadwal keluarganya untuk quality time bersama. Kalau Sarah? Dia itu orangnya mageran, jadi dia lebih memilih menghabiskan akhir pekannya dengan rebahan di kasur kesayangannya.
"Kita jalan-jalan kemana sih? Tumben-tumbenan lu ngajak gue jalan. Ohh gue tau nih, pasti semalem lo abis nonton sinetron yang ada adegan sayang-sayangan antara kakak dan adek kan? Terus lu mau hubungan kita juga harmonis, kayak di sinetron gitu," tanya Litha.
"KITA?" Umran menaikkan sebelah alisnya ke atas.
"Napa lu? Kaget ya, gue bisa tau isi pikiran lo?" tanya Litha sambil senyam-senyum sendiri ga jelas. Litha merasa bangga sendiri tuh, karena dia berpikir kalau tebakannya tadi benar.
"Semalem lo gak chat ke Raka, kalau kita mau pergi?" tanya Umran yang entah kenapa tiba-tiba penasaran dengan hubungan Litha dan Raka.
"Enggak, emang kalau udah punya pacar harus laporan ya?" tanya Litha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Jadi selama kalian pacaran, kalian gak pernah chatingan atau telefonan gitu?" Umran kaget dong, masak orang pacaran gak pernah sekalipun ngasih kabar, ya walaupun sekedar menanyakan udah makan atau belum?