Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Sensi


__ADS_3

Ganteng banget sih lo!!! Waktu nyokap lo hamil elo, ngidam apa coba? Kok bisa seganteng itu sih...' batin Litha absurd.


"Oh ya tapi bunda masih penasaran. Pasti ada alasannya kan, kenapa kamu meluk Tatha di sekolah?" celetuk bunda Larissa.


Ayah menggaruk tengkuk lehernya yang tidak terasa gatal, karena ayah tidak mengerti apa-apa. Ayah ingin mengeluarkan suaranya, namun sudah dicegah oleh bunda.


"Stop. Ayah diam dulu ya!!! Nanti bunda ceritain semuanya," ujar bunda yang diangguki oleh ayah.


Raka menoleh ke samping, melihat Litha. Ceritanya Raka mau minta izin dulu ke Litha, eh tapi Litha masih terdiam dengan lamunannya.


"Raka," panggil bunda lembut.


"Karena Raka loncat kelas bun. Raka lupa belom cerita ke Tatha terus Tatha tahu sendiri. Dan marah ke Raka," jelas Raka.


Umran udah cekikikan gitu, ternyata adeknya itu tukang ngambek juga kayak Sarah. Lhoh... kok ke Sarah sih? Padahal diantara Umran dan Sarah gak ada hubungan spesial, pikir Umran. Ralat belom ada ya guys, bukannya gak ada!!!


Bunda menggelengkan kepalanya sembari menatap anak bungsunya yang kini sedang sibuk dengan lamunannya.


"Tha," panggil bunda namun tak ada respon dari sang pemilik nama asli Litha Kusuma Jaya Nagara.


"Tatha," panggil bunda sekali lagi, tapi tetep tak ada respon.


"Litha Kusuma Jaya Nagara," ucap bunda Larissa dengan nada yang sudah naik satu oktaf. Dan akhirnya suara tersebut mampu membuyarkan lamunan Litha.


"Apa bun?" tanya Litha.


"Kamu mikirin apa sih?" tanya bunda.


"Jadi bunda nyebut nama panjang Tatha cuma buat nanyain lagi mikirin apa?" tanya Litha.


Bunda Larissa menggelengkan kepalanya seraya menghelai nafasnya, lalu menepuk jidatnya sendiri.


"Udah gak usah bahas itu, yang penting bunda udah tau kebenaran tentang kejadian itu. Mending kamu sama Raka cepet berangkat ke sekolah. Kalian itu udah telat, nanti bunda telpon satpam biar bukain gerbang untuk kalian," jelas bunda Larissa.


***


Kini mobil mewah Raka melaju dengan kecepatan tinggi. Walaupun tadi bunda sudah memberitahu satpam sekolah agar tetap membukakan gerbang untuk mobil Raka, tetapi itu tidak membuat Raka menjadi santai-santai saja.


Karena Raka tidak mau malah menjadi seenaknya sendiri dengan memanfaatkan kebaikan dari pemilik sekolah tersebut.


"Kak," panggil Litha, lalu Raka menoleh ke samping melihat gadis yang memanggilnya, tetapi hanya sekilas. Karena saat ini mobil mewah Raka melaju kencang sekali.


"Tadi maksud bunda apa sih?" tanya Litha.


"Yang mana?" tanya Raka balik.


"Yang bunda udah tau kebenarannya itu? Emang kebenaran apa?" tanya Litha yang memang tidak tahu apa-apa. Ya salah sendiri juga, tadi otaknya Litha malah traveling kemana-mana, alias mikirin kegantengan Raka wkwk...


"O," jawab Raka singkat binti ngeselin pakai banget pokoknya.

__ADS_1


Litha melotot ke arah Raka yang masih fokus dengan jalanan. "Kok O doang?" tanya Litha ngegas.


"Terus gimana?" tanya Raka tanpa menatap Litha. Jangankan menatap, melirik aja enggak.


"Ya jawab lah kak. Kenapa bunda tadi bilang gitu?" tanya Litha.


"Kamu gak usah tau, gak penting juga," jawab Raka sembari menghentikan kendaraannya.


"Kok berhenti kak?" tanya Litha yang masih setia menatap kekasihnya.


"Kalo gak berhenti gedung sekolah bisa rusak, mau?" tanya Raka. Padahal kalau mobilnya tetap ditancap gas nya, bukan hanya gedung sekolah saja yang rusak, mobil sport mewah milik Raka juga bisa hancur.


Litha melihat ke sekeliling kaca daerah sekitar tempat mobil itu berhenti. Dan benar saja, ternyata mobil mewah Raka sudah terparkir rapi di parkiran sekolah. Bahkan Litha tidak tahu kapan mobil ini melewati pak satpam yang sedang menjaga gerbang sekolah?


Rasanya Litha baru saja masuk mobil dan hendak bertanya kepada Raka tentang ucapan bunda tadi. Tapi ini sudah sampai saja, pikir Litha. Ya itu semua karena skill keahlian Raka yang mengendarai mobil, sudah tidak bisa diragukan lagi.


"Wihhh... Kak Raka keren banget," ungkap Litha yang hanya mendapat senyum tampan dari Raka.


***


Bel istirahat berbunyi nyaring, semua murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Litha berjalan menuju ke toilet dengan raut wajahnya yang terlihat kesal.


Tak sengaja Arkan dan Jordy berpapasan dengan gadis cantik yang saat ini terlihat sangat lesu dan kesal.


"Lithaaa..." sapa Arkan dengan senyum tampannya begitu juga dengan Jordy.


Tetapi Litha tidak menanggapi sapaan dari kakak kelasnya tersebut. Seakan-akan telinga Litha menjadi tuli, Litha melewati Arkan dan Jordy tanpa memperhatikan kedua cogan tersebut.


"Napa tu bocah?" tanya Arkan penasaran.


Pasalnya Arkan cukup tahu, seorang Litha tidak akan mungkin berperilaku sombong dan cuek seperti pacarnya, siapa lagi kalau bukan Raka. Ralat, Raka itu bukan sombong, tapi emang dari sononya irit ngomong. Mirip-mirip lah kalau pas lagi tanggal tua, harus irit banget pokoknya.


"Ada masalah kali sama si kulkas," jawab Jordy mengira-ngira sendiri.


Si ceroboh dan bule nyasar itu menuju lantai tiga, dimana ada kelas Raka yang sekarang berada di kelas tiga. Yups Raka hari ini gak ke basecamp biasanya, tadi doi bilangnya masih sibuk mengurus pekerjaannya.


Sampai di kelas yang mereka tuju, tampak suasana kelas begitu senyap. Padahal banyak para siswi yang masih berada di bangku tempat duduknya masing-masing. Sedangkan para siswa tidak ada, hanya ada satu siswa saja, siapa lagi kalau bukan si ganteng beruang kutub.


Biasanya itu yang paling banyak ngomong kan cewek-cewek, tapi ini kok sepi banget, gak ada yang bersuara? Mereka pada nafas aja tu sampai kedengaran lhohhh... Saking sunyinya wkwk.


Jika kalian menebak para siswi tersebut sengaja tidak keluar kelas karena ingin melihat lebih lama ketampanan Raka yang terbilang hampir sempurna, maka tebakan kalian benar. Kapan lagi coba bisa cuci mata tanpa harus mencari kesana kemari. Toh juga ini gratisan, tanpa dipungut biaya sepeserpun.


Saat para siswi tersebut melihat keberadaan Arkan dan Jordy, mereka semua langsung mengalihkan pandangannya ke arah selain Raka. Kemana aja pokoknya, asalkan gak ke arah Raka! Mereka tu malu. Udah kelas 12, bukannya fokus belajar mempersiapkan ujian kelulusan, malah fokus melihat pemandangan yang menyegarkan mata.


Arkan dan Jordy menyunggingkan senyumnya melihat kejadian itu. Bagi mereka berdua, sudah biasa jika sahabatnya selalu menjadi pusat perhatian banyak orang terkhusus bagi para kaum hawa.


Ada sebagian siswi yang langsung buka HP, ada sebagian siswi yang buka buku. Ceritanya mau kelihatan rajin belajar gitu, biar ada salah satu dari tiga cogan itu yang tertarik padanya. Ehhh bener dong, Arkan tertarik sama satu cewek yang lagi megang buku yang digunakannya untuk menutupi wajahnya.


Tapi Arkan tertarik bukan karena suka atau sejenis itu, melainkan karena buku yang dipegang cewek itu kebalik. Mungkin saking gugupnya kali ya? Apa lagi cewek itu berada tetap di samping Arkan dan Jordy.

__ADS_1


Yups cewek itu duduk di kursi guru, entah apa yang dilakukannya? Menduduki tempat guru? Ahh... Sudah lah, biarkan saja. Itu bukan urusan Arkan dan Jordy, lagi pula mereka berdua juga tidak mengenal gadis itu.


"Kebalik mbak," celetuk Arkan sembari membalikkan buku yang dipegang gadis di sampingnya itu. Tentunya hal tersebut membuat gadis itu sangat malu bukan main.


"Astaga," gumam gadis tersebut.


Arkan tersenyum miring setelah mendengarkan gumaman dari gadis yang menurut Arkan tidak hanya cantik, tapi juga lucu karena kekonyolannya yang membaca buku dengan terbalik. Sedangkan Jordy tidak terlalu memperdulikan interaksi antara Arkan dan gadis disampingnya.


"Woi Rak," seru Jordy yang tak mendapat respon apapun.


Tangan Raka masih sibuk menari di atas keyboard tablet nya, sepertinya sedang mengirimkan pesan untuk seseorang. Karena tak mendapat respon apapun dari Raka, Jordy menghampiri meja Raka dengan menarik tangan Arkan.


Saat sampai di dekat meja Raka, Arkan segera melepas paksa tangan Jordy yang tadi menariknya.


"Ngapain gandengan segala? Kek mau nyebrang aja lo," ucap Arkan sewot. Tak ada jawaban dari Jordy, karena Jordy memang sangat malas untuk membahas persoalan kecil.


"Woi..." Brak... Jordy sedikit teriak dan sedikit menggebrak meja Raka. Namun hasilnya nihil, tetap tak ada respon dari Raka.


Jordy menatap Arkan, lalu Arkan mengarahkan dagunya ke Raka. Arkan mengisyaratkan Jordy untuk langsung berbicara tentang tujuannya kemari, namun Jordy tak mengerti isyarat dari Arkan.


"Langsung ngomong aja," ungkap Arkan yang diangguki oleh Jordy.


"Lo lagi ada masalah sama Litha?" tanya Jordy to the point. Kalau Raka diajak basa-basi mah Jordy udah yakin pasti malah dicuekin. Tadi di panggil aja gak di jawab, apa lagi buat basa-basi.


Sedangkan mata Arkan masih sibuk mencari keberadaan sosok gadis cantik yang menurutnya juga lucu. Yups Arkan kepo tuh sama cewek yang duduk di kursi tempat guru dan bukunya tadi kebalik.


"Emang kenapa?" tanya Raka balik. Hufh... Mode menyebalkannya mulai lagi nih... Giliran soal Litha aja, langsung angkat suara, dasar bucin.


Jordy menoleh ke arah Arkan yang lagi clingak-clinguk ga jelas. Jordy maunya itu giliran Arkan yang ngomong, kan gak fer kalau Jordy terus yang ngomong sama makhluk senyebelin Raka.


Jordy menepuk pundak Arkan, sang empunya menoleh. Arkan yang juga lumayan lagi males ngomong, dia mengisyaratkan seperti berkata, 'Pa an?' Jordy juga jadi ikut-ikutan pakai bahasa isyarat gitu, 'Lu aja yang ngomong ke kulkas,' Dan yahh Arkan dengan berat hati menuruti perintah si bule nyasar.


Raka sedari tadi memang mengerti interaksi diantara kedua sahabatnya. Tapi Raka lebih memilih mengurus pekerjaannya saja, dari pada ikut campur dalam urusan yang tidak penting menurutnya. Raka sedang mengecek data-data penting yang tadi telah dikirimkan sekretaris nya.


"Tadi kita papasan sama Litha, terus kita sapa. Tapi DOI malah cuek, kelihatan lagi bad mood banget gitu," jelas Arkan.


"Dia pacar gue, bukan DOI lo," ketus Raka sembari menghentikan aktivitasnya, Raka menutup tab yang tadi digunakannya untuk keperluan mengurus pekerjaannya.


"Serah lo," ucap Arkan tak kalah ketus dari Raka.


Jordy hanya terkekeh, ternyata seorang Raka yang sedingin salju bisa sensi juga.


Raka beranjak dari tempat duduknya, "ke arah mana dia?" tanya Raka.


"Kayaknya ke toilet," jawab Jordy.


Raka segera keluar dari kelasnya tanpa menghiraukan kedua sahabatnya yang memberikan informasi penting menurutnya. Sungguh kelakuan yang tak patut dicontoh, bukannya bilang makasih dulu, malah langsung pergi. Tapi bukan Raka namanya kalau gak irit ngomong and gak sedingin es batu gitu.


"Emang kampr*t tu anak," ucap Jordy. Sedangkan kini gantian Arkan yang terkekeh.

__ADS_1


BTW maaf ya Author baru bisa upload. Biasa, tugas sekolah lagi nyerang Author, apa lagi nyerangnya pada kroyokan gitu wkwk...


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, and vote 🥰


__ADS_2