Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Menjamin


__ADS_3

Litha berjalan menuju basecamp The Perfect bersama Sarah. Fika? Dia sudah dari tadi ke sana, bahkan tepat setelah bel istirahat berbunyi dia langsung capcusss ke sana.


"Gue belom pernah lhoh ke basecamp The Perfect ma.." ucap Sarah yang dipotong oleh Litha.


"Udah tau," ketus Litha.


"Ikh... Apaan sih lo, gue tu mau bilang makasih karena lo udah ngajak-ngajak gue. Tapi nggak jadi deh.. Lo ngeselin sih," sahut Sarah.


"Ya habisnya kak Raka bikin gue bete," balas Litha.


Tadi pagi Umran memberitahu Litha bahwa Raka sedang ada urusan, dan dia tidak bisa menjemput Litha untuk berangkat sekolah bersama.


Dari awal-awal pacaran sampai sekarang baik Raka maupun Litha tidak pernah saling berkabar untuk hal yang tidak penting. Tapi anehnya kenapa hari ini Raka malah memberi pesan kepada Umran, bukan Litha? Akh... Litha sangat kesal jika mengingatnya.


"Terus gue dijadiin sebagai pelampiasan amarah lo? Dih ogah gue," kesal Sarah.


**Basecamp The Perfect__


Litha membuka pintu ruangan yang mirip gudang tersebut. Sarah terkejut, ternyata isinya sangat jauh berbeda dari bagian luarnya yang terlihat seperti ruangan terbengkalai.


Sarah masuk ke dalam tanpa permisi dan tanpa memperdulikan Litha yang masih diambang pintu.


"Apaan?" sewot Sarah pada semuanya, karena mereka memandang Sarah yang langsung duduk di sofa samping Fika.


"Kenapa? Nggak boleh? Gue aduin kak Raka mau?" ancam Sarah.


"Nggak pacarnya, nggak temen pacarnya, beraninya ngadu-ngadu," sindir Arkan membuat Litha memutar bola matanya jengah.


"Santai aja. Lo sekarang temen kita juga," ujar Jordy.


"Gue suka gaya lo, bangga gue punya mantan kayak elo," sahut Leon yang malah dihadiahi toyoran oleh Fika.


Sarah mengacungkan jempol untuk mereka berdua, dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Leon yang ceplas-ceplos.


"Eh lo yang mengang buku, terima nggak kalo gue disini?" tanya Sarah pada Danil yang hanya diam saja dari tadi.


"Kalo gue gak terima, emang lo mau keluar?" tanya Danil.


"He he enggak," jawab Sarah.


"Kak Raka kemana?" tanya Litha masih diambang pintu.

__ADS_1


"Lo yang pacarnya, malah tanya ke kita," jawab Leon.


"Gue serius," sahut Litha.


"Kenapa gak telfon sih? Kayak manusia jaman purba aja lu," cibir Arkan.


"Gak diangkat," ucap Litha dengan kesal.


"Biar gue yang coba telfon, siapa tau diangkat," songong Arkan dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Durtd... Durtd...


Suara dari ponsel Arkan yang menunjukkan panggilannya telah masuk ke ponsel Raka.


"Eh.. diangkat," ucap Arkan setelah selang beberapa detik. Litha segera menyambar ponsel Arkan tanpa meminta persetujuan dari pemiliknya.


"Hallo.." suara dari seberang sana.


"Ada dimana?" tanya Litha tanpa basa-basi.


"Eh.. kok kamu?" heran Raka yang sangat hafal dengan suara gadis cantik itu.


"Di kantor," jawab Raka.


"Jangan kemana-mana sebelum aku kesana!" tegas Litha. Yaps Litha mengetahui alamat kantor yang dimaksud oleh Raka, meskipun Litha belum pernah berkunjung ke tempat itu. Pasti manusia dingin itu berada di perusahaan cabang yang dikelolanya.


"Kamu kan masih sekolah," sahut Raka.


"Kamu aja bisa bolos, masak aku yang anak pemilik sekolah ini nggak bisa?" ketus Litha yang terdengar agak sombong. Jujur Litha tu nggak sadar-sadar amat kalau ngomong gitu. Maklumin aja, namanya juga lagi emosi.


"Aku udah izin Tha," ucap Raka.


"Aku nggak nanya," ujar Litha dengan nada yang tidak menyenangkan.


"Inget ya jangan kemana-mana. Awas aja kalo aku nyampe sana, tapi kamu malah gak ada!" ancam Litha lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


**Kantor__


"Saya akan mencairkan dana lagi untuk pembangunan proyek Anda. Jika Anda menjamin anak Anda, tidak akan menggangu kehidupan Litha," jelas Raka kepada Pak Dika yang kini menemui Raka di ruang kerja Raka, lebih tepatnya di perusahaan cabang yang Raka pimpin.


Yah Dika adalah Papa Dita. Sebelumnya Pak Dika sudah beberapa kali datang ke perusahaan ini, namun selalu tidak bertemu dengan Raka, ya karena Raka jarang datang ke kantornya. Bahkan Pak Dika terlalu takut untuk bertemu dengan Pak Baskara yang pasti sering berada di kantor pusatnya.

__ADS_1


"Terimakasih banyak. Saya akan mendidik anak saya dengan baik," sahut Pak Dika tanpa keraguan.


"Apakah Anda tau anak bungsu dari Kusuma Jaya Nagara dan Larissa Nagara?" tanya Raka menatap lurus orang yang berada di depannya, dengan meja sebagai pembatasnya.


"Apakah ada hubungannya dengan saya?" tanya balik Pak Dika.


Semua yang berada di dunia bisnis pasti mengenal sosok Kusuma Jaya Nagara, begitu pun dengan Dika Tabitha yang ingin sekali menjalin kerjasama dengan Nagara Group. Tapi sayang sekali, Nagara Group selalu menolaknya, entah apa alasannya Pak Dika tidak tahu menahu.


"Tentu ada. Dia adalah Litha Kusuma Jaya Nagara. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan keluarga Anda, jika saja Pak Kusuma mengetahui masalah yang menimpa putri satu-satunya di keluarga Nagara," Raka tersenyum licik.


Sedangkan Pak Dika terkejut bukan main, dia menelan ludahnya sendiri.


"Dan Papa saya sudah kenal dekat dengan Litha, anak dari sahabat lamanya. Tentu saja Papa saya juga menyayangi anak dari sahabatnya tersebut," senyum Raka. Tidak, untuk kali ini Raka tersenyum tampan, tetapi sangat mengerikan bagi Pak Dika.


Pak Dika baru tahu bahwa Pak Baskara adalah sahabat dari Pak Kusuma. Bulu kuduknya berdiri, Pak Dika mengetahui rumor yang beredar bahwa kedua pengusahawan tersebut terkenal kejam tanpa ampun dalam dunia bisnis.


Kejam dalam artian mereka tidak akan segan-segan untuk menjatuhkan lawannya jika lawannya itu berbuat curang. Kejam bagi para koruptor yang menjadi pegawai nya serta koruptor yang menjalin kerjasama dengan perusahaannya. So bagaimana dengan seseorang yang berniat menghancurkan anaknya? Habis sudah riwayat keluarga Tabitha.


But lain cerita jika dengan orang yang pantas untuk dihormati. Kedua pengusahawan tersebut akan bersikap ramah dan baik.


"Kira-kira bagaimana reaksi dari Pak Kusuma dan Pak Baskara jika mengetahui ada seseorang yang berniat menghancurkan anak bungsunya dan calon menantunya?" tanya Raka yang sebenarnya sudah mengetahui jawabannya.


Pak Dika menelan ludahnya bulat-bulat, keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya. Ia menyembunyikan tangannya yang bergetar hebat saking gugupnya, dibalik meja.


"Ss... Saya mohon jangan beritahu masalah ini kepada mereka," ujar Pak Dika.


Sejujurnya tanpa Pak Dika memohon pun, Raka juga tidak akan memberitahu masalah ini kepada Papanya dan calon mertuanya. Raka hanya ingin menakut-nakutinya saja, agar Pak Dika benar-benar akan menuruti permintaan Raka, agar Pak Dika dapat memastikan dan menjamin bahwa putrinya tidak akan menggangu kehidupan Litha lagi.


"S.. ss.. saya kemari untuk meminta maaf, bb.. bb.. bukan un.." ucap Pak Dika terpotong.


"Saya tahu," sela Raka.


"Anda juga menginginkan Adelard Group untuk berinvestasi dalam perusahaan Anda lagi bukan?" tebak Raka yang diangguki oleh Pak Dika.


"Bawa anak Anda untuk pergi menjauh dari kehidupan Litha!" ujar Raka.


"Apa itu artinya Dita harus pindah sekolah juga?" tanya Pak Dika yang sejujurnya ragu.


"Apa saya harus menjawabnya?" senyum Raka yang membuat jantung Pak Dika tak karuan.


"Euh... Tidak perlu. Saya mengerti," jawabnya dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2