Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Diluar Dugaan


__ADS_3

"Anji*g lo," umpat Via sangat kesal kepada Litha.


"Apa? Suaranya kurang gede, kerasaan dikit dong kalo ngomong," Litha tertawa renyah melihat Via menahan amarahnya.


Via berdiri dan menarik kerah jaket jeans Litha. "Lo pikir gue takut mentang-mentang lo pernah jadi petinju kecil?"


Via tersenyum sinis, "Hm petinju kecil. Iya juga ya, ngapain gue harus takut sama lo,"


"Dimana Oma Rahma?" Litha menekankan disetiap kata yang terlontar dari mulutnya.


Via melepaskan cengkramannya pada kerah jaket Litha saat menyadari ponselnya menyala, gadis itu melangkah mundur melihat layar handphonenya yang tertera notifikasi chat dari kakaknya yang mengatakan bahwa ia sudah mengirimkan bala bantuan untuk Fani. Membaca notif tersebut Via tersenyum miring.


"Tuh disitu," Via mengarahkan dagunya ke salah satu ruangan di belakangnya.


"Tapi sayang kuncinya ada di gue," tangan Via mengayunkan kunci ke kanan kiri.


"Kasih gue!" Tangan Litha terulur.


"No! Big no!" Via menaruh kuncinya ke dalam saku celana pendeknya.


Tatapan Litha tajam melangkah maju, "Dengan terpaksa gue harus pake cara kekerasan,"


Via mulai panik, semakin ia mundur maka Litha semakin melangkah maju. "Jangan sentuh gue!" Via menunjuk Litha dengan jari telunjuknya.


Bugh...


Pukulan kuat melesat dipipi Via yang mulus, membuat empunya terjatuh ke lantai. Darah segar keluar dari sudut bibirnya, pipinya nampak merah membiru.


Litha terus memaksa merogoh saku celana Via yang memberontak dilantai. "Dapet," kini giliran Litha yang mengayun-ayunkan kunci dijari telunjuknya.


Via tersenyum lebar melihat pasukan yang dikirim Fandy telah datang tepat dibelakang Litha. Pintu apartemen yang masih terbuka membuat orang-orang suruhan tersebut masuk dengan mudahnya tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


Via berdiri dan mendorong tubuh Litha hingga Litha kehilangan keseimbangan. Via tersenyum puas melihat Litha yang terkejut karena tubuh mungilnya mendarat di tubuh orang-orang berbadan besar.


Orang-orang berotot tersebut dengan cekatan langsung memegang kedua tangan Litha. Dengan mudahnya Via mengambil kuncinya kembali.


Via menyuruh delapan laki-laki berbadan kekar tersebut menunggu diluar saja untuk berjaga-jaga. Toh Via hanya membutuhkan dua laki-laki untuk memegang sisi tangan kanan dan kiri Litha.


"Jangan coba-coba berani lawan si kembar Fandy dan Fani," Via berbisik di telinga Litha.


Tanpa aba-aba Via menampar pipi Litha tak kalah kuat saat Litha menonjok pipi Via tadi. Mungkin jika tangannya tidak dipegang oleh dua laki-laki itu, Litha sudah jatuh ke lantai, akibat dari tamparan Via yang sangat kuat.


Via mencengkram erat dagu Litha, "Nonjok satu kali ke Fani, dapet balesan lebih dari seratus kali rasa sakitnya," Via menampar lagi pipi Litha disisi sebelahnya yang masih berwarna putih mulus.


"Hajar anji*g kecil ini sampai pingsan," Fani memberikan perintah kepada bawahan Fandy.


Tanpa menunggu jawaban Via menaruh kunci di atas meja, kemudian melangkah pergi ke dapur untuk mengurus tenggorokannya yang terasa kering dan haus. Di dalam dapur Fani senyum-senyum sendiri, ia tidak sabar melihat Litha yang pasti sudah babak belur tidak berdaya.


Kaki Litha terangkat menginjak kuat kaki orang di kanannya bersamaan dengan itu mulutnya terbuka lebar menggigit orang di bagian kirinya. Sementara yang kakinya diinjak masih loncat-loncat kesakitan, Litha langsung menendang bagian int*m laki-laki yang berada di kirinya.


Litha mengambil kunci di atas meja, langsung membuka pintu dan mendapati Oma yang mulutnya tertutup dan tangan serta kaki yang terikat. Litha membuka lakban dan ikatan tali di tangan Oma.


"Litha awas!" Seru Oma.


Bugh...


Sayang sekali Litha sudah jatuh dalam pelukan Oma. Orang berotot yang terkena pukulan di perut membalas menendang punggung Litha bagian atas, sehingga sangat terasa sakit di pundak gadis tersebut.


Oma memegang kedua sisi wajah Litha, "Kamu gak papa?" Oma mengusap pipi Litha yang masih memerah.


Litha menggeleng langsung berdiri dan menyerang balik orang berbadan besar tersebut. Litha akui kemampuan bela dirinya tidak dapat mengimbangi dan mengalahkan dua orang sekaligus berbadan besar seperti mereka, jika satu orang mungkin Litha menyanggupinya. Namun sebisa mungkin Litha bertahan untuk menguras habis dulu tenaga mereka berdua, barulah Litha akan melumpuhkan mereka.


Oma meringis memegang bagian tubuhnya di setiap Litha mendapatkan pukulan di bagian tubuh tersebut. Oma tidak menyangka gadis yang ia anggap manja, lemah dan lembek ternyata memiliki kemampuan yang berbanding terbalik dari wajah polosnya yang manis dan cantik

__ADS_1


Prang...


Gelas kaca yang dibawa Fani terjatuh hingga pecah. Mata Fani menatap Oma yang berdiri disudut ruangan dengan keadaan lemah karena tenaganya terkuras akibat memberontak dan berteriak-teriak sejak tadi siang.


Litha yang sedang memelintirkan tangan dari satu yang tersisa, menoleh tersenyum manis kepada Fani dengan wajah dan tubuh yang dipenuhi banyak luka, bahkan kedua sudut bibir Litha mengeluarkan darah. Tidak hanya itu, hidung Litha juga mengeluarkan darah karena bertahan dari pukulan dua laki-laki berbadan kekar.


Krek...


Suara tulang-tulang yang bergeser terdengar diiringi dengan suara teriakan meminta tolong kepada Fani, sedangkan orang suruhan yang satunya lagi sudah tidak sadarkan diri.


Via melangkah mundur, dia mulai panik bingung harus berbuat apa. Pasalnya pintu apartemen tertutup, dan ini apartemen mewah, mau teriak-teriak sampai lebaran monyet orang-orang bawahan Fandy yang ada di luar tidak akan mendengarnya.


Fani mengambil pecahan kaca dari gelas yang ia jatuhkan tadi. Tangannya terulur mengancam Litha, "Jangan macem-macem,"


"Selama seminggu lebih gue diem bukan berarti gue takut sama lo," ujar Litha menahan emosinya.


Litha mengingat akhir-akhir minggu ini banyak teror dari seseorang yang mengirimkan paket berisi tulisan untuk menjauhi Raka, yang didalamnya juga terdapat binatang berbahaya dan menjijikkan seperti tikus, ular, ulat dan sebagainya.


Tanpa ada nama dari sang pengirim paket, Litha sudah tahu jika teror tersebut ialah ulah Fani, namun Litha tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk Raka. Selain Litha hanya Mbok Inah yang mengetahui hal tersebut, karena yang menerima paket selalu Mbok Inah.


"Kenapa lo rela ngelakuin ini semua demi Oma? Dia udah jahat sama lo Tha, bahkan dia mempermalukan lo di acara pertunangan Kakak lo sendiri," Fani mencoba mencuci otak Litha.


"Karena gue tau lo udah menghasut Oma Rahma agar membenci gue. Sama halnya dengan apa yang lo lakuin detik ini juga ke gue," ujar Litha membuat Fani tersenyum sinis. Pantas saja Raka mencintai gadis itu, ternyata Litha bukan tipe wanita yang mudah terhasut.


Mata dan hati Oma terbuka lebar mendengar penuturan Litha, membuat Oma semakin merasa bersalah terhadap Raka dan Litha. Orang yang dianggapnya baik ternyata memiliki hati yang busuk, sedangkan orang yang dianggapnya buruk ternyata jauh lebih baik dibanding diri Oma sendiri. Oma kecewa dengan dirinya sendiri karena mudah tertipu dengan ucapan manis Via.


Aksi Litha yang pemberani dan mampu melawan dua orang berbadan besar sungguh diluar dugaan Oma dan Via, serta jangan lupakan Fandy yang sempat terkejut juga melihat kemampuan Litha mengendarai mobil.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan vote. Tambahkan karya ini dalam favorit juga ya❤️

__ADS_1


__ADS_2