Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Palak


__ADS_3

Tiga gadis cantik berjalan setelah menyelesaikan ujian dihari pertamanya. Litha tersenyum lebar hingga kedua matanya melengkung membentuk bulan sabit.


"Napa lu? Masih sehat kan?" Tanya Sarah yang jatohnya malah ngatain.


"Enak aja," kesal Litha membuat Sarah dan Fika tertawa.


"Dijemput sama pangeran yah? Ah.. Cie.. Cie.." Goda Fika dengan menyenggol lengan Litha.


"Gue juga udah ditungguin sama pangeran gue,"ucap Fika yang kali ini kesannya malah menyindir Sarah.


Sarah memincingkan matanya pada Fika yang tertawa.


"Noh lihat gue juga ada yang jemput," Sarah menunjuk dengan dagunya ke arah sebuah mobil mewah mini bus berwarna putih yang berhenti tepat di belakang mobil sport milik Raka.


"Gila gede bener tu mobil. Mobil khusus jemputan elo? Kayak anak SD aja lo," Fika menatap kagum dengan kemewahan mobil tersebut, warnanya masih kinclong cling-cling.


"Kalau gua anak SD, berarti gue masih imut dong," sahut Sarah terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


"Bukan imut, tapi kurang pinter karena gak naik kelas. Ya kali udah segede gini masih SD," sahut Litha membuat Sarah cemberut. Litha dan Fika terkekeh, cewek tomboy dan bar-bar macam Sarah ternyata bisa sok imut juga wkwk.


"Keluarga lo beli mobil baru Sar?" tanya Fika yang seketika membuat Sarah menarik kedua sudut bibirnya.


Litha dan Fika saling pandang, heran dengan Sarah yang tiba-tiba senyum sendiri. "Woi..." Seru Litha membuyarkan lamunan Sarah.


"Yang beli keluarga calon pendamping hidup gue dan tu mobil emang khusus jemput gue," Sarah senyum-senyum ga jelas.


Fika dan Litha saling pandang lagi, kemudian tertawa melihat tingkah Sarah yang mirip orang rada-rada. Whahaha tawa mereka berdua pecah.


"Kenapa? Ngetawain gue?" Tebak Sarah yang langsung diangguki oleh Litha dan Fika, tanpa ada rasa takut-takutnya sama sekali.


"Gue aduin calon gue, baru tau rasa lo," sahut Sarah dengan bersekedap.


Litha dan Fika kembali saling pandang, mengode dengan isyarat mata untuk merencanakan sesuatu. "Kita aduin balik ke pacar kita, wekkk," ucap Litha dan Fika bebarengan, lalu kompak menjulurkan lidahnya mengejek Sarah, dan segera berlari menuju tujuannya masing-masing sebelum macan betina itu ngamuk.


Fika menuju parkiran menghampiri Leon, sedangkan Litha berlari ke arah luar gerbang menuju mobil si ganteng.


Sebelum masuk ke mobil Raka, Litha sempat memperhatikan mobil yang ada dibelakang mobil Raka. Litha merasa tidak asing dengan bentuk dan plat nomor kendaraan tersebut, tapi dia lupa pernah melihat dimana?

__ADS_1


"Tha.." Raka memanggil gadis itu agar segera masuk ke dalam mobilnya.


Litha melangkah membuka pintu mobil. Sesampainya di dalam mobil, Litha masih menoleh ke belakang. Gadis ini tersenyum miring saat netranya menangkap sosok pemuda yang ia sangat kenali sedang duduk sebagai pengemudi mobil mewah mini bus tersebut.


Baiklah sekarang Litha mengingat pernah melihat mobil tersebut di handphone nya sendiri beberapa hari yang lalu.


"Kenapa?" Heran Raka.


"Gpp," jawab Litha tersenyum kepada Raka, lalu membenarkan posisi duduknya, menghadap ke depan dan menarik seatbelt.


"Nih.." ucap Raka sembari menyodorkan sebuah es krim rasa cokelat kepada Litha.


Bukannya cepat mengambil es krim, Litha malah tersenyum cukup lama memandang wajah kekasihnya.


"Cepet ambil, terus makan, udah mau leleh ini," ujar Raka membuat Litha tersentak.


"Eh iya hehe," Litha mengambil alih es krim yang ada digenggaman Raka.


Raka melajukan mobilnya, "Kamu tadi lama sih makanya es krim udah leleh," sahut Raka sesekali menoleh melihat Litha yang memakan es krim sangat lahap.


**RSJ__


Seorang wanita cantik bertubuh semampai berjalan dengan langkah cepat sembari menyeka air mata yang tidak bisa dibendungnya lagi. Setiap kali diusap, air matanya keluar lagi.


Dia melihat dari kaca kecil di pintu salah satu ruangan, yang dihuni oleh seorang pemuda yang sangat ia sayangi. Gadis cantik tersebut sudah banjir air mata melihat Fandy yang hanya diam termenung.


Merasa ada yang mengawasinya, Fandy menoleh ke arah pintu. Matanya membulat sempurna, lalu ia mengedipkan matanya beberapa kali, mengecek apakah yang dilihatnya sebuah kenyataan atau hanya halusinasi saja.


"Fani," ucap Fandy melihat wanita yang sedang menatapnya sambil menangis dibalik pintu tersebut.


Fandy berlari menuju pintu, mata Fandy berkaca-kaca melihat adik kembarnya yang kini sudah tidak terlalu mirip dengan dirinya. Tetapi Fandy yakin dia adalah Fani, kembarannya yang pernah melakukan tindakan gila satu tahun yang lalu.


Fandy tidak perduli bagaimana Fani dapat kembali bernafas dan menemui dirinya. Walaupun Fandy melihat dengan mata sendiri saat di rumah sakit Fani sudah meninggal, lalu dibawa ambulance dan dimakamkan pula oleh pihak rumah sakit, karena Fandy yang tidak mempunyai keluarga inti lagi dan saat itu Fandy idak ingin merepotkan keluarga Sekar.


Fandy meletakkan telapak tangannya pada kaca, begitupun dengan Fani. Dua bersaudara itu menyatukan telapak tangan mereka berdua meski terhalang oleh kaca.


Fani menepis air matanya sebelum melangkah meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Fandy berteriak keras memanggil nama kembarannya, yang kini wajahnya sudah berbeda dengan satu tahun yang lalu. Sungguh Fandy sangat merindukan kehadiran adiknya yang lahir hanya selisih 4 menit saja.

__ADS_1


***


Disinilah Raka dan Litha sekarang, disebuah cafe memesan makan dan minum, setelah perdebatan cukup panjang akhirnya Litha pasrah mengikuti keinginan Raka yang ingin makan siang bersama.


"Kalo pesenan udah dateng, langsung makan. Jangan ngajak ngobrol," Litha memperingatkan Raka.


Raka tersenyum meremehkan, "Iya,"


"Makannya jangan di lama-lamain. Kalo nggak, aku tinggal nanti," Litha menyambar kunci mobil Raka yang dibiarkan di atas meja.


"Yah kok diambil," sahut Raka seperti kurang terima.


"Biarin. Aku palak mobil kamu kalau makannya lama," Litha menatap tajam. Bukannya terlihat menyeramkan, Litha malah terlihat menggemaskan menurut Raka.


"Palak aja, toh nanti semua milik aku akan jadi milik kamu setelah kita nikah," Raka mengedipkan sebelah matanya serta tersenyum tipis.


Litha hendak tersenyum, namun segera ia rubah ekspresinya menjadi sok-sokan datar. Padahal dalam hati mah udah berteriak kencang melihat kedipan mata Raka yang awawww... sudahlah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Masih lama Kak, kita masih muda. Kalau aku minta mobil sport kesayangan kamu, kamu kasih dengan terpaksa atau kamu malah marah ke aku atau kam...?" ucap Litha dipotong oleh Raka.


"Ingatan kamu terlalu bagus," Raka menyindir Litha yang mengernyitkan keningnya menuntut Raka menjelaskan ucapannya.


"Bukannya aku pernah bilang kalau aku gak bisa marah ke kamu?" ungkap Raka.


"Jadi kamu rela mobil itu jatuh ke tangan aku?" Tanya Litha. Jujur Litha hanya bercanda, tapi sepertinya Raka menganggapnya bukan sekedar candaan.


Tujuan Litha hanya memancing Raka agar pemuda dingin itu mengatakan 'Aku lebih sayang kamu dari pada mobil kesayangan ku,' yah begitulah perkiraan Litha.


"Kalau kamu mau, ambil aja. Nanti aku bisa beli lagi," ucap Raka tersenyum dengan mengangkat kedua alisnya sebentar.


"Dih sombong," cibir Litha kesal sendiri karena perkiraannya salah.


"Bukan sombong! Tapi fakta," sangkal Raka.


"Tanpa kamu bilang, aku juga tau kalau kamu beli mobil itu berasa kayak beli mainan mobil-mobilan," sahut Litha acuh.


Raka hanya tersenyum menanggapinya, apa yang dikatakan Litha ada benarnya juga.

__ADS_1


__ADS_2