
Whahaha....
"Gila lo," sembur Sarah mendapat cerita memalukan dari sahabatnya.
"Jadi pertemuan pertama kalian gak ada momen-momen romantis nya?" Fika ikut tertawa tidak habis pikir dengan Litha yang sungguh gila.
Ketokan pintu kamar Litha terdengar, "Masuk aja gak dikunci," teriak Litha.
Mbok Inah masuk dengan senyum mengembang.
"Ada apa Mbok?" Heran Litha.
"Ada Den Raka Non. Katanya baru pulang tadi siang ya Non?" Tutur Mbok Inah masih sumringah.
"Iya tadi sore dia juga ke sini nganterin Litha Mbok. Tapi Mbok Inah pas lagi keluar," balas Litha.
"Tambah ganteng ya Non," Mbok Inah melirik ke atas membayangkan wajah tampan yang baru dilihatnya beberapa menit yang lalu.
"Ngapain dia ke sini lagi? Bukannya tadi sore udah ketemu," Heran Sarah.
"Mbok, bilangin aja ke Kak Raka kalau Litha udah tidur," Litha masih malu mengingat kejadian tadi sore.
"Kenapa gitu Non? Non Litha gak kangen sama pacar sendiri? Tambah ganteng lhoh Non," ujar Mbok Inah yang sangat tidak memahami anak majikannya tersebut.
"Sayang kali Tha ada cogan dianggurin," Sarah mengangguk membenarkan penuturan Fika.
"Tatha kenapa gak turun-turun udah ditungguin Raka tuh dari tadi. Ayo Fika sama Sarah kita makan malam bersama," suara bariton Bunda Larissa yang tiba-tiba masuk ke kamar Litha membuat pemilik kamar terkejut.
"Bunda kapan pulangnya kok Tatha gak tau," setahunya semua keluarganya sedang sibuk di luar kota untuk urusan bisnis.
"Tadi siang barengan sama Ayah dan Umran juga," jawab Bunda.
"Bukannya kemaren bilangnya pulang minggu depan?" Litha jadi penasaran sendiri dengan kepulangan keluarganya yang mendadak.
"Sengaja untuk menyambut kedatangan Raka," Umran tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Mata Sarah berbinar begitupun dengan Umran. "Sayang...." Keduanya kompak saling menyapa dan merenggangkan tangannya lalu saling berpelukan melepaskan rindu setelah dua minggu tidak berjumpa.
***
Litha masih mondar-mandir di dalam kamar seorang diri. Gadis itu sedang mempersiapkan mental untuk bertemu Raka.
"Itu anak satu kenapa sih? Udah lama gak ketemu pacarnya, bukannya langsung ditemuin malah di kamarrrr terus," ocehan Bunda Larissa terdengar.
"Sabar Bun nanti juga kesini. Masak Tatha gak kangen sama pacar sendiri. Mungkin Tatha lagi dandan kali Bun," diawal sih emang nasehat yang bagus, tapi akhirnya malah godain Raka pake kedip sebelah matanya lagi. Dasar Ayah jahilnya ketularan Papa Baskara nih pasti.
"Biar Bunda samperin aja," Bunda Larissa membalikkan tubuhnya dan mendapati putrinya yang sedang berjalan menuju ruang makan dan masih memakai baju tidurnya yang bergambar animasi kesukaannya Doraemon.
"Kirain Ayah tadi kamu dandan," Ayah geleng-geleng kepala melihat rambut putrinya yang disanggul acak dengan jedai rambut.
"Hah? Ngapain? Orang abis makan mau tidur ngapain pakai make-up segala?" Tanya Litha tidak mengerti maksud Ayahnya.
Semuanya makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan, hanya suara denting sendok dan piring yang mengisi ruangan tersebut. Setelah selesai makan baru Ayah memulai obrolannya.
Ayah menatap putrinya dengan tatapan aneh menurut Litha. "Kok Ayah jadi curiga yaa sama kamu,"
"Maksud Ayah?" Litha mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu mulai suka sama Pak Gio guru Biologi yang setahun lalu mengungkapkan perasaan dihadapan Ayah dan Bunda," jelas Ayah blak-blakan membuat Litha dan dua dayang-dayangnya melotot. Ehehehe maksudnya Sarah dan Fika, teman-teman terlope-lope.
Litha hanya diam menatap Raka yang juga balik memandangnya. Tidak ada yang menyahut, Raka yang modelan kulkas gitu mana mau buka suara duluan.
"Aa... Aa.. ayah ngomong apa sih?" Gugup Litha sambil sesekali melirik Raka yang masih tidak berekspresi sama sekali.
"Udah jujur aja kalo iya," sambar Umran.
Litha yang duduk disebelah Umran, menyumpal mulut Kakaknya dengan buah pisang.
"Apa guru itu masih mendekati mu?" Tanya Bunda terdengar serius.
"Kadang," Litha menjawab pelan dengan menundukkan kepalanya tetapi matanya melirik manusia dingin didepannya.
"Apa dia laki-laki yang tadi siang?" Suara dingin tersebut membuat Litha mengangkat kepalanya.
"Iya. Malah tadi pagi Litha dikasih lollipop gede gitu sama dia, tapi gue yang makan. Takutnya nanti ada peletnya, kan bahaya..." Sahut Fika terlihat semangat menceritakan hal tidak penting tersebut.
"Kalau ada peletnya beneran, terus gimana nasib Leon?" Sarah menyipitkan matanya.
"Kan Leon mantan playboy jadi dia pasti akan berusaha kuat untuk dapetin gue," jawab Fika dengan entengnya.
"Dih PD banget lo," cibir Sarah.
"Udah berapa lama dia deketin kamu? Setahun?" Tanya Raka yang mulai kepo.
"Hampir dua tahun," jawab Sarah yang langsung mendapat hadiah lemparan buah anggur dari Litha.
"Apa sih Tha?" Fika cemberut dan memakan buah anggur yang tadi berhasil ia tangkap.
"Sebaiknya kalian bicara empat mata. Kami mau beristirahat dulu. Sarah, Fika jangan usil...!" Ucap Ayah menggandeng tangan istrinya untuk menuju kamar.
***
Angin sepoi-sepoi yang berhembusan membuat bulu kuduk Litha berdiri karena merasakan dingin. Raka dan Litha duduk di taman mini dihalaman rumah Litha.
"Aku gak suka sama dia Kak," ucap Litha ragu karena takut salah ucap.
"Kenapa? Dia baik dan selama dua tahun ini dia gak nyakitin kamu kan?" Raka menatap Litha.
"Kenapa jawaban Kak Raka gitu?" Entah mengapa tiba-tiba mata Litha berkaca-kaca.
Raka mengamati raut wajah Litha yang terlihat sendu. Ia memegang dagu Litha agar menatap ke arahnya.
"Heiii kenapa jadi sedih? Aku ada salah kata?" Raka mengaktifkan mode lembutnya setelah sekian lama tidak ia aktifkan, ya kan mode lembutnya hanya akan muncul kalau Litha lagi murung gitu.
"Aku gak suka sama dia Kak. Aku cuma anggep dia guru aku, gak lebih," ucap Litha mengulang kembali penuturannya.
Raka membawa tubuh Litha dalam dekapannya. "Iya aku tahu. Tapi kamu jangan sampai benci sama dia. Bagaimana pun juga dia yang udah memberi kamu ilmu di sekolah,"
"Tapi emang itu pekerjaannya, toh juga dia dapet bayaran," balas Litha.
"Litha..." Tegas Raka.
"Iya-iya," jawabnya.
"Hormati dia dimana pun dia berada, dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah," Raka mengusap rambut Litha yang masih berada dalam pelukannya.
__ADS_1
"Dilingkungan sekolah dia guru aku. Kalau diluar sekolah hormati dia sebagai orang yang lebih tua dari kita. Gitu kan?" Litha mendongakkan kepalanya menatap Raka yang tersenyum hangat kepadanya.
"Pintar," Dua jari Raka mencubit hidung mancung milik Litha, membuat empunya mengaduh kesakitan.
"Awww.... Kak Raka!" Litha menepuk tangan Raka agar menjauhi hidungnya yang kini memerah.
Raka tertawa renyah dan meminta maaf, dia terlalu gemas dengan Litha.
"Indah ya bintangnya?" Raka merangkul pundak Litha dan menyuruhnya untuk melihat ke langit gelap yang bertaburan bintang.
"Iya," Litha memeluk pinggang Raka dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Raka.
"Kak Raka gak cemburu?" Litha melirik Raka sekilas.
"Sama guru biologi itu?" Tanya Raka memperjelas.
"Iya," jawabnya.
"Bagian mana yang harus di cemburuin?" Raka menjeda kalimatnya. "Bulannya juga bagus ya Tha?"
Litha memukul dada Raka. "Kak Raka jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan deh,"
"Siapa yang mengalihkan pembicaraan Tha? Orang aku cuma mengutarakan isi pikiran ku," Raka membela diri sendiri.
Litha melepaskan rangkulan keduanya, ia menatap wajah Raka dengan serius. "Jadi kamu beneran gak ada rasa cemburu sama sekali? Jangan-jangan kamu suka sama cewek lain di Inggris sana? Pantesan selama ini gak mau kasih kabar walaupun itu cuma sekali, sesibuk apa kamu di sana? Atau sibuk sama cewek lain?" Cerocos Litha berburuk sangka kepada Raka.
Yaaa gimana ya? Menurut Litha aneh aja gitu kalau Raka gak cemburu sama Pak Gio yang udah ngejar-ngejar Litha selama hampir dua tahun.
1 detik
2 detik
3 detik
Masih sunyi, Raka tidak mengeluarkan kata-katanya untuk pembelaan terhadap dirinya sendiri. Dan tentu hal tersebut membuat Litha semakin yakin bahwa hati Raka sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
"Tha..." Ucapan Raka langsung dipotong oleh Litha.
"Apa?" Teriak Litha.
"Mau jawab, iya ada cewek lain di Inggris yang lebih tinggi dan lebih cantik dari pada kamu, gitu? Gak papa jawab aja yang jujur," air mata mulai berlinang membasahi pipi Litha.
Litha menepis air matanya, ia mengalihkan pandangannya, ia menatap lurus ke depan dengan bersikedap. "Apa susahnya sih jawab iya? Biar semuanya jelas malam ini juga,"
Raka mengernyitkan keningnya, ini pasti kata-katanya niruin drama di sinetron televisi. Dasar korban sinetron!
Raka salfok dengan kata 'lebih tinggi'? "Apanya Tha yang lebih tinggi?"
Litha melirik Raka sekilas, "Tinggi badannya lah, orang aku pendek begini. Kamu pikir tinggi apa?"
Raka tidak menjawab, ia menahan tawa merasa lucu dengan Litha. Di kondisi marah begitu dia masih memikirkan tinggi tubuhnya. Iya sih dia agak pendek, tapi tetep cantik kok, justru yang pendek yang awet muda yang imut gemesin kayak Litha.
"Dulu aja waktu aku abis operasi wajah dan setelah itu kita nonton konser boyband di Korea kamu cemburu karena aku bilang boyband nya ganteng-ganteng. Sekarang giliran ada yang naksir aku, ada yang deketin aku hampir dua tahun, kamu gak cemburu," ocehan Litha terdengar membuat Raka tersenyum simpul.
"Puasin dulu marahnya, ngedumel sepuas kamu sampai mulut kamu berbusa juga aku siap dengerin. Kalau udah capek ngomelnya bilang ke aku," Raka tertawa renyah mendengar curahan hati gadis kesayangannya.
Litha menoleh menatap Raka dengan mata memerah dan air mata yang tergenang di pelupuk matanya. "Apa sih Kak? Gak lucu tauk!"
__ADS_1
"Kak Raka...." Seru Litha karena Raka masih tertawa tidak jelas.
"Sini dengerin aku," disela tawanya Raka memegang kedua pundak Litha agar menatapnya.