
Sebentar, saya tuliskan resep obatnya dulu," ucap Dokter Kania dan diangguki Fandy.
Sambil menulis, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan dalam pikiran Mama Kania. Beliau heran apa penyebab luka ditubuh Fandy? Masalahnya wajah Fandy babak belur, kedua tangan serta kakinya diselimuti oleh luka goresan dan lebam-lebam.
"Kenapa kamu bisa mendapatkan semua luka ini?" Tanya Dokter Kania membuat Fandy menautkan kedua alisnya.
Tidak mendapat sahutan dari pasiennya, Mama Kania mengangkat kepalanya. "Bukankah hal wajar jika Dokter menanyakan hal tersebut kepada pasiennya?" Mama Kania tersenyum ramah.
"Di keroyok preman," jawab Fandy asal.
Handphone Fandy berdering dan langsung mengangkat panggilan di tempat. Dia lupa jika sedang berada didepan Dokter ini, mungkin saking khawatirnya Fandy sampai lupa sedikit menjauh dari Dokter Kania, karena panggilan itu dari kembarannya. Yaaa mengingat saudara kembar tersebut sedang menyembunyikan Oma di apartemen Via, Fandy takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap Via.
Mama Kania hanya melirik Fandy yang sedang fokus pada panggilannya. Bahkan Fandy sama sekali tidak memperhatikan Dokter Kania yang sudah selesai menuliskan resep obatnya.
"Apa? Nenek-nenek peot itu coba-coba kabur dari apartemen lo?" Fandy terkejut, tapi detik berikutnya ia bernafas lega setelah Via mengatakan jika dirinya berhasil menahan Oma lagi. Bahkan Via sampai mengikat kedua tangan dan kaki Oma, serta menutup mulut Oma dengan lakban hitam, agar Oma tidak dapat berteriak-teriak lagi.
"Gue yakin pasti Raka kebingungan neneknya ngilang seharian gak ada kabar. Ini belum seberapa dibandingkan sakit hati kita berdua dan sakitnya luka-luka di sekujur tubuh gue karena ulahnya," Fandy tersenyum sinis.
Mendengar nama putranya disebut membuat mata Mama Kania terbelalak lebar. Keluarganya juga sedang kehilangan seorang wanita tua membuat Mama Kania semakin curiga jika Raka yang dimaksud Fandy adalah Raka Adelard Pangestu, dan ternyata hilangnya Oma ada sangkut pautnya dengan masalah putranya.
"Raka siapa yang kamu maksud?" Tatapan Dokter Kania berubah tajam, tidak ada lagi senyum ramah yang menghiasi wajah cantiknya.
Fandy terkejut mendengar pertanyaan tersebut, dia langsung menutup ponselnya.
"Ada apa dengan Dokter?" Tanya Fandy rada gugup dan berdiri dari kursinya.
"Apa kamu mengenal Raka, cucu dari Oma Rahma?" Mata Mama Kania berkaca-kaca menyadari langkah Fandy yang mundur perlahan.
Baru Mama Kania hendak berdiri, Fandy langsung melarikan diri dari ruangan tersebut dengan wajah pucat ketakutan.
"Fandy jangan lari!!!" Teriak Mama Kania keluar dari ruangannya. Namun sayang sekali Fandy sudah sampai didepan pintu keluar rumah sakit yang saat itu juga berpapasan dengan Litha.
__ADS_1
"Scurity... scurity... Tahan orang itu!!!" Teriak Mama Kania. Scurity langsung turun tangan hendak menangkap Fandy, tetapi Fandy melakukan perlawanan sehingga terjadilah aksi tonjok menonjok.
Litha panik sendiri menoleh kanan kiri ingin mengejar Fandy tapi tidak tega melihat Mama Kania, gadis itu memutuskan menghampiri Mama Kania.
"Sebentar ya Mbok, Litha ke sana dulu," ucap Litha dan diangguki oleh Mbok Inah.
"Ada apa Ma?" Tanya Litha ikut panik seperti Mama Kania.
"Fandy, orang itu yang culik Oma. Oma dibawa di apartemen, tapi Mama gak tau alamatnya," tutur Mama Kania dengan air mata berlinang.
Mata Litha terbuka lebar, ia terkejut. Sejenak Litha berpikir, pasti apartemen itu milik Via, jika tidak mengapa saat kejadian malam itu Fandy tidak membawa dirinya di apartemennya? Malah membawanya ke sebuah hotel. Dan beruntungnya Litha masih menyimpan alamat apartemen Via saat dulu keduanya masih memiliki hubungan baik.
"Mama tenang, jangan panik. Hubungin Kak Raka sekarang!" Litha melihat Fandy yang dengan sekuat tenaga yang tersisa dalam tubuhnya melawan para penjaga, hingga ia berhasil meloloskan diri berlari menuju mobilnya.
"Kamu mau kemana?" Mama Kania memegang pergelangan tangan Litha yang akan melangkah pergi.
"Ngejar Kak Fandy," Litha melepas genggaman tersebut dari tangannya dan berlari keluar.
"Non Litha..." Mbok Inah juga berteriak mengkhawatirkan anak majikannya.
Mobil Litha dan Fandy sudah kebut-kebutan di jalan melampaui batas rata-rata kecepatan. Klakson terus dibunyikan oleh Litha.
"Sial ada yang ngejar gue," umpat Fandy tidak mengetahui jika itu adalah mobil Litha. Fandy sendiri tidak sadar bahwa di rumah sakit tadi ia berpapasan dengan gadis yang dicintainya.
Fandy mengambil ponselnya, sayang sekali benda pipih tersebut jatuh, sepertinya semesta tidak memihak kepadanya kali ini. Gagal sudah ia ingin mengabarkan berita buruk kepada adiknya. Mau diambil pun Fandy tidak sempat, matanya harus fokus pada jalanan saja jika nyawanya tidak ingin melayang.
"Kacau," tangan Fandy memukul stir mobil.
Jika untuk mengimbangi mobil Fandy, Litha masih sanggup. Tapi untuk menambah kecepatan dan berada didepan Fandy, Litha kuwalahan.
Disela-sela Litha memepet mobil Fandy, Litha mengambil sesuatu dalam dasbor mobilnya. "Dapet," gadis itu tersenyum miring melihat obeng sudah berada di genggamannya.
__ADS_1
Litha membuka kaca mobilnya, membuat mata Fandy terbelalak lebar terkejut bukan main. Sungguh tidak disangka gadis tersebut memiliki kemampuan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Fandy ikut membuka kaca mobilnya, melihat Litha yang melempar sesuatu ke arah bawah mobilnya. Mata Fandy tajam menatap Litha yang tersenyum manis sambil melambaikan tangannya, meninggalkan mobil Fandy yang tiba-tiba terhenti.
Litha tidak memperlambat laju mobilnya, ia terus melaju dengan kecepatan tinggi. Gadis itu tersenyum puas setelah rencananya berhasil menahan Fandy sebentar dengan melempar obeng agar menyangkut di jeruji ban mobil Fandy. Yaaa setidaknya Litha bisa lebih cepat sampai di apartemen Fani sebelum Fandy.
Sampai di apartemen Litha langsung menekan bel. Pintu terbuka membuat Via terkejut dengan kedatangan Litha, karena Via tidak memiliki persiapan apa-apa, tidak ada orang yang berjaga-jaga di sekitar apartemennya.
Via clingak-clinguk, siapa tau Raka ikut kesini bersama Litha, atau mungkin Litha bawa pasukannya sendiri.
"Cari siapa? Kak Raka gak sama gue," ujar Litha tanpa rasa takut.
"Mau apa lo," tantang Via setelah mengecek kondisi yang menurutnya aman, tapi tetap saja Via harus berhati-hati.
Litha tersenyum sinis. Entah kenapa Via jadi gugup sendiri melihat aura yang berbeda dalam diri Litha, yah mengingat dia hanya sendirian di apartemen dalam keadaan dirinya menyekap Oma.
"Bawa Oma ke sini atau..." Tutur Litha menggantung.
"Atau apa? Lo pikir gue takut sama cewek lemah kayak lo," sentak Via dengan memajukan dadanya.
"Atau...." Nada ucapan Litha terdengar dingin, matanya tajam menunjukkan emosi yang membara.
Glek...
Susah payah Via menelan ludahnya, baru kali ini dia melihat sisi mengerikan dalam diri gadis mungil dihadapannya.
Via melirik tangan Litha yang mengepal kuat hingga ruas-ruas jarinya memerah. Melihat itu, Via teringat cerita tentang Litha yang pernah mengikuti latihan tinju bersama saudara kembarnya.
Via melangkah mundur, dengan cepat langsung menutup pintu. Namun pergerakannya kalah cepat dari Litha yang menahan pintu lalu mendorongnya dengan kekuatan dalam sampai Via terjatuh ke lantai.
"Anji*g lo," umpat Via sangat kesal kepada Litha.
__ADS_1