
Di dalam mobil semuanya masih diam, kali ini Jordy yang menjadi sopir untuk teman-temannya. Leon sengaja membawa mobil bus agar nantinya mereka bisa pulang satu mobil, Leon ingin mendengar cerita dari Nick tapi Leon bingung ingin memulai dari mana.
Leon yang duduk didepan melirik Raka melalui kaca depan mobil, dilihatnya Raka yang dengan sabar memegang minyak angin yang ia dekatkan dengan hidung Litha, sudah hampir 5 menit namun Litha belum sadar juga.
"Apa lihat-lihat?" Nick yang duduk dibarisan paling belakang merasa risih dengan tatapan Leon, yaa meskipun Leon lihatnya ke arah Raka tapi tetep aja Nick ngerasa risih.
"Lo kenapa bisa tau Litha dibawa Fandy?" Tanya Leon.
"Udah gue tebak pasti jiwa kekepoan lo meronta-ronta," Nick sudah menduganya.
"Gue ogah jawab," Nick memejamkan matanya.
"Rese lo," bibir Leon cemberut.
Kelopak mata Litha terbuka, orang pertama yang ia lihat adalah Raka.
"Kamu gak papa? Atau ada yang luka? Ada yang sakit?" Jujur Raka sangat khawatir dengan Litha.
Umran yang sedari tadi memejamkan matanya, langsung membuka mata dan mengecek kondisi adiknya.
"Tha lo gak kenapa-kenapa kan?" Umran mengarahkan tubuh Litha untuk menghadap ke arahnya.
"Masih sedikit pusing. Kenapa aku bisa ada disini?" Litha menoleh kanan kiri, melihat Jordy yang mengendarai mobil dan melihat Arkan yang masih menunjukkan ekspresi khawatir.
"Tadi lo..." Ucap Umran terpotong oleh Litha.
Mata Litha menatap Nick yang matanya tertutup, ia heran mengapa Nick bisa satu mobil bersamanya. "Nick? Kenapa dia juga ada disini?"
"Kalo gak ada gue masa depan lo udah ancur," sahut Nick dengan mata yang masih terpejam.
"Maksudnya?" Litha mencoba mengingat kejadian setelah dirinya lari dari acara pertunangan kakaknya.
Litha memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut. "Tunggu!! Bukannya tadi aku bareng Kak Fandy? Tadi kita ke restoran, habis aku minum coklat panas terus tiba-tiba kepala aku pusing dan setelah itu aku gak ingat apa-apa lagi,"
Nick tersenyum miring, berbeda dengan Raka dan Umran yang mengepalkan tangannya mendengar cerita tersebut. Rahang Raka mengeras, dia tidak akan memaafkan Fandy.
"Oh ya aku ingat, tadi aku sempet lihat Nick dan Kak Fandy yang udah babak belur. Sebenernya apa yang udah terjadi sama aku?" Tanya Litha kepada Umran.
Belum sampai Umran menjawab, Litha sudah bertanya lagi. "Apa Kak Fandy punya niat jahat ke aku?"
"Dia mau nidurin lo," celetuk Nick dengan santainya.
"Apa?" Litha terkejut, Fandy benar-benar nekat.
Mata Umran melotot ke arah Nick yang masih menutup mata. Umran yang mau jelasin aja bingung harus pake kata-kata apa, supaya gak bikin Litha jadi gimana gitu. Nah ni anak satu malah diceplosin langsung pake kata kasar.
"Oh iya gua hampir lupa mau minta ganti rugi ke kulkas," oceh Nick dan langsung membuka matanya.
__ADS_1
"Raka lo harus ganti uang gue, gue rugi besar gara-gara lo. Gua nolongin Litha karena gue gak tega kalo lihat lo sampe nangis darah," ujar Nick.
"Oh iya gue lupa juga Litha kan bukan cuma pacar sohib gue, dia juga adeknya sohib gue. Dan lo Umran juga harus ganti uang gue," lanjut Nick sangat bersemangat karena dia berpikir dirinya akan menjadi sultan dengan cara instan.
"Rugi apa? Bayar orang-orang tadi? Berapa sih tarifnya? Bayar gitu aja lo gak mampu, kismin amat lu," ejek Leon.
"Itu mah kecil buat gue. Ini beda lagi masalahnya," sahut Nick tidak terima.
"Gantiin uang gue yang udah gue kasih ke cewek murah*n itu. Lo tau? Gue tinggalin gitu aja tu cewek, padahal gue udah bayar dia mahal-mahal. Gue baru sadar diwaktu yang salah kalo cewek yang dibawa Fandy itu Litha. Padahal nih ya waktu itu gue hampir keluar, tinggal dikit lagi keluar, gue tahan demi nyelametin Litha. Pokoknya gue gak mau tau masing-masing dari kalian berdua harus ganti rugi dua kali lipat, kalian pikir nahan kayak gituan nggak nyiksa diri apa?" Cerocos Nick seperti kereta api.
Litha hanya diam saja, otaknya yang masih polos sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Nick.
"Diem bisa gak? Gue tabok juga lo lama-lama. Jangan ngomong kotor didepan adek gua," semprot Umran, kupingnya panas mendengar ocehan Nick.
"Kotor bagian mananya?" Tanya Litha dengan polosnya.
"Tuhh... Bener kata adek lo. Kotor bagian mananya Bang Umran?" Nick sok-sokan ikutan tidak mengerti.
"Yang bagian keluar-keluar itu loh Tha," jawab Arkan keceplosan dan tanpa sadar hal tersebut membuatnya menjadi sasaran beberapa mata elang yang sudah siap memangsanya.
"Maksudnya?" Litha jadi makin penasaran.
Danil yang duduk dibarisan paling belakang bersama Arkan dan Nick, menyenggol lengan Arkan agar si ceroboh tersebut sadar.
Arkan langsung melihat ke depan, dimana Raka, Umran dan Leon telah menatapnya amat tajam. "Eh tadi gue ngomong apaan ya?" Arkan garuk-garuk kepala.
"Gue gak mau tau, besok notif transferan di hp gue harus ada dari kalian berdua," tutur Nick.
"Iya, bawel lo kayak emak-emak," ketus Umran.
"Eh ralat, gue minta ganti rugi empat kali lipat," ucap Nick.
"Gila... lo mau meres sahabat sendiri?" Tanya Jordy.
"Pertama untuk ganti uang gue yang udah gue transfer ke cewek murah*n itu. Dua kali lipatnya untuk ganti rugi karena gue gak jadi keluar dan akhirnya nyiksa diri sendiri. Tiga kali lipatnya karena gue udah nyelametin masa depan cewek yang berarti dalam hidup kalian. Dan empat kali lipatnya anggap aja sebagai ucapan terimakasih dari kalian plus bonus buat gue," jelasnya.
"Gimana setuju? Kalo gak ada gue masa depan Litha udah hancur. Gue tau uang segitu gak ada apa-apanya buat kalian berdua," Nick menaikkan kedua alisnya.
"Gue transfer sekarang," Raka mengambil ponselnya. Dan beberapa detik kemudian handphone Nick langsung berbunyi, membuat empunya kegirangan bukan main.
Litha langsung menatap ke arah Raka yang juga menatapnya balik. Keduanya hanya diam beradu pandang, tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Gue besok," malas-malasan Umran mengucapkan hal tersebut.
"Bener ya, awas lu bo'ong," Nick tidak mau menjadi pihak yang dirugikan.
"Iye matre. Jadi cowok aja matre, gimana kalo jadi cewek?" Oceh Umran kesal.
__ADS_1
Nick tidak memperdulikan ocehan Umran, dia langsung mengecek handphonenya, dan benar saja Raka memberikan transferan uang sesuai kesepakatan. Yap tanpa disebut berapa nominalnya, Raka dan Umran cukup tau harga pasaran wanita malam yang terbilang mahal.
"Asik... Auto untung banyak, jadi sultan dadakan nih..." Nick tersenyum lebar.
"Langsung ijo tuh matanya," sindir Leon.
"Iri bilang bos!" Senyuman tak luntur dari bibir Nick.
"Nanti aku ganti uangnya, berapa uangnya?" ucap Litha kepada Raka setelah sekian lama keduanya saling pandang.
"Gak perlu," jawab Raka.
Litha menoleh menghadap Umran, "Berapa uangnya?"
Umran melihat Raka yang tatapannya begitu dingin. Kalau sudah begini Umran jadi bingung harus jawab apa?
"Raka mah udah tajir dari sononya, mending duitnya kasih gue aja," jawab Umran rada gugup karena Raka menatapnya dingin.
Litha menghembuskan nafas kasarnya, dia beralih menatap Nick.
"Ini urusan para laki-laki, wanita cukup diam dan menyimak saja," tutur Nick sok bijak.
"Lagian ganti rugi apa sih? Cewek murah*n? Keluar-keluar? Yang keluar itu apa?" Banyak pertanyaan dalam benak Litha.
Baru saja Nick membuka mulut, Umran sudah menutupnya dengan telapak tangannya. "Diem lu bambank! Jangan cekoki pikiran adek gue pake kata-kata kotor lo!" Tatapan Umran tajam.
"Tha, lo gak usah pikirin omongan bule nyasar ini dan gak usah ganti uangnya Raka. Yang terpenting sekarang lo aman, tubuh lo ngerasa sakit atau gimana gitu?" Umran memastikan apakah Fandy sudah berbuat yang tidak-tidak dengan adiknya atau belum.
Litha melihat tubuhnya, baru sadar ternyata tubuh depannya ditutupi oleh sebuah jaket. Melihat jaket menyelimuti tubuhnya Litha merasa dihormati sebagai seorang wanita, dan Litha mengetahui siapa pemilik jaket ini dari aroma mint yang selalu menenangkan indera penciumannya.
"Tha..." Panggil Umran membuat buyar lamunan Litha.
"Tubuh lo ngerasa sakit atau ada rasa aneh gimana gitu?" Umran mengulang pertanyaannya.
Jujur Litha bingung kenapa semua mata menatap ke arahnya? Dan ekspresi wajah mereka terlihat sangat tegang, Jordy sesekali melirik ke arahnya dengan raut wajah tegang karena dia harus fokus pada jalanan juga.
Litha menoleh ke belakang, tiga manusia disana juga terlihat tegang menatapnya. Bahkan Nick yang sejak awal santai-santai saja, sekarang juga terlihat serius.
Litha menggelengkan kepalanya, "Nggak ngerasa sakit dan nggak ngerasa aneh juga,"
Semuanya dapat bernafas lega setelah Litha mengucapkan hal tersebut. Litha jadi makin penasaran, dia tidak mengerti pemikiran para pemuda itu.
"Alhamdulillah, masih aman Umran sama Raka gak jadi nangis darah," Leon mengucap syukur dengan suara sangat besar. Litha mengerutkan keningnya mendengar ucapan Leon.
"Pada kenapa sih?" Tanya Litha dengan polosnya.
Umran langsung cepat menggeleng. Adiknya tidak boleh mengerti maksud ucapan dan pemikiran mereka, biarlah Litha tetap menjadi adiknya yang polos.
__ADS_1
"Enggak. Gak papa, gak usah dipikirin gak penting," Umran mengusap kepala adiknya dan memeluknya. Dalam hati Umran sangat bersyukur adiknya bisa terselamatkan tanpa kurang apapun.