
Pagi-pagi sekali Litha sudah bersiap dengan dress selutut, tanpa lengan berwarna putih yang dipadukan dengan rompi jeans biru muda, serta memakai sepatu sneaker putih.
Gadis itu terlihat berbeda hari ini, dia sangat cantik dengan makeup naturalnya, alias nggak menor! Dan rambut panjangnya yang digerai, jika Raka melihatnya pasti Raka akan memuji kecantikan kekasihnya.
"Hai mbok," sapa Litha saat melewati mbok Inah di ruang tengah.
Bahkan mbok Inah saja sampai melongo, tidak percaya dengan anak majikannya yang ternyata bisa dandan juga. Mengingat selama ini Litha tidak pernah memakai makeup, karena gadis itu merasa tidak nyaman.
Mbok Inah mengikuti Litha yang sekarang sudah di ruang tamu. "Non tunggu!" seru mbok Inah setengah berlari.
"Kenapa mbok?" Litha penasaran. Dia memberhentikan langkah kakinya sesuai perintah mbok Inah, lalu membalikkan badannya, menghadap wanita yang memanggilnya.
"Cantik banget Non," puji wanita paruh baya tersebut dengan mata yang berbinar-binar.
"Ahh... Mbok Inah bisa aja," Muka Litha seketika menjadi merah karena tersipu malu.
"Pagi-pagi gini kok udah rapi aja. Pake segala dandan juga, Non Litha mau kemana?" Bukan tanpa alasan mbok Inah menanyakan hal tersebut. Biasanya nona nya itu kalau weekend dan masih jam 7 begini, dia masih menikmati mimpi indahnya.
Baru Litha mau jawab, tapi mbok Inah udah ngomong lagi. "Mau ketemu si ganteng ya non?" Mbok Inah menebak dengan senyum jahil.
Belum juga hilang pipi merahnya, kini semakin merah saja. Dasar mbok Inah sukanya membuat Litha tersipu malu.
"Nanti malem," jawabnya.
"Kalo pagi ini Litha mau pergi sama temen dulu," senyum bahagia menghiasi bibir mungilnya. Litha membayangkan bagaimana nanti malam, saat dirinya bertemu dengan keluarga orang yang dicintainya.
Semoga pertemuannya dengan keluarga ternama itu lancar dan semua anggota keluarga itu, merestui hubungannya dengan beruang kutub nya, dengan pemuda sedingin es batu tersebut.
***
Litha menunggu Sarah dan Fika di depan teras rumahnya dengan perasaan gelisah, takut-takut kalau mereka melupakan janji yang sudah mereka rencanakan.
Padahal janjian jam 9, tapi Litha malah udah siap dari jam 7 tadi. Berarti bukan salah Sarah dan Fika dong, kalau Litha nunggunya kelamaan? Waktu saat ini menunjukkan pukul 8.30, Litha sudah menunggu selama kurang lebih satu setengah jam.
Litha mondar-mandir di depan pintu, bukan depan pintu doang sih, tapi masuk keluar pintu juga. Masuk sampai ruang tamu terus balik lagi sampai teras. Saat Litha akan masuk ke dalam rumah, ia malah mendapat sambutan yang kurang menyegarkan untuk indera penciumannya.
"Whahhhhhh...." Umran menguap tepat di depan wajah Litha yang telah di poles dengan makeup.
Dan saat itu juga Litha memejamkan matanya dan menahan nafasnya, tetapi Litha tidak kuat menahan nafas sampai Umran benar-benar menghentikan aktivitas joroknya itu.
Abis bangun tidur bukanya langsung bersih-bersih ke kamar mandi, malah langsung ke depan rumah plus menguap, dan gak di tutup pake tangan. Menguapnya tepat di depan wajah Litha pula, bau nya itu lhoh... Menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Litha, bagai mencek*k ke dalam hidung mancung milik Litha. Silahkan kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana nasib Litha! Malang sekali gadis itu.
"Bang Umran...." teriak Litha begitu menggelegar, sesaat setelah Umran telah selesai menguap.
"Paan sih? berisik lo," sewot Umran tanpa rasa bersalah.
"Kalo nguap tu di tutup, jangan dijadiin ajang pameran," seru Litha.
"Udah sarapan?" tanya Umran yang sama sekali tidak nyambung dengan perkataan Litha.
__ADS_1
"Belom," Litha menjawab dengan nada yang tidak bersahabat.
"Good. Gak usah sarapan," sahut Umran. Litha mengernyitkan keningnya heran dengan ucapan abangnya.
"Kan tadi udah sarapan sama karbon dioksida yang gue keluarin," jelasnya tanpa rasa dosa.
"Karbon dioksida dari lo belom bikin perut gue kenyang," ketus Litha dengan wajah datar.
"Mau lagi?" tawar Umran dengan mata berbinar, sepertinya Umran memang bahagia jika melihat saudaranya menderita. Litha tetap memasang ekspresi datar, tanpa ada niatan sedikit pun untuk menggubris abang terkampr*t nya itu.
"Sini-sini!" ucap Umran saat Litha hanya terdiam mematung.
Seketika Litha melotot, saat Umran meraih pinggang gadis itu dengan tangan kanannya dan tangan kirinya meraih bahu Litha, seolah-oleh Umran hendak memberi pelukan untuk adik semata wayangnya.
Dengan sesegera mungkin Litha menghadang rencana Umran yang akan memeluknya, dengan kedua telapak tangan yang ditempelkan pada dada bidang Umran.
"Jijik gua," ucap Litha.
"Yaelah ama abangnya sendiri juga," sahut Umran tanpa merubah posisinya yang bagai memeluk Litha, dengan tangan yang masih berada di posisinya masing-masing.
"Napa lo lihat-lihat?" tanya Litha saat menyadari bahwa Umran mengamati dirinya dengan tatapan yang menyapu seluruh wajah Litha.
"Cantik," gumam Umran tetapi Litha masih bisa mendengarnya, ya secara jarak antara keduanya dalam katagori amat dekat.
"Awas naksir. Bahaya! gue gak mau tanggung jawab lhohhh..." ledek Litha.
"Tumben dandan," sambung Umran.
"Ekhem,"
Tiba-tiba saja suara tersebut membuat kakak beradik itu menoleh pada sumber suara. Litha hanya biasa-biasa saja melihat manusia yang bertamu ke rumahnya pagi-pagi begini. Sedangkan Umran terlihat sangat terkejut dan jadi salah tingkah sendiri, lantas Umran segera melepaskan Litha yang tadi sudah berada di ambang dekapannya.
"Kayak lagi pacaran aja," ledek tamu tersebut.
Umran dan Litha saling menatap, lalu menoleh ke arah tamu tersebut. Memang benar kata orang itu, jika saja dia tidak kenal dekat dengan kakak beradik itu, maka dia pasti akan mengira bahwa Umran dan Litha adalah sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Yah mengingat keduanya hanya terpaut selisih 3 tahun, jadi jika mereka pacaran pun terlihat cocok-cocok saja.
"Cuma kayak doang mah gpp, yang penting faktanya kan enggak," ujar Umran yang dibalas dengan senyuman oleh Sarah.
"Iya, bercanda doang kok," sahut Sarah dengan kalem, setelah tersenyum cukup lama.
Litha aja sampai gak percaya kalau dihadapannya ini adalah Sarah. Biasanya dia itu hobby meledek dan sifat bar-bar nya sering keluar kalau sama siapapun, termasukbang Umran, eits... Ralat Sarah gak berani nunjukin sifat bar-bar nya di depan Raka, rada ngeri gitu kalau berhadapan sama manusia dingin yang hatinya beku kayak es balok.
"Mau pada keluar ya?" tanya Umran basa-basi.
"Iya sama Fika juga, tapi belom ke sini. Lama banget sih tu anak," jawab Litha ditambah dengan menggerutu yang diperuntukkan untuk Fika. Tapi percuma saja, Fika tidak mendengarkannya.
"Panjang umur. Tuh dia anaknya baru dateng," sahut Sarah ketika mobil Honda berwarna merah memasuki pekarangan rumah mewah keluarga Nagara.
***
__ADS_1
Malam hari telah tiba, Litha sedang mempersilahkan segala sesuatu untuk bertemu dengan keluarga Adelard. Mempersiapkan mental dan penampilannya, mulai dari pakaian hingga makeup. Litha juga sudah memberitahu Bunda Larissa tentang hal tersebut, meski memberitahukannya lewat via chat. Kalian pasti dapat menebaknya jika Bunda Larissa masih mengajar di kampus.
Sedangkan Ayah Kusuma selama beberapa hari kedepan akan berada di negeri orang untuk keperluan bisnis tentunya. Litha berpikir pasti Ayah nya sedang sibuk, so Litha tidak memberitahu tentang pertemuan yang akan terjadi nanti malam antara dirinya dengan keluarga Adelard.
Oke pasti bisa. Ini cuma buat kenalan doang Tha. Bukan nentuin apakah orang tuanya kak Raka setuju atau enggak, kalau kak Raka nikahin kamu. Begitu batin Litha untuk mendapatkan kepercayaan diri, lebih tepatnya mempersiapkan mentalnya.
Setelah cukup yakin dengan penampilannya, kini saatnya Litha keluar dari kamarnya dan mulai menuruni anak tangga satu persatu menuju ke bawah. Menuju ke teras depan, dimana ada seorang pangeran tampan yang tengah menunggu kehadiran tuan putri nya. Raka telah mengabari Litha, jika dirinya telah sampai di depan rumah Litha. Dan gadis itu menyuruh agar Raka menunggu di luar saja.
Umran? Untunglah... Dia sedang keluar rumah, entah malam-malam begini, dia pergi kemana? Litha tidak mengetahuinya. Litha merasa senang dan lega juga, karena jika Umran tidak di rumah, itu artinya tidak ada manusia yang meledeknya, menggodanya. Dan yang terpenting tidak ada yang kepo dengan urusannya.
Tak... Tak... Tak...
Tik... Tik... Tik...
Suaranya nyaris bersamaan, terdengar beriringan menemani sunyinya malam.
Suasana di dalam rumah sangat sepi. Sepertinya para mbak-mbak ART sudah terlelap tidur, begitu juga dengan mbok Inah. Hanya terdengar suara sepatu berhak tinggi yang bergesekan dengan lantai dan suara detik jam dinding.
"Ini Non Litha?" tanya seorang mbak ART yang tiba-tiba saja muncul di samping Litha, membuat Litha menjadi terkejut juga. Mbak ART tersebut takjub plus terkejut melihat penampilan anak bungsu dari majikannya itu.
"Siapa lagi kalau bukan Litha mbak?" Litha malah balik bertanya. Ya emang siapa lagi kalau bukan Litha Kusuma Jaya Nagara? Secara di rumah ini cuma ada dia doang.
"Cantik banget Non. Mau kemana malem-malem gini?" tanya ART itu dengan tatapan yang terus mengamati Litha, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Si embak ketularan penyakit bang Umran ya?" tanya Litha. Mbak ART nya hanya bingung, ia tidak mengerti apa yang dimaksud gadis cantik dihadapannya itu.
"Jadi suka kepoin orang lain," tambah Litha cekikikan.
"Maaf non. Mbak gak bermaksud gitu," sahutnya dengan senyum kikuk dan ada sedikit rasa bersalah.
"Bercanda mbak. Litha mau keluar sama kak Raka, tuh orangnya udah nunggu di depan," ujar Litha sambil menunjuk arah pintu keluar.
"Lhoh... Di depan ada Den Raka? Mbak gak tau Non, jadi mbak gak buatin minum deh," ujar mbak ART itu merasa tidak enak dengan Nona muda nya.
"Iya gpp mbak, emang Litha sengaja gak bilang ke mbak dan nyuruh dia di luar aja. Di rumahnya sendiri pasti juga ada minuman," jelasnya lalu ditambah gurauan di akhir kalimatnya.
"Ya beda atuh Non," Mbak ART itu tertawa kecil yang dibalas Litha dengan senyuman.
"Mbak kalau mau istirahat gpp. Litha bawa kunci cadangan dan Litha juga udah bilang ke Bunda kalau mau pergi sama kak Raka," jelas Litha. Lalu pergi meninggalkan mbak ART tersebut sendirian, setelah sebelumnya telah berpamitan kepada mbak ART itu.
***
"Cantik," satu kata yang terucap dari bibir Raka saat melihat gadis di hadapannya.
Happy weekend 🥳
Sebenarnya PAS nya Author belom selesai. Tapi karena ini libur, Author ada waktu untuk menghalu plus author juga udah pengen ngehalu sih wkwk...
Cukup segini dulu ya... Next part pertemuan Litha dengan keluarga Adelard.
__ADS_1
Tambahkan IBMB dalam novel favorit❤️ dan tinggalkan jejak like and komen, vote juga yah hehe...