Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Kesal


__ADS_3

Litha dan Nara mengetuk pintu sebelum masuk. Setelah diizinkan oleh orang yang ada didalamnya, baru keduanya masuk.


Nara dibuat terpanah oleh banyaknya makanan diatas meja yang berhamburan tidak tertata rapi. Batinnya menjerit bisa melihat The Perfect secara langsung, biasanya Nara hanya bisa melihat mereka di layar televisi rumahnya.


"Litha? Nara?" Fika kaget ternyata Litha dan temannya yang akan mengecek kondisi Nick. Semuanya melihat ke arah Litha yang tersenyum kikuk.


Mata Litha memberi kode kepada Fika agar diam tidak banyak suara karena selama koas Litha menyembunyikan identitasnya dari semua orang.


"Hai Fik," sapa Nara tersenyum canggung, ternyata Fika pacar dari Leon terbukti dari Leon yang terus merangkul pundak Fika.


"Kalian shift malem?" Tanya Fika yang hanya diangguki oleh keduanya.


"Aunty cantik!" Senyuman Pangeran terlihat menyapa Litha. Eran yang bocil gitu pasti tidak mengerti dengan drama konyol yang dibuat oleh para orang dewasa tersebut.


"Aunty?" Nara mengerutkan keningnya menatap Litha yang mengangkat bahunya.


Litha tersenyum dipaksakan sambil menatap Umran yang menggendong anaknya. Tatapan Litha seolah berkata 'urusin tuh anak lu!'


"Pipi, pipi, ada Aunty cantik," Eran menarik daun telinga Umran agar mendekat kepada Aunty nya. "Turun! Turun," atau Eran meminta diturunkan saja karena ingin memeluk Aunty tersayangnya.


"Sayang jangan ganggu Aunty cantik yaaa," Sarah mengusap kepala putranya.


Sarah tersenyum melihat Litha dan temannya. "Maaf ya Aunty-aunty cantik, dia memang suka melihat cewek-cewek cantik," Sarah menjeda kalimatnya, dia menatap suaminya tajam, "11 12 kayak bapaknya!"


Umran tersentak dengan kata-kata istrinya. "Lhoh kok jadi ke aku honey?"


Litha dan Nara segera mendekat dan memeriksa kondisi Nick setelah sebelumnya mereka saling pandang.


"Eh ada mbak-mbak koas," Nick sengaja menoel dagu Litha dan mengerlingkan matanya kepada Nara.


Dalam hati Litha membatin ingin menampol wajah Nick.


"Dokter Dita pacarnya nih genit," ucap Nara keceplosan. "Ups.." Nara sadar dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


Otomatis kini Nara menjadi pusat perhatian dan itu sukses membuat Nara ketakutan setengah mati ditatap oleh Raka yang notabenenya adalah direktur rumah sakit tempatnya koas.


"Maaf Dokter Dita dan Dokter Raka," Nara menundukkan kepalanya.


"Hehehe... Tadi pasien bernama Nick ini noel-noel dagu saya Dok, dia juga ngedipin matanya sebelah kepada teman saya," ucap Litha menyakinkan mereka semua walaupun Litha tau tidak usah diyakinkan pun, mereka tau jika Nick hanya menjahilinya saja. Yaa Litha sih akting aja biar Nara nggak curiga.

__ADS_1


Tapi diluar dugaan Nara, ternyata Dokter Raka tidak memarahinya atau bahkan memberikan ancaman akan melaporkan tingkah kurang sopan Nara ke pihak kamus, tempat Nara dulu saat masih kuliah.


"Nara, Anda tidak usah takut! Apa yang Anda katakan tidak salah, jika ada yang berani menggoda dan berperilaku buruk laporkan saja kepada pihak keamanan atau langsung beritahu saya," ujar Raka yang sebelumnya telah membaca nama Nara di ID card yang tergantung dileher gadis itu.


"Terimakasih Dok. Saya pikir dokter akan memarahi saya," ucap Nara dengan polosnya.


Dita menatap tajam Nick yang cengengesan sambil mengangkat dua jarinya V.


Dita menatap Nara dan Litha yang sedang mengecek tensi darah dan mengatur kecepatan infus yang menetas. Nara yang merasa diawasi tentu saja langsung melihat Dita.


"Nick emang orangnya suka jahil. Kalau dia buat yang aneh-aneh dan bikin kamu takut, langsung bilang ke saya, oke?" Sahut Dita yang sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya.


"Lhoh berarti bener Dokter Dita itu pacarnya Nick. Kalau gitu gosip tentang kedekatan Dokter Dita dan Dokter Aldi salah dong?" Ujar Nara setengah sadar.


Sontak saja semua yang ada disana terkejut dengan penuturan Nara, terutama Nick sampai dia memegang dadanya (halah itu sih Nick aja yang emang lebay). Terkecuali dua manusia yang memutar bola matanya malas, Raka yang cuek dan Litha yang sudah mengetahui gosip itu.


Sedetik kemudian tangan Nara menutup mulutnya, Nara tersenyum kikuk melihat Dita yang mengernyitkan keningnya. Nara menoleh menatap Litha yang menepuk jidatnya sendiri.


"Maaf Dok keceplosan, hehehe," Nara nyengir menunjukan dua jari berbetuk V. Danil tersenyum tipis melihat kepolosan dalam diri teman Litha.


"Setelah dari sini apa kalian masih mengecek pasien yang lain?" Tanya Dita membuat Litha dan Nara bingung tidak mengerti, tapi Litha tetap menjawab.


"Ini pasien terakhir Dok," ucap Litha sopan.


Nara menatap Litha yang tersenyum sambil mengangguk. "Dokter Dita itu sahabat Fika yang artinya dia juga sahabat gue,"


"Ohh..." Nara manggut-manggut lalu menatap Dita yang mengangguk membenarkan penuturan Litha.


"Eh?" Litha keceplosan, secara gak langsung dia baru aja mengatakan kalau Litha bagian dari gerombolan pertemanan sultan tersebut.


"Kenapa Tha?" Nara heran dengan Litha yang seperti orang terkejut.


Litha langsung menggeleng. "Nggak papa," Litha bernafas lega karena Nara tidak menyadari sepenuhnya perkataan Litha.


Dita menghampiri Litha dan Nara yang masih berada disamping banker Nick. "Jadi sampai sejauh mana gosip tentang gue dan Dokter Aldi?"


"Tha?" Dita menatap Litha yang mengangkat bahunya.


"Gue gak tahu. Yang ikut gosip sama anak koas yang lain itu Nara," Litha menatap Nara yang tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Eh tunggu Dit! Kita bahas ini nanti aja. Kita berdua harus segera laporan dan nyerahin data ke Dokter pembimbing," ucap Litha menyela Dita yang akan membuka suara.


"Bukannya Dokter pembimbing kalian Dokter Ken?" Tanya Raka.


Litha menatap tajam Raka. Dia ingin melaksanakan tugasnya secara profesional dengan menyampingkan urusan pribadinya, meskipun sebenarnya ini hanya urusan pribadi antara Nara, Dita dan Nick saja, tapi Litha tidak mungkin meninggalkan temannya.


"Ngapain sih pada drama?" Seru Leon yang sedari tadi sudah menahan kesal dengan tingkah para sahabatnya.


Pintu terbuka lebar, Ken melangkah melihat mereka semua yang terlihat aneh. Sampai pandangan Ken mendapati anak koas nya yang tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.


"Kalian belum selesai dari tadi? Semua teman kalian sudah selesai semua lhoh, hanya tinggal laporan dari kalian yang belum sampai ke tangan saya," ujar Ken sok-sokan dibuat galak. Ralat, bukan supaya kelihatan galak, tapi biar kelihatan lebih berwibawa. Tentu dengan tujuan agar menarik perhatian ciwi-ciwi koas yang cantik-cantik.


"Ekhem," Raka berdeham membuat Ken menoleh ke sumber suara dan tersenyum sambil dua jari terangkat berbetuk V.


Semenjak Ken tahu hubungan antara kepala rumah sakit itu dengan Litha, Ken telah diperingatkan oleh Raka agar tidak bersikap sok-sokan galak kepada Litha saat menjalankan tugas.


Karena durasi waktu yang mepet gara-gara kedatangan Ken, mau tidak mau Dita tidak jadi mengintrogasi Nara dan hanya mengatakan... "Nara, gue cuma mau bilang kalau gosip antara gue dan Dokter Aldi itu salah. Kita deket karena hubungan pekerjaan saja," ujar Dita dan Nara mengangguk.


"Jadi gue harus gosipin itu ke anak-anak koas yang lain Dok?" Tanya Nara membuat Dita menghelai nafasnya dengan sisa stok kesabaran yang menipis.


"Itu lebih baik," Dita tersenyum lebar menutupi kekesalannya terhadap Nara yang begitu polos. Yang lain hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah Nara yang menggemaskan seperti bocah seusia Pangeran.


"Kalian berdua langsung taruh laporan dan datanya ke ruangan saya!" Perintah Ken dengan melihat jam dipergelangan tangannya.


"Kita nggak perlu laporan secara lisan Dok?" Tanya Litha. Biasanya semua peserta koas akan melakukan laporan lisan kepada dokter pembimbing jika tugas mereka sudah selesai.


"Tidak usah!" Sahut Ken acuh.


Litha dan Nara mengangguk kemudian mereka pamit pergi dari sana. Saat sampai diambang pintu Nara menahan lengan Litha.


"Ada apa?" Tanya Litha melihat Nara yang menoleh ke belakang melihat Ken yang tidak bergerak dari tempatnya.


"Dokter Ken," panggil Nara membuat Ken menoleh menatapnya.


Nara berpikir Dokter Ken akan ikut keluar juga bersamanya dengan Litha. "Ngapain masih di situ?" Entah ada dorongan dari mana sehingga Nara berani bertanya macam itu dengan dokter pembimbingnya.


"NARA!" Ken mengucapkan itu dengan penuh penekanan agar Nara tidak kepo dengan urusannya.


Malam ini Nara sukses membuat dua orang sekaligus menahan kesal dengan tingkahnya yang terlalu polos.

__ADS_1


Bukannya paham, Nara malah mengira jika Ken memang memanggil namanya. "Iya, ada apa Dok?" Tanya Nara dengan raut wajah polosnya.


Ken dan Litha menepuk jidatnya sendiri, sedangkan yang lainnya menahan tawanya. Ini antara Nara yang polos? Apa be*o?


__ADS_2